Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 11 (1)


__ADS_3

Sampai pukul sebelas lebih dua puluhan menit malam. Mardiyah tak menghubunginya juga. Lutfan sudah kembali satu jam tadi, sekarang menunggu di mini market 24 jam. Namun Mardiyah tidak kunjung ada kabar. Bohong jika ia tak khawatir, bukan masalah juga Mardiyah sudah dewasa, tetap saja dia wanita. Sudah tugas Lutfan menjaga.


Entah tugas dari Umma Sarah, entah pula keinginannya sendiri.


^^^Lo nggak niat nelepon gue?^^^


^^^Lo nggak pulang?^^^


Gawai Lutfan matikan lagi. Karena sampai dua menit di tunggu tak kunjung ada balasan. Padahal sedang online, kesibukannya apa kiranya sampai tidak bisa membalas pesan?


Ah, ia tahu. Lebih baik menghubungi Umma Sarah saja. Siapa tahu Mardiyah telah menghubungi Ummanya. Namun sesaat ia ingin mengirim pesan, masuklah pesan singkat dari Umma.


Yang Patut Di cinta


Acaranya udah selesai?


^^^Sampun, Umma^^^


Yang Patut Di cinta


Mardiyah belum ngasih kabar Umma lho, Nak


Kamu tadi pulang ketemu dia?


Tangan Lutfan mengepal. Mentang-mentang saja Mardiyah sudah dewasa, dan bekerja di kota. Dia melupakan Ummanya? Kurang ajar sekali! Terkadang-kadang Mardiyah tidak pernah sadar, bahwa Ummanya lebih menyayangi gadis itu dibandingkan dirinya sang anak ini.


^^^Nanti Lutfan kabari lagi, ya Umma?^^^


Lutfan memasukkan gawainya di tas. Bangkit dan menuju parkiran untuk kembali ke Lazuardi hotel, atau jika tidak ke toko bunga. Ia tak menggunakan mobil, tetapi menggunakan motor matic yang biasa ia bawa ke sekolah.


Sesampai di parkiran Lazuardi hotel cepat-cepat ia masuk, bertanya pada resepsionis apakah acara pernikahan Maheer Jayantaka dan Callista Adiwangsa sudah selesai? Benar. Acara telah selesai tiga puluh menit yang lalu.


Berarti dia di toko? batin Lutfan.


Tepat saat ia keluar dari Lazuardi hotel. Netranya melihat mobil BMW hitam yang mana tepat saat itu, ia melihat Mardiyah masuk ke sana. Tidak ada teman-temannya. Hanya Mardiyah saja?


Sopir? Atau pacarnya? batin Lutfan saat melihat dari kaca mobil bahwa yang bersama Mardiyah adalah laki-laki.


Gawainya tepat bergetar detik itu juga.


Cewek Datar


Maaf Lutfan saya baru mengabari kamu.


Seperti saya nggak bisa ikut kamu pulang ke panti asuhan malam ini

__ADS_1


Netranya menyipit.


^^^Kenapa?^^^


Cewek Datar


Ada urusan mendadak


^^^Urusan apa?^^^


Cewek Datar


Pekerjaan


^^^Sama siapa?^^^


Mardiyah tiba-tiba menghilang. Tidak terlihat online lagi. Bahkan mobil pun entah berjalan ke mana. Sebegitunya? Menyesal ia mengkhawatirkan Mardiyah. Lagi pula benar, dia sudah menjadi wanita dewasa. Tidak perlu di jaga. Belum lagi, yang menjaganya hanya seorang bocah ingusan.


Lutfan mencari-cari kontak Ummanya. Secepat mungkin ia memberi kabar.


^^^Mardiyah mungkin menginap di toko, Umma^^^


Pesan singkat masuk. Bukan balasan dari Ummanya. Melainkan, Mardiyah.


Cewek Datar


Enggak semua hal tentang saya kamu harus tahu


Lutfan mengangguk-angguk. Setuju. Memang tidak semua hal harus ia tahu, ia bukan lah siapa-siapa Mardiyah. Jadi untuk apa merasa kecewa?


^^^Sadar Mar, lo hidup ikut siapa? (Hapus)^^^


^^^Setidaknya lo kabari Umma gue (Kirim)^^^


Ia tidak ingin menjadi jahat. Atau lebih tepatnya. Tidak ingin menyakiti Mardiyah. Perasaan aneh macam apa ini? Mengapa ia harus menyukai perempuan seperti Mardiyah? Perbedaan umur ini cukup menyiksa. Harusnya ia sadar diri. Mardiyah tidak akan pernah mau hidup bersama dengannya.


Motor matic yang di tungganginya keluar dari kawasan Lazuardi hotel. Kembali ke kostan adalah pilihannya sekarang. Di kepala berkali-kali sudah ia jelaskan bahwa Mardiyah bukan lah anak kecil, sudah sanggup membedakan mana yang baik dan benar. Juga mana yang menguntungkan dan merugikannya. Tak apa-apa.


"Jadi toh Mas?" ujar Cak Sur saat melihat Lutfan memasuki kost.


Lutfan menggeleng. "Enggak, Cak. Njenengan istirahat di sini aja, Cak. Besok ke outlet langsung, nggak usah ke panti."


"Nggih, Mas."


Cak Sur melihat Lutfan sepertinya murung.

__ADS_1


"Kenapa sampean, Mas?"


Lutfan menggeleng. "Biasa, Cak. Anak muda galau-galauan."


"Ngegalauin Mbak Mar sampean, Mas?"


Netra Lutfan melebar. "Apaan, Cak! Enggak-enggak. Ngapain galau-galuain dia?"


"Ya, soalnya sampean jadi murung gara-gara gagal pulang ke panti malam ini, Mas."


Lutfan menggeleng cepat. "Enggak, Cak! Saya galau gara-gara capek aja. Belum lagi nih, wisuda lama banget."


"Sebenarnya ndak pa-pa kalau emang sampean galau gara-gara Mbak Mar, Mas. Wong dia calon istrinya sampean toh?"


Lutfan terkejut. Bagaimana bisa beliau tahu?


"Abi Aziz sempat cerita kalau beliau mau menikahkan Mas sama Mbak Mardiyah. Karena Abinya Mas yakin Mbak Mar bakalan jaga sampean Mas," jelas Cak Sur.


Lutfan menggeleng. Kiranya bagaimana pemikiran Abinya dahulu? Lulus saja dia belum. Sudah di jodoh-jodohkan.


Kolot.


"Emang sampean ndak suka sama Mbak Mar?"


Suka, batin Lutfan. Tetapi sepertinya, Mardiyah membutuhkan laki-laki yang dapat mengayominya. Jelas sebenarnya ia bisa. Namun ia sungguh takut, Mardiyah tidak menerima laki-laki yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.


Ya, adik.


Karena dari bayi pun, ia tumbuh besar bersama Mardiyah.


"Cak, bedanya saya sama Mardiyah itu tiga tahun lho."


"Terus kenapa toh, Mas?"


"Kalau tua-an yang cewek itu jatuhnya aneh dan nggak wajar, Cak."


Cak Sur menggeleng. "Sopo yang bilang? Yang penting Mas. Sampean sama-sama suka, sama-sama cinta. Umur ndak jadi masalah, Mas. Wes ndak usah dengerin orang-orang."


"Tapi Cak ... bukan masalah orang-orangnya. Masalahnya Mardiyah belum tahu kayaknya," ujar Lutfan.


Cak Sur mengangguk paham. "Rencana di kasih tahu kapan toh?"


"Nanti pas umur saya dua puluh tahun, Cak."


"Yowes ndak pa-pa. Nanti kalau jodoh pasti waktu Mas umur dua puluh, Mbak Marnya belum nikah."

__ADS_1


"Semoga aja, Cak. Supaya saya bisa mengabulkan keinginan Abi."


Ya, keinginan beliau ... keinginan terakhir Abi, Cak.


__ADS_2