
Sekitar pukul tiga Mardiyah terbangun, matanya terbuka perlahan-lahan dengan sedikit buram ia menatap sekeliling. Suhu ruangan ini benar-benar dingin, ia mencoba mengubah posisi menjadi duduk. Namun ia tersadar, saat tangan kanannya terpasang infus.
Dirinya ingat, ia di paksa.
Dokter itu memaksa memasang infus, yang mungkin saja di isi cairan lain juga. Mengapa ia harus berakhir seperti ini? Gautama yang mengaku sebagai Ayahnya haruskah setega ini? Seorang putri yang orang-orang bilang memiliki cinta pertama dari Ayahnya. Itu salah. Menurut Mardiyah tidak benar, karena Gautama tidak bisa membuat hatinya terpaut sedetik saja. Tidak bisa membuat dirinya merasa mencintai dan dicintai sebagai seorang putri.
Clek.
Suara pintu terbuka, tak lama masuk lah pelayan paruh baya yang membawa makanan.
"Ya Allah ... Non, makanannya kok belum di sentuh sama sekali," ujar pelayan itu.
Mardiyah terdiam hanya menatap kosong.
"Non, Bibi bantu suapi, ya?"
Mardiyah menggeleng. "Saya mau pulang."
Tidak lama pintu terbuka lagi, beberapa pelayan perempuan memasuki kamar Mardiyah dengan membawa baskom, dan juga baju serta wewangian.
"Bi Amah, lebih baik saya dan yang lainnya membasuh tubuh Nona Muda dulu. Supaya Nona Muda bisa beribadah lebih dulu," ujar salah satu pelayan yang baru saja masuk.
Seorang wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Bi Amah itu mengangguk. Sedangkan Mardiyah yang masih merasa lemas hanya bisa pasrah, perlahan-lahan pakaiannya buka. Air matanya telah kering, bibirnya pecah-pecah dan perutnya terasa sakit. Ia bukan sengaja membuat dirinya seperti ini.
Di depannya ada cermin. Saat ia menatap lurus, matanya menangkap sesuatu yang memerah di bagian dada kirinya. Kenangan indah itu baru saja terjadi kemarin, dan Lutfan meninggalkan jejak di sana. Seharusnya, saat ia melihat ini kedua pipinya akan memerah padam, namun nyata tidak. Ia lebih cenderung ingin menangis, ia merindukan Lutfan.
Dirinya telah berjanji, untuk tidak meninggalkan Lutfan. Namun sepertinya ia akan ingkar. Sebab ia di kurung di rumah ini, yang ia rasa sangat-sangat jauh dari panti asuhan.
"Nona Muda."
Mardiyah menengok.
"Hari ini Tuan Gautama mengizinkan Nona Muda untuk keluar dari kamar, sekedar berjalan-jalan di luar vila dengan menggunakan pakaian yang telah beliau siapkan," jelas Bi Amah.
Mardiyah mengangguk.
Di susul seorang pelayan yang masih muda mengeluarkan gamis yang senada dengan kerudung berwarna peach tua. Saat pelayan itu hendak memakai pada dirinya, ia spontan berujar, "Saya bisa menggunakannya sendiri."
"Tapi Nona Muda selang infusnya---"
Mardiyah menatap pelayan muda itu. "Maka pegangi infus itu dengan baik."
"Ba-baik, Nona Muda."
__ADS_1
Setelahnya, Mardiyah meminta seluruh pelayan keluar. Ia ingin menunaikan ibadah salat subuh. Hingga tepat pukul jam lima pagi Bi Amah memasuki kamarnya lagi, dengan membawa sarapan yang tadi beliau siapkan.
"Non, Bibi suapi, ya?"
Mardiyah menatap Bi Amah dengan membuka mulutnya. Jika ia ingin kabur, setidaknya ia harus memiliki tenaga. Jika tidak. Ia tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini.
"Nona Muda ..." Bi Amah menyendokkan lagi makanan untuk Mardiyah. "Jika Bibi diperbolehkan berbicara banyak, jujur saja, Nona Muda tolong jangan terlalu sering menangis. Nona akan merasa pusing. Bibi takut Nona kenapa-napa."
Mardiyah terdiam.
"Mata Nona Muda juga bengkak, dan bibir Nona pecah-pecah. Itu semua karena satu hari Nona Muda tidak menyentuh makanan dan minuman sama sekali."
Mardiyah yang semula diam. Akhirnya berujar, "Bagaimana bisa anda meminta saya untuk makan, untuk minum, dan untuk tidak menangis? Saat saya harus terpisah jauh dari suami saya sendiri."
Bi Amah menghela napas pelan dan menjawab, "Ikatan batin antara suami dan istri itu terkadang-kadang kuat, Nona. Jika keduanya saling mencintai ... Bibi tidak melarang Nona untuk menangis, Bibi tidak memaksa Nona untuk makan dan minum. Tetapi apa Nona Muda harus seperti ini? Melalaikan diri sendiri? Bagaimana jika mungkin, suami Nona juga sama seperti ini? Tidak peduli pada diri sendiri. Padahal dirinya ini bukan milik sendiri. Diri Nona bukan lagi milik Nona sendiri, namun juga milik suami Nona. Begitu pula sebaliknya."
Mardiyah masih terdiam.
"Apa Nona akan setega itu pada diri Nona yang juga milik suami Nona sendiri?"
Mardiyah tersenyum getir, dan menunduk. "Anda berbicara ... sedikit sulit untuk di mengerti. Tetapi ... ya, apa yang anda ucapkan semua adalah benar."
Abhimata datang terlebih dahulu dibandingkan Abhimana. Saudara kembarnya itu masih dalam perjalanan, entah apa yang terjadi tidak kunjung sampai-sampai juga.
Darah Adiwangsa memang mengalir di sana. Namun didikan yang diberikan oleh orang tua Lutfan, kepada Kakaknya seperti menjadi kata bidadari itu nyata. Namun mengapa? Wanita seperti itu harus berakhir menyedihkan, sedangkan kehidupan sudah sangat jahat dari dulu pada Kakaknya.
Abhimata ingat pada pertemuan pertama, ia tidak melihat senyuman, hingga pertemuan kedua pun tetap sama, sampai sekarang pun tiada satu pun senyum yang Wanita itu tunjukkan walau seorang diri saja, dengan di temani kucing liar.
Gawai Abhimata berbunyi. Terterah nomor kontak Abhimana yang langsung di jawabnya.
"Abhimata, Lutfan dateng. Dia dateng ke Lazuardi hotel sama Nyokapnya," ujar Abhimana.
Abhimata menjawab, "Dia ketemu sama Papa?"
"Enggak. Dia ketemu sama Kak Rajendra. Dia di usir satpam. Gue harus ngapain?"
Abhimata terdiam sejenak. "Lo nggak harus ngapa-ngapain. Lo diam, pasti Kakek sama Papa yang urus. Cepet lo dateng ke sini."
"Oke. Gue otw."
Gawai Abhimata di letakan di ranjang, netranya masih tak lepas dari Mardiyah. Namun entah mengapa ia ingin turun, perlahan-lahan dari anak tangga dan berjalan mendekati Mardiyah dengan masih berjarak satu meter. Tetapi tiba-tiba seperti sang Kakak tiri hilang keseimbangan saat berusaha berdiri, hingga Abhimana refleks berlari, menyentuh pinggang dan memegangi tongkat infus.
__ADS_1
"Kakak ..." Mardiyah menatapnya, hingga spontan Abhimata melepas sentuhannya di pinggang. "Baik-baik saja?"
Mardiyah mengangguk.
"Mau ke mana? Masuk?"
Mardiyah menggeleng.
"Ke mana? Saya antar."
Mardiyah menggeleng, lagi. Netranya menatap lurus pada Abhimata seperti berpikir-pikir. "Kamu ... Abhimata?"
"Iya."
Mardiyah menunduk, dan mengambil duduk di kursi taman kayu itu lagi. "Saya lihat. Kamu baik."
Abhimata terdiam.
"Abhimata, a-pa ... Lutfan baik-baik saja?"
Mardiyah mendongak saat tidak mendengar Abhimata menjawab sama sekali. Lelaki di depannya ini membisu. Hingga berujar, "Kamu diam? Apa Kakek dan Ayahmu melarang kamu berbicara?"
"Maaf," ujar Abhimata.
Mardiyah menggeleng. "Jangan meminta maaf. Saya tidak merasa bahwa kamu ini bersalah. Karena sepertinya ... hanya kamu saja di keluarga ini yang bisa bersikap baik kepada saya."
Abhimata masih berdiri, menatap sang Kakak tiri yang sekarang menunduk lagi.
"Abhimana ... kenapa kamu bersikap baik? Apa kamu tidak merasa sakit hati mendengar fakta bahwa Ayahmu memiliki anak dari wanita lain?"
Abhimata berjalan mendekat, dan mengambil duduk tepat di samping Mardiyah, Kakak tirinya itu tertunduk dalam. "Bersikap baik adalah hal yang manusiawi. Mungkin itu naluri diri saya sebagai manusia yang masih waras. Dan tadi ... Kakak bertanya apa?"
Kakak? batin Mardiyah yang merasa sesak, bahagia dan serasa ingin menangis saat mendengar Abhimata berulang kali memanggilnya dengan sebutan Kakak.
"Sakit hati? Saat tahu Papa memiliki anak dari wanita lain?" Abhimata menggeleng pelan. "Saya tidak sakit hati, Kak. Karena saya rasa hal-hal kekeliruan itu hanya patut untuk di sesali oleh orang yang berbuat saja."
Mardiyah menengok. "Apa maksudmu?"
"Untuk apa saya marah? Untuk apa saya kecewa? Dan untuk apa saya harus merasa sakit hati? Sedangkan saya tidak berbuat hal demikian, Kak. Yang bersalah, yang kecewa dan merasa marah seharusnya Papa. Karena yang berbuat kesalahan itu Papa," lanjut Abhimata.
Mardiyah mengangguk. "Tapi kamu anak beliau."
"Menjadi anak dari Papa tidak mengharuskan saya menghakimi masa lalu beliau. Tapi ..." Abhimata menjeda, netranya menatap lurus melihat motor Abhimana datang dari arah barat. "Karena Papa melewati batasannya. Saya sebagai anak sepertinya harus sedikit terlibat."
__ADS_1
Mardiyah menanti-nanti ucapan Abhimata selanjutnya.
"Sekali pun keluarga kita tidak bisa dikatakan baik dan suka berbuat hal-hal yang salah terhadap orang lain. Apa akan pantas menyakiti seseorang yang sedarah sendiri dengan kita?" Abhimata menggeleng. "Saya rasa itu tidak pantas, Kak. Saya tidak ingin Kakek dan Papa menyesal, karena telah melukai cucu dan anaknya untuk yang kedua kali."