
Saat mobil memasuki pelataran Adiwangsa hospital. Terlihat begitu banyak orang berlalu-lalang sebagian menaiki sepeda motor, sebagian lagi becak, dan sebagiannya mobil. Kata orang-orang berobat di rumah sakit ini juga bisa menggunakan BPJS, Mardiyah yakin itu benar. Sedetik ia menengok mobil Alphard yang di tunggangi berhenti di parkiran bawah tanah, ada tulisan VVIP di sana.
Hm, parkiran pribadi, batin Mardiyah.
Tangannya tiba-tiba terasa hangat, ternyata Lutfan menyentuh dan di genggam sedikit erat.
"Kamu kenapa?" bisik Mardiyah.
Lutfan menggeleng. "Enggak. Gue nggak pa-pa."
"Nak Mardiyah, kita langsung ke lantai tiga untuk melakukan test DNA. Saya sudah menjamin tidak ada yang akan tahu selain kita berempat," jelas Dokter Gumira.
Mardiyah mengangguk. Secepatnya, mereka menuju ke lantai tiga, di sana seperti di buat khusus untuk melakukan test DNA tanpa di ketahui oleh siapa pun. Sebab yang mengambil darah pun Dokter Gumira saja, setelah selesai yang memeriksa hasilnya pun adalah orang kepercayaan keluarga Adiwangsa, ternyata ada Regan juga di sana. Mardiyah hampir lupa jika Regan adalah sekertaris atau selaku tangan kanan Dokter Gumira.
"Hasil secepatnya tiga hari setelah pengambilan sempel darah, Pak. Mohon dengan kesabaran anda menunggu," jelas Regan.
Dokter Gumira mengangguk. "Saya percaya kan semua padamu, Regan. Tolong jangan mengecewakan saya."
Setelah usai. Mereka hendak turun ke lantai dasar, namun tidak di sangka-sangka olehnya harus bertemu dengan Aryandra Adyuta. Orang itu, tepat di hadapannya bersama seorang wanita paru baya.
"Khadijah, Aryandra," ujar Dokter Gumira.
Seulas senyum Aryandra tampakkan tapi bukan pada Dokter Gumira dan Bapak Gautama saja. Melainkan juga pada Mardiyah.
"Ooh, Mardiyah? Kamu ..." Tatapan Aryandra melihat pada Dokter Gumira dan Bapak Gautama. "Mengenal ... beliau-beliau?"
Dokter Gumira menyahut, "Kebetulan saja Aryandra, karena Nak Mardiyah barusaja mengantar suaminya terapi."
"Suami?" Aryandra memandangi Lutfan dengan seksama. "Oh? Anaknya Umma Sarah, ya?"
Tatapan Aryandra beralih pada Mardiyah. "Jadi kamu sudah menikah? Dan ... dia suamimu, Mar?"
Mardiyah hanya diam.
"Gumira, Gautama saya sedang buru-buru bersama Aryandra, jadi maaf jika saya tidak bisa berbincang terlalu lama," ujar Khadijah yang langsung mengandeng Aryandra.
"Tidak masalah, Khajidah."
Setelah kepergian Khadijah dan Aryandra. Mardiyah menatap Bapak Gautama dan Dokter Gumira bergantian. "Saya pamit, sudah di jemput oleh sopir suami saya."
"Tapi---"
"Saya tunggu hasilnya, Dok. Anda bisa berkunjung ke panti asuhan. Atau jika tidak bisa melalui Regan saja, kebetulan saya mengenal Regan," jelas Mardiyah.
"Cak Sur belum datang. Lo nggak kepanasan?"
Mardiyah menggeleng, membenarkan duduknya dengan menarik Lutfan lebih dekat, dan memandangi sekeliling yang memang mulai terik. "Enggak. Kamu kepanasan?"
__ADS_1
"Dikit sih."
Mardiyah menarik Lutfan lebih dekat lagi, lalu melepas outernya menutupkan pada kaki suaminya. "Udah. Ketutupan dikit, insya Allah kakimu nggak kepanasan lagi."
"Enggak. Nggak usah, Mar," tolak Lutfan.
Mardiyah diam memandangi Lutfan yang seakan menolak untuk berada di dekatnya. Bahkan outer yang di gunakan untuk menutupi di kembalikan lagi oleh suaminya.
"Kamu kenapa?"
Lutfan menggeleng. "Cak Sur dateng."
Mobil toyota hitam berhenti tepat di hadapan Lutfan dan Mardiyah, lalu Cak Sur keluar membantu Lutfan untuk naik ke mobil. Setelahnya, mobil kembali melaju meninggalkan pelataran Adiwangsa hospital.
"Cak mampir outlet, ya?"
Mendengar ucapan Lutfan spontan Mardiyah menengok. "Kamu kan baru keluar rumah sakit. Kena---"
"Nggak pa-pa. Gue cuma mau mampir lihat-lihat. Kalau lo nggak mau, nanti Cak Sur bisa anter lo pulang duluan," sanggah Lutfan.
Mardiyah menunduk. "Mau. Saya temani."
Untuk dikatakan sakit hati. Mungkin, iya. Sebab ucapan Aryandra benar-benar terkesan merendahkan dirinya, seakan-akan menjadi suami dari Mardiyah bukanlah hal yang pantas untuk ia dapatkan. Bahkan Mardiyah pun tidak berucap apa-apa, hanya diam seolah malu mengakuinya sebagai suami.
Lutfan paham menjadi suami dari lelaki lumpuh bukanlah ingin dari semua perempuan. Jika saja ia bisa menolak, bisa mengatakan bahwa amanah Abinya bukan lah sesuatu yang harus dituruti, mungkin sampai sekarang Mardiyah tidak akan menjadi istrinya.
"Kamu dari tadi diam aja," ujar Mardiyah.
Lutfan tersadar dan berucap, "Gue lagi ngerjain penjualan ini."
Mardiyah berdiri mendekat pada Lutfan.
"Kamu nggak capek? Lukamu nggak ada yang sakit?"
"Enggak."
Mardiyah menghela napas, tangannya berani menyentuh lengan Lutfan. "Kamu marah sama saya?"
"Enggak, Mar. Gue lagi ngerjain penjualan ini lho. Masa lo nggak lihat sih?"
"Tapi ..." Mardiyah semakin meminta Lutfan menatapnya dengan menarik lengan kanan suaminya. "Kamu kelihatan beda."
"Beda gimana sih?"
Jeda tiga detik Mardiyah berujar, "Kamu nggak suka, ya? Tadi di rumah sakit kita ketemu sama Aryandra?"
"Nggak usah bahas dia. Males gue," ucap Lutfan dengan menarik tangan Mardiyah dari lengannya. Namun ditahan detik itu juga. "Mar hmmpp---"
__ADS_1
Lutfan benar-benar tidak memahami Mardiyah. Bagaimana bisa perempuan yang sekarang menciumnya ini lebih mendominasi di bandingkan dirinya. Bahkan saat ia mendorong, meminta Mardiyah lepas ciuman ini, tidak kunjung di sambut juga. Tidak ingin di lepas.
"Haaa." Mardiyah melepas ciuman itu. Tetapi masih tidak melepaskan tangannya dari kedua rahang Lutfan. Bahkan tidak sempat menjauhkan diri, ia berujar, "Saya merasa kamu memang marah karena itu."
"Demi Allah, Lutfan." Mardiyah memundurkan dirinya, duduk tertunduk dan kembali berucap, "Enggak terjadi apa-apa antar saya dan Aryandra."
Tanpa sadar bibir Lutfan berucap, "Di mobil?"
"Enggak. Sama sekali enggak ada apa-apa."
"Terus ... kenapa lo ... waktu itu nangis?"
Mardiyah diam sejenak. "Saya cuma takut. Nggak boleh emang saya nangis?"
"Ya di apain kok sampai lo takut?" tanya Lutfan sekenanya.
Saat Mardiyah hendak menjawab terdengar suara ketukan pintu dari luar. Lutfan cepat-cepat mengusap bibirnya, memundurkan kursi rodanya dan menjauhi Mardiyah. Tidak lama setelahnya, Aldo masuk dengan membawa berkas-berkas.
"Eh? Ada bida---" Melihat Lutfan melotot spontan Aldo berganti ucapan. "Maksud gue. Ada istrinya Lutfan. Boleh masuk, nih?"
"Boleh. Silakan," ujar Mardiyah.
Aldo langsung mengambil duduk tepat di sofa panjang. Lantas menjelaskan beberapa penjualan yang selama hampir seminggu lebih Lutfan tinggal.
"Oke?"
Lutfan mengangguk. "Lo makin pinter, Do. Bermanfaat. Besok gue mau lo cek penjualan di Mojokerto. Bisa nggak?"
"Gampang. Gue perlu ke sana juga nggak?"
"Kalau lo nggak kerepotan," jawab Lutfan.
Aldo bangkit. "Sama sekali enggak. Dan ...eghmm Mbak Mardiyah saya pamit, ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Saat Aldo benar-benar sudah keluar. Lutfan kembali menatap dan mendekati Mardiyah.
"Mar ..."
"Ya?"
Lutfan menghela napas, dan membuang muka. "Kalau gue boleh jujur. Gue nggak suka sama Aryandra itu. Gue nggak suka lo deket-deket dia. Apalagi dulu ... kurang ajar banget dia berani sentuh-sentuh lo!"
"Maaf."
Lutfan menengok, menatap istrinya. "Apasih Mar? Jangan minta maaf. Gue nggak suka."
"Terus?"
__ADS_1
"Intinya, nggak usah deket-deket dia. Kecuali ..." Lutfan menatap ke arah lain. "Kalau lo emang suka sama dia."
"Enggak. Sama sekali enggak. Saya nggak suka sama dia."