Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
105 (1)


__ADS_3

Magrib menjelang acara selesai. Kak Devina dan Regita datang. Kedua wanita itu benar-benar membuat kebisingan. Belum lagi, Kak Devina membawa hadiah yang di maksud saat melakukan video call waktu itu. Ya, lingerie yang lebih hot katanya. Ada-ada saja Kak Devina ini.


Jelasnya, perbincangan ini terjadi di meja tamu. Sebab ini sudah di penghujung acara dan tamu-tamu telah berkurang.


"Pokoknya, malam ini langsung di pakai Mar," ujar Kak Devina. "Harus pokoknya."


"Nanti malam langsung tidur, Kak Dev. Capek," jawab Mardiyah jujur.


Regita spontan tertawa. "Biasanya sih kayak gitu, Kak Dev. Baru ... besoknya nggak ada tapi-tapian nggak ada alasan lagi."


Mardiyah hanya tersenyum tipis.


"Ngomong-ngomong, Mar. Suamimu kelihatan berondong banget, ya? Kayak anak SMA kalau saya lihat-lihat." Kak Devina menjeda. "Andai kata kamu staycation sama dia. Orang-orang pasti ngiranya kalian pacaran."


Kening Mardiyah mengerut. "Maksudnya ... saya jadi kelihatan kayak punya suami anak SMA gitu, Kak?"


Regita menyahut, "Enggak, Mar! Face kamu sama husband mu bener-bener mencerminkan orang yang kayak belum menikah gitu lho. Kayak ... masih virgin banget gitu dua-duanya."


"Iya bener! Aura-aura polosnya kerasa. Apalagi kalau kamu sama suamimu mau pakai baju SMA lagi. Fix sih, kalian bener-bener kayak anak muda yang lagi pacaran," imbuh Kak Devina.


Saya makin nggak ngerti sama bahasan Kak Devina dan Regita, batin Mardiyah.


"Orang-orang langsung pada mikir yang bukan-bukan kalau kamu sewa penginapan berdua," ujar Regita, lagi.


"Kalian berdua ini ..." Mardiyah mengangkat tangannya. "Terus apa gunanya cincin sama buku nikah?"


"Nggak ada gunanya, kalau pikiran orang memang menjorok ke sana, Mar," jelas Kak Devina.


Kak Devina bener. Tapi siapa yang peduli pendapat orang lain, Kak? Aku lebih memilih di pandang seperti itu, dibanding mengecewakan Lutfan, batin Mardiyah.

__ADS_1



Orang-orang telah pergi. Sebagian pulang, sebagainya lagi menginap di Jyotika Ira. Mama Cecilia memesan kamar khusus pengantin, kata beliau. Mardiyah benar-benar hanya bisa menurut saja, tadi pun ia juga sempat berpapasan dengan Pak Manggala. Beliau hanya tersenyum dan mengusap pucuk kepalanya. Sungguh Mardiyah tahu, Kakeknya sangat merasa bersalah atas perbuatan beliau dulu di vila keluarga. Namun mau bagaimana lagi? Semua telah terjadi, dan kelapangan dada masih tidak bisa ia berikan pada sang Kakek.


"Haa ... capeknya," gumam Mardiyah yang langsung merebahkan diri. Setelah bersih-bersih, ia memilih menggunakan pakaian tidur sepaha, yang tanpa lengan tetapi memiliki rompi. "Lutfan belum pulang juga, ya?"


Ia merubah posisi menjadi duduk. Lalu menatapi sekeliling ruangan yang benar-benar memiliki romansa pengantin baru. "Mama ada-ada aja. Pakai bunga-bunga segala, wangi-wangiannya juga beda. Padahal kan aku sama Lutfan bukan pengantin baru lagi."


Clek.


Pintu kamar terbuka. Sepertinya sang suami sudah tiba. Saat Mardiyah mendekatkan ternyata yang terlihat di sana adalah Meera.


Pelayan vila, kan? batin Mardiyah.


"Nona Muda!" Senyuman manis dari gadis muda ini terpampang jelas "Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam. Kamu ... gimana bisa ke sini? Bukannya kamu kerja di vila keluarga Adiwangsa?"


"Dan maaf, Nona Muda. Saya benar-benar tidak sengaja membuka kamar Nona dengan lancang," lanjut Meera.


Mardiyah menggeleng. Untung saja penginapan di Jyotika Ira memiliki private room. Jadi, sekalipun pakaiannya sedikit terbuka, tidak akan ada orang yang lalu-lalang. Mungkin cctv pun di bagian ujung saja, tidak sampai pada setiap ruangan.


"Meera, besok pagi kita bicara, ya? Saya sudah mengganti pakaian. Dan menunggu suami saya pulang dari mushola. Jadi saya minta pengertian kamu," ujar Mardiyah.


"Tidak pa-pa, Nona Muda. Saya tahu saya terlambat. Jadi jika Nona Muda bisa pagi hari pun saya akan menunggu, Nona." Meera sedikit menunduk. "Saya permisi. Assalamualaikum. Maaf menganggu waktu istirahat Nona."


"Waalaikumussalam."


Saat Mardiyah ingin menutup pintu, tiba-tiba terasa berat, seperti ada yang menahan. Saat Mardiyah mengintip, ternyata itu adalah sang suami. "Habis ngapain kamu buka pintu? Terima tamu?"

__ADS_1


Mardiyah mempersilakan Lutfan masuk dengan membuka pintu. "Iya."


"Terima tamu pakai baju kayak gini?" Lutfan telah menutup pintu. Kini memandangi pakaian istrinya dari atas ke bawah. "Cewek cowok?"


"Jelas perempuan, Lutfan. Lagi pula ini private room, nggak sembarang orang dibolehin masuk," jawab Mardiyah.


"Buktinya?" Lutfan menatap. "Kamu terima tamu ini apa? Katamu nggak sembarang orang bisa masuk."


"Tadi ada Meera, pelayan vila yang bantu-bantu aku dulu. Dia datang ke sini sendiri, nggak sama Abhimana atau siapapun."


"Meskipun cewek sama aja." Lutfan melepas sarung yang di pakainya, dan menyisakan celana pendek. "Nggak bisa gitu kamu pakai baju yang sopan dulu sebelum buka pintu? Takut-takut yang datang tadi cowok gimana?"


Mardiyah menghela napas pelan. Lutfan benar. Sedangkan tadi Meera memang lancang telah membuka pintunya sembarang. Tetapi gadis itu sudah meminta maaf. Dan Mardiyah memilih memaafkannya, karena tempat yang ia huni saat ini adalah private room. Jika bukan, mungkin ia tidak segan akan marah pada Meera.


"Iya. Aku minta maaf. Lain kali aku bakal ganti pakaian dulu," ucap Mardiyah pelan.


Lutfan perlahan-lahan menaiki ranjang. Ia merenggang tubuhnya dan menatapi langit-langit kamar. "Aku bilang gitu, juga demi kebaikan kamu. Aku nggak niat marah, aku nggak niat ngomentari apa yang kamu pakai juga. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa. Karena kejahatan itu nggak tahu waktu, Mar. Aku bener-bener khawatir sama kamu."


"Iya, Lutfan." Mardiyah telah menyusul suaminya. Bahkan menarik tangan Lutfan untuk di kecup singkat tepat di punggung tangan. "Maafin aku. Makasih atas nasihatnya. Insya Allah aku bakal ingetin terus apa yang kamu bilang."


Lutfan langsung memerah padam. Reaksi yang selalu sama saat Mardiyah mengecup punggung tangannya. Sialan banget. Cuma kecup tangan aja gue salting parah! batinnya yang menarik kembali tangan. "Tidur, Mar. Kamu capek, kan?"


"Enggak. Kamu capek, ya?"


Lutfan menjawab, "Biasa aja. Lagian aku duduk di kursi roda."


"Meskipun duduk kan bisa capek juga." Tangan Mardiyah meraba pada lengan sang suami. "Mau aku pijat nggak?"


"Enggak usah."

__ADS_1


Mardiyah mendekat bibirnya pada telinga Lutfan. "Kali ini ... aku pijatnya beda. Nggak kayak biasanya. Kamu yakin nggak mau?"


[.]


__ADS_2