
"Okay. Kalau gitu buka bajumu sendiri, saya bantu mandinya saja."
A-apa?! batin Lutfan dengan benar-benar terkejut. Bahkan terbatuk-batuk tanpa sadar, Mardiyah benar-benar tidak pernah malu soal ini. Perempuan ini juga suka sekali spontanitas mengucapkan atau melakukan sesuatu yang Lutfan sendiri tidak sanggup menanggapi.
"Pilih yang mana?"
Lutfan menggeleng. "Enggak dua-duanya."
"Ya udah, saya bantu kamu mandi. Cepet buka baju kamu sendiri." Mardiyah mulai berjalan. "Saya mau lihat kamar mandinya dulu."
"Mar! Ya Allah ..."
Mardiyah menuli berjalan masuk ke kamar mandi, melihat sekeliling ternyata ada shower yang bisa di mode air hangat juga. Syukurlah, setidaknya Lutfan bisa mandi dengan sekaligus merilekskan tubuh. Namun ternyata tidak ada bath tub lagi pula Mardiyah tidak mengharapkan itu, dengan adanya shower sudah cukup.
Setelah selesai, Mardiyah keluar. Dan tepat saat itu netranya melihat Lutfan telah membuka baju, dan telanjang dada, luka-luka bekas kecelakaan masih ada. Tetapi entah mengapa, ketampanan sang suami bertambah berkali-kali lipat.
Sangat tampan.
"Kursi rodanya mana?"
Mardiyah mendorong kursi roda mendekat, dan membantu Lutfan duduk perlahan-lahan. "Kena lukamu nggak?"
"Enggak."
"Mar ... lo beneran mau bantu gue mandi?"
Mardiyah mengangguk.
"Kalau gue malu. Gimana?"
Mardiyah menatap Lutfan sejenak. "Nggak perlu malu. Saya kan istrimu. Lagian kamu boleh mandi pakai celana. Tapi bajumu lepas aja."
"Mar enggak usah deh, gue ma---"
Mardiyah menyanggah, "Udah, kamu jangan banyak bicara."
Didorongnya masuk kursi roda perlahan, lantas di tempatkan Lutfan tepat di bawah shower yang mana saat Mardiyah hendak menghidupkan, ia kembali menunduk. Netranya menangkap Lutfan masih menggunakan celana panjang.
"Kok masih pakai celana panjang?"
Lutfan menunduk juga menatap celana. "Te-terus? Kata lo boleh ... pakai celana."
"Ya, boleh. Tapi pakai celana pendek nggak bisa?"
Mardiyah menunduk tangannya menyusup pada pinggang kiri serta kanan Lutfan, hendak menarik turun celana yang digunakan suaminya. Namun detik itu juga tangannya di tahan.
"Mar, Ya Allah ... lo mau ngapain?"
__ADS_1
Mardiyah menatap Lutfan. "Kamu pakai celana pendek 'kan?"
"Enggak. Lupa."
Tangan Mardiyah spontan berhenti, dan kembali pada posisi semula. "Saya ambilin celana pendek. Kamu bisa ganti sendi---"
"Mar nggak usah. Nanti sayang kursi rodanya basah." Lutfan menunjuk kursi di dekat meja kamar mandi. "Ambilin kursi itu tolong. Gue mandi di sana dan sendiri. Janji gue, kalau udah gue bakal panggil elo."
Mardiyah diam sejenak. "Okay. Kamu janji." Setelahnya ia bangkit, mengambil kursi plastik dan menyerahkannya pada Lutfan. "Saya bantu duduknya."
"Iya."
Tangan Lutfan menyentuh punggung Mardiyah erat, dan satu tangan sisi lainnya berpegang pada kursi roda, lantas dengan perlahan-lahan Mardiyah mendudukkan Lutfan di sana. "Udah. Sabun sama shampoonya di sana, shower-nya kamu bisa hidupin sendiri 'kan?"
"Bisa."
Seulas senyum tipis Mardiyah tampakkan. Bahkan tangannya tanpa ragu mengacak-acak pelan surai hitam pendek suaminya. "Saya tunggu di luar."
Dia senyum kayak gitu, mana ngacak-ngacak rambut gue. Di pikir gue masih bocah apa? batin Lutfan yang memandangi punggung Mardiyah.
...🌺...
Entah siapa yang melahirkan seorang perempuan di depannya ini. Sebab bukan hanya cantik, dia juga dewasa, baik hati dan penurut. Lutfan tidak pernah menyangkal bahwa Mardiyah adalah sosok perempuan yang ia idam-idamkan untuk menjadi seorang istri.
Inginnya tercapai.
Mardiyah bukan sekadar menjadi Kakak angkatnya. Benih-benih cinta yang Lutfan sembunyikan selama ini berakhir indah, ia bisa menuntaskannya. Ia bisa mencintai Mardiyah dengan inginnya, sekali pun tidak bisa secara gamblang ia berucap. Setidaknya dengan menikahi Mardiyah, bukti cinta yang ia miliki telah jelas.
Bahkan sampai sekarang masih teringat jelas di otaknya. Bagaimana bisa orang-orang menilai kebaikan manusia dari orang tua mana dia dilahirkan? Padahal kebaikan tidak bisa diturunkan, hanya bisa didik atau kalau tidak dari nurani sendiri.
"Lutfan, kamu kok diam aja?"
Sedetik itu juga, lamunannya hilang. Mardiyah menyadarkan, dan ternyata perempuan di depannya ini telah usai menyeka kakinya.
"Enggak kok. Kenapa?"
Mardiyah menggeleng. "Nggak pa-pa."
"Lo ... mau tidur? Istirahat?"
Mardiyah menggeleng, lagi. "Saya mau lihat Umma dulu."
"Jangan. Beliau pasti tidur, Mar." Lutfan menepuk-nepuk ranjang kosong. "Lo istirahat. Tidur. Lo lagi nggak sholat 'kan?"
"Tapi---"
"Gue nggak mau lo sakit."
__ADS_1
Mardiyah bangkit, memasukkan kembali baskom ke kamar mandi. Kemudian keluar, mengambil duduk tepat di sana Lutfan. "Lutfan, masalahnya saya ..."
"Lo ... nggak nyaman, ya?"
Spontan Mardiyah menggeleng.
"Gue bisa tidur di kamar se---"
"Enggak, Lutfan. Saya bukan masalah ke kita yang tidur berdua. Tapi apa kamu ..." Mardiyah memandang kaki Lutfan sejenak. "Maksud saya, kakimu apa nggak sakit? Saya takut ranjangnya kurang luas buat kamu tidur."
Lutfan menatapi ranjangnya sejenak. Berpikir ini masih cukup dan tidak akan menindih atau membuat sempit tidurnya. "Cukup, Mar. Atau lo nggak nyaman tidur deket-deket gue?"
"Enggak. Bukan masalah itu. Saya kan udah bilang."
Lutfan mengangguk. "Oke. Besok gue pesan ranjang yang size nya agak besar, biar luas."
"Saya kan---"
"Iya, Mar. Gue tahu, bukan masalah itu. Tapi emang ranjangnya ini agak sempit kalau di tiduri berdua, jadi nggak salah 'kan? Gue mau pesan ranjang," sanggah Lutfan.
"Iya. Saya ikut kamu aja."
Mardiyah bangkit. Ia ingat belum mengganti pembalutnya, secepatnya mungkin ia mengambil di tas dan berlalu ke kamar mandi. Setelah beberapa menit kemudian Mardiyah membuka pintu, nyeri perutnya kembali menyerang.
"Sshhh, kayaknya kambuh," gumam Mardiyah dengan memegangi perutnya.
Lutfan yang tadi sibuk melihat laptop menatap Mardiyah dengan kening mengerut. "Perut lo sakit, Mar?"
"Iya."
"Mar udah ... gue bilang apa, tidur istirahat." Lutfan menutup laptopnya, menatapi Mardiyah dengan khawatir. "Bisa jalan ke sini 'kan? Pelan-pelan, Mar."
"Bi-sa."
Langkah Mardiyah lebih lamban daripada tadi, hingga saat ia telah mendekati ranjang pergelangan tangannya di sentuh langsung oleh Lutfan, lalu memundurkan sentuhan sampai siku, menarik Mardiyah perlahan untuk merebahkan diri di ranjang.
"Lo butuh sesuatu, Mar?"
Mardiyah menggeleng.
"Gue ... gue pijatin mau?"
Mardiyah menggeleng, lagi. "Enggak suka, Lutfan. Kalau boleh saya minta tolong ... tolong lepasin kerudung saya, saya nggak mau gerak nanti sakit lagi."
Netra Mardiyah memang terpejam. Sedangkan netra Lutfan spontan melebar. A-apa? Minta tolong apa? Lepasin kerudung? Ke-ru-du-ng? Dia ... dia beneran? batin Lutfan yang masih tidak percaya dengan pendengarannya. Bahkan beberapa kali ia menggeleng, tak mungkin.
"Lo ... lo ngomong apa tadi, Mar? Minta tolong apa?"
__ADS_1
Terdengar Mardiyah menghela napas berat. "Kerudung. Tolong lepasin kerudung saya."
Telinga gue masih normal. Benerkan! Dia minta tolong lepasin kerudungnya, batin Lutfan dengan jantung yang berdebar-debar.