Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
109 (1) : Ingatan Nenek Aisha Kembali.


__ADS_3

Lutfan terdiam.


"Lutfan ..."


"Kamu ketemu dia?" tanya Lutfan dengan memandang Mardiyah datar. "Di Jyotika Ira? Kamu bohongin aku? Katamu ketemu Bu Cecilia, tenyata Rajendra, kan?"


"Aku ... minta maaf," cicit Mardiyah. "Aku di sana juga ketemu Mama Cecilia. Tapi ... tujuan awalku memang ketemu Rajendra."


"Kamu percaya dia? Gimana kalau dia bohongin kamu? Terus macem-macem, hah?" Lutfan terlihat marah. "Kamu ngerti nggak, sih? Kalau aku khawatir, Mar."


"Aku ngerti. Tapi apa salahnya aku coba buat ketemu dia?" Mardiyah menatap Lutfan dalam. "Aku nggak sepenuhnya percaya. Tapi segimanapun aku menolak fakta, nyatanya dia tetep keluargaku, kan, Lutfan?"


"Dia bilang, dia tahu tentang Ibu," lanjut Mardiyah yang kemudian menunduk. "Aku setuju datang ke Jyotika Ira buat temui dia itu karena aku benar-benar mau tahu."


Lutfan terdiam.


"Orang pertama yang tahu aku anak dari Pak Gautama itu Rajendra. Dia bahkan tahu detail-detailnya. Dia tahu berapa hari aku di tinggalkan di panti ini setelah lahir, dia juga tahu alasannya, dia tahu hubungan Ibu dan---" Mardiyah menggigit bibir bawahnya. "Dia tahu semuanya. Jadi ... nggak ada salahnya kan? Ka-lau a-aku coba?"


"Dia bilang ... aku boleh ajak siapapun selain kamu." Mardiyah memegangi erat gamisnya. "Jadi aku berencana ajak Abhimata. Tapi aku juga tetep mau ajak kamu."


Terdengar Lutfan menghela napas.


"Tolong ... jangan marah, jangan juga ... larang aku buat nggak percaya dia, Lutfan. Aku belum coba datang ke pemakaman itu." Air mata Mardiyah menetes mengenai punggung tangan Lutfan. "Aku ... mau lihat sendiri ... mau berusaha cari Ibu."


"Aku bukan nggak menghargai kamu. Aku cuma ... mau berusaha sendiri. Tolong Lutfan," akhir Mardiyah.


Lutfan menatapi tangan kanannya yang di genggam Mardiyah. Kemudian tangan kirinya terangkat, menyentuh surai panjang sang istri.


"Okay. Minggu aku ikut," putus Lutfan.


Kedua sudut bibir Mardiyah terangkat. Bahkan ia langsung menarik tangan Lutfan mendekat pada bibirnya. "Makasih."


"Udah. Jangan nangis lagi. Aku udah izinin."


Mardiyah mengusap-usap kedua pipi kiri kanannya. "Iya."



Nenek Aisha memandangi setiap sudut ruangan ini. Bagus. Rumah luar berbeda dengan isinya. Kemudian matanya menangkap satu pigura sedang yang berada tepat di samping sofa. Di sana terdapat gambaran pengantin, yang ia yakini adalah Zanitha dan suaminya, Lutfan.


Tetapi, tidak lama ia mengerutkan kening. Apa suami Nitha sudah lumpuh dari dulu? batinnya. Sekejap saja ia ingat, foto itu di ambil saat resepsi. Aduh, akhir-akhir ini pikunnya sering kambuh.


Selanjutnya mata Nenek Aisha beralih ke samping lagi, di sana ada foto Lutfan muda. Dan di sampingnya, ada Umma Sarah, mungkin dengan suaminya. Saat ia menatap ke samping lagi, ada foto keluarga tetapi sepertinya di ... rumah sakit?


Itu ... Nitha? Terus yang di ranjang Nak Lutfan? Kapan fotonya? Kok aku enggak inget, anakku pernah foto ini sama suaminya? batin Nenek Aisha yang mulai bangkit mengambil foto itu dan menatapi dengan seksama. Lalu perlahan-lahan matanya menatap ke bawah, di sana terterah tanggal di awal tahun ini.


"Lho? Sebentar ... awal tahun ini?"


Nenek Aisha tiba-tiba mengingat tahun kelahiran anaknya. Kemudian ia dengan tergesa-gesa berjalan ke arah kamar Umma Sarah.


"Bu, Bu!" Pintu kamar Umma Sarah di ketuk beberapa kali hingga terbuka.


"Iya, Bu?" ujar Umma Sarah.

__ADS_1


Nenek Aisha menatap Umma Sarah sejenak dan langsung bertanya, "Nak Lutfan umur berapa, ya?"


"20 tahun, Bu."


Netra Nenek Aisha melebar.


"Kenapa, Bu?"


Nenek Aisha menggeleng. Harusnya Nitha umur ... empat tiga. Tapi gimana bisa dia menikah sama ... enggak, batinnya yang langsung beralih mengetuk-ngetuk pintu kamar Lutfan dan Mardiyah.


"Nitha, keluar!"


Lutfan dan Mardiyah yang baru saja ingin memejamkan mata sangat terkejut. Mardiyah tergesa-gesa turun tanpa sadar tidak menggunakan kerudung. Sedangkan Lutfan berusaha turun sendiri dengan berpegang kuat pada ranjang.


"Ada apa, Bu?" ujar Mardiyah saat membuka pintu. Di depannya ada Nenek Aisha dan Umma Sarah.


Nenek Aisha menyentuh rambut cokelat panjang milik Mardiyah. Kemudian ia menatap lama pada Mardiyah. "Kamu ... kamu bukan Nitha, kan?"


"Wajah ... rambut ... semua mirip. Tapi ..." Pandangan Nenek Aisha beralih pada mata Mardiyah. "Matamu ... kamu bukan Nitha. Nitha anakku ... dia ..."


Nenek ingat? batin Mardiyah yang menelan ludah beberapa kali. Bahkan ia menggeleng tidak percaya, matanya pula tidak berkedip. "A-aku ... memang bukan---"


"Kamu beneran bukan, Nitha, kan?!" sentak Nenek Aisha. "Terus kenapa kamu datang-datang ngaku sebagai anakku! Kamu ini penipu! Kamu ini---"


Umma Sarah menyanggah, "Bu Aisha, tenang, Bu. Saya bakal jelasin, Bu."


Nenek Aisha tiba-tiba jatuh terduduk yang spontan membuat Mardiyah berjongkok. "Nek, astaghfirullah."


Lutfan yang berada di belakang Mardiyah dengan kursi roda nampak terkejut. Sedangkan Umma Sarah telah siap membantu untuk mengangkat bagian atas disusul Mardiyah pada bagian bawah tubuh Nenek Aisha. Lalu meletakkan beliau pada sofa yang berada di ruang tamu.


Mardiyah mengusap-usap tangan Neneknya, berharap beliau sesegera mungkin sadar. "Nek ... Nenek ... bangun, Nek."


"Ini." Umma Sarah datang memberikan minyak kayu putih supaya segera Nenek Aisha hirup. "Mar, sebentar. Biar Umma lihat dulu Nenekmu."


Mardiyah bangkit. Ia berdiri di samping Lutfan yang duduk di kursi roda memandang khawatir pada Nenek Aisha. "Mar ..." ujarnya pelan.


Mardiyah menengok dengan tatapan mata sedih.


"Nggak pa-pa. Nenek kamu pasti baik-baik aja. Beliau cuma syok, Mar," lanjut Lutfan dengan memegangi tangan kiri Mardiyah. "Kamu tenang, ya?"


Tidak lama jari-jemari kanan Nenek Aisha bergerak. Beliau membuka mata perlahan-lahan, dan menatapi langit rumah dengan bingung.


"Nek ..." lirih Mardiyah yang kembali jongkok. "Nenek ... ini a-ku ... cucu Nenek."


Pandangan mata Nenek Aisha beralih pada Mardiyah. Mata beliau berkaca-kaca, bibir yang sedikit terbuka itu sulit untuk berkata-kata.


"Nek ..." Air mata Mardiyah menetes lagi. "Aku Mardiyah. Aku ... cucu Nenek. Aku bukan Ibu ... a-aku bukan anak Nenek."


Dari ekor mata Nenek Aisha. Mardiyah dapat melihat air mata mengalir dari sana, walau tatapan mata beliau kini lurus ke atas. "Cu ... cu? A-anak dari Nitha? Sama laki-laki bajingan itu? "


Mardiyah diam.


"Kamu bahkan keterlaluan," lanjut Nenek Aisha tanpa menatap. "Di resepsi pernikahanmu ... kamu izinkan laki-laki bajingan itu ... yang sudah menghancurkan hidup anakku, datang di sana."

__ADS_1


Air mata Nenek Aisha mengalir lagi. Bahkan Mardiyah merasa setiap ucapan yang dikatakan Neneknya penuh penekanan.


"Keputusan Nitha ... melahirkan kamu ... itu salah." Nenek Aisha menatap Mardiyah sejenak. "Kamu bahkan terlihat menyayangi laki-laki yang sudah membuat anakku menderita."


Mardiyah menggeleng pelan. "Nek, enggak---"


"Kenapa?" Tatapan keduanya bertemu lagi. Saat Nenek Aisha menyanggah. "Apa karena laki-laki itu kaya? Atau ... karena dia mau kasih kamu warisan? Atau apa? Kenapa bisa ... Nitha melahirkan anak ... yang nggak tahu diri?!"


Dada Mardiyah sesak. Kesimpulan yang diambil oleh Neneknya adalah hal yang menyakitkan. Bagaimana bisa beliau seperti ini?


"Bu Aisha," ucap Umma Sarah yang tiba-tiba memasuki pembicaraan. "Saya antar Ibu ke kamar dulu. Ibu harus istirahat. Mardiyah kamu juga istirahat, ya? Biar Nenekmu sama Umma."


Mardiyah masih mematung saat Nenek Aisha telah di tuntun Umma Sarah memasuki kamar. Sedangkan Lutfan memandangi punggung istrinya yang bergetar. Dia pasti nangis, batinnya yang tanpa sadar menggigit bibir bawah.


"Mar ..."


Dari belakang Lutfan melihat Mardiyah menggeleng.


Aku nggak tahu diri? batin Mardiyah yang memegangi dada. Sakit sekali. Neneknya berkata tanpa tahu sesakit apa ia menerima Gautama sebagai Ayah biologisnya. Kesimpulan bahwa ia lebih menyayangi Gautama adalah salah. Karena semenjak ia membaca surat dari sang Ibu. Ia telah memutuskan menyayangi Ibunya lebih dari siapapun manusia di dunia ini. Tetapi mengapa, Neneknya menganggap bahwa pertemuan ia dengan Gautama seakan-akan itu adalah pengkhianatan?


Mardiyah memahami ini wajar. Tetapi tuduhan itu sangat tidak bisa ia terima. Kenapa saat beliau tahu ia adalah cucunya, beliau tidak langsung memeluk? Beliau memilih mempertanyakan sesuatu yang telah berlalu.


Jadi, aku salah bertemu dengan Ayahku, Nek? batin Mardiyah.


"Mar ..."


Mendengar suara Lutfan dengan jelas. Mardiyah langsung mengusap kedua pipinya, menghapus air mata dan berbalik. "Ayo istirahat," ujarnya pelan.



"Besok ayo langsung ke Jyotika Ira," ujar Lutfan tiba-tiba. "Aku ambil libur."


Mardiyah diam.


"Mar ..."


"Iya?"


"Kamu dengerin aku?"


Mardiyah mengangguk. "Denger."


Lutfan mengambil tangan Mardiyah, dan menggenggamnya. "Aku udah bilang nggak pa-pa, Mar. Nenek cuma syok aja. Beliau pasti nggak bakal kayak gitu lagi."


"Iya."


"Umma pasti bakal bicara sama Nenek. Kamu jangan sedih-sedih, ya?"


"Iya."


Lutfan terdiam sejenak, menatap seksama istrinya yang sedari tadi hanya mengiyakan. "Mar ... udah. Sini deketan aku lagi. Tidur pelukan sama aku."


"Aku ... mau nangis, lagi. Tolong ... jangan lihat, jangan ... dengerin juga," ujar Mardiyah yang langsung memeluk erat Lutfan.

__ADS_1


Lutfan mengangguk pelan. "Iya. Aku bakal pura-pura."


__ADS_2