
Setelah menuntaskan dahaga serta lelahnya di dapur. Lutfan berencana untuk kembali, namun saat mendengar suara tangisan lirih diurungkannya untuk keluar. Ia mencoba menajamkan telinga, berpikir bahwa ini memang lah suara manusia.
Bukan setan 'kan? batin Lutfan dengan kembali duduk di kursi kayu. Dikeluarkan gawainya, hendak menghubungi Banyu. Ternyata gadis kecil itu tiba-tiba memasuki dapur.
"Ya Allah, Inayah! Ngangetin Abang lho kamu!"
Inayah menunduk. "Ma-maaf, Bang."
"Kamu kenapa sih?"
Inayah terlihat jalan memincang.
"A-aku habis jatuh, Bang," ujar Inayah.
Lutfan langsung berdiri, mendekati Inayah dan membantunya untuk duduk. "Jatuh di mana kamu, Nay?"
"Di-di depan kantor tadi. A-aku kepeleset, Bang."
Lutfan ber-istighar, di tatapannya Inayah yang menangis tersedu-sedu. "Yang sakit yang mana?"
"I-ini, Bang." Ditunjuknya lutut Inayah, yang mana gamis yang digunakan pun telah robek, Lutfan tidak mengerti cara jatuhnya. Bahkan telapak tangan gadis kecil ini pun terlihat berdarah juga. "Sa-sakit, Bang."
Lutfan mungkin bisa untuk mengobati bagian telapak tangan. Lantas bagian lutut? Sepertinya ia harus meminta bantuan pada yang lain. Maksudnya, pada perempuan. Meskipun Inayah masih kecil, dirasakannya tetap saja tidak sopan.
"Hiks ... sakit, Bang," keluh Inayah.
Bentar-bentar. Gue agak pusing ini. Kayaknya gue harus cari bantuan dulu, batin Lutfan dengan bangkit hendak keluar. Namun tangisan Inayah semakin keras, membuatnya urung. "Nay, Nay, tunggu dulu, ya? Abang mau panggil ... a-anu ... Kak Mar! Iya. Abang mau panggil Kak Mardiyah dulu, ya?"
"Te-terus A-abang tinggalin aku sendiri?" tanya Inayah dengan terbata-bata.
"Iya. Tapi Abang janji, cuma sebentar kok. Sebentar banget, janji Abang!"
Sesaat Lutfan berlari meninggalkan dapur di belokan dekat kantor ia menabrak seseorang. Bagus! Ia adalah manusia paling sial yang suka tergesa-gesa. "Sorry-sorry, gue buru-bur---"
"Mardiyah! Ya Allah alhamdulillah!"
Mardiyah menatap Lutfan datar. "Apa?"
"A-anu ... Si Inayah jatuh, susah jalan, lutut sama sikunya berdarah terus itu Mar, dia nangis te---"
Mardiyah menyanggah, "Inayah di mana?"
"Dapur."
Tanpa peduli Lutfan lagi Mardiyah berlari menuju dapur, saat masuk ia langsung berjongkok melihat keadaan Inayah.
"Mana yang sakit?"
Inayah mengusap-usap wajahnya. "Se-semua, Kak."
Mardiyah menengok melihat Lutfan. "Bisa gendong Inayah?"
"Bi-bisa."
Mardiyah bangkit. "Kalau gitu. Tolong, bawa Inayah ke asrama. Saya bakal nyusul ke sana."
"Okay."
...🌺...
"Gimana? Udah baikan Inayah?" tanya Lutfan yang sendari tadi menunggu di luar.
__ADS_1
"Udah."
Melihat Mardiyah yang mulai berjalan, Lutfan pun mengikuti di belakang. "Mar ..."
"Ya?"
"Gue ... " Entah mengapa tiba-tiba saja lidahnya keluh tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Apa?"
"Gue ... boleh tanya?"
Mardiyah terdiam sejenak. "Penting?"
"Lumayan."
Sesampai pada tempat acara yang cukup ramai. Mardiyah menengok. "Mau duduk?"
"Bo-leh."
Mardiyah dan Lutfan duduk dengan jarak cukup. Bahkan keduanya duduk berbeda kursi, dan sudah dipastikan oleh Mardiyah bahwa orang-orang akan memandanginya dengan Lutfan, karena begitu banyak orang lalu-lalang di sini.
"Mau bertanya apa?"
Lutfan terdiam sejenak. "Lo ... mau nikah, ya?"
Netra Mardiyah yang menatap lurus mulai menyipit. "Kamu menguping, Lutfan?"
"E-enggak. Gu-gue nggak sengaja denger aja. Serius, Mar!"
Terdengar Mardiyah menghela napas. "Iya."
"Tahun ini?"
Ya, ada. Lo nggak tahu apa tentang amanah Abi gue? batin Lutfan ingin berteriak. Sedetik kemudian ia menghindari tatapan Mardiyah dengan menatap ke arah lain. "Iya. Gue ... gue kan adik lo. Jelas ada urusannya sama gue 'kan?"
"Ah ... iya, adik." Mardiyah menengadah menatap langit yang berbintang. "Saya akan memberimu kabar. Jika saya menikah, Lutfan."
Lutfan mengangguk-angguk.
"Lo ... punya pacar?"
Kening Mardiyah mengerut. Pertanyaan Lutfan semakin aneh saja. "Saya nggak suka hubungan semacam itu."
"Ooh."
"Atau justru kamu yang sekarang menjalani semacam hubungan itu?" imbuh Mardiyah dengan bertanya.
Lutfan menggeleng kuat. "Enggak, kok!"
"Sudah selesai?"
Lutfan bingung. "A-apanya?"
"Kamu sudah selesai bicara?"
Lutfan mengangguk. "U-udah."
"Kalau gitu. Saya permisi," pamit Mardiyah.
...🌺...
__ADS_1
Acara malam ini berlalu dengan cepat. Mardiyah telah berpesan pada Kirana untuk menjaga Inayah dengan baik. Kalau pun semisal ada apa-apa, ia telah meminta pada Kirana juga untuk menghubungi orang terdekatnya saja.
Tepat pukul delapan malam acara selesai. Mardiyah pun belum kembali ke kamar, karena ia harus memberikan bingkisan-bingkisan untuk para penyumbang yang hadir di acara ini. Sehingga lagi-lagi ia harus bertemu tatap dengan sang Adyuta itu. Bahkan senyuman Aryandra tidak kunjung mereda. Apakah gigi lelaki itu tak kekeringan?
"Terima kasih, Mardiyah. Saya akan sering berkunjung untuk mengikuti minggu bersama lagi," ujar Aryandra.
Mardiyah menatap datar. "Tatah niatmu lagi, Aryandra."
"Niat awal saya berkunjung memang untuk mendekati kamu."
Tatapan Mardiyah berubah tajam. Apa-apaan ini? Kesombongannya saat mengucap itu sangat terasa, aura yang sangat tidak Mardiyah sukai.
"Semoga niatmu tidak terkabulkan," ujar Mardiyah.
Regan tiba-tiba saja menyahut, "Apa yang kalian bahas? Kenapa serius sekali?"
"Bukan apa-apa. Silakan, Regan," ujar Mardiyah dengan memberikan bingkisan pada Regan.
"Mardiyah, makanan yang dibuat di panti asuhan ini enak-enak sekali. Kapan-kapan apa saya boleh berkunjung dengan Regita?" tanya Regan.
Mardiyah tersenyum kilas. "Tentu saja. Saya akan menunggu."
Para penyumbang telah pergi menuju parkiran. Sekarang ia sibuk membersihkan meja-meja dan mengangkat beberapa piring kotor serta gelas ke tempat pembersihan.
"Mbak Mar!"
"Ya, Sal?"
Salsa mendekati Mardiyah. "Sampean kenal sama salah satu penyumbang?"
"Iya."
"Siapa toh? Temannya sampean yang kerja di kota?"
Mardiyah menggeleng. "Bukan. Aku kenal waktu nganter bunga, Sal."
"Ooh. Jadi dia pelanggannya sampean?"
Mardiyah mengangguk.
"Kayaknya ... orang kaya, yo Mbak Mar?"
"Mungkin."
Netra Salsa melebar. "Kok mungkin? Sampean masa ndak tahu? Tadi waktu tak lihat ndek undangan namanya lho Aryandra Adyuta. Kata orang-orang Mbak Mar, Adyuta itu marga."
"Hm. Bener, emang marga."
Salsa melipat-lipat kain menjadi tiga lipatan. Kemudian ia menengok pada Mardiyah. "Terus juga orang-orang bilang Mbak kalau Adyuta iku terkenal sama bisnis pesawat terbangnya."
"Ah ... iyakah? Aku baru denger lho, Sal." Mardiyah sibuk memungguti sisa-sisa tisu dan sedotan yang tergeletak. "Serius."
"Lho? Kok bisa toh? Padahal Mbak Mar kan sering ke kota daripada aku dari pada santriwati senior lainnya," ucap Salsa heran.
"Saya di kota kerja, Sal." Mardiyah menengok pada Salsa. "Bukan sibuk mencari tahu kehidupan orang-orang kaya."
"Yo tahu aku, Mbak Mar! Tapi kan barangkali kedengaran seliweran gitu tentang orang kaya di kota yang nyumbang di panti asuhan ini."
Mardiyah mengangguk-angguk. "Denger sih aku. Beberapa aja. Kamu mau tahu?"
"Mau-mau. Sapa aja toh?"
__ADS_1
"Keluarga Adyuta, keluarga Upasama, keluarga Citaprasada. Itu yang aku tahu, Sal. Selebihnya aku nggak tahu lagi. Atau mungkin, mereka-mereka nggak mau di sebut namanya," jelas Mardiyah.