
Setiap harinya, Mardiyah selalu berada di rumah sakit, yang ternyata di bawah naungan keluarga Adiwangsa. Seharusnya dari dulu ia sadar bahwa ini adalah Adiwangsa hospital. Bahkan menjaga Lutfan pun bergantian dengan Jafar, Alma, dan lain-lainnya. Sesudah berbaikan dengan Alma, ia memang merasa lebih dekat. Pikirannya dulu salah, nyatanya Ummi Salamah yang lebih menyayangi Alma. Sedangkan Umma Sarah tetap selalu menyayanginya.
Kekanak-kanakan memang.
Seiring berjalannya waktu juga, entah pikiran dari mana tiba-tiba Lutfan menyetujui pernikahan. Bahkan itu di tengah-tengah malam yang tidak ia sangka, untung saja saat ini ada Kiai Bashir.
"Sekarang, Le?"
Lutfan mengangguk. "Iya, Kek."
"Ya udah, Kakek hubungi Ummamu dulu."
Kiai Bashir tidak hanya menghubungi Umma Sarah. Beliau juga menghubungi penghulu yang beliau kenal baik. Sedangkan Mardiyah terdiam mematung duduk di sofa, tanpa memandang ke arah Lutfan.
Di-dia serius? batin Mardiyah.
"Lo ... mau mahar apa?"
Mardiyah terdiam sejenak. "Apa-pun yang kamu sanggupi."
Satu jam menunggu, penghulu datang, serta wali hakim juga. Selanjutnya Umma Sarah meminta dirinya untuk di make up sedikit saja, tanpa berganti pakaian hanya merapikan kerudung. Akad di dalam, kata beliau, sedang di laksanakan. Entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang. Lutfan memberinya mahar seperangkat alat salat, serta cincin yang entah kapan dibelinya.
"Nanti kalau udah selesai, kita masuk, Nak. Kamu gugup nggak?"
Mardiyah menggeleng. "Enggak, Umma. Cuma ... jantung Mardiyah berdebar-debar."
Umma Sarah tersenyum tipis. Tidak lama pula pintu ruangan Lutfan terbuka, keluar lah Kiai Bashir, penghulu serta wali hakim. Setelah itu tiba-tiba saja memintanya berdiri, mendorong pelan dirinya untuk masuk, tanpa di ikuti beliau di belakang.
"Lo masuk? Di ... mana, Umma?"
Mardiyah mengambil duduk di kursi single yang langsung menghadap pada Lutfan. "Beliau di luar."
"O-oh."
Mardiyah mengangkat tangan kanannya, meletakkan tepat di pangkuan Lutfan.
"Lo nga-ngapain?"
"Cincin." Mardiyah mendongak menatap netra Lutfan. "Kamu nggak berniat memasangkan?"
Lutfan panik, tiba-tiba saja ia mengeluarkan cincin di balik selimutnya, hendak menyentuh tangan Mardiyah ia sedikit gemetar. Perempuan di sampingnya ini nampak diam menatapinya saja.
"Masih lama?"
Lutfan menggeleng. Diraihnya tangan kanan Mardiyah untuk pertama kalinya, lembut benar-benar lembut. Cincin emas di sematkan tepat di jari manis sang istri. Sedetik selesai, Lutfan menghela napas pelan.
"Tangan," ujar Mardiyah.
Dia ngapain? batin Lutfan yang benar-benar tidak memahami maksud Mardiyah. Sehingga detik di mana ia tersadar, Mardiyah sudah menarik tangannya.
"Eh? Lo mau ... ngapain lagi?"
__ADS_1
Mardiyah menatap Lutfan. "Salim."
"O-oh." Lutfan membiarkan Mardiyah mengecup punggung tangannya. Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga lima detik berlalu akhirnya Mardiyah melepas kecupan itu dan kembali duduk dengan semula. "Udah?"
"Hm. Sudah."
Jam menunjukkan pukul 22.45 WIB. Pernikahan ini terjadi malam hari, tetapi Mardiyah menghubungi Alma, Kak Devina dan Regita tanpa menjelaskan pernikahan yang sudah terjadi ini. Ia hanya bilang bahwa, ia akan menikah dengan Lutfan.
"Nak, ini tanda tangan dulu," ujar Umma Sarah memberikan berkas-berkas yang perlu di tanda tangani. "Oh iya, Umma antar Kakek dulu nggak pa-pa? Kakekmu kayaknya capek, kaki beliau tiba-tiba sakit," ujar Umma Sarah.
Lutfan mengangguk. "I-iya, Umma. Nggak pa-pa. Kakek tapi baik-baik aja 'kan, Umma? Apa nggak periksa dulu?"
Umma Sarah menggeleng. "Enggak. Kakekmu istirahat aja di rumah. Nanti Umma balik lagi mungkin jam dua belasan."
"Enggak usah, Umma. Biar Mardiyah saja yang jaga Lutfan." Lelaki itu terlihat meliriknya. "Kalau Umma mau ke sini, nanti saja setelah subuh. Umma juga harus istirahat."
Umma Sarah tersenyum tipis, dan mendekat pada Mardiyah. Beliau sedikit menunduk mengecup tepat di kening Mardiyah yang sedang duduk ini.
"Umma, titip Lutfan, ya?"
...🌺...
Sampai jam satu dini hari Mardiyah belum memejamkan mata. Bahkan Lutfan pun hanya berpura-pura saja, entah kenapa tiba-tiba saja Lutfan merasa ingin membuang air kecil. Tetapi urung rasanya, karena yang menjaga adalah Mardiyah, bukan Kakek atau Mas Jafar atau laki-laki lainnya.
"Kamu butuh sesuatu?" ujar Mardiyah.
"Enggak."
Kalau turun pun gue bakal ngerepotin dia. Tapi masa iya gue nahan kencing sampai pagi? batin Lutfan yang benar-benar kehabisan ide untuk sekadar saja ingin membuang urine.
Mardiyah memang istrinya. Tetapi baru saja beberapa jam lalu menjadi istri. Tidak mungkin kan, ia meminta bantuan yang terlalu pribadi? Bahkan ia takut, Mardiyah menolak mentah-mentah.
"Lutfan."
"Ya?"
Netranya melebar, saat melihat Mardiyah sudah berdiri di depannya.
"Kalau sungkan. Buat apa saya jadi istrimu?"
Lutfan benar-benar tidak bisa menebak pikiran Mardiyah. Netranya kembali semula, ia mengambil posisi duduk dengan bantuan Mardiyah.
"Gue ... gue mau ke kamar mandi," ujar Lutfan.
Tatapan Mardiyah tidak lagi datar dan tajam. Nerta itu sendu bahkan cenderung menatapnya lembut walaupun tanpa senyuman.
"Mau apa?"
"Ya-ya menurut lo? Kalau orang butuh ke kamar mandi itu ngapain?"
Mardiyah terdiam sejenak. "Banyak. Tapi kamu nggak mungkin mandi. Kamu mau apa?"
__ADS_1
"Gue ..." Lutfan menunduk, pipinya memerah menahan malu. "Mau kencing."
Mardiyah mengangguk. "Tunggu sini. Saya ambilin pispot."
"Eh enggak-enggak." Lutfan menarik lengan Mardiyah, sehingga gagal sudah niatnya untuk berbalik. "Nggak usah, Mar. Gue-gue mau kencing di kamar mandi aja."
"Malu?"
Seketika pipi Lutfan kembali memerah, saat dengan gamblang Mardiyah mengatakan itu.
"Saya istrimu," imbuh Mardiyah.
Lutfan terdiam, melepas genggaman tangannya pada lengan Mardiyah. "Tapi lo nggak perlu ngelakuin ini. Gue masih bisa ke kamar mandi."
"Kakimu sakit, Lutfan," ingat Mardiyah yang langsung menahan kedua bahu Lutfan. "Kamu benar-benar ngerasa canggung?"
Lutfan mengangguk.
"Kalau gitu anggap saya seperti biasa. Anggap saya Kakakmu, seperti kecil dulu."
Lutfan menggeleng.
"Kenapa nggak bisa?"
Lutfan menatap Mardiyah dengan sayu. "Mar, lo gila? Nyuruh gue nganggep lo Kakak sedang sekarang lo itu istri gue."
"Kalau gitu anggap saya istrimu," ujar Mardiyah.
Lutfan berdecak kesal, menurunkan kedua tangan Mardiyah dari sisi bahu kiri dan kanannya.
"Gue bisa sendiri. Minggir."
Mardiyah menahan. "Lutfan, sebenarnya kamu menerima saya sebagai istri atau nggak?"
"Apaan sih maksud lo? Nggak jelas!" Tangan Lutfan sudah menarik sisi kursi roda, ia berusaha untuk menggeser kakinya yang mati rasa. "Minggir, Mar."
Mardiyah spontan menarik kursi roda dan menjauhkannya dari Lutfan. Sesegera mungkin ia berlalu ke kamar mandi, mengambil pispot khusus pria dan secepatnya kembali ke Lutfan.
"Pakai," ujar Mardiyah.
Lutfan menepis pispot.
"Kamu perlu saya bantu?"
Lutfan berdecak kesal. "Apa, sih Mar? Lo nggak malu, hah?"
"Enggak."
"Lo---"
Mardiyah menyanggah, "Kamu suami saya, Lutfan."
__ADS_1
"Baru beberapa jam." Lutfan mendongak menatap Mardiyah. "Dan sekarang. Lo nggak tahu malu mau bantu gue?"
Mardiyah menunduk dan berkata lirih, "Saya istrimu. Kenapa harus malu, Lutfan? Kalau saya berada di posisi kamu pun, saya nggak pernah malu untuk meminta bantuan. Asal orang yang membantu saya adalah suami saya sendiri."