
"Hm? Tidur di rumah Umma?"
Lutfan mengangguk.
"Kita sudah menikah, jadi saya harus tidur di sana 'kan? Kamu tanya gitu ..." Mardiyah menatap ke arah lain dengan kedua tangan yang memegangi kedua sisi kursi roda. "Karena nggak nyaman sama saya?"
"Hah?" Lutfan menggeleng-geleng. "Bukan-bukan. Bu-kan nggak nyaman. Kan gue tanya, lo kok malah mikir gitu, sih?"
Seulas senyum tipis Mardiyah tampakkan, perlahan di tariknya kursi roda Lutfan untuk semakin mendekat. Kemudian di sentuh siku kiri Lutfan, lantas Mardiyah berujar, "Ooh, saya salah. Jadi kamu ... sudah mulai nyaman lagi berdekatan sama saya?"
"Apaan sih lo, Mar! Jangan jahil jahil lo sama gue!" ucap Lutfan dengan membuang muka, memandang lurus ke arah lain, di mana detik berikutnya netra itu menangkap Bapak Gautama memandang ke arah dirinya dan Mardiyah. "Mar ..."
"Ya?"
"Ayo masuk. Gue udah nggak mau di luar."
Mardiyah menurut, di dorongnya kursi roda Lutfan untuk kembali ke dalam kamar rawat inap.
"Lutfan, kamu mau makan buah?"
"Enggak. Bantu gue naik ke ranjang, Mar." Perlahan-lahan Lutfan bergerak, kedua tangan Mardiyah menyusup pada pinggang, seperti posisi berpelukan Mardiyah sebisa mungkin membantu Lutfan duduk di ranjang. "Akhh ... sorry ngerepotin lo. Pasti gue berat banget."
"Nggak ngerepotin, kok." Mardiyah menyentuh dahi Lutfan yang terlihat basah, dan mengusap-usap. "Kok keringetan? Kamu nggak pa-pa?"
"Gue nggak pa-pa."
Mardiyah mundur, mendorong kursi roda di sisi kanan brankar. Setelah itu Mardiyah hendak kembali duduk di kursi single bagian kiri. Namun baru beberapa kali melangkah, perut Mardiyah seakan-akan di remas, kesakitan tiba-tiba datang. Bahkan tanpa sadar ia terduduk di bawah sembari memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ah ... sa-kit."
Netra Lutfan melebar saat menyadari Mardiyah kesakitan. "Mar! Ya Allah ... lo ... lo kenapa? Gue ... astaghfirullah. Kenapa sih nggak ada orang lewat?!"
"Perut ..." Mardiyah mengambil dan membuang napas beberapa kali. "Perut sa ... ya sakit."
"Tolong!" Lutfan berteriak sekencang-kencangnya. "Tolong! Tolong! Gue bener-bener bisa gila kalau kayak gini. Mar, demi Allah maafin gue. Lo ... Tol---"
Seseorang masuk dengan berlari.
"Aldo!"
Netra Aldo melihat seorang perempuan terduduk lemas di samping brankar. "Lut ... i-ini cewek kenapa?"
"Bantuin dong! Lo jangan banyak tanya! Panggil perawat atau apalah!" geram Lutfan yang benar-benar binggung melihat keadaan Mardiyah yang tidak berdaya. Bahkan dapat Lutfan lihat bibir istrinya pucat, ada keringat di dahi.
"Saya akan periksa di ruangan samping." Ada tempat kosong entah namanya apa berada di sebelah rawat inap VIP. Setelah sampai perawat meminta Aldo keluar dan Mardiyah di periksa.
"Do! Aldo!"
Mendengar teriakkan Lutfan, Aldo tergesa-gesa masuk. "Lo kenapa, Lut?"
"Gimana keadaan dia?"
"Masih di periksa, Lut."
Napas Lutfan masih tersengal-sengal. Bahkan ia meremas surainya mengacak-acak tanpa peduli apapun. Benar-benar tidak berguna! Ia tidak berguna. Bagaimana kalau tidak ada Aldo? Bahkan menekan tombol panggilan di belakang brankar pun ia tidak bisa. Sangat merepotkan orang lain!
__ADS_1
"Cewek itu ... ngapain di sini? Bukannya dia anak panti asuhan Umma, ya?"
"Dia jagain gue."
Aldo mengangguk-angguk. "Tapi ... kenapa yang jagain lo cewek? Bukannya nggak boleh ya cewek cowok berdua-duaan?"
"Boleh."
Netra Aldo melebar. "Lut ... astaghfirullah sadar. Lo kerasukan apa?"
"Boleh, Do. Orang cewek itu istri gue."
Spontanitas Aldo berteriak, "Apa?! Gila-gila, jadi apa-apaan? Lo udah nikah?! Lo nikah, Lut? Tega banget lo ... lo nggak nggak ngabarin gue. Mana istri lo spek bidadari lagi. Sengaja ya lo?!"
"Mulut lo, Do. Ini rumah sakit, jangan banyak bacot."
Seorang perawat tiba-tiba saja mendatangi kamar rawat inap Lutfan. "Permisi, Mas ... Lutfan, ya?"
"Iya, Sus. Gimana keadaan istri saya? Dia nggak pa-pa kan, Sus?"
Perawat itu tersenyum tipis. "Istri, Mas baik-baik saja. Gejala seperti ini sudah bisa sebenarnya, untuk perempuan yang sedang haid. Namun kesakitan lain dikarenakan belum makan, menjadi pemicu baru. Sehingga Mbak Mardiyah lemas dan kesakitan seperti tadi."
Belum makan? Haid? Jadi maksudnya sakitnya barengan gitu? Karena dua hal itu? Ya Allah ... pasti sakit banget. Kenapa dari malam gue nggak kepikiran sih suruh dia beli makan buat sarapan?! batin Lutfan benar-benar menyalahkan diri sendiri, merasa bersalah atas kelalaian pada sang Istri. "Do, tolong kursi roda gue. Gue mau ke ruangan samping."
Aldo membantu Lutfan duduk di sana, di dorong perlahan kursi roda itu keluar. Namun hal yang tidak di sangka-sangka oleh Lutfan ada Dokter Gumira di sana.
"Dokter Gumira?"
__ADS_1