Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
77 : Gue Kangen


__ADS_3

Sampai pukul dua dini hari, Lutfan masih tidak memejamkan mata. Aldo, Abhimana dan Abhimata telah tertidur pulas di masing-masing sofa. Sedang dirinya masih berada di kursi roda, perlahan ia mendorong roda, ingin mendekati Mardiyah lagi. Sejujurnya ia masih merindu, ia tidak ingin tidur, ia ingin tetap terjaga. Sebab ia takut saat ia terbangun Mardiyah tidak lagi berada di dekatnya.


Gue takut, Mar, batin Lutfan.


Saat telah berada di dekat Mardiyah, tangannya terangkat, menyentuh lembut pipi sang istri. Ia benar-benar tidak menyangka ketetapan Tuhan pada kehidupannya. Memiliki seorang istri seperti Mardiyah adalah suatu impiannya sejak dulu. Atau lebih tepatnya, melindungi Mardiyah dengan menjadi mahram untuknya adalah impian. Bahkan dengan kelumpuhan kakinya yang tidak terduga, Mardiyah masih mau menerima. Ia telah mempercayai, bahwa itu bukan sekadar membalas budi.


"Eghm."


Dia bangun? Gue ganggu dia? batin Lutfan yang menghentikan tangannya.


Netra indah dengan bulu mata panjang dan lentik itu terbuka. "Lutfan ... kamu belum tidur? Kenapa? Butuh sesuatu?"


Lutfan tersenyum tipis dan menggeleng. "Nggak bisa tidur."


Mardiyah merubah posisinya untuk duduk dan mengambil gelas kaca yang berisi air mineral, lantas menenguknya sedikit demi sedikit. Setelah itu ia melihat Lutfan. "Mau minum?"


"Enggak."


"Mau apa? Biar saya ambilin."


Lutfan menggeleng. "Nggak mau apa-apa. Gue cuma mau lihatin lo."


"Mau saya peluk?"


Lutfan menggeleng lagi.

__ADS_1


"Nggak mau?"


Lutfan tertunduk, tangannya bergerak mengambil tangan Mardiyah. "Sebenernya, mau banget. Tapi lo masih sakit. Gue takut nanti gue peluknya terlalu erat, lo-nya jadi sakit lagi."


"Kalau begitu solusinya, jangan erat-erat peluk---"


Lutfan menyanggah, "Nggak bisa. Gue pingin peluk lo erat-erat."


Mardiyah menunduk dan tersenyum tipis.


"Kalau senyum. Ngapain pakai nunduk segala?"


Mardiyah mendongak lagi menatap Lutfan. "Nggak pa-pa."


Tangan Mardiyah yang digenggamnya masih terasa sama, lembut dan hangat. Jika saja tidak ada Aldo, Abhimana dan Abhimata, mungkin ia bisa leluasa membicarakan apa pun. Sekali pun semua tertidur, tidak memungkiri mereka memiliki telinga.


"Hm?"


"Gue kangen," ujar Lutfan lembut dengan menciumi punggung tangan Mardiyah. "Sebulan di sana ... lo nggak di apa-apain kan?"


Mardiyah terdiam. Jika mengatakan tidak, ia akan semakin banyak berbohong pada Lutfan. Nyatanya, Manggala dan Gautama terkadang-kadang memperlakukannya dengan tidak baik. Dan akhir dari semuanya adalah kemarin malam. Ia harus ikhlas kehilangan seorang anak, karena Manggala mendorongnya terlalu kuat hingga ia terjatuh di sofa dan punggungnya terbentur.


"Mar?"


Mardiyah tersadar. "Saya kelihatan baik-baik saja kan?"

__ADS_1


"Enggak." Lutfan menggeleng. "Lo nggak kelihatan baik-baik aja."


Tangan Mardiyah terlepas dari tangan Lutfan, hingga ia bisa leluasa mengabsen setiap wajah Lutfan, mulai dari, alis, mata, hidung, pipi dan berakhir pada bibir. Pandangan Mardiyah fokus pada bibir suaminya yang terlihat sedikit pucat. "Kamu agak pucat. Apa kamu sakit? Demam?"


Lutfan mengangguk.


"Beneran demam?"


"Enggak." Lutfan terpejam menikmati sentuhan Mardiyah di wajahnya. "Hati gue sakit, Mar. Sakit banget. Gue minta lo ikhlas tapi nyatanya ... gue yang terus-terusan kepikiran. Gue ngerasa ... gue nggak berguna jadi suami, gue nggak bisa jaga lo. Harusnya waktu itu, gue tegas minta lo buat nggak ikut ke Lazuardi hotel sama Pak Manggala. Pasti semuanya nggak bakal kayak gini ... lo pasti nggak bakal kehilangan anak lo, lo pasti bakal bahagia terus, lo pasti ..."


Lutfan terdiam dan menunduk, tidak bisa melanjutkan ucapannya hanya menahan suara tangis dengan linangan air mata. Sedangkan Mardiyah masih tidak melepaskan tangannya yang kali ini menjalar ke pipi kanan Lutfan. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Sebab kesedihan akan kehilangan ini adalah milik bersama. Lutfan adalah Ayah, sedang dirinya adalah Ibu dari janin itu.


"Saya mau peluk kamu ... tapi susah." Tangan Mardiyah beralih pada tengkuk Lutfan. "Jangan bicara seperti itu. Kalau kamu nggak berguna ... mana mungkin saya jadiin kamu suami, Lutfan."


Lutfan mengusap kedua pipinya yang berlinang air mata. Kemudian mendongak menatap Mardiyah. "Gue tidur di sini nggak pa-pa?"


"Duduk?"


Lutfan mengangguk.


"Nanti punggung kamu sakit."


Lutfan menggeleng.


"Tiduran di sofa saja."

__ADS_1


Lutfan menggeleng, lagi. "Maunya di sini, sama lo. Nggak pa-pa, kan?"


Mardiyah menghela napas pelan. "Ya sudah."


__ADS_2