Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
96 :


__ADS_3

"Aku tanya kamu, Lutfan."


Lutfan menghela napas, memilih memutuskan kontak mata dengan sang istri. "Lebih baik nggak usah, Mar. Kamu udah nikah. Kamu udah jadi istri aku, segala hak-hakmu pun aku tanggung, kan? Dan lagi pula ... Pak Gautama cuma Ayah biologis kamu. Nggak ada pernikahan sah antara Pak Gautama dan Ibumu. Aku juga takut kalau sampai Rajendra macem-macem sama kamu."


"Aku nggak niat jelek-jelekin dia. Tapi aku rasa mental dia emang ke ganggu, Mar. Kalau semisal keluarga kamu cuma Abhimata, sama Abhimana, aku bakal izinin kamu. Tapi ada Rajendra, aku bener-bener khawatir tentang itu," sambung Lutfan.


Mardiyah setuju. Rajendra tidak akan semudah itu menerimanya. Laki-laki itu terlalu kasar. Bahkan tidak bisa di ajak untuk berbicara dengan baik-baik. Ia masih ingat betul Rajendra memaksanya berjalan di saat ia sedang sakit.


"Ya sudah," ujar Mardiyah.


Spontan Lutfan menengok. "Kamu marah?"


"Enggak. Aku setuju sama keputusan kamu. Besok kalau ketemu Mama Cecilia, kamu mau bantuin aku bicara tanpa menyebut nama Rajendra?"


Lutfan mengangguk.


Mardiyah yang sedari tadi menatapi suaminya di tepi ranjang, memilih berdiri. Jujur saja ia sangat menyukai ketegasan Lutfan saat ini. Dibandingkan saat Lutfan memilih mengizinkannya ke Lazuardi Hotel dan berakhir dirinya tidak di pulangkan. Ia sama sekali tidak berpikir buruk tentang Mama Cecilia. Namun menurutnya, hal-hal seperti ini memang membutuhkan keputusan tegas dari Lutfan. Karena tanpa memandang usia pun, Lutfan telah menjadi suaminya, lelaki itu yang harus memimpinnya. Selama jalan yang diberikan Lutfan benar, dirinya tidak akan merasa marah, kecewa atau bahkan tidak setuju.


Perlahan tangan kanannya mendarat pada pipi kanan Lutfan. Dan dengan tersenyum tipis Mardiyah mengecup singkat pucuk kepala suaminya.


"Kamu akhir-akhir suka cium aku di sana," ujar Lutfan.


"Iya. Kenapa?" Netra Mardiyah beralih pandang. "Kamu nggak suka?"


"Suka. Tapi yang lainnya juga mau."


Deretan gigi putih Mardiyah nampak saat mendengar permintaan Lutfan. "Kalau di dalam kamar boleh. Kalau di luar kamu jangan minta-minta kayak gini."


"Seharusnya boleh, Mar. Asal tempatnya tertutup."


Spontan Mardiyah memukul pelan bahu Lutfan. "Dasar! Kamu ini."


"Mar ..."


"Apa?"


Lutfan yang tadinya menunduk, menatapi kedua kakinya sejenak. Kini mendongak. "Aku mau bicara. Kamu mau dengerin?"


"Mau bicara apa?"

__ADS_1


"Kamu nggak mau duduk?"


Mardiyah menggeleng.


"Semenjak kecelakaan itu. Kamu tahu kan? Kaki aku ini bener-bener nggak guna. Aku emang udah bisa pelan-pelan buat pindah ke ranjang sendiri. Tapi lama-lama aku ngerasa ..." Lutfan memutuskan kontak mata dengan menunduk. "Kaki aku kayak mati rasa. Aku kayak nggak bisa ngerasain kakiku lagi, Mar."


"Dokter bilang aku bisa sembuh. Tapi nggak mungkin bisa seratus persen jalan normal lagi," lanjut Lutfan.


Tangan Mardiyah mengusap pucuk kepala suaminya. "Nggak harus seratus persen pun nggak pa-pa, Lutfan. Aku udah pernah bilang kan, kalau aku bener-bener nggak merasa keberatan---"


"Aku yang keberatan." Lutfan mencengkram kursi rodanya kuat. "Aku emang masih bisa kerja. Aku bisa nafkahi kamu. Tapi kalau cuma jadiin kamu kayak perawat sama pelayan aja itu buat apa, Mar? Aku takut lama-lama kamu ngerasa kayak gitu, aku juga takut kamu ngerasa kalau hidup sama aku itu cuma nyusahin aja."


"Aku nggak akan pernah merasa kayak gitu, Lutfan," ujar Mardiyah dengan menarik pelan dagu suaminya. "Lihat aku."


Lutfan menatap Mardiyah.


"Kenapa kamu harus keberatan?"


"Ya karena kesannya kamu kayak bukan istri aku."


Mardiyah menyahut cepat. "Padahal nyatanya aku istri kamu, kan? Merawat, melayani, dan semua hal-hal yang aku lakuin setiap hari, itu memang tugas seorang istri."


"Siapa yang bilang?"


"Kamu punya temen, kan? Coba tanya temen-temen cewekmu, mereka pasti juga mikir kalau apa yang kamu lakuin setiap hari---"


"Enggak. Temen-temen aku enggak akan pernah berpikir kayak gitu," sanggah Mardiyah yang mulai mengambil duduk di bibir ranjang dan menarik Lutfan juga mendekatinya. "Entah Kak Devina, entah juga Regita yang baru menikah dengan Regan."


"Emang kamu udah pernah tanya?"


Mardiyah menggeleng. "Nggak perlu aku tanya pun, aku udah tahu jawaban mereka."


"Apa emang? Temen-temenmu itu perempuan karir, Mar. Bahkan sebenarnya kamu juga, cuma bedanya tiba-tiba kamu resign," ujar Lutfan.


Mardiyah tersenyum tipis dan menggeleng tidak habis pikir. "Di pikiranmu pasti tertanam kalau perempuan karir itu cenderung nggak mau di perlakukan kayak yang kamu sebut tadi, kan?"


"Emang bener, kan? Aku nggak sembarangan bicara."


"Lutfan, dengerin aku." Mardiyah mengambil tangan Lutfan dan menempelkannya pada pipi. "Kalau sampai detik ini aku masih kerja. Aku tetep jadikan kamu prioritas utama. Karena prinsip ku dalam berumah tangga adalah mematuhi suami."

__ADS_1


"Mematuhi suami?" tanya Lutfan, ulang.


Mardiyah mengangguk.


"Kalau prinsipmu kayak gitu, nanti susah di kamunya, Mar. Belum lagi kalau punya suami yang semena-mena," jelas Lutfan.


"Tapi kamu nggak pernah semena-mena, Lutfan." Tangan Mardiyah mengusap lembut punggung tangan suaminya. "Kamu harus tahu. Prinsip itu udah aku sematkan semenjak aku umur tujuh belas tahun."


"Serius?"


"Iya."


"Kenapa kamu bisa kepikiran punya prinsip kayak gitu?"


Mardiyah memandang ke arah lain, mengingat-ingat sesuatu yang membuatnya memiliki prinsip seperti itu. "Karena aku mau surga. Dulu Ummi Salamah pernah cerita di depan anak-anak gadis panti asuhan. Beliau bilang, kalau nanti sudah menikah, patuh lah pada suami. Maka kamu akan diberi izin memasuki surga dari pintu mana pun. Jadi ... ya aku tiba-tiba kepikiran berprinsip kayak gitu."


Lutfan tertawa ringan dan menggeleng. "Anak cewek tujuh belas tahun udah kepikiran tentang pernikahan? Wah, kamu pasti udah ngebet di umur-umur itu buat nikah sama pacarmu, kan?"


"Enggak. Aku cuma kepikiran aja, nggak mau nikah dulu. Lagian aku nggak pernah punya pacar," jawab Mardiyah membela diri.


"Mana bisa cowok-cowok deketin kamu. Orang mukamu selalu datar kayak gitu, Mar." Tangan Lutfan menyentuh bibir Mardiyah. "Bahkan aku yakin, kamu cuma senyum sama orang-orang tertentu aja, kan?"


Mardiyah mengangguk.


"Tapi bentar. Gimana bisa semenjak umur tujuh belas tahun sampai sekarang dua puluh tiga tahun, prinsipmu nggak pernah berubah?" tanya Lutfan dengan mimik serius.


"Aku udah bilang kan? Aku mau surga." Cukup aku lahir sebagai dosa yang di cemoohan manusia. Nantinya kalau aku mati, aku mau kamu jadi salah satu manusia yang mengakui bahwa aku pantas mendapatkan surga dari baktiku padamu, batinnya dengan berkaca-kaca. "Lutfan ..."


"Hei, kok kamu nangis?" Lutfan mengusap ekor mata Mardiyah yang tiba-tiba menetes air mata.


"Surga seorang anak itu Ibunya. Sedangkan aku ... nggak punya Ibu. Tapi setelah aku menikah ... surga aku itu kamu." Mardiyah menunduk. "Jadi sebelum kamu mengambil keputusan sendiri. Aku mau bicara dan mempertegas lagi, kalau aku ikhlas menerima semua yang ada di diri kamu."


"Nggak ada sedikitpun di pikiran aku yang menjelaskan kesusahan dalam melayani kamu." Mardiyah mendongak lagi. "Karena menurut aku menjadi setara nggak seharusnya melalaikan kuadrat perempuan sebagai seorang istri."


Lutfan hanya diam menatap.


"Selama kamu bisa menghargai aku sebagai istri. Kenapa aku harus menyimpulkan bahwa menjadi istrimu itu seperti perawat atau pelayan?"


Pikiran dia ... dewasa. Kenapa bisa ... dia mikir kayak gitu? Sedangkan yang gue pikirin malah sebaliknya? batin Lutfan.

__ADS_1


__ADS_2