
Kepergian Nenek Aisha benar-benar membuat Mardiyah bersedih hati. Bahkan sampai berminggu-minggu ia tidak keluar dari rumah, ia memang selalu menyiapkan segala kebutuhan Lutfan--- dan kewajibannya sebagai seorang istri selalu dilakukan dengan sepenuh hati. Walau tetap memang tidak banyak bicara.
Seperti halnya malam ini. Mungkin telah memasuki minggu ke lima yang jika di hitung sudah lebih dari satu bulan. Mardiyah belum melayani Lutfan dengan demikian baik--- maksudnya berhubungan intim. Lutfan memang tidak meminta, tetapi Mardiyah paham, ia pun tidak bisa di bohongi. Karena dua hari yang lalu ia mendengar sepertinya Lutfan memaksa memuaskan diri sendiri tanpa bantuannya.
Betapa berdosa diri ini. Bahkan ia tidak bisa memahami Lutfan yang telah mengorbankan segala-galanya untuk pernikahan dan kehidupan masa kecil hingga masa sekarang.
Meskipun Lutfan mencoba memahami kesedihan Mardiyah. Seharusnya Lutfan tidak perlu ragu untuk meminta, lagi pula itu adalah kewajiban istri. Menolak pun Mardiyah tidak akan. Karena semua, apapun yang Lutfan butuhkan akan Mardiyah penuhi dengan segenap hati.
"Kamu mau ngapain?" tanya Lutfan yang melihat Mardiyah tiba-tiba duduk di pangkuannya. Lutfan terpaksa meletakkan gawai, saat tangan Mardiyah melingkari lehernya. "Mar ..."
Mata Mardiyah sedikit sembab. Tetapi ia tidak peduli, ia sejenak menatap mata Lutfan. Lalu turun pada bibir, dan mendekatkan kedua wajah.
"Eghm---" Lutfan mencegah Mardiyah. Ia ingin mengakhiri ciuman tiba-tiba ini. Ada apa dengan istrinya? Mardiyah tidak biasanya seperti ini.
"Haaa."
Ciuman terlepas.
"Mar, apa-apaan sih kamu?" kesal Lutfan. "Kenapa tiba-tiba kayak gini?"
"Kamu yang apa-apaan?" Mardiyah memandang datar. "Muasin diri sendiri seakan-akan kamu ini belum punya istri saja."
"Kenapa kamu nggak minta? Apa susahnya? Apa kamu takut aku nolak? Apa pernah juga aku nolak berhubungan sama kamu, Lutfan?" tanya Mardiyah bertubi-tubi dengan posisi tetap berada di pangkuan.
Lutfan membuat muka. "Turun, Mar."
"Aku nggak mau."
Lutfan menghela napas. Ia menyugar rambutnya ke belakang, lantas kembali menatap Mardiyah. "Kamu pikir pantas aku minta waktu kamu lagi berduka gini? Bukan masalah kamu nolak atau enggaknya. Ini cuma masalah aku yang nggak mau membenahi pikiran kamu, sama kewajiban yang menurutku nggak guna."
"Nggak berguna kamu bilang?"
Lutfan memutuskan kontak matanya.
"Lihat aku, Lutfan." Mardiyah menarik dagu Lutfan.
"Apasih, Mar? Aku udah bilang turun---"
Mata Lutfan melebar. Saat Mardiyah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak di sentuh--- oh sial, Lutfan menegang. Padahal tadi ia sudah mati-matian menahan, tetapi sekejap saja runtuh karena ulah istrinya.
"Mar, lepas!"
Mardiyah enggan mendengar. Ia memilih mengecupi leher Lutfan. "Buka bajumu," bisik Mardiyah.
"Mar ..."
Anjir, batin Lutfan yang menutup kedua matanya dengan satu tangan. Gila, gila ia bisa gila dengan sentuhan tangan Mardiyah, belum lagi kecupan ini.
"Ahh ... Mar, cu-kup."
Mardiyah berhenti. Ia menarik tangan Lutfan yang menutupi mata. "Kamu mau aku yang buka?"
Gila! Panas banget, anjir! batin Lutfan yang langsung menuruti Mardiyah untuk membuka baju.
Tiga puluh menit berlalu--- termasuk dua ronde. Akhirnya selesai, Lutfan baru saja selesai mandi. Sedangkan Mardiyah sudah lebih dulu mandi, sekarang entahlah ke mana istrinya itu. Lutfan memilih duduk di tepi ranjang, dan pikirannya kembali melayang ke tiga puluh menit yang lalu.
Mardiyah tidak berubah. Tetap agresif. Tetapi kenapa menjadi semakin panas saja? Bahkan tiba-tiba saja ia mengingat pada hubungan intim pertamanya dengan Mardiyah, di mana dulu yang berakhir gagal. Hingga sampai di detik berhasil pun semua di pimpin oleh Mardiyah. Gila, istrinya itu benar-benar hot. Tetapi sebentar ... jika Lutfan ingat-ingat lagi, Mardiyah adalah perempuan yang tingkat berbicaranya minim sekali. Dan bagaimana bisa sekarang Mardiyah begitu dekat dengannya? Bahkan ia sendiri telah suka rela membuka hati untuk Mardiyah.
Jika di ingat dulu-dulu lagi. Lutfan bahkan tidak mau menganggap Mardiyah istri. Ia ingat berbicara pada Kiai Bashir selaku Kakeknya begini 'Mardiyah itu Kakakku, Kek.' Ya memangnya kenapa jika dia dulu Kakaknya? Lagi pula juga Kakak angkat, bukan? Masalahnya di mana?
Sial.
Ia menjadi malu mengingat semua.
"Makan."
Suara yang tiba-tiba memasuki gendang telinganya adalah milik Mardiyah yang telah menyuguhkan makanan. "Iya. Nanti aku makan."
__ADS_1
"Sekarang," titah Mardiyah.
Lutfan menarik pergelangan tangan Mardiyah. "Kamu juga. Temani aku makan di sini. Lagian aku nggak bakal habis makan sebanyak ini."
Mardiyah duduk tanpa berkata apapun.
"Kamu yang masak?"
"Iya."
Mardiyah menatap sendok berisi makanan yang berada tepat di matanya. "Buka mulut, Mar. Aku suapin," ucap Lutfan.
"Aku bisa---"
Ucapan Mardiyah tertahan saat nasi dan lauk itu telah memaksa masuk dengan berada di depan bibirnya. "Susah banget kamu di suruh buka mulut," keluh Lutfan.
Setelah mengunyah habis suapan terakhir dari Lutfan. Mardiyah diberikan segelas air untuk minum, lalu setelahnya Mardiyah meletakkan kembali di atas meja. Dan duduk menatap Lutfan.
"Maaf," ujar Mardiyah tiba-tiba.
Lutfan menatap bingung.
"Harusnya aku nggak berduka lama-lama. Harusnya aku ngerti kalau ada sesuatu kewajiban yang harus aku jalani tanpa henti setiap hari. Harusnya juga ... seminggu atau dua minggu cukup, tapi ternyata aku nggak berhenti-henti sedih atas kepergian Nenek." Mardiyah menunduk dalam. "Bahkan aku sampai lupa atas kebutuhan kamu."
Lutfan terdiam.
"Maaf atas kelalaian aku, yang bener-bener buat kamu sulit, Lutfan." Mardiyah mengigit bibir bawahnya. "Aku nggak mau kamu bertanggung jawab, atas sesuatu yang menjadi salahku sendiri. Jadi aku minta maaf, tolong maafin aku. Supaya Allah juga maafin aku. Aku ... bener-bener udah jadi istri yang nggak becus---"
Lutfan langsung menyanggah, "Aku maafin kamu."
"Berhenti berpikir yang enggak-enggak, Mar. Aku sendiri yang milih nggak minta. Jadi gimana bisa Allah murka sama kamu?" sambung Lutfan.
Mardiyah terdiam.
"Sekarang keringin rambut kamu. Pakai kerudung" Lutfan menatap kursi rodanya. "Terus, kita keluar. Jalan-jalan. Lihat anak-anak panti. Kamu udah lama nggak keluarkan?"
"Iya."
Hubungannya bersama keluarga Adiwangsa semakin membaik. Bahkan tiba-tiba ia di undang untuk hadir ke pernikahan Lingga bersama calon istrinya--- yang bermarga Upasama. Di sana pun Lutfan bertemu dengan Linggar. Suaminya itu terkejut ternyata Linggar sudah memiliki istri.
Semua kejutan dari keluarga Adiwangsa benar-benar membuat Mardiyah dan Lutfan merasa keluarga ini lebih dari yang di katakan orang-orang. Setidaknya mereka tidak terlalu buruk, ada beberapa kebaikan yang suaminya nilai patut untuk di beri tepuk tangan. Dan ia pun akan setuju.
Bahkan tiba-tiba seperti hari ini, Mama Cecilia datang berkunjung ke Panti Asuhan Al-Hikmah. Beliau memberikan hadiah lagi--- yang Mardiyah sendiri tidak minta. Sepatu couple. Astaga, Mama.
"Ini hadiah, harus di terima," ujar Mama Cecilia Kemudian beliau menatap ke arah Lutfan. Entah apa yang di pikirkan beliau Mardiyah melihat hal-hal mencurigakan dari Mama sambung dan suaminya. "Ya sudah, Mama pamit."
Malam sekitar pukul delapan. Setelah Lutfan pulang dari Masjid dan duduk beralih dari kursi roda ke ranjang. Ia menatapi Mardiyah yang sedang sibuk dengan skincare-nya.
"Kamu mau maskeran?"
"Enggak." Lutfan menatap Mardiyah yang akhirnya berdiri. "Lagi males."
"Kenapa kamu lihatin aku?" tanya Mardiyah yang ikut menyusul duduk di samping Lutfan.
Lutfan berdeham. "Bulan besok ... aku ambil libur banyak. Aldo katanya juga mau lembur."
"Terus kenapa?"
"Mau ... ekhmmm." Lutfan menggaruk lehernya. "Honeymoon nggak?"
"Sama kamu?"
"Ya iyalah! Aku kan suami kamu, Mar!" sewot Lutfan yang membuat Mardiyah terkekeh.
__ADS_1
"Boleh. Lagian kamu udah janji berbulan-bulan lalu." Mardiyah mencondongkan tubuhnya. "Jadi rencananya mau ke mana?"
"Malang."
Semua tiket di atur oleh Aldo--- sahabat karib Lutfan itu benar-benar baik. Bahkan hari ini Mardiyah dan Lutfan sudah berada di Batu, Malang. Dan penginapan yang dipilihkan Aldo adalah Lazuardi Hotel yang bercabang di kota ini. Segala perlakuan khusus di hotel tidak membuat Mardiyah terkejut. Karena maksud dari pandangan Mama Cecilia pada Lutfan waktu itu, adalah semua ini.
"Mama Cecilia emang tahu, Mar. Tapi ... Ya Allah nggak begini juga, kan?" ujar Lutfan yang tidak habis pikir dengan kamar yang benar-benar di desain indah seperti pengantin baru saja. "Padahal kita kan nikah udah la---"
"Memang kenapa kalau kita pengantin lama?" Mardiyah menatap Lutfan datar. "Kamu nggak suka kita di sebut pengantin baru, gitu?"
"Astaghfirullah, Mar. Nggak gitu. Bukannya nggak suka cuma ..."
Lutfan menjalankan kursi roda ke tepi ranjang hotel. Ia mengambil beberapa bunga mawar merah yang di bentuk love oleh pihak hotel. "Memangnya kamu mau kita berlagak kayak pengantin baru lagi?" lanjut Lutfan.
"Mau," jawab Mardiyah langsung.
Lutfan dan Mardiyah telah memutuskan untuk memiliki anak. Dokter pun sudah memperbolehkan melakukan hubungan intim tanpa pengaman. Jujur saja Lutfan bahagia. Begitu pula Mardiyah yang selalu berpikir positif, atas semua ucapan Lutfan. Kata suaminya 'jika belum rezeki, kita akan terus mencoba.' Bahkan ia ingat Lutfan tidak akan menuntut secepatnya. Lutfan juga bilang bahwa semua tergantung pada Allah yang memberi kita amanah.
"Kamu nggak nyesel nikah sama aku, Mar?" tanya Lutfan lagi tiba-tiba.
Setelah permainan panas di atas ranjang. Mengapa Lutfan harus mengajukan pertanyaannya yang Lutfan sendiri sebenarnya tahu jawaban itu.
"Mar ..."
"Enggak," jawab Mardiyah. "Bagiku jadi istri kamu sama sekali nggak menciptakan penyesalan apapun."
Lutfan tertawa kecil. Ia memeluk Mardiyah dari belakang, lalu mengusap-usap perut istrinya. "Walau kadang-kadang aku masih labil. Masih kayak anak kecil. Kamu nggak nyesel sama sekali?"
"Enggak."
"Jawabanmu enggak-enggak terus." Lutfan mengecup bahu Mardiyah. "Kamu cinta nggak sama aku?"
"Iya."
"Iya itu apasih? Kurang jelas banget menurut aku." Lutfan merasakan pergerakan Mardiyah, yang tiba-tiba menatapnya.
"Jangan suruh aku bilang 'i love you'." Mardiyah menatap lurus. "Aku nggak mau."
"Jahat banget .... padahal kan aku pengen denger---"
Mardiyah menyanggah, "Kenapa nggak kamu aja yang bilang? Bukannya kamu cinta sama aku?"
"Iya. Aku cinta!"
Mardiyah terdiam sejenak. Kemudian menarik Lutfan mendekat dengan mengalungkan tangan di leher suaminya. "Bilang lagi yang banyak," bisik Mardiyah.
"I love you soo much. Aku cinta. Cinta banget banget sama kamu!" Lutfan mencium kening Mardiyah. "Muach! Itu tanda cinta, buat Kak Mar."
Mardiyah langsung tertawa, saat Lutfan menyebutnya 'Kak Mar' lelaki ini ... berondong. Ia lupa bahwa ia menikahi Lutfan yang beda tiga tahun dengannya. Astaga, betapa mengemaskan lelaki muda ini.
"Lutfan, terima kasih atas semuanya." Mardiyah menarik Lutfan dalam dekapan. Lantas berbisik, "Atas cintamu, dan kasih sayang Umma."
"Untuk pertama kali ini, aku nggak menyesal lahir di dunia. Ibu menitipkan ku pada orang yang tepat. Umma nggak cuma kasih aku keluarga yang utuh. Umma juga kasih kamu buat aku." Netra Mardiyah berkaca-kaca. "Harapan Ibu pun tercapai. Aku menikahi laki-laki yang baik, dan diberikan keluarga yang bahagia."
"Aku mencintaimu, Lutfan. Terimakasih telah menerimaku menjadi istrimu," akhir Mardiyah dengan merasa lehernya basah. "Kamu nangis?"
Lutfan menggeleng-geleng dengan terisak. "Ja-jangan sedih lagi, Mar. Aku janji bakal bahagiain kamu terus," ujar suaminya.
...---TAMAT---...
Terimakasih untuk waktunya. Beda Tiga Tahun memiliki cerita tamat yang seperti ini. Mereka bahagia. Mardiyah tetap dengan sikapnya tapi Ya Allah kenapa cewek cool ini romantis sih?ðŸ˜
Jangan lupa mampir di cerita saya yang lain-lainnya. Cerita terbaru saya Harshada (Romance Modern) (Kisah anaknya Gumira Adiwangsa yaitu Linggar Adiwangsa dan Elshanum) dan yang lama tapi akan aktif update adalah Vashti (Romansa Fantasi dan Istana)
__ADS_1
Sekian dulu, ya. Nantikan cerita saya selanjutnya.