Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 34 : Kamu Boleh Hidup Untuk Diri Kamu Sendiri.


__ADS_3

"Oke. Gue izinin. Tapi ada---"


Mardiyah mendongak langsung menyahut, "Syaratnya apa?"


"Nanti kalau Umma datang. Lo langsung tidur. Harus pokoknya. Is-ti-ra-hat, ngerti nggak?"


Mardiyah terdiam. Syarat ini yang menurut dirinya akan sangat sulit untuk dilaksanakan. Walau sebenarnya hanya tidur, dan istirahat. "Lutfan, nggak ada syarat lain? Atau sesuatu hal yang lain? Selain ... tidur?"


"Nggak ada. Lo nggak denger kata harus di ucapan gue tadi?" Lutfan menajamkan tatapannya, walau semestinya ia tidak berniat seperti itu. "Kalau nggak bisa. Mending lo pulang."


"Bisa! Saya bisa, kok." Mardiyah langsung menunduk, menatap gawai yang tiba-tiba hidup ada pesan dari Ibu mertuanya, Umma Sarah.


Umma Sarah


Nak, maaf


Mungkin Umma akan ke sana agak malam


^^^Kenapa, Umma?^^^


Umma Sarah


Kakekmu sakit, Nak


Umma titip Lutfan sebentar nggak pa-pa, Nak?


^^^Biar Mardiyah yang jaga Lutfan^^^


^^^Umma jaga Kiai Bashir saja^^^


Mardiyah menatap Lutfan yang sedang sibuk menonton anime favorit di televisi yang tergantung pada dinding. Lantas dengan perlahan disentuhnya tangan Lutfan yang berada di pangkuan, hingga sang pemilik menoleh tiba-tiba.


"Ya Allah, Mar! Berapa kali gue bilang? Kalau mau ngapa-ngapain yang berhubungan sama gue tuh ngomong dulu. Kaget gue. Lo ngerti nggak sih?" omel Lutfan.


"Saya cuma sentuh tangan. Jadi itu harus izin juga?"


Lutfan bingung ingin menjawab apa. "Ma-maksud gue ... ya lo tuh boleh pegang apa pun, tapi seenggaknya lo tuh panggil nama gue kek atau apa kek biar guenya nggak kaget."


"Iya. Maaf."


Lutfan menatap tangan putih dan lembut Mardiyah yang masih bertumpu pada tangannya di pangkuan. "Ngapain lo pakai segala pegang-pegang tangan gue?"


"Umma kayaknya nggak bisa datang. Beliau kirim pesan katanya Kiai Bashir sakit," ucap Mardiyah.

__ADS_1


"Apa? Kakek gue sakit?" Lutfan melihat Mardiyah mengangguk. "Hp. Hp gue. Gue mau telepon Umma."


"Ja---"


"Mar, tolong. Kalau lo emang nggak mau ambilin. Minggir. Gue bisa ambil sendiri!"


Mardiyah terdiam. Lutfan benar-benar marah, urat lehernya pun terlihat, dengan tangan kanan yang berusaha menggapai gawai yang berada di meja.


"Sialan."


Lutfan tidak bisa mencapai, dengan geram ia terus berusaha. Sedang Mardiyah masih terdiam. Bagaimana bisa Lutfan marah? Bagaimana Lutfan menyimpulkan bahwa ia sebagai istri tidak akan membantu? Bahkan entah dengan sengaja atau tidak nada bicara Lutfan meninggi.


"Maaf," ujar Mardiyah dan langsung tersadar memberikan gawai Lutfan.


Lutfan tidak menatap sama sekali. Lelaki itu sibuk mengutak-atik gawai, setelah beberapa detik Lutfan mendekatkan gawai pada telinganya.


"Halo, Umma."


"Assalamualaikum, Nak.


"Waalaikumussalam, Umma." Lutfan menjeda dengan membuang napas pelan. "Kenapa Umma nggak bilang ke aku kalau Kakek sakit? Kenapa cuma bilang bilang ke Mardiyah aja?"


"Ya Allah, Nak. Kan bisa Mardiyah bilang ke kamu. Kamu sekarang kan sama dia."


Dia marah karena aku? batin Mardiyah menatapi Lutfan yang meluap-luapkan emosinya pada Umma Sarah. Padahal di sini, Lutfan terpancing karenanya. Namun mengapa harus memarahi Umma?


"Lutfan, berhenti," ujar Mardiyah yang mana tangannya dengan kuat menarik gawai. Lantas meletakkan pada telinga kiri. "Umma, nanti Mardiyah hubungi lagi."


"Apa-apaan lo? Balikin hp gue."


Mardiyah menggeleng. "Kalau kamu mau marah, marahi saya Lutfan. Kenapa kamu tiba-tiba kayak gitu ke Umma? Beliau itu Ibumu. Kenapa harus setega itu?"


"Apaan sih lo, Mar? Gue cuma mau tanya jelas-jelas ke Umma. Gue nggak ada niat marah-marah sama beliau."


Mardiyah menggeleng, lagi. "Bohong. Wajahmu, urat lehermu, sudah kelihatan kalau kamu itu marah. Kamu kenapa, Lutfan?"


"Gue ... gue baik-baik aja." Terlihat Lutfan tiba-tiba menyandarkan punggungnya, suaminya itu mengambil posisi tidur, dengan menghela dan mengambil napas beberapa kali. "Lo lihat. Pada akhirnya gue cuma buat orang-orang repot, Mar. Kakek sakit, lo bahkan tiba-tiba aja nggak enak badan, terus siapa lagi selanjutnya, Mar?"


"Kenapa gue nggak mati aja waktu kecelaka---"


"Lutfan!" sentak Mardiyah dengan napas yang mulai memburu, netranya pun berkaca-kaca. Bagaimana bisa Lutfan berbicara seperti? Bahkan membahas kematian. "Istighfar kamu, Lutfan."


"Demi Allah, saya nggak bakal maafin kamu kalau kamu bicara tentang itu lagi!" Mardiyah menatap lurus, netra keduanya saling beradu. "Bisa-bisanya kamu mengeluh! Tahu apa kamu tentang hati orang lain? Tahu apa kamu tentang pikiran saya, pikiran Kiai Bashir, pikiran Umma? Tahu apa kamu, Lutfan?"

__ADS_1


"Kalau emang saya dan yang lain merasa kerepotan. Nggak mungkin saya ada di sini, nggak mungkin Kiai Bashir sakit. Nggak mungkin Lutfan ... jahat kamu tiba-tiba bicara kayak gitu. Kamu ... kamu tahu?" Mardiyah mengalihkan wajahnya, membuang ke arah lain, enggan menatap Lutfan di saat-saat terlemahnya. "Kamu boleh hidup untuk diri kamu sendiri. Tapi ja-jangan pernah berpikir kalau mati itu lebih baik. Sedangkan ... sedangkan di sini masih banyak orang yang berharap kamu hidup, Lutfan."


Dia ... nangis. Ya, gue jahat, batin Lutfan dengan tangan yang berusaha meraih bahu Mardiyah yang semakin terisak-isak. Sungguh tidak ada niat hati. Namun hidup sebagai manusia yang bergantung pada orang lain ialah sesuatu yang sangat sulit Lutfan terima. Bahkan lebih-lebih sampai membuat seseorang jatuh sakit, sebab terlalu sering menungguinya.


Mardiyah terlihat bangkit, Kakak angkat yang telah menjadi istrinya itu memasuki kamar mandi dengan punggung yang bergetar. Lutfan sadar ternyata hidupnya adalah harapan orang-orang sekitar dirinya. Bahkan Mardiyah menangisinya, seolah-olah diri ini adalah sesuatu yang berharga dalam kehidupan sang Istri.


Apakah itu benar? Atau hanya tebakan saja?


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka. Mardiyah keluar dengan tertunduk dan mendekat padanya, tiba-tiba mendongak. Wajahnya masih memerah, serta mata yang membengkak, istrinya itu mengambil bubur yang disediakan oleh rumah sakit.


"Makan sendiri atau saya suapi?" ujar Mardiyah.


Lutfan memahami bahwa telah menjadi tugas seorang istri untuk melayani suaminya. Namun saat-saat pertengkaran seperti ini, bahkan Mardiyah tadi benar-benar menangis. Mengapa Istrinya tidak lalai? Jikalau pun lalai Lutfan tidak masalah, sebab pertengkaran yang mengawali adalah dirinya sendiri.


"Saya suapi saja." Mardiyah mendekatkan sendok makan itu pada bibir Lutfan. "Buka mulut."


Lutfan membuka mulut. Pandangannya benar-benar tidak bisa beralih, paras cantik Mardiyah menampilkan wajah sendu yang tidak pernah ingin Lutfan lihat. Bahkan lebih baik wajah dingin, datar sekalipun ia tak masalah.


"Habis?"


Lutfan mengangguk.


"Buka mulut lagi."


Suapan dari Mardiyah terus berlangsung sampai akhir. Lantas setelah usai Mardiyah berujar, "Doktermu bilang, mungkin kamu bisa rawat jalan. Tapi harus check up kesehatan rutin. Kamu mau?"


Lutfan mengangguk.


"Minum?" Mardiyah menyerahkan segelas air mineral. "Jangan banyak-banyak. Obatnya di minum dulu."


Mar, kalau gini yang durhaka bukan lo. Tapi gue. Gue bener-bener jahat, gue tega buat lo nangis. Bahkan bisa-bisanya lo masih ngerawat gue sesabar ini. Sifat lo ... waktu kecil balik lagi, Mar, batin Lutfan dengan pandangan yang tidak pernah lepas sedetikpun dari Mardiyah.


"Ma-kasih."


^^^


Note:


*Otak saya tidak bisa di tahan😭


Silakan berkunjung*


__ADS_1


Sudah Bab 3 Insya Allah updatenya tiap hari bergantian sama Beda Tiga Tahun.


__ADS_2