
Bakda magrib Umma Sarah memintanya untuk datang ke kantor. Ia sangat bersyukur matanya sudah kembali normal, tidak sebengkak tadi pagi. Karena sedang halangan, Mardiyah telah sampai kantor sebelum Umma Sarah datang. Dipilihnya duduk, di depan menunggu beliau sembari memandangi pelataran asrama.
Sore ini, lumayan dingin. Padahal tidak sedang hujan, tetapi angin-angin berhembus menerpa pohon besar di belakang asrama.
"Lo? Ngapain?"
Terdengar suara dari orang yang dikenalinya. Lutfan ternyata. Ia sedang apa di sini? Dipikirnya sewaktu siang Lutfan sudah pulang ke kota.
"Saya nungguin Umma."
"Gue bukain pintunya. Lo nunggu di dalam aja," ucap Lutfan.
Mardiyah menggeleng. "Saya tunggu di luar aja."
"Gue cuma mau ambil laptop doang, kok." Lutfan telah membuka pintu. "Setelah itu lo boleh masuk. Nunggu Umma di dalam aja. Beliau masih lama soalnya."
"Iya."
Sesingkat itu? batin Lutfan. Setelahnya cepat-cepat ia masuk mengambil laptop, dan kembali keluar, menatap Mardiyah dan berujar, "Masuk."
"Iya."
Saat Lutfan berbalik. Mardiyah kembali berujar, "Lutfan ..."
"Apa?"
"Terima kasih, Lutfan. Maaf merepotkan kamu."
Kening Lutfan mengerut. Terima kasih atas yang mana saja? Di antar pulang ke panti asuhan atau atas makanan yang diberikan Inayah tadi?
"Ya, sama-sama. Gue balik," ujar Lutfan.
Mardiyah masuk. Sekitar lima belas menit lamanya menunggu tiba-tiba saja Umma Sarah datang dengan senyum lebarnya beliau menyapa. "Nak, maaf lama, ya? Udah dari tadi, ya?"
"Nggak terlalu lama kok, Umma."
Umma Sarah mengambil duduk di samping Mardiyah.
"Mar ..."
"Iya, Umma?"
"Kamu sakit, Nak?"
Mardiyah menggeleng. "Enggak, Umma. Mardiyah baik-baik aja."
"Capek, ya kerja semalaman gitu?" Diusapnya kepala Mardiyah yang tertutup kerudung. "Mau Umma buatin sesuatu?"
Mardiyah menggeleng. "Enggak, Umma. Nanti merepotkan."
"Kamu kelihatan capek gini," ujar Umma Sarah.
Mardiyah menunduk dan terdiam sejenak. "Mardiyah resign dari kerjaan, Umma."
"Lho kenapa, Nak?"
"Udah nggak cocok aja, Umma. Terlalu jauh juga. Terus ... besok Mardiyah mau ke kantor nemuin Nyonya Harsa pemilik toko bunga," jelas Mardiyah.
Umma Sarah terdiam sejenak. "Ada masalah, Nak?"
"Enggak, Umma. Enggak ada masalah apa-apa."
Keduanya sama-sama membisu. Umma Sarah tiba-tiba saja menariknya dalam pelukan di tepuk-tepuk pelan punggungnya. Hingga netra Mardiyah terpejam merasakan kenyamanan.
"Umma ..."
"Ya?"
__ADS_1
"Tolong carikan laki-laki yang pantas menikahi Mardiyah, Umma."
Pelukan terlepas, Umma Sarah menatapnya. "Kamu ... mau menikah?"
"Iya."
Umma Sarah tersenyum tipis. "Kamu benar-benar mau jika Umma yang memilih kan laki-laki?"
Mardiyah mengangguk.
"Sebenarnya ... Umma sudah memilihkan. Tapi ..."
"Tapi apa, Umma?"
Umma Sarah menatap Mardiyah dengan seksama. "Kamu bersedia menunggu satu tahun lagi?"
Terlalu lama. Tapi, apa boleh buat? Semua hal yang dipilihkan Umma adalah yang terbaik, batin Mardiyah dengan mengangguk. "Insya Allah, Umma."
...🌺...
Terurungkan sudah niatnya untuk memasuki kantor sang Umma. Karena ingin mengambil charger laptopnya yang tertinggal. Perbincangan kedua wanita itu terdengar sangat serius, tidak sengaja pula Lutfan mematung.
"Tolong carikan laki-laki yang pantas menikahi Mardiyah, Umma."
Ya, seusia Mardiyah memang ingin segera untuk menikah. Mungkin, menunggunya terlalu lama. Apakah ada seseorang yang mengganggu Mardiyah? Lutfan pastikan ini berhubungan dengan laki-laki yang menjemput Mardiyah di Lazuardi hotel. Ternyata, bukan sopir.
"Sebenarnya ... Umma sudah memilihkan. Tapi ..."
Siapakah yang akan Ummanya sebut? Apa Umma akan dengan gamblang menyebut nama dirinya? Lutfan menggeleng. Tidak mungkin. Usianya baru saja delapan belas tahun, tidak mungkin secepat itu Umma memberitahu.
"Kamu bersedia menunggu satu tahun lagi?"
Benar. Umma tidak akan menyebut namanya. Lantas jawaban apa yang akan Mardiyah berikan?
"Insya Allah, Umma."
Sudah takdir-Nya.
Cukup. Lutfan berbalik meninggalkan pelataran kantor. Nanti saja mengambil charger, sekarang ia jadi bingung tujuannya ke mana? Akan lebih mungkin, ia menuju ruang makan bersama laki-laki.
"Lho, Mas Lutfan!" sapa Abian salah satu anak panti asuhan yang seumuran dengan Inayah.
Lutfan mengayunkan tangannya. "Sini coba, Bian."
"Apa, Mas?"
"Temenin Mas di sini."
Abian mengambil duduk di samping Lutfan dengan sama-sama menengadah menatap langit malam yang berbintang. Indah. Jarang-jarang di kota ia dapat melihat bintang.
"Mas, kenapa?"
Lutfan tertawa ringan. "Galau."
"Nanti kalau aku udah gede, galau-galau gini juga nggak kayak Mas?"
Lutfan menengok, menatap Abian. "Tergantung."
"Tergantung apanya, Mas?"
"Tergantung kehidupanmu nanti, Bian."
Abian mengangguk-angguk. "Emang ... yang Mas galauin itu apa sih? Tugas sekolah?"
Ingin sekali Lutfan terbahak-bahak. Jikalau dulu, mungkin iya. Tugas sekolah sangat-sangat membuat galau sampai hampir menangis. Jika sekarang? Tidak mungkin. Kehidupan nyata lebih ingin membuatnya menangis.
"Rahasia," ujar Lutfan.
__ADS_1
"Ooh. Aku tebak, Mas ..." Abian menatapnya. "Pasti gara-gara itu, ya? Apa ... perempuan?"
"Kata siapa, hah?"
"Kata aku gini lho, Mas. Kan aku nebak."
Lutfan tertawa lagi. "Dasar, masih kecil nebak-nebak. Mana tebaknya tentang cewek lagi."
Sebentar lagi isya. Tetapi ia masih menyekap bocah kecil ini untuk menemaninya. Walaupun sekarang sama-sama membisu, hanya terdengar deru napas dan air yang mengalir dari kolam ikan.
"Mas ..."
"Hm?"
"Masa kemarin Kirana bilang ke aku gini," ujar Abian sepertinya hendak cerita.
"Apa?"
"Aku kan jatuh. Terus nangis. Soalnya sakit. Eh, tiba-tiba aja ada Kirana datang, terus dia bilang gini, laki-laki nggak boleh nangis. Emang, bener? Laki-laki nggak boleh nangis, Mas?"
"Salah." Jeda tiga detik Lutfan kembali berujar, "Laki-laki juga boleh nangis. Dari sewaktu manusia dilahirkan di dunia ini semuanya nangis, Bian. Nggak peduli cewek atau cowok. Semua sama."
"Ja ... di, Kirana salah?"
Lutfan mengangguk. "Salah banget."
"Kapan-kapan jelasin ke dia. Oke?"
"Iya, Mas. Eh, tapi Mas berarti ... Mas---"
Lutfan menyahut, "Apa?"
"Mas, pernah nangis?"
Lutfan mengangguk. "Pernah lah."
"Tapi ... aku kok nggak pernah lihat, ya?"
Lutfan tertawa ringan. "Nggak akan pernah ada yang lihat kecuali Mas sendiri sama Allah, Bian. Prinsip Mas gini, boleh nangis tapi nggak boleh ada manusia yang tahu."
"Tapi kalau ada?"
"Eghmmm ... " Lutfan berpikir sejenak. "Kalau pun ada yang tahu ... mungkin Ummanya Mas sama istrinya Mas nanti."
"Tapi ... Kirana udah lihat aku nangis," ujar Abian pelan.
"Nggak pa-pa dong. Kirana kan sahabat kamu. Dia mah cuma ngejek-ngejek doang, aslinya pasti khawatir."
Abian menatap Lutfan heran. "Kata siapa, Mas?"
"Kata Mas gini lho."
Keduanya tertawa bersama-sama. Abian mengambil tangan Lutfan tiba-tiba dan berkata, "Mas, aku mau Mas Lutfan janji."
Lutfan menarik tangannya. "Eh ... enggak-enggak. Janji apaan dulu, hah?"
"Janjinya gampang, Mas."
"Apa emang?"
Abian tersenyum simpul. "Kalau nanti aku udah gede terus galau. Pokoknya Mas janji bantuin aku, ya?"
"Bantu apa?"
"Ya ... anu. Bantu nyelesain galaunya aku." Jeda tiga detik Abian kembali berujar, "Janji, Mas?"
"Hmm. Insya Allah."
__ADS_1