
Seminggu berlalu, Cecilia telah memutuskan untuk menemui Mardiyah yang kedua kalinya. Tetapi sebelum itu, Cecilia berkunjung ke panti asuhan Al-Hikmah tempat di mana Mardiyah tinggal, untuk mencari tahu siapakah seorang Ibu panti yang merawat dan membesarkan anak suaminya. Dan tiba-tiba saja ... ia terpikir hal yang mungkin akan menyelamatkan anak perempuan itu.
Setelah perjalanan satu jam, Cecilia sampai di pelataran panti asuhan yang cukup luas. Dari yang di dengarnya pemilik panti asuhan ini adalah seorang anak dari pemuka agama. Orang-orang memanggil beliau dengan sebutan Kiai Bashir. Ia pernah mendengar nama itu di sebut beberapa kali oleh mertuanya. Tetapi entahlah, tujuannya ke mari adalah mencari tahu Ibu panti itu.
"Permisi." Cecilia menghampiri seorang pria yang usianya cukup senja sedang duduk di kursi kayu yang berada di dekat pos keamanan. "Saya ingin bertanya, Pak."
Pria itu terlihat tersenyum. "Tanya apa ya, Bu?"
"Saya ingin bertemu dengan ... Ibu pemilik panti asuhan ini, Pak. Tapi saya sedikit bingung di mana tempatnya," jelas Cecilia.
Pria itu nampak berdiri, dengan tangan terangkat menunjuk depan. "Ibu tinggal ikuti jalan, nanti akan ada parkiran pertama. Parkiran umum yang bersebelahan dengan parkiran khusus laki-laki. Ibu bisa parkir di sana. Nanti di sana banyak anak panti asuhan. Ibu insya Allah akan di tuntun ke kantor Umma Sarah."
"Terima kasih, Pak."
Benar.
Setelah memarkirkan mobilnya. Cecilia di bantu langsung oleh seorang bocah laki-laki yang menanyai kedatangannya dengan gamblang. Lalu sekarang ia sudah berada di kantor pemilik panti asuhan. Orang-orang di sini memanggil Ibu panti asuhan dengan nama Umma Sarah. Apakah dia yang merawat anak Tama? batin Cecilia, saat melihat perempuan yang mungkin seumuran dengannya duduk saling berhadapan-hadapan dan melempar senyuman.
"Saya ... sedang berbicara dengan Ibu siapa?"
"Saya Cecilia."
Kening Sarah mengerut. Namanya hampir sama kayak ... tapi ini nggak mungkin, batinnya yang langsung berujar. "Baik, Ibu Cecilia. Saya Sarah. Kedatangan anda ke mari untuk melakukan penyumbangan atau mengadopsi seorang anak?"
Cecilia terdiam sejenak menatap Sarah. "Mengadopsi."
"Baik. Ada beberapa prosedur yang harus di lakukan sebelum mengadopsi seorang anak. Tapi apa Ibu ingin melihat anak-anaknya terlebih dahulu?" tanya Sarah.
Cecilia menggeleng. "Tidak."
"Apa Ibu ingin mengadopsi anak tanpa tahu wajahnya?"
"Saya sudah tahu."
Sarah terdiam sejenak. "Sudah tahu maksud anda bagaimana?"
"Saya ingin mengadopsi seorang anak bernama Mardiyah," jawab Cecilia langsung yang mendapat pandangan terkejut dari Sarah. "Saya ingin dia menjadi anak saya."
"Sebentar, anda ..." Sarah menatap lebih detail paras wanita yang berada di depannya. "Anda menantu Pak Manggala?"
Akhirnya dia sadar, batin Cecilia yang langsung mengangguk. "Iya. Saya Cecilia."
Pasokan udara dalam paru-paru Sarah terasa terkuras habis. Untuk apa sekarang menantu dari keluarga Adiwangsa menghampirinya? Bahkan berdalih ingin mengadopsi Mardiyah yang jelas benar-benar sedang berada dalam genggaman keluarga mereka. "Apa maksud anda mengunjungi panti asuhan ini? Bukankah uang yang di berikan oleh Pak Manggala sudah saya kembalikan?"
__ADS_1
Uang? Papa memberinya uang? Papa benar-benar gila, batin Cecilia yang masih menatap Sarah lurus. "Saya tidak tahu menahu mengenai itu. Tapi saya datang ke mari, benar-benar untuk mengadopsi Mardiyah."
"Mardiyah tidak ingin di adopsi oleh siapa pun." Sarah menjeda. "Lagi pula, Mardiyah sudah menikah. Dia adalah menantu saya."
"Saya tahu dia sudah menikah."
"Lalu apa maksud anda mengadopsi menantu saya?"
Jeda tiga detik Cecilia berujar, "Anggap saja ... naluri seorang Ibu yang tidak ingin melihat seorang anak pun tersiksa."
Sarah terdiam, tidak menanggapi apa-apa.
"Saya tahu ... sekarang Mardiyah sedang berada dalam jangkauan mertua dan suami saya. Dan jika saja ... anda mengizinkan saya mengadopsi Mardiyah." Cecilia menjeda. "Mungkin dia, bisa sedikit terbebas dari genggaman kedua orang itu."
Benar, itu bisa menjadi cara untuk melepaskan Mardiyah dari Pak Gautama dan Pak Manggala. Tapi apa Mardiyah akan setuju? Apa Lutfan juga setuju? batin Sarah.
Mardiyah meminta pada Meera, seorang pelayan muda itu untuk membeli tespek. Sebenarnya ia benar-benar tidak yakin tentang perasaannya ini. Namun setelah ia mengecek kalender lagi, ternyata ia terlambat haid tiga hari ini. Akhir-akhir ini pun, ia tidak terlalu berselera makan, walau merasa mual hanya di awal-awal, tetapi ... mungkin saja, bukan? Ia hanya perlu mengecek sejenak. Supaya ragunya hilang, dan tespek mungkin saja akan berakhir negatif.
"Nona Muda ... saya ikut masuk, ya? Ada cctv di kamar, Non." Meera memberi baju rumah yang di baliknya ada tespek. "Saya biar pura-pura mandiin, Non. Supaya Tuan Gautama tidak curiga."
Dia benar, batin Mardiyah yang langsung mengangguk dan masuk terlebih dahulu.
"Nona silakan. Saya tunggu di depan pintu ini aja."
Meera berbalik, menatap Nona Mudanya sedang duduk di kloset duduk dengan urine yang berada di bawah tidak lupa tespek yang sudah di letakkan di sana. "Panduannya ditulis menunggu sekitar dua sampai lima menit, Nona."
"Kalau begitu kita tunggu."
Kata Meera akan lebih akurat kalau di pagi hari. Semoga saja hasilnya negatif, batin Mardiyah yang terdiam memandangi tespek itu.
Meera sejenak mengintip pada kamar mandi, untuk melihat jam dinding. Menurutnya kira-kira sudah lebih dari lima menit, tepatnya sudah delapan menit. Lantas perlahan-lahan Mardiyah mengambil tespek itu, dan saat ia balik. Netranya melebar, ini semua tidak mungkin, dua garis biru di sana. Mardiyah spontan mengambil tespek merk lain dua garis merah di sana. Ia menggeleng tak percaya, ia menatap lurus, menarik dua tespek yang di ambil Meera.
Positif semua? Nggak mungkin, batin Mardiyah.
"Nona Muda, selamat ... anda hamil," ujar Meera dengan ekspresi terkejut namun juga bahagia, hingga senyum lebar pun tidak hilang dari paras chubby itu.
Haruskah disambut bahagia? Lutfan saja tidak ada di sini, suaminya ... lelaki itu, apa akan senang mendengar kabar ini? Sejujurnya sampai detik ini, ia tidak benar-benar siap untuk menjadi Ibu. Ya, seorang Ibu yang melimpahkan segala kasih sayangnya pada sang anak. Dirinya saja, tidak tahu figur seorang Ibu kandung. Mungkin ia bisa menjadi seorang Ibu yang baik hati layaknya Umma Sarah. Namun ... ragu di hati tidak bisa membuat dirinya paham bahwa menjadi Ibu bukan sekadar melahirkan dan membesarkan anak saja.
"Nona Muda! Nona Muda!"
Mardiyah tersadar. "Ya?"
"Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Iya. Saya baik." Mardiyah menyerah semua hasil tespek itu pada Meera dengan diberi kantong plastik hitam. "Bakar, buang. Atau lakukan apapun supaya tidak ada seorang pun yang tahu selain kamu, Meera."
"Ba-baik, Nona. Saya permisi."
Mardiyah mengangguk.
"Lutfan ... saya hamil."
Sedetik itu juga air mata menetes. Mardiyah menunduk dalam tangannya menyentuh lembut pada perut ratanya. Perasaan ini membuat dirinya bimbang. Entah bahagia entah sedih, sulit sekali mengendalikan diri. Jika sekarang ia berada di panti asuhan, mungkin Umma akan menjadi orang paling bahagia menyambut kabar ini.
Namun nyatanya ia jauh. Ia tidak berada di dekat Umma atau pun Lutfan. Dan suaminya itu, tidak akan ada lagi alasan untuk menerima perceraian ini. Manggala tidak berhak memisahkannya dengan Lutfan. Lantas hadirnya janin ini ... apa suatu petunjuk? Apa ia akan segera kembali dengan Lutfan?
Perlahan tangannya meraba naik, ia menyentuh dadanya yang sedikit sesak. Sebelum aku benar-benar keluar dari vila ini ... Pak Manggala atau pun Pak Gautama. Nggak boleh tahu keberadaan anak ini, batin Mardiyah yang sesekali membuang dan mengambil napas.
Clek.
Pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka. Mardiyah cepat-cepat mengusap mata, dari belakang terdengar langkah kaki mendekat.
"Nak ..."
Pak Gautama, batin Mardiyah.
Gautama telah berada dihadapannya. Namun ia menunduk, hingga pandangannya menatap pada kaki beliau. "Saya akan makan. Anda tidak perlu menyuruh-nyuruh saya lagi."
"Papa ke mari, bukan ingin mengatakan itu, Nak." Gautama menjeda dengan menghela napas. "Papa ingin kamu ... segera menandatangani surat gugatan perceraian itu."
Spontan Mardiyah mendongak. "Berapa kali saya bilang, saya tidak mau menandatangani dan saya tidak akan pernah bercerai dari Lutfan!"
"Papa tahu." Gautama mengambil duduk tepat di samping Mardiyah. "Tapi laki-laki yang kamu bela-bela itu. Memilih menandatangani surat gugatan perceraian. Semua bukan karena tekanan Kakek. Semua di lakukan dengan sadar oleh Lutfan, Nak."
Nggak mungkin. Kalau pun iya. Pasti ada alasannya, batin Mardiyah yang selalu berprasangka baik pada Lutfan.
"Papa juga ingin bertanya mengenai keadaan kamu." Gautama menatap sang anak dari samping. "Kenapa kamu tidak mau memberitahu pada Dokter tanggal terakhir kamu haid dan berhubungan intim dengan Lutfan?"
Deg.
"Apa urusan anda?"
"Papa ingin tahu apa itu tidak boleh?"
Mardiyah menengok. "Tentu saja tidak boleh. Itu adalah ranah pribadi dalam rumah tangga saya dengan Lutfan."
"Nak, dia sudah mencerai---"
__ADS_1
Mardiyah menyanggah, "Selama kata talak belum terdengar di telinga saya. Saya tidak percaya Lutfan menceraikan saya. Jadi sekarang ... tolong anda keluar. Saya sedang tidak ingin di ganggu."