Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
108


__ADS_3

"Termasuk kamu, kan?" tanya Rajendra.


Mardiyah hanya menatap. Sedang Rajendra meletakkan iPad di meja. Lalu mendorong ke arah Mardiyah, meminta saudaranya itu melihat.


"Silakan," ujar Rajendra.


Kening Mardiyah mengerut. "Apa?"


"Bukannya aku sudah bilang, kalau aku memiliki informasi tentang keluargamu." Rajendra membuka telapak tangan dan mengayunkan ke atas. "Jadi, silakan lihat. Atau kamu perlu dibacakan ... oleh Adikmu ini?"


Mardiyah dengan wajah datar mengambil iPad itu. Ia membaca dengan teliti di dalam hati. Pada bagian pertama adalah riwayat hidup seperti yang di kirim oleh Mama Cecilia. Berikutnya masih sama tempat tinggal Nenek Aisha dulu. Lalu, berikutnya lagi berbeda. Di sana tertulis bahwa Zanitha adalah sekertaris dari Gautama Adiwangsa. Kehamilan pun di sebutkan dengan jelas, dan yang terakhir adalah kematian Ibunya.


"Semua hampir sama seperti yang di berikan oleh Mama Cecilia," ujar Mardiyah.


Rajendra mengangguk setuju. "Memang. Sengaja aku tidak menulis alamat rumah Ibumu dan pemakamannya. Aku ingin tahu seserius apa kamu membaca."


Dia tahu pemakaman Ibu? batin Mardiyah.


"Hari ini aku berencana mengajakmu ke pemakaman." Rajendra menatapnya. "Bersedia ikut?"


Mardiyah berpikir sejenak. Apakah laki-laki di depannya ini sedang berbohong? Mardiyah tidak pernah lupa Rajendra pernah memperlakukannya dengan sangat tidak baik. Apa orang bisa semudah itu berubah? Dan langsung menjadi baik?


Mungkin.


Tetapi untuk Rajendra sepertinya hal memungkinkan itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimana jika dia macam-macam? Ia hanya izin pada Lutfan untuk ke Jyotika Ira menemui Mama Cecilia. Bukan menemui Rajendra.


"Takut?" ujar Rajendra.


Mardiyah yang semula melamun ke arah lain. Kini menatap Rajendra lagi. "Menurutmu? Kamu tidak pernah lupa kan? Kelakuan gila yang pernah kamu lakukan pada saya? Jika saya bersedia ikut bukankah berarti saya mencari mati?"


"Lalu kedatanganmu ke mari? Bukankah mencari mati juga?" Rajendra tersenyum miring. "Jika sudah masuk ke kolam, sekalian saja menyelam. Lagi pula sudah basah, kan?"


Mardiyah menelan ludah.


"Bercanda," lanjut Rajendra dengan tertawa sendiri.


Lagi-lagi Mardiyah tidak mendengar cara orang bercanda seperti Rajendra. Selain wajah dia tidak pantas, tingkah lakunya saat bercanda pun juga tidak pantas. "Saya tidak mau," putus Mardiyah.


Salah satu alis Rajendra terangkat. "Tidak mau? Kamu yakin? Aku serius tentang pemakaman Ibumu itu."


"Iya. Saya yakin," ujar Mardiyah.


Rajendra tiba-tiba saja bangkit, lelaki itu mendekat. Mardiyah sudah siap mengambil ancang-ancang untuk berdiri juga. Namun Rajendra lebih cepat menguncinya. "Mahika. Itu nama yang diberikan Kakek, kan?"


Mardiyah hanya diam menatap.


"Aku mengingat semuanya. Aku memang sudah gila dari awal. Karena kamu yang tiba-tiba datang ke keluargaku. Rasanya pun, aku ingin mencelakai kamu terus, jika bisa sampai kamu mati."


Jantung Mardiyah berdetak kencang. Ini gila. Ia mencoba mendorong Rajendra menjauh.


"Tapi ..." Rajendra menatapnya. "Jika aku berubah pikiran. Ingin menjadi saudara yang baik. Apa itu salah? Apa itu terdengar dan terlihat aneh untukmu?"


"Ya, sangat aneh," jelas Mardiyah.


Rajendra terkekeh. "Baiklah." Kemudian menjauhi Mardiyah dengan berbalik menatap jendela. "Ajak siapa pun. Kecuali suamimu, untuk ke pemakaman minggu ini."


"Kenapa suami saya di kecuali kan?"


Rajendra terdiam sejenak. Kemudian berbalik lagi dan menjawab, "Karena kursi roda. Pemakaman Ibumu tidak memiliki jalan yang rata."


"Jika karena itu suami saya masih bisa datang. Dia bisa menunggu di depan, tidak ikut masuk ke pemakaman," ujar Mardiyah.


Rajendra menghela napas. "Selain karena kursi roda. Suamimu itu banyak bicara. Aku tidak suka orang berisik."


Mardiyah terdiam sejenak. Memangnya dia pernah bertemu dengan Lutfan? batinnya. "Ya sudah."


"Baiklah terserah padamu."



📍Outlet Kedai Amanah di Mojokerto.


Lutfan datang lebih awal sebelum outlet buka. Sedangkan Aldo baru datang pukul dua belas siang ini. Lalu staf perempuan yang di maksud oleh Aldo pun juga baru saja datang, tetapi tidak dengan lelaki yang menghamilinya, dia datang sendirian.


"Pak Lutfan ..." Staf perempuan bernama Rita itu menunduk dalam. "Saya tidak berbohong. Dia yang melakukan itu, Pak."


"Gila nih cewek!" Aldo membuang muka. "Lo ini kenapa, hah? Jelasin kapan gue apa-apain lo? Jangankan apa-apaain lo! Pegang tangan lo aja gue nggak pernah!"

__ADS_1


Staf perempuan itu berujar, "Anda menyentuh saya.  A-anda yang melakukannya. A-anda---"


Tiba-tiba Aldo menyahut, "Dari awal lo nggak bisa di ajak ngomong baik-baik." Aldo bangkit hendak mendekati Rita. Namun di tahan oleh Lutfan. "Lut, udah deh. Gue ke sini bukan mau dengerin dia ngebacot. Dia ini salah mau cari masalah sama gue. Dia nggak tahu gue siapa. Gue bakal---"


"Udah, Do. Masuk sana ke ruangan lo. Gue mau ngomong dulu sama staf ini," putus Lutfan dengan melirik Rita sekilas.



Setelah berbicara dengan jelas pada staf perempuan itu. Lutfan memasuki ruangan Aldo dengan memijat kening. Masalah sudah selesai, dan Rita mengakui bahwa ia di hamili oleh salah satu staf laki-laki di sini, yang tidak lain adalah kekasihnya.


Orang-orang ini tidak mengerti dosa kah? Mengapa sampai berbuat demikian? Lalu menuduh yang lain yang tidak berbuat? Hingga Lutfan harus mengambil keputusan tegas untuk memperkerjakan salah satunya saja, itu pun terpaksa ia pindahkan ke outlet lain. Supaya Aldo tidak terganggu.


"Udah?"


"Hm." Lutfan duduk lalu menyandarkan punggung pada sofa. "Dia hamil sama staf lain di sini juga."


"Gila ... terus lo pecat mereka?"


"Gue minta salah satu dari mereka yang kerja di Kedai Amanah. Tapi gue pindah ke outlet lain," jawab Lutfan.


Aldo melirik ke arah lain. "Jijik gue, Lut. Gimana bisa gue suka sama cewek kayak gitu?"


"Udah, Do."


"Udah-udah! Kalau gue beneran jadi sama dia, gue bener-bener nggak mau ngakuin anak yang bahkan gue nggak tahu siapa bapaknya!" Aldo bergidik. "Belum lagi. Gue harus dapet cewek yang nggak bisa jaga harga dirinya. Gue benaran nggak nyangka, Lut. Ternyata bener, ya? Mau dapet perawan jaman sekarang itu susah banget."


Lutfan yang tadinya santai kini mengubah posisinya menjadi duduk. "Lo bilang apa?"


"Gue nggak perlu ulangi pun lo udah paham, kan?"


Lutfan mengangguk. "Ya udah-udah. Makanya lain kali lo cari yang bener. Semua itu kudu lihat sampai teliti. Eh? Enggak-enggak maksud gue. Lo itu tahu dulu benernya gimana? Jangan apa-apa langsung ajak nikah."


"Hm."


Lutfan menghela napas.


Sedangkan Aldo menatap langit-langit ruangan ini. "Tapi gue udah terlanjur bilang ke Bokap Nyokap gue, Lut. Terus siapa yang bakal gue lamar?"


"Ya tinggal bilang aja batal," jawab Lutfan.


Aldo menggeleng. "Enggak. Gimana kalau gue cari yang lain aja?"


"Lo nggak ada kandidat, Lut?"


Kening Lutfan mengerut. "Lo mau gue cariin?"


"Ya siapa tahu lo ada kenalan. Barangkali santri atau ... anak panti asuhan juga nggak pa-pa," jawab Aldo.


Lutfan mengibas tangannya. "Enggak-enggak. Enggak ada! Sana lo cari sendiri."


Aldo terdiam sejenak. "Lut."


"Apa, hah? Gue nggak udah bilang cari sendiri, kan?"


Aldo menatap Lutfan. "Salwa, umur berapa sih?"


Lutfan yang tadi sibuk menatap ke arah jendela. Kini beralih menatap Aldo dengan mata melebar, lalu berubah menjadi tatapan kesal. "Lo! Apa-apaan, hah? Lo mau ... Akh, gila! Ngapain lo tanya-tanya umur Salwa, hah?"


"Gue cuma tanya. Salah?"


"Salah!


"Kalau lo nggak mau jawab ya udah. Gue tinggal tanya ke Umma Sarah," ujar Aldo santai.


"Anjir, lo!" Mata Lutfan melotot pada Aldo. "Umur lo sama dia beda jauh! Inget! Umur dia belum legal nggak usah lo deket-deket dia!"


"Oh belum legal. Berarti antara lima belas, enam belas, ya?" Aldo menatap langit-langit ruangan. "Nggak pa-pa gue bisa nunggu dia sampai lulus sekolah. Palingan 3 tahunan, kan?"


"Istighfar lo, Do! Istighfar!"


Aldo menatapnya serius. "Ngapain? Gue nggak niat macem-macem. Otak gue juga masih waras. Gue bakal nunggu tiga tahun. Tapi sebelum itu gue mau ketemu sama Kiai Bashir, biar adik sepupu lo itu nggak di jodohin."


Astaghfirullah ini anak! batin Lutfan.


Aldo mengibas tangan. "Balik topik! Lo di wa sempet bilang mau bahas liburan, kan?"


"Iya. Gue mau bulan madu," jawab Lutfan. "Di luar kota aja, sih. Lo kapan ambil libur?"

__ADS_1


"Dua bulan ini kayaknya gue nggak bakal ambil liburan. Kalau lo mau honeymoon. Honeymoon aja sana, gue bakal mampir ke outlet-outlet yang lo jaga. Gue juga bakal minta bantuan ke Mas Jafar," jawab Aldo.


Lutfan menatap sejenak. "Lo yakin?"


"Iya. Suntuk di rumah. Keliling outlet nyenengin juga, Lut."


"Okay. Perkiraan tengah bulan gue berangkat. Lo aman kan gue tinggal?"


Aldo mulai membuka laptopnya. "Aman. Insya Allah. Aman."



Mardiyah telah memutuskan ingin di temani oleh siapa saja. Tetapi sebelum itu, ia harus berbicara dengan Lutfan terlebih dahulu. Bakda magrib biasanya Lutfan akan segera pulang, ia tinggal menunggu saja. Kebetulan tadi juga ia sudah memasak nasi dan beberapa lauk.


Kling!


Gawainya berbunyi. Mardiyah melihat notifikasi, mungkin sudah di balas oleh Abhimata.


Abhimata


Bisa. Ke mana, Kak?


^^^Besok saya beritahu tempatnya.^^^


Alhamdulillah. Ternyata Abhimata bisa, batin Mardiyah. Tidak lama pintu kamarnya terbuka, ternyata Lutfan sudah datang dengan wajah letih.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Mardiyah bangkit dan membantu mendorong kursi roda Lutfan. "Kamu mau makan atau mandi?"


"Aku mau istirahat langsung aja. Capek, Mar," ujar Lutfan yang memasuki kamar mandi langsung. Sedangkan Mardiyah menunggu di luar dengan menyiapkan baju ganti suaminya.


Selang beberapa menit akhirnya Lutfan keluar dengan rambut basahnya, beserta handuk di punggung. "Mar, aku boleh minta tolong?" ujar Lutfan.


"Boleh."


"Aku haus. Boleh minta tolong ambilin minum?"


Mardiyah mengangguk. "Kamu tunggu di sini, ya?"


"Iya."


Saat Mardiyah keluar. Terdengar notifikasi di gawai sang istri, saat ia mendekat dan melihat ternyata dari Abhimata.


Abhimata


Berdua aja, Kak?


Kening Lutfan mengerut. Mereka mau ke mana? batinnya yang meletakkan kembali gawai sang istri.


"Lutfan, ini minumnya," ujar Mardiyah yang tiba-tiba datang.


Lutfan tersenyum tipis. "Makasih." Ia langsung meneguk air mineral. Setelahnya ia kembali berujar, "Mar, tolong bajuku."


"Ah, iya." Mardiyah menyerahkan baju Lutfan, dan mengambil alih gelas. "Ini."


Lutfan meletakkan handuknya di paha. Kemudian ia mengenakan pakaian, dan perlahan-lahan ia menaiki ranjang. Handuknya ia selempangkan di kursi roda.


"Mar ..."


"Iya?" Mardiyah mendekat, ikut menyadarkan punggung.


"Maaf, ya. Aku tadi nggak sengaja lihat chat kamu sama Abhimata. Kalian mau ke mana?"


Mardiyah terkejut. Ia berbalik mengambil gawainya, dan membalas pesan dari Abhimata. Setelahnya ia berbalik menatap Lutfan lagi dengan tersenyum tipis.


"Kebetulan juga aku mau bicarain ini sama kamu." Tangan Lutfan yang berada di ranjang di sentuh oleh Mardiyah. "Minggu besok. Paginya. Kamu mau ikut aku ke pemakaman Ibu?"


"Ibu? Ibu kamu? Mertua aku?"


Mardiyah mengangguk.


"Nenek udah inget?"


"Belum."


"Terus kamu tahu dari mana?"

__ADS_1


Mardiyah terdiam sejenak. "Dari ... Rajendra."


[.]


__ADS_2