Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 12 (1)


__ADS_3

Sampai pukul satu dini hari. Lutfan tidak benar-benar bisa memejamkan matanya. Terus terpikir, siapa gerangan lelaki yang bersama Mardiyah itu? Bahkan perasaannya pun tidak tenang sama sekali. Ingin menghubungi Mardiyah pun takut-takut akan mengganggu atau lebih parahnya, wanita itu tidak membalas.


Ditatapnya tempat tidur samping. Cak Sur tertidur pulas. Beliau sepertinya lelah. Mengapa hatinya kian sunyi? Dulu sewaktu kecil kehidupan terasa menyenangkan, tiada hari tanpa tawa.


Namun semenjak perubahan sikap Mardiyah dan perginya sang Abi, semua menjadi hilang.


Hanya tersisa kepura-puraan.


Layar gawainya terlihat hidup, tidak ada suara. Cepat-cepat ia bangkit, mengambil gawai yang di charger di atas meja. Dan melihat siapa yang menghubunginya dini hari begini. Tebaknya mungkin operator. Namun ternyata salah.


Mardiyah? batin Lutfan


Setelah mengambil duduk di tepi ranjang. Lutfan membuka pesan Mardiyah.


Mardiyah


Tolong maafkan saya, Lutfan


Minta maaf? Atas kesalahan yang mana? Apakah karena tidak jadi pulang ke panti asuhan? Lutfan menengadah berpikir, apa-apaan Mardiyah ini? Mengapa di jam seperti ini ia belum tertidur? Apakah baru saja pulang? Atau masih terjaga?


^^^Lo baik-baik aja?^^^


Mardiyah


Harusnya kamu marah saja


Netra Lutfan menyipit. Balasan macam ini?


^^^Lo kenapa?^^^


Mardiyah


Saya boleh minta tolong, Lutfan?


^^^Boleh. Apa?^^^


Mardiyah


Saya ingin ikut kamu pulang ke panti asuhan


Sesudah subuh bisa?


Bakda subuh? Sepertinya ia bisa. Cak Sur pun juga bisa. Tetapi ada dengan wanita ini? Kenapa dia seolah-olah terlihat lemah? Tidak seperti biasanya, tidak baik-baik saja pasti.


^^^Gue tanya, lo kenapa?^^^


Mardiyah


Saya baik-baik saja

__ADS_1


Jadi apakah bisa?


Pembohong, batin Lutfan.


Semenjak kecil jika di tanya-tanyai hal ini Mardiyah selalu saja berbohong. Lutfan juga menjanjikan hal sama, bahwa kelak jika Mardiyah menangis bahunya akan menjadi sandaran.


Namun sekarang ada batasan yang tidak boleh ia langgar. Mardiyah bukan sesuatu yang boleh di sentuhnya seperti dahulu sewaktu kecil. Mardiyah telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Sedangkan, dirinya pun juga.


^^^Bisa^^^


^^^Mau di jemput di mana?^^^


Mardiyah


Toko bunga


^^^Lo nginep di sana?^^^


Mardiyah


Iya


Lutfan tidak membalas lagi. Semua tebakannya benar, wanita ini pasti sedang tidak baik-baik saja. Entah lah apa masalahnya, ia tetap bersyukur Mardiyah menghubunginya.


"Lho? Mas? Sampean ndak tidur?"


Lutfan menengok dengan tersenyum lebar. "Jangan bilangin Umma, Cak. Hehe, nggak bisa tidur lho Cak saya. Kayak ... banyak pikiran gitu lho."


Lutfan terdiam sejenak. "Banyak, Cak."


"Sampean bagi-bagi toh Mas. Wes ndak usah terlalu dipikirin nanti sakit lho sampean."


Lutfan mengangguk-angguk. "Nggih. Eghm ... Cak, nanti pulang ke panti ba'da subuh, ya?"


"Lho? Ndak ke outlet? Katanya sampean ke outlet?"


Lutfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dan langsung merebahkan diri di ranjang. "Eghmm a-anu ... Cak, Mardiyah minta tolong di anter pulang ke panti."


"Nggih. Cacak paham, Mas. Kan kalau sampean bicara gini jadi jelas toh?"


"Kalau gitu. Saya tidur, ya Cak? Ngantuk."


Cak Sur mengangguk dengan tersenyum simpul. Akhirnya, anak dari Abi Aziz kembali baik-baik saja. Semua tentu, karena Mardiyah.


...🌺...


Bakda subuh. Seperti permintaan Mardiyah, mobil toyota hitam ini sedang dalam perjalanan menuju Toko Bunga Harsa. Senyum pun tiada lepas dari bibirnya. Mungkin, bahagia? Tentu saja. Untuk pertama kalinya Mardiyah meminta tolong, setelah tahun-tahun berlalu.


^^^Gue otw^^^

__ADS_1


^^^Lo tunggu di depan^^^


Mardiyah


Iya


Masih cukup gelap. Tetapi ayam pasti sudah ada yang berkokok, sudah waktunya orang-orang bangun dan beraktivitas. Sekitar lima belas menit berlalu mobil berhenti, tepat saat itu ia melihat Mardiyah di depan toko dengan pakaian seperti biasa, hitam. Kesukaannya, mungkin?


"Assalamualaikum, Cak Sur ..." Mardiyah menjeda sejenak. " ... Lutfan."


"Waalaikumussalam."


Keningnya mengerutkan saat melihat Mardiyah menggunakan masker. Apa sakit? Saat Lutfan menatap kaca depan dilihatnya tepat pada mata Mardiyah. Membengkak.


Dia habis nangis? Semalaman? batin Lutfan.


"Mbak Mar, sudah sarapan toh?"


Mardiyah menjawab pelan, "Baru ba'da subuh, Cak. Belum ada tempat makan yang buka."


"Mas, sampean mau mampir ke outlet?"


Lutfan terdiam sejenak. "Tanya itu ... dia laper nggak, Cak?"


"Lutfan, kalau langsung ke panti asuhan saja. Nggak pa-pa 'kan? Soalnya, saya ... capek," sahut Mardiyah.


"Hm." Lutfan melihat Cak Sur sekilas. "Langsung ke panti aja, Cak. Nanti sarapan di sana."


Dia kenapa? batin Lutfan.


^^^


Note:


Garis Keturunan Adiwangsa. Lengkapnya besok-besok kalau fakta telah terungkap. Soalnya nggak semua baca Almahyra.



Keterangan:



Asmita Wafat


Adiwangsa punya gen kembar


Bilal menantu laki-laki dari orang biasa


Cecelia Maharani dan Gistara orang elit (tapi saya belum kepikiran marganya. karena belum ada cerita untuk mereka. tapi sekarang mereka berdua bermarga Adiwangsa)

__ADS_1



Selanjutnya Garis Keturunan dari Yasmina Adyuta


__ADS_2