
Hari demi hari pun berlalu. Tanpa di sadari oleh Mardiyah ternyata telah memasuki minggu terakhir di bulan ini. Harapannya semoga tiada lagi hari-hari buruk yang harus ia jalani, setidaknya hari ini saja. Ia ingin kembali ke masa kecil, di mana dulu Umma Sarah selalu bilang, bahwa di adakannya Minggu bersama ini untuk saling bersama dan bahagia.
Kata saling itu terdengar asing di telinga. Sungguh tak apa-apa, bila sekiranya perasaan yang ia miliki untuk Jafar terbagi. Tidak apa-apa. Namun jangan untuk kasih serta sayang Umma Sarah, karena sampai usianya menginjak 23 tahun ini. Tetap tak rela rasanya, untuk berbagi.
Kecuali, dengan Lutfan.
Ya, Lutfan saja.
Karena sama seperti ucapan Umma Sarah dahulu, bahwa beliau lebih menyayanginya di bandingkan Lutfan, sang anak. Mardiyah tidak tahu alasan pasti itu apa. Namun memiliki kasih sayang Umma Sarah adalah keberuntungannya dalam hidup.
"Mbak Mar, aku bisa toh minta tolong sampean taruhin gelas-gelas plastik ini ndek dapur?"
Mardiyah mengangguk. "Bisa."
Sesampai di ambang pintu dapur. Niatnya ingin melangkah dalam satu langkah besar, tetapi bodohnya ia tidak menyadari bahwa lantas dapur terkadang-kadang memang licin. Akhirnya segala apa yang di bawanya termasuk gelas-gelas plastik tercecer di tanah.
"Mbak sini saya ban ... tu."
Mardiyah mengenal suara itu. Bahkan detik berikutnya langkah kaki perempuan itu mendekat.
"Ya Allah, Mar. Sini pelan-pelan."
Ya, Alma, batin Mardiyah dengan menyentak pelan tangan Alma. "Lepas."
Anak emas baru itu membantu memunguti gelas-gelas plastik yang berceceran. Sedang Mardiyah sudah terduduk di kursi kayu dapur.
"Kamu mau ngapain, Mar? Aku bantu, ya?"
Mardiyah menggeleng. "Nggak usah."
"Kenapa sih, Mar? Kamu itu kenapa ketus? Ngomong sama aku nggak bisa santai, nge-gas terus. Kamu itu---"
Mardiyah tersenyum hambar dan menyanggah, "Maaf. Aku lupa, kalau sebentar lagi kamu ini bakalan jadi menantunya Ummi Salamah. Harusnya aku ini bertata krama di hadapanmu, kan?"
Di kantor Umma, aku sempat mendengar pembicaraan yang mana itu menyangkut perjodohan Jafar dengan perempuan ini, batin Mardiyah dengan menatap tajam Alma.
"A-aku---"
Mardiyah menyanggah, "Menikahi seorang laki-laki bisu. Apa kamu nggak malu?"
Lalu aku? Apa aku nggak merasa malu menghina Jafar? batin Mardiyah dengan melihat Alma yang mengangkat salah satu alisnya.
"Nggak."
"Oh. Enggak? Jelas, sih. Siapa yang nggak mau menikah sama laki-laki yang warisannya---"
Alma tiba-tiba menyanggah, "Berhenti berkedok, Mar. Aku tahu kamu itu suka sama Jafar kan? Jadi, cukup. Nggak usah hina-hina orang yang kamu sukai sendiri."
Perempuan ini tahu? Seketika Mardiyah melambungkan tawa hambar. Kemudian menatap Alma yang masih berjongkok memunguti beberapa gelas plastik. "Kalau emang aku suka sama Jafar, apa urusanmu, Alma?!"
"Nggak ada. Maka, saranku temui Ummi Salamah secepatnya, barangkali kamu bisa masuk kandidat menjadi menantu beliau. Dan pernikahan ini akan dibatal---"
Mardiyah spontan bangkit, menarik lengan Alma untuk tegak dan berhenti mengambil beberapa gelas yang masih tersisa. "Saranmu itu, nggak bakalan pernah berhasil. Ummi Salamah cuma mau punya menantu sepertimu, yang bernasab dan berasal dari keluarga baik-baik."
Dadaku sakit, batin Mardiyah dengan lanjut berkata, "Jadi berhenti memberiku saran, Alma!"
__ADS_1
"Mardiyah, tunggu!"
"Mardiyah!"
Mardiyah menulikan pendengarannya. Namun Alma berhasil menarik lengannya. "Apa? Kamu mau tahu lebih jelasnya?" ucap Mardiyah.
Alma menggeleng. "Enggak, Mar. Aku nggak maksud---"
"Coba kamu pikir, Alma. Setiap anak yang berakhir di panti asuhan, nggak semua karena orang tuanya meninggal. Ada juga yang dibuang, karena kehadiran janin sialan diperut ibunya yang tiba-tiba."
Mendengar itu Alma menggeleng. "Enggak Mar. Jangan pernah menyimpulkan---"
"Menyimpulkan apa? Menyimpulkan kalau nggak yang namanya janin sialan atau anak haram. Gitu, maksudmu? Ada, Alma. Ada. Aku!" sentak Mardiyah.
Sial. Mataku tiba-tiba saja buram, batin Mardiyah yang merasakan bahwa netranya telah berkaca-kaca. Detik yang tidak pernah di sadarinya, air mata itu mengalir. "Demi Allah, Alma ... sedikit pun aku nggak ada niat benci sama kamu. Tapi ... tapi kenapa tiba-tiba kamu datang dan seolah-olah ngambil semua hak milik orang lain, Alma?!"
"Aku ngambil apa, Mar?" tanya Alma pelan.
Kamu masih bertanya?! Ingin rasanya Mardiyah meneriaki perempuan di depannya ini.
"Semuanya," ucap Mardiyah.
Jika petang ini tidak ada acara Minggu bersama, perdebatan hebatnya dengan Alma akan menggelegar, jelas akan di ketahui oleh orang-orang.
"Jafar?"
"Nggak cuma Jafar. Semuanya, Alma! Kamu ngambil Umma Sarah, kamu buat beliau seolah-olah cukup menyayangi kamu sebagai anak panti asuhan satu-satunya." Mardiyah melambung tawa hampa, dengan sisa-sisa air matanya. "Kurang apa hidupmu, Alma? Dari lahir sampai empat belas tahun kamu masih punya orang tua. Segala perhatian kamu dapat tanpa diminta, dan bisa-bisanya ka-mu datang ngambil itu semua ..."
"Kurang apa, Alma?" lanjut Mardiyah, lagi.
Terdengar Alma menghela napas berat. Air matanya telah mengalir makin deras. Ya, katakanlah bahwa dirinya sekarang jahat pun tidak apa-apa.
Mardiyah menggeleng cepat. "Nggak. Nggak usah minta maaf. Aku nggak nyuruh kamu minta maaf! Aku tanya, kurang apa hidupmu sampai semua perhatian Umma Sarah kamu ambil?!"
"Nggak ada. Hidupku nggak kurang apa-apa," jawab Alma pelan.
Lagi-lagi Mardiyah menggeleng. "Nggak. Hidupmu itu pasti kurang, sampai-sampai kamu tega ngambil semua hak milik anak di panti---"
"Cukup, Mar. Aku paham hidupmu menderita. Tapi tolong berhenti berbicara seolah-olah aku ini bukan anak yatim piatu, yang pantas dikasihani. Ayah dan Ibuku meninggal, Mar. A-apa kamu pikir ..." Alma terlihat menarik napas sejenak. Sesekali mengusap air mata dan kembali berujar, "Anak usia empat belas tahun bisa hidup sendiri tanpa sanak saudara? Apa kamu juga berpikir sebelum bertemu dengan Umma Sarah hidupku baik-baik aja? Nggak, Mar! Nggak!"
Dengan netra yang memerah, Alma menatap Mardiyah sedemikan dalam. "Semua Mar ..., se-mua orang yang tinggal di sini, punya takdir yang sama menyakitkannya denganmu. Jadi, tolong ... tolong berhenti, Mardiyah."
Banyak bicara, batin Mardiyah.
Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Kamu mau semuanya? Ambil, Mar. Sedikit pun aku nggak berniat menikah sama Jafar dan aku nggak mau tinggal di panti---"
Mardiyah menyanggah, "Bohong! Kamu bohong, Alma! Gimana ...? Gimana rasanya jadi calon menantu dari keluarga yang waris--"
"Cukup Mar, Cukup!" sanggah Alma dengan membentak.
"Astagfirullah. Alma, Mardiyah! Ada apa, Nak?!"
U-umma? batin Mardiyah yang langsung berbalik menatap kedatangan sang kakak beradik itu---Umma Sarah dan Ummi Salamah.
"Alma," ucap Ummi Salamah.
__ADS_1
"Mardiyah," ucap Umma Sarah.
Mardiyah cepat-cepat mengusap kedua pipinya. Tangan kanannya tiba-tiba di tarik oleh Umma Sarah, di bawa dirinya oleh beliau menuju kantor panti asuhan.
"Duduk kamu, Mardiyah."
Mardiyah menurut.
"Apa yang kamu pertengkaran dengan Alma, Nak? Umma benar-benar kecewa, Umma dengar sendiri apa yang kamu ucapkan ke Alma. Ada apa sebenarnya? Sampai kamu bisa seperti ini, Mardiyah?" tanya Umma Sarah.
Mardiyah terdiam sejenak. "Umma mendengar semuanya, kan? Lalu kenapa Umma masih bertanya?"
"Kamu merebutkan Jafar dengan Alma?" Umma Sarah menggeleng-geleng tak habis pikir. "Jangan, Nak. Jangan merebut sesuatu yang sudah di tetapkan dengan baik. Karena pernikahan Alma dan Jafar adalah amanah dari orang tua mereka masing-masing."
Amanah? Amanah macam apa, Umma? batin Mardiyah dengan tertunduk dalam.
"Tolong Mardiyah ... berhenti."
Mardiyah mendongak. "Pertengkaran Mardiyah dengan Alma bukan tentang itu saja, Umma!"
Pandangannya kembali buram, air mata telah mengumpulkan lagi di pelupuk matanya.
"Terus tentang apa lagi, Nak?"
Mardiyah terdiam sejenak. "Tentang Umma juga."
"U-umma ... " Mardiyah menatap Umma Sarah dalam. "Kenapa ... ke-napa Umma kelihatan sayang banget sama Alma?"
Mardiyah tertunduk lagi. Kali ini kedua tangannya terangkat menutupi wajah menyedihkan, yang telah lama tidak ia tunjukkan pada Umma Sarah.
"Mardiyah nggak suka Umma..." Mardiyah terisak-isak. "Mardiyah nggak merasa sakit hati Jafar di jodohkan dengan Alma."
"Tapi ... Mardiyah sakit Umma ... Mardiyah sakit waktu lihat Umma lebih dekat sama Alma."
Umma Sarah mendekat, mengusap pucuk kepala Mardiyah yang tertutup kerudung. "Bicara apa kamu ini, Nak? Kamu pikir Umma udah nggak sayang lagi sama kamu?"
Mardiyah mengangguk.
"U-umma juga janji akan mencarikan Mardiyah suami. Tapi Mardiyah tunggu sampai ... satu tahun lebih pun Umma nggak ngasih tahu siapa orangnya ..." Mardiyah menjeda dengan mengusap-usap matanya. "Dan beberapa bulan ini, Umma sibuk sama anak asuhan baru itu."
"Umma sibuk sama Alma. Umma lupa sama Mardiyah, kan?" imbuhnya.
Umma Sarah menggeleng. "Nggak ada sedetik pun Umma lupa sama kamu, Mardiyah. Umma inget, Umma juga tetep sayang sama kamu. Sayang ... banget."
Mardiyah terdiam.
"Jadi kamu mau tahu siapa laki-laki yang Umma pilihkan?"
Mardiyah mengangguk pelan.
"Lutfan ... Putra Umma sendiri," ujar Umma Sarah.
^^^
Note:
__ADS_1
Part 13 saya ganti harusnya menunggu selama satu tahun. Bukan tiga tahun. Saat di part 13 Lutfan itu berumur 18 jalan 19 kurang beberapa bulan saja. Dan sekarang setelah saya skip satu tahun umur Lutfan adalah 19 lebih yang mana kurang dua bulan lagi mendekati 20 tahun.
Paham 'kan?