Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
75 : Kewajiban


__ADS_3


Infus telah di pasang kembali. Mardiyah istirahat. Sedangkan di dalam ruang rawat inap hanya ada Cecilia dan Lutfan saja. Sedangkan Aldo, Abhimana dan Abhimata menunggu di luar.


"Kamu ... Lutfan?" tanya Cecilia.


Lutfan mengangguk.


"Saya dengar. Kamu setuju untuk bercerai dari Mardiyah." Cecilia menjeda, dan mengambil secarik kertas yang berada di atas meja, dan menyobeknya. "Lalu sekarang kenapa kamu jauh-jauh ke mari dengan ... bantuan Aldo. Untuk mencari mantan istrimu?"


Lutfan menjawab, "Jangan pernah menyebut Mardiyah dengan sebutan mantan istri. Karena sampai kapan pun, Mardiyah adalah istri saya."


"Hm. Seperti itu?" Cecilia menghela napas pelan. "Lalu surat gugatan perceraian yang bertanda tangan itu ... palsu?"


"Saya terpaksa. Saya tidak berniat menceraikan istri saya," jawab Lutfan.


"Eghm."


Terdengar Mardiyah mengeluh. Hingga pandangan Lutfan beralih menatap sang istri yang perlahan-lahan membuka mata. Nerta indah yang telah lama tidak ia tatap terasa sangat sendu. Bagaimana kiranya Manggala memperlakukan istrinya? Saat ia hendak menyentuh tangan Mardiyah, terdengar suara pintu tertutup. Ternyata, Cecilia memilih pergi meninggalkan ruang rawat inap.


"Mar ..."


Kedua netra itu saling menatap.

__ADS_1


"Demi Allah, gue nggak pernah berniat buat cerai-in lo," lanjut Lutfan.


Mardiyah mengalihkan pandangan.


"Mar ... gue kangen."


Mardiyah terdiam.


"Mar ..."


Jeda tiga detik, Mardiyah berujar, "Mari bercerai, Lutfan. Saya akan segera menandatangani---"


"Gue bilang gue nggak berniat cerain lo, Mar! Itu cuma strategi gue. Supaya gue bisa ketemu sama lo." Lutfan menyentuh paksa tangan Mardiyah walau berujung berontak. "Demi Allah, Mar. Lo masih istri gue. Gue nggak pernah ucapin talak sedikit pun buat lo. Dan sampai sekarang lo tetep istri gue!"


Mardiyah terdiam.


Mardiyah menengok, kembali menatap Lutfan. "Saya nggak mau ... kembali ke panti asuhan."


"Kenapa, Mar?"


Tenggorokan Mardiyah terasa sakit, untuk melanjutkan ucapan. "Karena yang dikatakan oleh Pak Manggala benar. Pernikahan ini merugikan saya. Sangat-sangat merugikan saya. Dan lagi pula ... saya menerima pernikahan ini karena balas budi saya---"


"Bohong!" Netra Lutfan berkaca-kaca, hatinya terasa sakit, ucapan Mardiyah tidak lah benar. "Kalau dari dulu lo setuju ... sama Pak Manggala, kalau dari awal lo cuma mikir pernikahan ini balas budi aja. Lo nggak mungkin setuju nyerahi diri lo ke gu---"

__ADS_1


"Kenapa nggak mungkin? Saya ini wanita dewasa dan terpelajar saya tahu tentang hak dan kewajiban sebagai orang istri." Di balik selimut Mardiyah mencengkram kuat seprai rumah sakit. "Saya tahu bahwa hubungan intim adalah sesuatu yang harus ada di pernikahan. Jadi kenapa ... kamu bisa menyimpulkan bahwa saya nggak mungkin menyerah diri saya---"


"Mar, cukup! Tolong ... apa-apaan sih lo?" Lutfan menunduk mengacak-acak rambutnya. "Gue nggak percaya sama apa yang lo bilang. Gue nggak denger apa-apa. Gue nggak denger!"


Mardiyah terdiam, mengigit bibir bawahnya menahan segala gejolak hati untuk memeluk Lutfan. Ia sudah memutuskan, bahwa ia ingin bercerai saja. Sebab saat tidak sengaja ia mendengar Dokter berbicara dengan Gautama dan Gumira. Dokter berkata, bahwa kehamilan selanjutnya untuk Mardiyah memiliki sedikit keberhasilan. Setelah mendengar itu mungkin saja ... sedikit keberhasilan yang Dokter ucapkan tidak berbuah apa-apa.


Lebih baik hidup sendiri, menua sendiri, tanpa bergantung pada siapa-siapa. Karena dirinya tiada pernah sanggup memupuskan harapan terbesar Umma Sarah untuk miliki seorang cucu.


"Mar ... gue tinggal di kota itu lebih lama dari pada lo." Lutfan masih tertunduk. "Lo di sini kerja, kan? Lo pasti nggak pernah ke tempat di mana semua hal-hal yang haram itu di halalkan. Gue ini cowok, pikirin cowok nggak jauh-jauh dari hal jorok."


Mardiyah tidak mengerti maksud Lutfan.


"Gue emang nggak pernah nyoba begituan. Tapi gue bisa bedain mana yang sekedar having s*ex dan mana yang making love." Lutfan menjeda, ia mendongak menatap sang istri. "Dan lo tadi bilang apa? Terpelajar? Nggak ada cewek yang terpelajar yang rela ngelakuin hs, Mar."


"Karena dalam pernikahan. Hubungan intim yang lo lakuin sama suami lo itu bukan sekedar hs, ml, atau lain-lainnya. Hubungan intim ini kewajiban. Dan dalam melakukan suatu kewajiban ini. Gue garis bawahi, Mar." Lutfan semakin memperdalam tatapannya dengan Mardiyah. "Gue nggak ngelihat dari mata dan tubuh lo yang menyatakan keterpaksaan. Lo suka rela bukan karena balas budi aja."


"Cukup, Lutfan. Keluar kamu," ujar Mardiyah.


Lutfan mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Selembar kertas yang ia lipat tadi di buka lebar dan meletakkannya di kasur brankar. "Dan lo tahu, Mar? Cewek terpelajar nggak mungkin bodoh. Mau hamil cuma sekedar buat balas budi aja."


Deg.


"Surat lo, ucapan pelayan vila, ucapan Bidan, dan yang terakhir. Gue lihat lo sekarang ... gue makin yakin kalau lo bener-bener ..." Tangan Lutfan terangkat menyentuh perut Mardiyah. "Hamil, kan?"

__ADS_1


__ADS_2