
"Lho? Umma? Mardiyah ... kenapa?"
Lutfan melihat Mardiyah di tuntun masuk perlahan-lahan oleh Umma Sarah. Lantas beliau mendudukkan Mardiyah tepat di tepi ranjang, Lutfan yang masih berada di kursi roda pun mendekati sang Istri dan Ummanya.
"Nggak pa-pa. Tolong jangan suruh-suruh Mardiyah dulu, ya Nak?" Umma Sarah mengusap lembut pucuk kepala sang anak. "Jadi kalau kamu butuh apa-apa bilang Umma aja, ya?"
Lutfan mengangguk. Umma Sarah pun sudah keluar, sedang Mardiyah tetap duduk memantung tidak bergerak sama sekali, netranya pun memandang lurus. Lutfan baru tersadar, mata itu tidak seperti tadi saat ia tinggal, sedikit berubah, dan membengkak. Hidung dan bagian wajah Mardiyah pun sedikit memerah.
Dia habis nangis? batin Lutfan.
"Mar ..."
Pandangan Mardiyah bergerak, menatapnya. "Ya? Kamu butuh sesuatu?"
"Enggak. Gue ... E-elo nggak pa-pa?"
Mardiyah diam. Kemudian bangkit menuju ke arah laci pertama lantas membuka dan mengambil sesuatu di sana. "Lutfan, besok kasih ini ke Abian, ya? Bilang ke dia, maaf. Saya nggak nepatin janji."
"Cokelat?" tanya Lutfan saat Mardiyah menyerahkan cokelat dan kembali duduk. Kali ini berhadapan-hadapan dengannya. "Buat Abian?"
"Iya. Saya janji kasih dia hadiah."
Lutfan menatap sang istri, meletakkan cokelat itu dia atas meja yang tepat berada di sampingnya.
"Mar, lo habis nangis?"
Mardiyah menunduk, menghindari tatapan Lutfan. "Lutfan ... saya ... mau nangis lagi. Nggak pa-pa 'kan? To-tolong, kamu ... pura-pura nggak tahu dan nggak lihat saya."
__ADS_1
Lutfan terdiam. Dengan segala hal yang ia bisa, ia memenuhi permintaan Mardiyah, dipandangi dan didengarnya sang istri seolah-olah tidak ada, sekalipun terpampang jelas di depannya.
"Kak Mar tadi di apain sama anak-anak itu? Di ejek lagi? Atau lempar pasir?"
Mardiyah menggeleng.
Lutfan mendekat, mengangkat wajah Mardiyah dengan kedua tangannya berada di pipi kiri dan kanan sang Kakak. "Kakak habis nangis, ya?"
Mardiyah memaksa lepas tangan Lutfan. Kemudian menunduk dalam dan berucap, "Lu-lutfan ... aku mau nangis lagi. Tapi kamu nggak boleh lihat."
"Kenapa, Kak? Aku---"
Tangisan Mardiyah terdengar jelas dan mulai saat itu juga Lutfan berjanji. Jika Mardiyah memintanya untuk tidak melihat, maka ia tidak akan melihat.
Gue nepatin janji gue, Mar. Tapi ... gue nggak bisa lihat lo nangis kayak gini, batin Lutfan dengan masih diam memandangi Mardiyah. Tangannya pun tanpa sadar terangkat, menyentuh kepala Mardiyah yang tertutup oleh kerudung.
Mardiyah mengangguk pelan, mengusap kedua pipi kiri dan kanannya. Kemudian menatap ke arah samping, menghindari tatapan Lutfan. "Kamu bilang, semua anak yang lahir di dunia ini bersih, dan nggak menanggung dosa orangtuanya."
"Saya setuju. Tapi kenapa ... saya harus ngerasain sesuatu yang sesakit ini, Lutfan?" imbuh Mardiyah.
Netra Lutfan melebar, jangan-jangan mobil mewah yang dilihatnya di depan musholla memang milik Bapak Gautama dan Dokter Gumira?
"Pak Gautama sama Dokter Gumira ke sini 'kan? Lo nangis ada hubungannya sama mereka?"
Mardiyah menjawab, "Kamu percaya bahwa mereka adalah keluarga saya?"
Ke-keluarga? Nggak enggak enggak mungkin. Adiwangsa? Keluarga Mardiyah? Jangan-jangan Ibunya ... Adiwangsa brengsek! batin Lutfan yang meronta-ronta ingin mengutuk sebanyak-banyaknya keluarga itu.
__ADS_1
"Enggak," jawab Lutfan.
Mardiyah pun mengangguk. "Tapi ... Pak Gautama bilang, be-beliau yang .... yang melakukan itu ke---"
Bener-bener brengsek! Lutfan dengan cepat menyanggah, "Oh jadi si Adiwangsa yang sok berkuasa itu ngaku sendiri?"
Mardiyah menengok. "Lutfan ... kenapa bicaramu seperti itu?"
"Kenapa omongan gue? Emang bener, kok. Dan denger Mar, gue nggak percaya lo bagian dari keluarga itu," ucap Lutfan. Sungguh sebenarnya ia seakan mendustai diri sendiri, karena sebagian hatinya mengatakan bahwa Mardiyah sepertinya memang bagian dari Adiwangsa. "Mereka udah buat lo nangis. Jadi nggak usah bela-belain mereka di depan gue, Mar."
"Dan kalau ternyata ... saya memang anak dari Pak Gauta---"
Lutfan menyahut cepat, "Seorang Ayah biologis nggak berhak atas anak biologisnya. Entah hak nafkah, hak waris bahkan juga hak jadi wali nikah lo, Mar. Apa perlu gue jelasin karena apa?"
Mardiyah diam memandangi Lutfan yang mulai tersulut.
"Semua karena kesalahan Adiwangsa itu, Mar! Dia berani ngelakuin sesuatu yang di larang agama." Urat leher Lutfan terlihat. Bahkan seketika membuang wajah menghindari tatapan Mardiyah. "Segimananya gue jadi laki-laki. Semarah apapun gue, seenggak sadar dirinya gue, dan segimana pun kepinginnya gue ngelakuin itu. Apa harus maksa? Apa harus sampai merkosa, Mar?"
"Bahkan parahnya, yang Adiwangsa itu perkosa ngandung darah daging dari hasil perbuatannya, dan yang pasti Ibu lo sendiri benci sama Adiwangsa itu, Mar!"
Mardiyah menunduk. Entah mengapa yang di ucap Lutfan adalah sebagian kebenaran yang ingin ia hilangkan.
"Dan imbasnya semua jatuh ke anak yang nggak berdosa ... Gue nggak perlu jadi lo buat tahu segala penderitaan yang lo alami. Karena dari dulu gue tahu ... gue tahu sakitnya lo terlahir ke dunia ini tanpa adanya nasab. Dan gue tahu harapan semua perempuan waktu nikah ... pasti lo juga berharap si Adiwangsa itu jadi wali nikah lo 'kan?"
Sila mampir di cerita saya. Masih ada novel WIYATI yang hiatus terpaksa hiatus:')
__ADS_1