Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 23


__ADS_3

"Jadi ... Alma itu calon istrinya Mas Jafar, Umma?"


Umma Sarah mengangguk. "Iya. Bibimu sendiri yang memilih Alma. Umma yakin, Alma bisa jaga Masmu."


Lutfan mengangguk yakin. "Aamiin. Pasti, Umma. Lutfan lihat Alma baik."


Terjadi kebisuan beberapa saat. Umma Sarah sibuk dengan komputer beliau, sedangkan Lutfan menatap lurus melamun.


"Lutfan ..."


"Ya, Umma?"


Umma Sarah bangkit, mengambil duduk di sampingnya. "Sebentar lagi, umurmu 20 tahun. Kamu siap Umma beritahu Mardiyah tentang amanah Abimu?"


"Umma ... apa amanah ini nggak terkesan memaksa Mardiyah?" Lutfan menengok. "Lutfan cuma takut. Mardiyah menerima pernikahan ini karena terpaksa."


"Mungkin iya, akan terkesan memaksa. Tapi Umma bisa berbicara dengan Mardiyah, Nak." Tangan Umma Sarah menyentuh surai Lutfan. "Umma yakin. Mardiyah nggak akan menolak."


Jelas, Umma. Karena orang yang meminta itu adalah Umma. Jelas sulit untuk Mardiyah menolak, batin Lutfan dengan menyandarkan kepalanya pada dada Umma Sarah. "Umma kalau Mardiyah nggak mau. Umma jangan memaksa. Waktu Umma bilang pun, Umma harus bilang yang jelas. Jangan memberi pertanyaan yang cuma bisa di jawab iya oleh Mardiyah. Tolong ... Umma."


"Kamu kenapa? Nggak mau mau menikah sama Mardiyah?" Umma Sarah mengusap-usap tengkuk Lutfan. "Mardiyah kurang cantik? Atau ap---"


Lutfan menyahut, "Mardiyah cantik, Umma."


"Terus ... kenapa?"


"Ya itu tadi. Lutfan nggak mau kalau Mardiyah terpaksa menerima pernikahan ini karena Umma," jawab Lutfan.


Umma Sarah mengangguk-angguk dengan tersenyum jahil. "Jadi, kamu maunya Mardiyah menerima pernikahan ini karena dia suka kamu, gitu?"


Lutfan spontan menggeleng.


"Enggak juga. Pokoknya, alasan apa pun Lutfan bisa terima. Kecuali, karena Umma. Lutfan masih nggak bisa terima," ujar Lutfan.


"Kenapa, hm?"


Karena Mardiyah sayang sama Umma. Karena Mardiyah menganggap Umma adalah Ibu, batin Lutfan dengan masih terdiam.


"Kok nggak jawab?"


"Pokoknya nggak bisa terima. Alasannya sulit di jelasin. Kapan-kapan kalau udah gampang Lutfan jelasin ke Umma," ujar Lutfan.


Spontan Umma Sarah tertawa.


"Dasar ... anak siapa ini, sih? Kok gemesin banget." Lutfan mengganti posisinya dengan memeluk erat Ummanya. "Umma jadi makin sayang. Sayangnya banget-banget lho."


Sesaat Lutfan mengecup salah satu pipi Umma Sarah, terdengar suara ketukan pintu. Lutfan sudah menebak, di sore hari begini Ummanya pasti ada begitu banyak tamu.


"Assalamualaikum."


Lutfan menyipit, menajamkan pendengarannya. Seperti mengenal suara ini.


"Waalaikumussalam."

__ADS_1


"Bibi, saya mencari Lutfan."


Spontan Lutfan langsung berbalik. "Aldo!"


"Lut ... fan?" Netranya melebar, seolah-olah tidak percaya bahwa yang memeluk Umma Sarah adalah temannya, Lutfan. "Lo ... ngapain?"


...🌺...


"Anjir!" Aldo terbahak-bahak. "Anak Umma banget. Manjanya kebangetan lho ... mana peluk-peluk manja di depan umum."


"Lo! Mau gue pecat?"


Aldo menggeleng cepat.


"Depan umum matamu, apa? Jelas-jelas gue meluk Umma gue di kantor beliau." Lutfan menampilkan wajah kesalnya. "Apanya yang di depan umum?!"


"Kalau lo iri ..." Lutfan melirik. "Sana lo pulang! Peluk nyokap lo juga. Nggak usah sok-sok bilang gue anak manja!"


Aldo mengentikan tawanya. "Iya, ya Lut. Gue berhenti nih. Nggak lagi gue bilang lo manja."


Lutfan berkata ketus, "Ngapain lo ke sini?"


"Lho? Gue kan ... sekertaris lo. Masih lo tanya gue ngapain?"


"Gue ngerti. Tapi ngapain lo repot-repot?" Lutfan menyandarkan punggung pada kursi kayu yang di dudukinya. "Biasanya juga ketemu di outlet."


"Gue lagi baik hati. Mau jemput bos gue buat jalan-jalan sore."


"Enggak juga, sih. Tapi kalau mau ngasih gue bayaran tambahan dari jadi sopir lo ya ... ya gue dengan ikhlas menerima," ujar Aldo dengan tangan yang terbuka.


Lutfan melempar sendok plastik yang berada di meja dapur, yang mana tepat mengenai kepala Aldo. "Banyak bacot! Gue ini butuh sekertaris yang bisa dimanfaatkan dengan baik dan benar. Lah gue malahan dapet lo yang modelan gini!"


"Lo bisa manfaatin gue, Lut. Sepuas lo deh, gue pasrah," ujar Aldo seakan-akan menyerahkan diri.


Lutfan bergidik ngeri. "Jijik gue."


"Mbak-mbak nggak pa-pa Mbak masuk aja kalau butuh sesuatu," ujar Aldo yang membuat Lutfan menatap pada ambang pintu.


Mardiyah? batin Lutfan.


"Saya permisi." Mardiyah masuk mengambil beberapa gelas plastik dan menaruhnya di nampan. Setelah selesai ia keluar tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan dapur.


"Lut, lut!"


"Apa?"


Pandangan Aldo tidak berhenti melihat ambang pintu. "Cantik, ya? Mana putih, berseri-seri gitu. Kayak Bidadari. Btw, nam---"


"Lo perlu gue ingetin nggak?"


Aldo menggeleng. "Nggak usah. Gue udah inget."


"Inget apa lo?"

__ADS_1


"Jaga pandangan kalau mau ke panti asuhan sering-sering. Kalau sampai jelalatan, lo masukin gue ke daftar hitam," ujar Aldo menirukan ucapan Lutfan dahulu.


Lutfan mengangguk-angguk. "Pinter. Lo masih inget ternyata."


"Tapi Lut ..." Aldo menatap Lutfan. "Gue kan cuma mau tahu namanya aja masa nggak bo---"


"Emang nggak boleh. Itu termasuk jelalatan. Ngerti nggak sih lo?" ujar Lutfan ketus.


Aldo mengangguk-angguk pasrah. "Ya, ya ngerti. Sorry."


...🌺...


Mardiyah tidak akan pernah bisa memasuki hidup laki-laki secara gamblang. Tentu semuanya, harus di awali dengan pernikahan. Namun sampai saat ini, Umma Sarah belum memberitahukan siapa gerangan lelaki yang beliau pilihkan.


Bahkan sebenarnya pun Mardiyah tidak begitu yakin, bisa menjadi istri yang baik. Didikan yang diberikan Umma Sarah mungkin benar, tetapi darah yang mengalir di tubuhnya bukanlah milik beliau. Milik Ibunya, Zanitha dan pria yang selaku Ayah itu. Apakah Ibunya wanita baik? Apakah Ayahnya seorang pria yang pantas untuk di sebut sebagai cinta pertama sang putri?


Sepertinya, tidak.


Lagi-lagi khayalannya terlalu tinggi. Ia bukan lah sang Tuan Putri yang hilang, yang akan tiba-tiba di temukan oleh Raja baik hati. Bukan. Sungguh bukan. Khayalan masa kecil yang konyol.


"Mbak Mar."


"Ya, Sal?"


Salsa menengok. "Sampean suka sama Mas Jafar?"


"Hm?"


"Sampean lho suka ta sama Mas Jafar?


Kening Mardiyah mengerut. "Kenapa kamu tanya gitu, Sal?"


"Ya ndak pa-pa. Cuma mastiin aja. Kalau misal sampean suka sayang banget, Mbak."


"Kenapa emang?"


Jeda tiga detik Salsa menjawab, "Mas Jafar kan bisu."


Mardiyah sudah mendengar bahwa rumor itu adalah benar. Jafar ... teman kecilnya yang begitu tenang dan baik hati. Mengapa harus berakhir seperti ini? Sesak rasanya, mengingat-ingat masa sulit yang di lewati oleh keluarga baik ini.


"Mulutmu, Sal."


Sedetik berikutnya, Salsa terdiam.


"Aku pamit ke asrama," ujar Mardiyah meninggalkan aula makan khusus perempuan.


^^^


Note:


*Nggak lambat kan ceritanya? Habis ini sampai kok di bab-bab pertengkaran Mardiyah dan Alma, terus Mardiyah akan tahu bahwa Lutfan adalah lelaki yang dijodohkan dengannya dan juga melewati pernikahan Jafar dan Alma.


Klimaksnya, kecelakaan Lutfan. Lalu menginapnya Lutfan di Adiwangsa hospital, semua akan mulai jelas di sana*.

__ADS_1


__ADS_2