Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
48 : Romansa Pengantin Baru


__ADS_3

"Kamu tahu 'kan? Kalau saya akan lebih memilih hidup sama kamu, Lutfan. Dibandingkan dengan mereka." Mardiyah mendekatkan diri, tangannya terbuka dan semakin dekat pada dada bidang Lutfan yang mana detik berikutnya, ia telah berada dalam dekapan sang suami.


"Kalau pun kita nggak menikah. Saya tetap mau kita bersama sebagai keluarga." Netra Mardiyah berkaca-kaca kembali, saat ia merasa punggungnya di tepuk-tepuk oleh Lutfan. "Seperti halnya dulu kamu menjaga saya, saya juga mau menjaga kamu. Memangnya ... kenapa? Kalau kamu lumpuh? Memangnya apa urusan orang-orang tentang ... saya yang menikah dengan kamu? Saya sama sekali nggak peduli itu. Saya cuma mau hidup sama kamu, sama Umma."


Mardiyah terisak-isak. Entah keberapa kali ia menangis, ia tak tahu. Sebab dadanya tetap saja sakit, mengingat-ingat semua hal yang terjadi.


"Untuk pertama kalinya. Saya nggak mau keinginan saya terwujud, Lutfan." Mardiyah menggeleng, dengan tangan yang memeres baju Lutfan erat. "Saya nggak mau bertemu dengan keluarga saya. Sa-saya ... saya nggak mau hidup dengan keluarga saya. Saya nggak mau, Lutfan. Saya sama sekali nggak mau ... kalau kebahagiaan saya di tukar dengan rasa sakit Umma dan kamu."


Lutfan merasa baju tidurnya telah basah, air mata Mardiyah berjatuhan begitu banyak. Apa semua tidak cukup? Mengapa Bapak Manggala menekan istrinya sedemikian dalam? Bahkan telah lama dirinya menanti Mardiyah untuk kembali tersenyum dan bahagia dengannya. Namun mengapa berujung seperti ini?


Luka, tangis, dan derita.


Akhir-akhir ini pun ia tak yakin, Mardiyah makan dengan benar. Sebab dilihatnya sang istri terlihat pucat, walaupun mengunakan pewarna bibir.


"Mar ... ayo tidur. Gue tahu lo capek."


Mardiyah mengangguk dengan mengusap hidung serta kedua pipinya. Lantas memundurkan diri dari Lutfan, dan melepas dekapan.


"Sini. Gue bantu bukain kerudung," ujar Lutfan yang mana Mardiyah menurut dengan mendekat wajahnya yang memerah. "Udah. Jangan nangis lagi."


Di usap-usapnya oleh Lutfan surai cokelat gelap milik Mardiyah, lantas di selipkannya anak rambut yang menutupi pada belakang telinga sang istri. "Gue nggak suka lo nangis. Tolong ... buat semenit, satu jam atau seenggaknya malam ini aja, Mar. Lupain. Lupain tentang semua apa yang di ucap Pak Manggala. Gue mau lo lupain itu. Gue mau lo kayak Mardiyah biasanya ... datar, nggak senyum sekalipun gue nggak masalah. Asal lo ... jangan nangis."


Mardiyah mengangguk, tangannya tanpa sengaja menyentuh dada Lutfan. "Bajumu ... basah?"


"Gampang. Nanti gue bisa ganti."


Mardiyah spontan bangkit, dan berjalan ke arah lemari mengambil satu kaus polos untuk Lutfan pakai. "Ini. Kamu pakai ini. Mau saya bantu?"


"Enggak usah." Lutfan melepas bajunya, hingga nampak tubuh sixpack yang masih terdapat memar di beberapa bagian. Dan saat Lutfan hendak memakai baju, Mardiyah menyentuh salah satu luka. "Mar ..."


"Ma-af." Mardiyah memundurkan tangannya. "Itu luka ... nggak di kasih salep?"


"Udah. Tadi udah gue elosin sendiri."


Mardiyah mengangguk.



"Lutfan ... kamu udah tidur?"


"Belum."


Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Namun Mardiyah masih juga tidak bisa terlelap, sedangkan Lutfan pun sama. Dirinya meminta pada sang istri untuk tidak usah memikirkan perihal ucapan Bapak Manggala. Namun seakan pikiran itu berpindah padanya, sendari tadi ia terus berpikir sampai kepalanya ingin pecah saja.


"Sama. Saya juga belum. Saya nggak bisa tidur."


"Coba merem deh. Pasti lo bisa tidur."


Mardiyah bergerak, merubah posisi duduk lantas menyentuh lengan Lutfan. "Kamu hadap sini coba. Saya mau lihat kamu. Barangkali nanti saya bisa tidur."


"Apa hubungannya sih, Mar?"


Dengan mata bengkak, bibir Mardiyah mengerut. "Ada. Menurut saya ada hubungannya. Coba kamu hadap sini dong, Lutfan."


"Apa?" Lutfan merubah posisinya dengan terlentang, mendongak menatap Mardiyah. "Udah 'kan? Gini mau lo?"

__ADS_1


"Iya."


Mardiyah mendongak sejenak, menatap jarum jam. "Jam dua, Lutfan."


"Hm. Makanya, lo tidur sana."


Mardiyah menggeleng.


"Terus lo mau apa? Laper?"


Mardiyah menggeleng, lagi.


"Saya boleh tanya nggak?"


Lutfan berdecak. Sebenarnya tak kesal, namun ini sudah malam. Entah mengapa semenjak menikah Mardiyah semakin tak sungkan berbicara banyak hal dengannya. Dirinya suka, namun sudahlah. Setidaknya berbicara dengan Mardiyah bisa membuatnya lupa memikirkan tentang Adiwangsa. "Boleh. Lo mau tanya apa emang?"


"Saya cantik?"


"Hm?" Lutfan mengerjap berkali-kali. "Coba ulangi pertanyaan lo."


"Kamu nggak dengerin saya?"


"Denger. Makanya gue minta lo ulangi pertanyaan. Barangkali gue salah denger 'kan?"


Mardiyah mengulang. "Saya cantik nggak?"


Lutfan mengangguk.


"Kok cuma ngangguk aja? Iya atau nggak?"


"Perlu." Mardiyah menyentuh rahang kiri Lutfan memintanya untuk menatap lagi. "Apa susahnya kamu bilang iya cantik."


"Ya. Iya lo cantik." Tangan Lutfan menyentuh pergelangan tangan Mardiyah. "Lepas, Mar."


"Nggak mau." Seulas senyuman Mardiyah tampakkan. "Makasih atas pujiannya ... kamu mau hadiah?"


"Padahal gue nggak niat muji lo. Tapi kalau lo mau kasih gue hadiah ... gue minta, lepasin tangan lo dari pipi gue," ucap Lutfan.


"Saya nggak mau. Hadiah yang lain?"


Lutfan berdecak kesal, tangannya beralih memijat dahi. "Terserah lo."


"Hm ... terserah saya? Kamu nggak asik."


Netra Lutfan melebar. "Lo bilang apa barusan? Gue nggak asik? Nyebelin banget lo!"


"Habisnya, masa hadiah terserah saya, sih?"


Lutfan tidak terima di bilang tidak asik. Dan dengan memberanikan diri, ia menatap Mardiyah tepat di matanya. "Yakin bakal lo kabulin?"


"Iya."


Jeda satu detik, dua detik hingga detik ketiga Lutfan berujar, "Cium gue."


"Di mana?"

__ADS_1


Anjir ... astaghfirullah jantung gue, batin Lutfan yang berdebar-debar. Niat hati ingin menantang Mardiyah nyatanya ia melupakan fakta bahwa setiap pertemuan bibir yang memulai adalah Mardiyah.


"Bibir?" tanya Mardiyah, lagi.


Lutfan spontan membuang muka.


"Kok hadap sana, sih?" Mardiyah menarik Lutfan untuk menatapnya lagi. "Mau di cium di mana?"


"Enggak jadi."


Mardiyah menahan Lutfan yang ingin tidur membelakanginya lagi. "Jangan hadap sana, Lutfan!"


"Apa sih Mar? Gue udah bilang nggak jadi 'kan? Lo juga ... jangan keras-keras kalau ngomong, nanti Umma denger."


"Iya-iya. Maaf."


Lutfan telah terlentang lagi. Sedangkan Mardiyah menampilkan senyum termanis, dengan sedikit mendekatkan wajahnya pada Lutfan.


"Jadi?"


"Enggak. Gue bilang nggak, Mar."


Mardiyah memanyunkan bibir. "Harusnya kamu bahagia punya istri secantik saya. Katamu juga saya cantik. Kenapa nggak di coba?"


Astaghfirullah ... Apanya?! Di coba apanya?! batin Lutfan dengan pipi yang memerah padam. Tidak bisa, ia tidak bisa menahan rasa malunya. "Mundur dong, Mar. Ya Allah ..."


"Coba kamu yang mulai duluan, Lutfan."


Kening Lutfan mengerut. "Mu-mulai apa?"


"Ciumannya."


Spontan Lutfan menggeleng, tangannya bergerak menyentuh bahu Mardiyah. "Enggak. Mundur, Mar. Gue kan udah bilang nggak jadi."


"Saya lagi haid, kita nggak mungkin ngelakuin itu. Tapi kalau ciuman aja kan nggak pa-pa?"


Lutfan menutup wajah dengan kedua tangan. Mardiyah ini mudah sekali membuatnya merasa panas. Menyebalkan. Mengapa bisa ada perempuan seagresif dia? "Oke-oke. Ciuman aja. Setelah itu gue minta lo diem. Tidur."


Mardiyah mengangguk, urung sudah menyentuh tangan Lutfan yang menutupi wajah. Sedangkan beberapa detik kemudian, Lutfan membuka kedua tangannya menampilkan wajah yang di buat sedatar mungkin. Supaya kegugupannya tidak terdeteksi.


"Di bibir. Jangan lupa."


Gue tahu. Nggak usah lo perjelas. Please. Gue deg-degan, batin Lutfan yang tangannya mulai terangkat menyentuh tengkuk Mardiyah perlahan. Lantas menarik istrinya kian dekat, lima centimeter, empat centimeter hingga detik berikutnya kedua benda kenyal itu saling menempel. Lutfan tidak berniat mengerakkan, hanya diam di satu tempat.


Hingga tanpa pilih Mardiyah yang bergerak, memperdalam ciuman. Bahkan tanpa sadar bangkit, duduk tepat di pangkuan suaminya. Tangan Lutfan pun tidak lagi di tengkuk Mardiyah, melainkan turun di punggung mengusap-usap di sana. Kemudian tangan Mardiyah bergerak mengambil salah satu tangan suaminya yang terbuka, lantas meminta Lutfan menyentuh salah satu gundukan miliknya.


"Mar ..."


Lutfan melepas ciuman dan tangannya spontan.


"Apa?"


Wajah Lutfan memerah padam dengan napas yang masih tersengal-sengal ia menunduk. "Katanya nggak sampe itu terus ngapain lo ... udah lah. Tu-turun lo! Udah kan ciumannya?"


Mardiyah menyentuh dagu Lutfan meminta suaminya menatap lagi. "Iya-iya sudah. Nggak usah malu gitu."

__ADS_1


"Apaan sih lo!"


__ADS_2