Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
64 : Perbincangan Dini Hari


__ADS_3

Pukul satu dini hari Mardiyah terbangun dan menyadari bahwa salah satu tangannya di ikat rapat-rapat, seperti menggunakan borgol yang satu sisinya di kait di tarikan laci. Melihat semua ini benar-benar membuatnya muak, namun ia tak berdaya.


Ingin menangis pun tak akan menyelesaikan masalah. Ia hanya bisa menatap kosong pada tangannya, hawa ruangan ini dingin, ia merasa tenggorokannya kering. Dahaga. Apa ia akan mendapatkan minum setelah berusaha kabur? Apa Manggala dan Gautama masih peduli?


Jika tidak lagi peduli. Mati pun ia tak masalah. Bukan menyerah, ia telah berusaha, namun gagal. Lutfan pun pasti tak akan menemukannya dan Abhimata, Abhimana tidak bisa diharapkan. Kebaikan kedua adiknya itu tak cukup, jika hanya untuk mengasihani saja. Kesepian melanda diri hingga ia merasa tak berguna lagi hidup.


Barangkali yang teman-teman sebayanya dulu bilang benar, jikalau dirinya adalah anak yang tak di inginkan. Maka kepergian dirinya mungkin adalah hal baik untuk semua orang. Termasuk, Manggala dan Gautama.


"Kamu sudah bangun?"


Suara itu, milik Gautama. Dirinya pun tak sadar sejak kapan pintu kamar ini terbuka.


"Papa menunggumu sadar, Nak."


Jeda tiga detik Gautama kembali berujar, "Kenapa ingin pergi dari sini? Sampai memecahkan kaca jendela? Kalau saja yang tahu adalah Kakekmu. Beliau tidak akan memaafkanmu, Nak. Beliau akan semakin mengurungmu dan jika mungkin, beliau akan membawamu keluar negeri."


Mardiyah tidak merespon.


"Lihat. Kakimu jadi terluka. Kamu ini benar-benar ceroboh. Papa sedang berusaha memenuhi keinginanmu untuk bertemu dengan Lutfan. Tapi kamu membangkang seperti ini." Gautama menjeda. "Atau kamu sudah berubah pikiran? Sudah tidak mau bertemu dengan Lutfan, lagi?"


"Saya lelah. Jika Bapak sudah selesai berbicara. Silakan keluar," jawab Mardiyah datar.


Gautama tercengang. "Kamu tidak mendengar Papa bicara? Kamu sudah benar-benar tidak mau keingananmu Papa penuhi?"


Mardiyah masih diam.


"Mardiyah."


Saat mendengar panggilan namanya yang diberikan Umma Sarah di sebut, Mardiyah langsung menatap sang Ayah. "Saya rasa sama, entah Pak Manggala entah Pak Gautama yang memergoki saya. Kalian sama-sama akan mengurung saya."

__ADS_1


"Buktinya sekarang ..." Mardiyah meminta Gautama untuk mengikuti arah pandangannya yang tertuju pada salah satu tangannya. "Anda semakin mengurung saya, dengan mengikat salah satu tangan saya."


Gautama terdiam.


"Anda harusnya tidak hanya melindungi saya dari Pak Manggala, dan Rajendra saja. Seharusnya anda juga melindungi saya dari diri anda sendiri, Pak." Mardiyah masih menatap tangannya. "Karena dalam pandangan saya, anda sama dengan mereka. Anda juga menyakiti saya."


Gautama langsung tersadar dan berucap, "Nak, Papa benar-benar tidak berniat menyakiti kamu. Papa hanya tidak ingin kamu pergi lagi."


"Jika anda membiarkan saya hidup bahagia bersama suami saya. Mungkin ... saya tidak akan merasa anda menyakiti saya, saya juga mungkin akan menyambut anda, Pak. Tetapi nyatanya? ... Semua ini ... apa? Anda tidak bisa memberikan cinta kasih layaknya seorang Ayah pada putrinya. Anda menyirnakan kebahagiaan satu-satunya di dunia ini untuk putri anda sendiri. Anda membuat putri anda ini merasa bahwa mati itu lebih ba---"


"Mardiyah! Berhenti. Apa yang kamu ucap, Nak?"


Mardiyah menatap Gautama. "Benar 'kan, Pak? Asal anda tahu. Rajendra pernah bertanya, kenapa saya tidak ikut mati saja bersama Ibu saya?"


"Cukup."


"Ternyata yang di ucapkan Rajendra benar. Lebih baik saya mati atau jika mungkin lebih baik saya tidak dilahirkan saj---"


Mardiyah hanya memandang datar pada Gautama yang berteriak memintanya berhenti.



"Lutfan, kamu ingin membawa masalah ini pada jalur hukum?"


Setelah membaca tulisan Mas Jafar, Lutfan menggeleng. "Percuma, Mas. Pada akhirnya alibi mereka nanti ya tinggal bilang kalau Mardiyah itu anak dari Gautama. Bagian dari keluarga mereka."


"Setidaknya kita berusaha. Hukum akan adil pada orang-orang yang benar," tulis Mas Jafar.


Lutfan menggeleng, lagi. "Hukum yang Mas bicarain ini kadang-kadang bisa dibeli. Nggak semudah itu hakim mengadili sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri. Kecuali, hakim itu benar-benar taat beragama, dan miliki sisi kemanusiaan serta keadilan yang tinggi."

__ADS_1


"Lutfan, kamu salah. Kenapa kamu seolah-olah menyamaratakan semua hakim itu bisa di suap dengan mudahnya? Padahal saya yakin di luar sana masih begitu banyak penegak keadilan, yang benar-benar bersumpah untuk keadilan manusia itu sendiri. Bukan hanya soal uang seperti yang kamu bicarakan."


Ternyata dua puluh detik berlalu Mas Jafar menulis hal sepanjang ini. Lutfan menatapi sang Kakak sepupunya dengan sendu. "Aku nggak menyamaratakan, Mas. Aku juga yakin bahwa orang-orang baik itu ada. Tapi kalau ... lawan kita Adiwangsa. Orang baik pun bakal lemah kalau ancamannya keluarga."


"Jadi aku nggak mau ngelibatin siapapun. Aku bakal cari Mardiyah sendiri, Mas. Aku bisa. Aku bisa bawa dia pulang," imbuh Lutfan.


Jafar mengangguk dan menulis. "Saya percaya, Lutfan. Tetapi jika usahamu tidak membuahkan hasil, bantuan hukum pun di perlu kan. Keluarga kita memang tidak setara dengan Adiwangsa. Tetapi jika bicara kesetaraan Kakek pun setara dengan Pak Manggala dalam hal-hal bisnis dan ketenaran. Orang-orang akan membantu menilai dari sisi keagamaan dan kemanusiaan. Bahkan orang awam pun tahu, yang di lakukan oleh keluarga Adiwangsa adalah salah."


Lutfan hanya mengangguk.


"Kamu sudah makan?" tulis Mas Jafar.


"Udah, Mas. Dikit tapi."


"Makan yang banyak. Saat Mardiyah pulang, dia akan marah jika melihatmu kurus, Lutfan."


Membaca apa yang dituliskan Mas Jafar, Lutfan spontan tertawa ringan. "Biarin. Orang aku suka lihat dia marah-marah. Gemes. Nanti biar dia ngurusin aku, Mas."


Mas Jafar tersenyum tipis.


"Si ukhti masih tidur, Mas? Kok sampean tinggal sendiri?"


Mas Jafar mengangguk dan menulis. "Biasanya dia akan bangun sekitar jam 2 pagi. Makanya mumpung masih jam segini, saya ke kamarmu. Dan ternyata kamu belum tidur."


"Mana bisa aku tidur, Mas? Nggak ada yang bisa di peluk sih," jawab Lutfan cengengesan.


"Saya temani tidur. Mumpung masih setengah dua ini, subuh masih jauh. Nanti saya bangunkan," tulis Jafar.


"Nanti si ukhti nyari. Entar di kira aku nyulik sampean lagi."

__ADS_1


Jafar menggeleng dan menggerakan bibir. "Enggak."


Lutfan merebahkan diri di bantal tempat Mardiyah biasa tertidur. Aroma shampoo sang istri masih tertinggal di sana, aroma parfumnya pun juga. Mar, udah dua minggu lebih. Gue kangen sama lo. Gue pengen peluk lo. Gue pengen lo obatin luka-luka gue. Demi Allah, Mar. Kalau lo udah balik lagi ke gue. Gue nggak akan pernah nolak lo lagi. Mau apa pun gue penuhi. Gue janji, batinnya tanpa sadar meneteskan air mata di bantal.


__ADS_2