
Umma Sarah pergi. Setelah mengantarnya ke asrama, beliau bilang untuk hari ini baiknya ia istirahat saja. Ya, istirahat. Karena jika ia ingat-ingat lagi, malu. Bagaimana bisa ia bersikap seperti itu kepada Alma? Padahal, nasib yang ia miliki dan Alma tidak berbeda jauh.
Maksudnya, sama-sama berakhir di panti asuhan.
Menyedihkan, kata orang-orang. Sungguh ia setuju, namun kehidupan bukan tentang bahagia saja. Jikalau memang seperkian hidup yang di jalaninya menyedihkan, Mardiyah tidak masalah. Selama ia memiliki sandaran hidup. Seperti, Umma Sarah.
Gawai yang berada di tangannya tiba-tiba saja berbunyi. Wajah Mardiyah berubah datar, nomor tidak di kenal. Bahkan ia sendiri tidak bisa melihat nomornya. Beberapa kali terus berbunyi, hingga tiada pilihan selain dirinya mengangkat.
"Siapa?"
Tidak ada suara.
"Saya matikan jika tidak ada kepentingan."
Terdengar helaan napas.
"Sa---"
"Nak ..."
Panggilan langsung terputus secara sepihak.
Nak? batin Mardiyah seolah-olah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Baru saja, seorang wanita yang tidak dikenal menghubunginya?
"Si---" Netra Mardiyah tiba-tiba saja melebar. Ia menggeleng, seolah-olah apa yang ada dipikirannya bukanlah sesuatu yang nyata. "I-ibu?"
Cepat-cepat Mardiyah mencari pada panggilan masuk. Namun sayangnya, saat ia ingin mencoba menghubungi, tidak bisa. Karena di sana tidak tertera nomor, panggilannya di sembunyikan.
Bagaimana bisa? batin Mardiyah yang mulai putus asa dalam percobaannya. Ia ingat, Ibunya akan segera datang kan? Dan apakah ... sang ibu menghubunginya?
"Kenapa nggak bisa, sih?" gumamnya.
Disaat-saat serius, terdengar suara ketukan pintu. "Mbak Mardiyah, Mbak Mar!"
Mardiyah kesal, spontanitas melemparkan gawainya ke ranjang, dan berlalu menuju ambang pintu.
"Ya?"
"A-anu Mbak maaf. Aku cariin dari tadi lho sampean," ujar Salsa.
"Aku nggak ikut, Sal. Capek."
Salsa terdiam sejenak. "O-oh ya udah, Mbak. Aku permisi, Mbak."
Mardiyah kembali ke dalam, tangannya mengambil gawai lagi, beberapa kali mencari-cari nomor seseorang yang menghubunginya tidak ada. Kenapa?! Dirinya yakin bahwa itu adalah Zanitha, sang Ibu.
Gawainya berbunyi lagi, cepat-cepat Mardiyah mengangkat tanpa melihat nama atau nomor orangnya. "Ibu?"
"Hal ... o. Mar?"
Netra Mardiyah melebar, di jauhkan gawainya dari telinga melihat nama Lutfan tertulis di sana.
"Ya?"
"Lo ... nggak pa-pa?"
"Kalau nggak ada yang penting, saya matikan, Lutfan."
__ADS_1
Lutfan tiba-tiba panik. "Jangan di tutup. Gue mau mastiin sesuatu dulu."
"Apa?"
"Lo bertengkar sama---"
Mardiyah menyanggah, "Iya."
"Gara-gara Mas Ja---"
"Enggak," sanggah Mardiyah.
"Gue belum selesai ngomong, jangan potong-potong ucapan gue, Mar."
Mardiyah terdiam sejenak. "Saya sibuk, Lutfan. Saya matikan."
...🌺...
Semakin larut Lutfan tidak bisa benar-benar memejamkan mata. Kalau di ingat-ingat lagi, Banyu bilang katanya pertengkaran itu karena memperebutkan Mas Jafar. Hm, Mas Jafar, ya? Kenapa tiba-tiba saja hatinya sedikit sakit? Padahal, sudah dari dulu ia tahu bahwa mungkin saja Mardiyah ada perasaan lebih pada Masnya. Jikalau tidak ada sesuatu yang buruk pada Mas Jafar, jelas saja, semua orang akan semakin memuji-muji Masnya. Tidak salah. Mas Jafar memang lah sempurna.
"Astaghfirullah. Apaan sih?! Setan! Setan! Setan!"
Umpatnya sembari bergumam. Ia tidak boleh berpikir yang tidak-tidak, prasangka yang bukan-bukan tidak boleh ia tunjukkan untuk Mas Jafar. Lagi pula, beliau sudah memiliki seseorang yang pantas.
"Assalamualaikum ... assalamualaikum ..."
Kening Lutfan mengerut. Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Tidak tahu waktu.
"Waalaikumussalam." Lutfan membuka pintunya. "Astaghfirullah! Heh, sekretaris ngapain lo datang malam-malam gini? Nggak ada kesibukan lo?"
Aldo tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya. "Sebenarnya, Lut. Gue mau ikut minggu bersama di panti asuhan. Tapi ... ya gitu, lo tahu kan kondisi ibu kota? Nggak bisa diharapkan. Gue kejebak macet, Lut!"
Netra Aldo melebar. "Oh? Oh aja? Anj---"
"Eh, Aldo, ya?"
Umpatan seketika Aldo simpan baik-baik dengan rapat. Kemudian tersenyum manis. "Umma ... Assalamualaikum. Hari ini, Aldo boleh menginap tidak?"
"Enggak!"
Umma Sarah mendelik pada Lutfan. "Boleh Aldo, boleh, Nak."
"Umma, kok---"
"Kamu kan nggak ada temen. Ya udah di temenin Aldo aja 'kan? Kamu juga bilang Aldo sekertaris kamu kan??"
"Iya-iya, Umma." Lutfan melirik Aldo. "Masuk lo! Langsung ke kamar. Gue kasih lo tugas. Gue belum nyelesain bagian outlet 3."
"Okay dengan senang hati."
Sesaat memasuki kamar. Lutfan langsung merebahkan diri di ranjang, sedangkan Aldo merebahkan diri di sofa.
"Wajah lo kelihatan nggak bersahabat. Kenapa, hah?"
Lutfan menjawab, "Lo datang. Makanya gue kesel."
"Anjir, apaan sih?! Biasanya lo seneng kalau gue datang."
__ADS_1
Lutfan mengibaskan tangannya. "Jijik gue. Sejak kapan gue seneng lo dateng?"
"Tapi Lut!" Aldo menjeda. "Gue serius. Lo kenapa?"
"Mikirin jodoh," jawab Lutfan sekenanya.
Aldo terbahak-bahak. "Wah gila-gila. Lo beneran galau mikirin jodoh?"
"Katanya serius. Sekarang lo ketawa. Nggak asik." Lutfan mengangkat jari telunjuknya, menunjuk pada meja. "Di bawah meja. Ada laptop gue. Lo kerjain bagian outlet 3. Pemasukannya hari ini banyak, tadi udah gue kerjain setengah."
"Iya gue kerjain." Setelah mengambil laptop dan meletakkan di atas meja. Aldo berujar, "Gue paham, pasti ini masalah perjodohan lo 'kan Lut?"
"Hm."
"Terus lo nggak kuliah?"
Lutfan menggeleng. Lagi-lagi jika ia pikirkan, ia kalah jauh dari Mas Jafar, karena beliau kuliah. Mardiyah pun juga kuliah. Sebenarnya ia bisa untuk kuliah, tetapi waktunya untuk menemani Umma Sarah akan benar-benar tidak ada. Sebab setiap pukul delapan pagi sampai isya baru ia bisa pulang ke rumah. Bahkan jika tidak lelah saja ia baru menghabiskan waktu untuk Ummanya. Jika lelah, mungkin ia akan langsung tidur. Kalau di ingat-ingat, sudah begitu banyak waktu yang ia buang tanpa Ummanya.
"Lut?"
"Do, apa menurut lo pendidikan itu lebih penting dari pada bakti kita ke orang tua?"
Kening Aldo mengerut. "Bakti yang lo maksud itu menyetujui perjodohan?"
"Hm."
"Entah kenapa, Lut. Gue ngerasa bakti semacam itu nggak etis. Aneh. Jatuhnya bukan bakti, sih. Lo kayak ... ngerasa terpaksa gitu."
Lutfan menggeleng. "Dari mana lo nyimpulin kalau gue terpaksa, Do?"
"Ooh lo nggak terpaksa."
Lutfan menggeleng.
"Ya udah. Terima perjodohan itu, dan lanjutin pendidikan lo, Lut. Bukannnya lo mau kuliah?"
Lutfan terdiam.
"Lut?"
"Do, kalau gue udah jadi suami, kewajiban gue bertambah juga. Gue bakalan makin sulit buat bagi waktu kalau gue kuliah."
Aldo berhenti mengetik, ia menatap lurus pada Lutfan lagi. "Te ... rus? Lo nggak kuliah?"
"Enggak."
Setelah diam beberapa detik, Aldo mengangguk-angguk. "Gue udah bisa jawab pertanyaan lo tadi, Lut. Bakti pada orang tua itu lebih penting dari segalanya."
"Karena baru beberapa detik ini gue sadar. Bakti yang lo maksud itu bukan tentang perjodohan aja, ada bakti lain yang mungkin ... enggak mau lo ceritain ke gue." Aldo menunduk sejenak, menatap laptop. "Gue tahu, Lut. Setiap manusia punya bebannya sendiri-sendiri. Tapi ... gue itu gue dan lo itu lo. Gue nggak bisa nyamain setiap orang 'kan?"
Lutfan terlihat mengangguk.
"Kata orang-orang berpendidikan tinggi itu keren. Keren banget, Lut. Tapi ... kalau alasan lo nggak bisa lanjut cari ilmu karena bakti lo ke Umma. Gue paham. Bahkan Allah pun lebih setuju kalau sebagai anak kita lebih memilih bakti pada orang tua, dari pada yang lain-lainya," akhir Aldo.
"Makasih. Seenggaknya omongan panjang lebar lo ini berguna, Do," ujar Lutfan tanpa menatap Aldo.
Jeda tiga detik setelah tertawa ringan. Aldo berujar, "Kerja keras, Lut. Banyakin duit lo. Bismillahirrahmanirrahim. Do'a terus. Siapa tahu jodoh yang di jodohin sama lo itu spek bidadari 'kan?"
__ADS_1
Emang spek bidadari. Lo kan pernah muji dia.