Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
55 (1) : Saya Ini Perempuan


__ADS_3

"A-apa maksud lo?"


Mardiyah berujar, "Saya nggak perlu menjelaskan. Harusnya kamu sudah tahu apa yang dilakukan oleh Kakekmu, Ayahmu, dan juga Kakakmu."


Abhimana mengerutkan kening.


"Saya tahu kamu kecewa. Saya paham kamu nggak mau Ibumu tahu tentang keberadaan saya." Mardiyah mengangguk pelan, dan mengusap pucuk hidung. "Saya paham, Abhimana. Saya memahami perasaan kamu sebagai seorang anak."


"Tapi apa sedikit saja kamu nggak bisa memahami saya?" Mardiyah menjeda. "Jangan pahami saya sebagai saudaramu. Enggak ... coba pahami saya sebagai seorang anak yang selama dua puluh tiga tahun hidup di dunia tanpa tahu wajah kedua orang tua saya."


Tangan Abhimana mengepal, tidak bisa lagi menatap tajam. Apa-apaan wanita ini? Menangis dan meminta di pahami?


"Saya sama sekali nggak berniat merebut Ayahmu, Abhimana. Beliau itu Ayahmu. Kamu lahir dari hubungan yang baik, kamu nggak akan pernah merasakan sakit yang saya rasakan. Enggak akan pernah sedikit pun." Mardiyah menjeda dengan mengusap kasar pipi kiri dan kanannya. "Karena Ayahmu, Ibumu, Kakekmu, Kakakmu dan seluruh keluargamu terlihat saling menyayangi."


Abhimana tercengang. Perempuan di depannya semakin menjadi-jadi.


"Terlepas baik buruknya keluargamu. Kalian tetap keluarga. Kalian tetap saling melindungi." Mardiyah menunjuk dirinya dengan menatap Abhimana. "Dan saya. Saya ini siapa sih, Abhimana? Pak Manggala tahu saya pun, dan ingin membawa saya pun pasti nggak lebih untuk mengusir saya jauh-jauh dari kehidupan Ayahmu."


Mardiyah menatap lurus, membuang muka tak lagi menatap saudara tirinya. "Saya ini nggak lebih dari benalu saja 'kan, Abhimana?"


Saat mulutnya hendak terbuka untuk menjawab, Mardiyah berlalu pergi.


"Sialan."


Abhimana menendang kerikil yang berada di sekitar kakinya dengan perasaan tak karuan. Entah mengapa hatinya sedikit lemah. Jika sekiranya kehidupan yang wanita itu jalanin menyedihkan. Mengapa tak sekalian ikut dengan Ibunya saja? Mengapa harus hidup?


"Abhimana."


Mendengar suara dari saudara kembarnya spontan Abhimana berbalik. "Ngapain lo di sini?"


"Lo yang ngapain? Tadi bilangnya ke toilet." Tangan Abhimata menunjuk arah belakang. "Lo apain dia?"


"Dia siapa?"

__ADS_1


Abhimata menatap datar. "Menurut lo?"


Abhimana decak kesal. "Lo pikir gue bakal apain dia? Lagian juga di pesantren. Kenapa otak lo suka mikir yang enggak-enggak tentang gue sih?"


"Karena gue tahu watak lo ya radak gila. Makanya gue tanya," ujar Abhimata.


Netra Abhimana melebar tak terima dengan yang di ucapan oleh saudaranya. "Anjir. Mulut lo, Bhimata!"


"Gue lagi nggak becanda, Bhimana." Abhimata menjeda menatap ke arah persawahan yang bersebelahan langsung dengan taman pesantren. "Seenggaknya kalau lo nggak bisa ngehargai dia sebagai saudara. Coba lo hargai di sebagai istri Lutfan."



^^^Gue di rumah Bibi Salamah^^^


Pesan telah terkirim setidaknya dua puluh menit. Tetapi mengapa sang istri tak kunjung datang? Dibilang tadi, sudah sampai di pesantren. Namun di tunggu-tunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Aldo, Vincent, Linggar, Lingga, Abhimana dan Abhimata berkeliling pesantren di pandu oleh Banyu. Sebab teman-temannya paham, bahwa tidak memungkinkan kondisinya untuk ikut berkeliling dan di luar terlalu lama.


"Assalamualaikum."


"Maaf." Mardiyah melewati Lutfan dan tepat langsung berada dibelakang mendorong kursi roda sang suami untuk mendekat ke sofa abu-abu ruang tamu. "Tadi mampir dulu ke taman."


"Ngapain lo ke taman?"


Mardiyah mengambil duduk di sofa dan berhadap-hadapan dengan Lutfan. "Menurut kamu orang kalau ke taman biasanya ngapain?"


"Ya ... ya anu. Banyak. Bisa ngapain aja lah."


"Saya cuma duduk-duduk sih, sambil lihatin pemandangan," jawab Mardiyah.


"Oh." Lutfan terdiam memandangi Mardiyah yang terlihat melamun sambil memegangi tangan kanannya dan mengusap-usap di sana. "Mar ..."


Tak ada tanggapan.

__ADS_1


"Mardiyah."


Mardiyah tersadar. "Ya?"


"Lo ngelamunin apasih?"


Mardiyah menggeleng. "Saya nggak ngelamun."


"Bohong lo kelihatan banget."


"Hm? Bohong? Saya nggak bohong."


Lutfan berdecak, detik itu juga saat netranya dan Mardiyah bertemu tangan Lutfan terangkat, menarik dagu Mardiyah untuk mendekat.


"Lutfan ... ini bukan rumah."


"A-apaan." Lutfan melepas tangannya dari dagu Mardiyah. "Gu-gue nggak ada niat mau anu ya. O-orang gue cuma mau lihat mata lo itu."


"Kenapa mata saya?"


Lutfan menunjuk tepat di sebelah kira mata Mardiyah. "Merah. Lo habis nangis, ya?"


Mardiyah terdiam.


"Gue bener 'kan? Lo diem itu artinya, iya."


Mardiyah tidak akan pernah bisa membohongi Lutfan. Jika pun berbohong beberapa detik berlalu akan terasa tidak baik, ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. "Saya ini perempuan, masa nangis aja nggak boleh," jawab Mardiyah.


"Gue bukan bilang nggak boleh ya."


"Ya udah terus apa?"


"Ya lo kenapa nangis?"

__ADS_1


Mardiyah menunduk melepas tangan suaminya. "Saya cuma mau nangis aja. Saya nggak kenapa-napa."


"Bohong." Lutfan menatap dalam sang istri. "Siapa, Mar? Abhimata? Abhimana? Atau Lingga, Linggar?


__ADS_2