
Bagian dari keluarga Adiwangsa? batin Mardiyah yang langsung memutuskan kontak mata dengan Manggala. "Saya ... tidak mau."
"Kamu membenci Kakek?"
Apa harus saya perjelas? Anda ... anda yang mendorong saya! batin Mardiyah yang masih meremas kuat seprai di balik selimut. "Saya tidak mau menjadi bagian keluarga Adiwangsa. Saya ingin pulang ke panti asuhan. Saya ingin hidup bersama suami saya saja."
Surat gugatan itu masih melayang. "Kalau Kakek melarangmu?"
"Anda tidak akan bisa melarang saya."
Manggala merobek-robek selembar gugatan perceraian itu, lantas meletakkan kembali robek kecil-kecil pada map. "Kakek bisa, Mahika."
"Tinggalah di tempat di mana kamu merasa nyaman. Tapi, tetaplah menjadi Adiwangsa, dengan nama barumu Mahika. Orang-orang harus mengenalmu sebagai anak dari Gautama dan Cecilia," lanjut Manggala.
Lagi-lagi Mardiyah menggeleng. Ia mendengar langkah kaki menjauh dari Gautama dan Gumira. Sepertinya mereka meninggalkan ia sendiri dengan Manggala.
"Kakek tidak memaksa. Kalau kamu tidak mau .. tidak pa-pa." Manggala terlihat semakin dekat. Beliau tiba-tiba saja mengusap lembut pipi kanan Mardiyah. "Tapi tolong ..."
Mardiyah bertemu tatap dengan Manggala.
"Maafkan Kakek, Mahika."
Mardiyah spontan berkata, "Memang apa kesalahan anda?"
Tangan Manggala terlepas saat pertanyaan tak terduga terlampir langsung dari bibir cucunya. "Kesalahan yang Kakek lakukan banyak. Mungkin yang paling parah adalah malam itu. Kakek meminta maaf atas segalanya.
Setelah mengucapkan itu. Manggala bangkit dari duduknya, dan meninggalkan ruang rawat inap. Ia pikir ini mimpi, namun nyatanya bukan. Seseorang dengan darah yang sama mengalir di tubuhnya menuntaskan segala masalah, memilih ikhlas dan tak lupa memohon maaf atas segala salah. Haruskah ia maafkan? Haruskah kehilangan ini hanya di bayar dengan sepatah kata maaf saja?
Kesakitan bertubi-tubi pernah ia rasakan. Kehilangan ini pertama kali baginya. Sebab di janin itu mengalir darahnya dan juga darah dari ... orang yang dicintainya. Jika Lutfan mengatakan untuk ikhlas sejujurnya tidak lah semudah itu. Nyawanya menjadi taruhan, entah lahir entah mati. Namun ketetapan mengharuskan janin itu pergi. Jika saja janin pergi tidak dibersamai dengan kekasaran Manggala. Mungkin ... mungkin saja, ia bisa memaafkan sang Kakek.
Lutfan menangis. Ia tidak tahu sehancur apa hati suaminya. Dan bagaimana bisa penerima Lutfan semudah itu? Kegagalan akan terus terjadi dalam menanti sang buah hati, jika Lutfan terus bersamanya. Keputusannya waktu itu pun sudah ia pikir matang-matang. Namun saat bertemu dengan Lutfan, segalanya menjadi ragu.
Perasaan yang bermulai balas budi dan juga kasihan, lambat laun berubah menjadi ... cinta.
"Mar ..."
Mardiyah tersadar, saat tangannya di sentuh oleh Lutfan. "Hm?"
"Ceritain semuanya," ujar Lutfan.
Mardiyah bingung. "Apa?"
"Yang dimaksud Pak Manggala ..."
Mardiyah langsung menggeleng. "Bukan apa-apa." Ia tidak ingin kebencian Lutfan mendarah daging. Kehilangan ini selain kesalahan Manggala, ini juga kesalahannya. "Kamu sudah makan?"
"Gue nggak suka lo potong-potong ucapan gue."
Mardiyah menunduk. "Maaf."
"Gue nggak nyuruh lo minta maaf. Ceritain semuanya. Apa yang udah di lakuin Pak Manggala?"
__ADS_1
"Beliau nggak melakukan apa-apa."
Lo bohong, batin Lutfan yang memilih diam memandangi sang istri.
Lutfan sepertinya marah. Karena ia memilih untuk tidak berbicara tentang kejadian yang telah ia alami. Jika dikatakan berhak, suaminya berhak mengetahui itu. Namun ia memilih bungkam, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi konflik antara dirinya dengan Pak Manggala.
Semuanya pergi. Abhimana, Abhimata entah ke mana. Sedangkan Lutfan dan Aldo memilih mampir ke outlet terdekat. Karena Aldo berkata, suaminya sudah lama tidak mengunjungi outlet-outlet. Jelas, Lutfan pasti kalut, memikirkan dirinya yang tak kunjung pulang. Tetapi, setidaknya saat ia pulang, ia bisa melihat suaminya itu baik-baik saja.
Ruang rawat inap VVIP ini sangat luas. Bahkan ada satu perawat yang menemaninya sekarang di dalam. Perawat itu nampak kaku. Padahal ia sedang tidak membutuhkan apa-apa, terlihat berdiri tegak dengan pandangan lurus. Sedikit aneh, tetapi jika ia berucap lagi pastinya perawat itu akan berkata, tidak apa-apa, karena ini tugasnya.
Mardiyah bosan.
Walau sudah memiliki gawai baru yang dibelikan oleh Abhimata. Tetap saja, tidak ada nomor-nomor yang dapat ia hubungi. Dan ... media sosialnya pun, ia tidak begitu menghafal, harus login dengan buku catatan yang masih berada di asrama panti.
Clek.
Netra Mardiyah beralih pada arah suara itu. Ra ... jendra? A-apa yang dia lakukan? batin Mardiyah yang bergeming menatapi Rajendra tengah melangkah dengan tatapan tajam dan senyuman aneh. Perawat itu pun juga berdiri.
"Selamat sore Tuan Muda Rajendra."
Rajendra tidak menanggapi tetapi tangannya mengibas, pertanda mengusir perawat itu keluar. "Jangan lupa, tutup pintu."
Deg.
Setelah perawat itu benar-benar pergi. Rajendra mengambil duduk tepat di sofa single yang menghadap langsung pada Mardiyah.
Ruangan ini nampak mencekam. Entah mungkin saja karena aura lelaki di depannya ini kejam. Jika Mardiyah lihat-lihat pun sepertinya Rajendra ini gangguan mental. Yang cenderung suka menyakiti, melukai, dan menyiksa orang lain.
"Sayang sekali. Anda sendirian." Tiba-tiba saja terdengar suara tawa menggelegar. Perubahan ekspresi yang cepat, bahkan Mardiyah tak sadar. "Jadi mungkin .... akan sedikit tidak asik menyakiti anda tanpa ada ... yang melihat."
Bulu kuduk Mardiyah naik. Jika dikatakan takut, sejujurnya ia sangat takut, walau ia menatap Rajendra datar, tidak memungkiri ia masih manusia normal.
"Ah." Tangan kanan lelaki itu terangkat di telunjuk saja. Senyum aneh ditunjukkan. "Saya memiliki ide." Netra Rajendra menatap lurus pada Mardiyah. "Bagaimana jika ... saya meminta perawat itu masuk kembali?"
Mardiyah terdiam.
"Anda ini mendadak bisu, ya?"
Mardiyah berujar, "Berbicara dengan orang gila bukan keahlian yang saya miliki."
"Ah. Jadi ... saya orang gila?" Rajendra berdecak dengan menggeleng-geleng. "Tega sekali, anda. Melukai hati keluarga sendiri."
Bicaranya aneh, batin Mardiyah yang langsung menanggapi. "Keluarga sendiri?"
Rajendra mengangguk. "Kita ini ... keluarga 'kan? Bahkan ... Kakek yang saya sayangi mengakui anda yang anak haram ini sebagai cucu."
"Sialan. Sedikit menjijikan, tapi ... karena saya sangat menghargai Kakek. Jadi terpaksa ..." Rajendra memandang rendah. "Saya mengakui anda."
Mardiyah mengangguk-angguk. Ia telah tahu titik di mana Rajendra terlihat lemah, yaitu, pada sang Kakek. Manggala Adiwangsa. Ia yang tadinya tegak dan tegang, kini duduk santai dengan bersandar pada bantal yang di tumpuk-tumpuk. "Jadi apa kamu ini tidak berpikir? Risiko menyakiti saya ... akan membuat hubunganmu renggang dengan Kakek tersayangmu itu."
__ADS_1
Rajendra terdiam, raut wajahnya berubah datar.
"Dan mungkin saja. Kamu akan terbuang. Ah tidak-tidak. Mungkin ... Kakek tersayangmu tidak akan bersedia menolong lagi jika kamu membuat masalah yang lebih viral dari kemarin." Mardiyah menghela napas. "Daftar hitam yang sudah kamu buat itu cukup banyak, Rajendra. Ruda paksa, penyiksaan, bahkan ... mencelakai seseorang pernah kamu lakukan. Apa kamu pikir ... kamu bisa terbebas tanpa bantuan Kakekmu?"
Brak!
Pyarrr!
Lampu tidur kaca yang berada tepat di samping sofa single Rajendra tendang dengan penuh amarah. Mardiyah tidak peduli, ucapannya adalah benar. Jika Rajendra berani menyentuhnya, banyak pasang mata yang akan menjadi saksi. Bahkan cctv pun ada, dan yang pasti ... Manggala akan melindunginya.
"Kurang ajar, tutup mulutmu!"
Napas Rajendra memburu. "Anak sialan sepertimu tidak berhak menasihatiku!"
Cara bicaranya berubah. Terlalu emosional, batin Mardiyah yang sama sekali tidak merasa takut.
"Aku Rajendra Adiwangsa. Kamu pikir kamu ini siapa, hah?" Rajendra mendekat. "Aku sudah baik-baik ingin berkunjung. Tapi kamu malah menyulut emosi dengan berani-beraninya menasihatiku!"
Mardiyah merasa nyeri saat lengannya di remas. "Lepas. Kamu akan menyesal jika menyakiti saya!"
"Aku rasanya ingin menyiksamu." Tatapan Rajendra benar-benar menyeramkan. Tangan besar dan kasar itu kian meremas lengan Mardiyah. "Aku dengar. Kamu baru saja keguguran, ya? Pasti tidak bisa berdiri, kan? Bagaimana ... jika aku memaksamu berdiri? Dan bahkan ... memaksamu berlari?"
Dia gila, batin Mardiyah yang berusaha memberontak. Ia merasa aliran darah di lengannya berhenti. Rajendra benar-benar tidak perasaan. "Lepas!"
Rajendra tiba-tiba saja meraup pinggangnya, dan dengan segala kegilaan, ia benar-benar memaksa Mardiyah berdiri. Bahkan perawat-perawat seperti berpura-pura tuli, kekuatan Rajendra di atasnya. "Ra ... jendra. Kamu gila! Le-lepas!"
"Aku minta." Senyum mengerikan Rajendra tunjukkan. "Kakak berdiri. Ayo main kejar-kejaran."
Astaghfirullah. Ya Allah ... perutku, batin Mardiyah yang merasa seluruh tubuhnya sakit. Yang paling parah adalah perut dan tangannya yang di infus mulai sedikit terbuka.
"Rajendra, kamu ingin membunuh saya?!"
Rajendra menggeleng. "Jangan berpikir buruk, Kak. Aku hanya mengajak bermain."
Suara penyanggah besi infus terjatuh. Bahkan infus pun telah terlepas dari tangannya, darah menyucur. Tidak ada yang menolongnya. Detik di saat Rajendra melepas pinggangnya, ia terjatuh dengan duduk.
"Adikmu sedang ingin bermain. Seharusnya sebagai Kakak. Kamu ini mengabulkan."
Kepalanya pening. Mardiyah tidak tahu lelaki sialan ini berkata apa lagi! Ia benar-benar kesakitan. Cara jatuh yang tiba-tiba tadi menambahkan kesakitan yang berkali-kali lipat. Seseorang tolong, batinnya berharap.
"Berdiri, Kak."
Brak!
"Rajendra!"
Mardiyah yang sendari tadi tertunduk melihat lantai. Akhirnya mendongak, melihat arah pintu masuk. Nyonya Cecilia? batinnya.
"Mama?"
"Rajendra, kamu gila, hah?! Kamu menyakiti dia?!"
__ADS_1
Mardiyah tidak tahu akhirnya. Tetapi yang ia ingat, ada beberapa perawat yang datang membantu, dan selebihnya ia lupa.