Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
107


__ADS_3

Sore harinya. Tepat bakda magrib Mardiyah masih tidak keluar kamar. Ia memang berniat menghindari Nenek Aisha. Lutfan pun sepertinya akan pulang bakda isya. Dan ia hanya bisa merebahkan diri di ranjang dengan pikiran yang sama sekali tidak bisa tenang.


Kling!


Gawai Mardiyah yang berada di samping ranjang berbunyi. Itu adalah notifikasi dari aplikasi.


@rajendraadiwangsa_


2 pesan baru


Netra Mardiyah benar-benar membulat. Ia yang tadinya merebah santai, kini mengubah posisinya menjadi duduk. Ini ... beneran ... Rajendra? Instagram dia?! batinnya. Bagaimana bisa lelaki ini tahu sosial media miliknya? Dan juga, untuk apa menghubunginya? Ini gila. Jantungnya bahkan berdebar kencang karena lagi-lagi ia mengingat perlakuan Rajendra.


"Aku harus buka gitu?" gumamnya.


Mardiyah menggeleng. "Enggak-enggak. Tunggu sampai beberapa menit gitu. Atau kalau bisa satu jam aja."


Kling!


@rajendraadiwangsa_


3 pesan baru


Dia ngirim lagi?! batin Mardiyah yang mau tidak mau ia membuka pesan. Sungguh jujur ia penasaran sekali.


@rajendraadiwangsa_


Aku Rajendra.


Bisa bertemu?


Jyotika Ira. Besok siang. Sekitar pukul dua belas.


Mardiyah langsung menggeleng. Bertemu dengan Rajendra hanya mencari mati saja. Lelaki ini benar-benar memiliki emosi yang tidak stabil. Siapa yang menjamin Rajendra tidak menyakitinya?


Kling!


@rajendraadiwangsa_


Sopirku akan menjemputmu.


Jangan beritahu suamimu.


^^^Saya tidak bisa.^^^


@rajendraadiwangsa_


Kamu harus mau.


Sopirku akan menjemput besok.


Mardiyah kesal. Ia keluar dari aplikasi itu. Sialan sekali. Rajendra ini benar-benar memaksa!


Kling!


@rajendraadiwangsa_


Aku memiliki informasi penting tentang keluargamu.


Dia sengaja? batinnya. Tetapi, jika lelaki itu benar-benar memiliki informasi tentang keluarganya bagaimana? Bukankah lebih baik ia mencoba saja? Ia bisa beralasan untuk bertemu dengan Mama Cecilia di Jyotika Ira.



"Maaf aku pulangnya ke malaman," ujar Lutfan.

__ADS_1


Mardiyah yang baru saja berganti baju tidur tersenyum tipis pada suaminya. "Nggak pa-pa."


"Tadi kamu ngapain aja kok lama?" tanya Mardiyah yang mengambil duduk di tepi ranjang.


Lutfan telah berhasil melepas sarungnya, dan di ambil alih oleh Mardiyah untuk di lipat serapi mungkin. "Tadi ada ceramah dari Banyu. Terus anak-anak panti yang cewek juga ada ceramah dari Ustadzah Aini."


Mardiyah mengangguk-angguk.


"Kamu udah makan?" tanya Lutfan.


"Udah. Kamu?"


"Udah juga. Kebetulan tadi di kasih makan gorengan gitu."


Mardiyah terdiam sejenak. "Lutfan aku besok aku mau izin."


"Izin ke mana?"


"Jyotika Ira." Mardiyah menyelipkan rambutnya pada telinga. "Aku mau ketemu Mama Cecilia."


"Ya udah nggak pa-pa. Aku anter?"


Mardiyah menggeleng cepat. "Nggak usah. Berangkatnya agak siang soalnya. Kamu kan ke outletnya pagi."


"Iya juga, ya." Lutfan terdiam sejenak. Seperti berpikir jalan keluar. "Aku suruh Cak Sur pulang aja gimana? Buat anterin kamu?"


"Enggak-enggak. Nggak usah. Kebetulan kata Mama nanti ada sopir yang jemput," jawab Mardiyah.



Pukul dua belas malam. Mardiyah telah terlelap tidur. Lutfan masih terjaga sibuk dengan laptopnya, ia mencari-cari tempat honeymoon yang tepat, ia telah menjanjikan sesuatu pada istrinya. Sungguh ia tidak mau ingkar, dan berujung mengecewakan.


Beberapa pilihan tempat mungkin akan sesuai selera Mardiyah. Kotanya pun ia pilih jika tidak di Malang atau mungkin di Yogyakarta. Kedua tempat itu ia pilihnya. Mungkin ke candi, atau kalau tidak ke pantai.


^^^Do, kapan lo ambil libur?^^^


^^^Katanya, lo mau tunangan kan?^^^


Saat Lutfan mengalihkan matanya ke laptop sejenak. Ternyata balasan Aldo sudah muncul. Pikirnya, mungkin lelaki ini begadang?


Aldo


Batal.


Mata Lutfan melebar. Batal? Gimana bisa? Apa Bokap Nyokapnya nggak setuju? batinnya.


Aldo


Cewek itu hamil sama cowok lain.


Gilanya lagi, dia bilang gue yang apa-apain dia. Beberapa hari ini gue nggak ke outlet itu, males banget. Gue nggak ngeluh ke elo, gue juga nggak ada niatan resign. Gue cuma muak aja, njir.


Lo sebagai owner, kalau gue bisa minta tolong. Pecat dia bisa?


Anjir gila. Hamil?! batin Lutfan yang tidak habis pikir.


^^^Gue nggak bisa langsung pecat.^^^


^^^Tapi besok gue ke sana, lo harus dateng.^^^


^^^Gue mau bahas soal tanggal libur sama lo.^^^


Aldo

__ADS_1


Oke. Gue dateng.


Setelah mutuskan pesan singkat. Lutfan meletakkan gawai dan juga laptopnya di loker kecil yang berada di meja berlaci. Malam semakin larut ia butuh tidur untuk berangkat pagi-pagi ke outlet. Sepertinya pun, ia akan berangkat bakda subuh, karena outlet yang di urus Aldo lumayan jauh dari panti asuhan.


"Eghm."


Terlihat Mardiyah bergerak dengan tidur menghadapnya. Paras cantik dengan rambut cokelat gelap itu benar-benar memukau di lampu yang remang ini.


Tidur aja cantik. Heran gue. Istri siapa, sih ini? batin Lutfan yang matanya tiada henti menatapi bibir tipis pink alami miliki sang istri.


"Cium boleh nggak, ya?" gumamnya.


Akh, anjir. Apasih! batinnya yang memejamkan mata dengan menampar pelan pipi kiri dan kanannya. "Sadar, Lutfan."


Istrinya terlihat bergerak mengusap-usap mata. Bahkan detik kemudian membuka mata. "Lutfan, kamu belum tidur?" tanya Mardiyah.


Lutfan tersenyum lebar. "Belum, Mar. Ta-tapi ini aku rencana mau tidur." Ia menepuk-nepuk bahu istrinya. "Kamu tidur lagi, ya? Aku temenin."


"Iya."


Ya Allah ... suara cewek bangun tidur gini amat, batin Lutfan.


"Kamu agak sinian. Aku mau peluk kamu," ujar Mardiyah, lagi.



J Y O T I K A I R A


Tamanan entah apa yang berada di sekitar tulisan penginapan menambahkan kesan glamor. Mama Cecilia memang pencinta bunga, entah beliau mendapat dari mana hingga bunga itu dijadikan perpaduan yang cocok. Dan memberikan mata suatu keindahan.


Saat sopir memberhentikan mobil. Beliau berkata, "Nona Muda, Tuan Muda Rajendra berbicara bahwa anda bisa langsung ke resepsionis. Orang-orang di sana akan membantu Nona untuk ke ruangan Tuan Muda."


"Baik. Terima kasih, Pak."


Mardiyah turun dan langsung ke resepsionis. Namun lagi-lagi ia bertemu dengan perempuan yang memiliki name tag Dita.


"Selamat siang, Nona Mardiyah! Anda istri Tuan Lutfan, ya?" Perempuan bernama Dita itu tersenyum ramah. "Saya Dita. Tuan Muda Rajendra memberi saya perintah untuk mengantar anda ke ruangan beliau."


"Iya," jawab Mardiyah singkat, tanpa ekspresi.


Dita menunduk. "Baik, Nona. Mari saya antar."


Sekitar dua menit perjalanan. Perempuan itu berhenti di salah satu pintu, lalu mempersilakannya masuk. Dan saat langkah kecil Mardiyah memasuki kamar, ternyata di sana ada Rajendra yang duduk di kursi kerja.


"Silakan, duduk," ujar Rajendra.


Mardiyah menelan ludah, perlahan-lahan ia duduk di sofa abu-abu itu. "Informasi masih apa yang kamu punya tentang keluarga saya?"


"Saya?" Rajendra menaikkan salah satu alisnya. "Padahal aku sudah berusaha untuk tidak formal. Ternyata kamu masuk masih menggunakan kata 'saya'."


Bicara informal denganmu akan terdengar aneh, Rajendra, batin Mardiyah.


"Ya sudah. Terserah padamu," lanjut Rajendra. Lelaki itu bangkit dari kursi kerjanya, berganti duduk di sofa single yang langsung berhadap-hadapan dengannya. "Aku tahu Mama dan Kakek berusaha juga mencari tahu tentang keluarga Ibumu itu."


"Sialannya." Mata Rajendra memandang. "Kenapa Mama bisa menyayangimu? Kenapa Kakek bersedia membantumu? Padahal mereka tahu kalau kamu adalah anak dari sekertaris itu."


Mardiyah terdiam.


"Kamu senang, kan? Mendapatkan kasih sayang yang seperti ini?" lanjut Rajendra.


Mardiyah menjawab, "Semua anak yang hidup di panti asuhan. Pasti senang mendapatkan kasih sayang sebanyak ini, kan, Rajendra?" Karena lagi-lagi saya perlu mengingatkan, bahwa hidupmu dari awal sudah penuh dengan cinta dan kasih dari seluruh keluargamu. Jadi kamu tidak akan pernah tahu semengenaskan apa hidup tanpa keluarga, lanjutnya dalam hati.


[.]

__ADS_1


__ADS_2