Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 16


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Tepatnya minggu bersama malam ini di adakan acara khusus untuk anak-anak panti asuhan dan pesantren yang boleh berkunjung. Seperti biasa, Mardiyah akan menjaga stan depan di mana menyambut anak-anak, untuk memberitahu peraturan dan cara bermain.


Dan juga, banyak penyumbang tetap yang hadir di acara ini. Salah satunya adala Adyuta. Aryandra benar-benar berkunjung ke mari, tetapi tidak bersama keluarganya. Lelaki itu mengajak salah satu temannya yaitu Regan, selaku sekertaris Gumira Adiwangsa.


"Kamu Mardiyah, ya? Teman kerja Regita?"


Mardiyah mengangguk, seperti biasa pula ekspresinya kali ini tidak terlalu datar. "Iya."


"Salam kenal. Saya, Regan."


Mardiyah mengangguk tanpa menerima tangan kanan Regan.


"Salam kenal. Saya Mardiyah. Maaf tidak bisa bersalaman," ujar Mardiyah.


Regan tertawa ringan, menarik tangannya. "Ah, iya. Saya lupa, perempuan muslim tidak bisa sembarangan bersentuhan dengan laki-laki, ya?"


"Iya."


Aryandra menyahut, "Pengetahuanmu bertambah, Regan."


Regan pergi. Dia bilang, ingin mencoba segala makanan yang tidak pernah di cobanya di kota. Sedangkan Aryandra menahan Mardiyah di sini. Entahlah apa yang ingin lelaki itu katakan, sampai-sampai membutuhkan waktu selama ini.


"Silakan bicara," ujar Mardiyah.


Aryandra menatap lurus di mana orang-orang berlalu-lalang ada yang bermain-main, ada yang saling tertawa, ada pula yang makan bersama.


"Tempat tinggalmu indah, Mardiyah," ucap Aryandra.


Ya, indah, batin Mardiyah dengan juga menatap lurus, fokusnya sekarang adalah Inayah yang sedang mencoba permainan dengan Salsa. "Yang kamu lihat sekarang adalah hiburan semata. Karena sebenarnya, tidak ada yang indah dalam kehidupan anak-anak di panti asuhan ini," ujarnya.


"Hiburan semata? Tidak ada yang indah?" Aryandra menggeleng pelan. "Saya rasa, kamu saja yang terus menerus melihat kehidupanmu dan anak-anak panti asuhan ini dari sudut pandang kesedihan, Mar."


"Seperti itu kah?" Mardiyah menengok menatap Aryandra dari samping. Lelaki ini memang pangeran tertampan dari keluarga Adyuta. "Jadi kamu ingin mengatakan bahwa saya kurang bersyukur?"


"Kamu yang bilang. Bukan saya," ujar Aryandra dengan tertawa ringan.

__ADS_1


"Lalu orang sepertimu ini apa, Aryandra?" Pandangan Mardiyah beralih lurus saat Aryandra menatapnya. "Hanya bisa memandang dari sudut bahagia saja."


"Kamu pikir kehidupan manusia itu tentang kesenangan saja?" imbuh Mardiyah.


Aryandra menggeleng. "Memang kamu pernah bertemu dengan orang yang seimbang dalam memikirkan kehidupannya?"


Pernah, orang itu berada di dekat saya, batin Mardiyah tanpa menangapi ucapan Aryandra.


"Saya rasa tidak. Karena manusia akan condong pada salah satunya. Jika sedih, manusia akan terus menerus mengingat masa sedihnya. Jika bahagia, segala kesenangannya akan terus terasa," lanjut Aryandra.


Ada. Lutfan tidak pernah condong dari salah satunya, batin Mardiyah, lagi.


"Saya benar 'kan, Mardiyah?


Mardiyah mengangguk. "Ya. Saya memang condong pada salah satunya. Tetapi Aryandra, saya sudah pernah bertemu dengan seseorang yang seimbang dalam memikirkan kehidupannya."


"Siapa?"


Mardiyah menengok. "Kamu tidak perlu tahu."


"Laki-laki?"


Aryandra mengangguk dengan tertawa ringan. "Saya hanya ingin tahu."


Terjadi kebisuan beberapa saat. Hingga Mardiyah berujar, "Dia teman kecil saya."


"Anak panti asuhan juga?"


"Iya." Mardiyah bangkit. "Saya permisi. Karena saya rasa pembicaraan kita sudah lebih dari cukup."


...🌺...


Pembicaraan macam apa yang sedang di lakukan oleh kedua insan berlawan jenis itu? Sial. Matanya merasa ternoda, mengapa harus melihat pemandangan tidak mengenakan seperti ini?


Ah, penyumbang tetap, ya? batin Lutfan dengan netranya yang kembali fokus mengatur koin-koin untuk anak-anak. Apa dia laki-laki yang satu mobil dengan Mardiyah? Karena tadi ia sempat melewati parkiran dan melihat laki-laki itu turun dari mobil yang percis dilihatnya dulu di Lazuardi hotel.

__ADS_1


Bahkan senyum dan tatapan laki-laki itu tidak pernah hilang dalam memandangi Mardiyah. Apa butuh di ceramahi? Supaya mata itu bisa menunduk, tidak sembarangan memandang!


"Lut! Ngelamun aja kamu!"


Seperti biasa. Banyu adalah orang kedua setelah Aldo yang selalu suka mengagetkannya.


"Gue lagi ngitung koin, Nyu. Bukan lagi ngelamun," ujar Lutfan.


Banyu menggeleng-geleng. "Ngapusi! Kalau kamu bener-bener ngitung harusnya tahu toh kalau si Inayah minta koin lagi ke kamu."


Lutfan menatap ke arah depan di mana santri senior memberikan koin untuk Inayah.


"Ah, itu?" Lutfan berdeham. "Gue emang nggak denger Inayah ngomong, Nyu. Kurang keras. Kan di sini berisik."


"Lah?"


Lutfan keluar dari staf. "Gue mau ke dapur dulu. Minum."


"Lho tapi Lut. Kan ada---"


Lutfan langsung berlalu tanpa mendengarkan ucapan Banyu. Tujuannya adalah dapur, ingin meminum di sana saja. Barangkali sepi, ia ingin menenangkan diri sembari istirahat. Karena tadi pagi baru saja wisuda.


"Mas Lutfan, butuh sesuatu?"


Baru saja ia duduk. Terdengar suara lembut yang berbicara, ternyata Ustazah Aini, Kakak dari Banyu.


"Enggak, Ustazah. Saya cuma mau duduk-duduk bentar di sini," jawab Lutfan.


Sepertinya Ustazah Aini sedang berkutat di dapur. Satu menit lamanya, akhirnya beliau berpamitan pergi dan sebelum itu Ustazah Aini berujar, "Ada teh di sana, Mas. Terus es batunya ada di baskom."


"Eghmm ... i-iya Ustazah. Maaf merepotkan."


Ustazah Aini tersenyum tipis. "Saya permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."

__ADS_1


Rasa dahaganya belum hilang, cepat-cepat ia mengambil teh dan es batu. Lantas meneguk hingga habis, segar rasanya.


"Seenggaknya, bisa bikin gue mendingan lah! Nggak ngerasa panas banget kayak tadi," gumam Lutfan.


__ADS_2