
Abhimata ... ternyata yang orang-orang katakan tentang kamu adalah salah. Saya jadi sedikit bersyukur bisa memiliki seorang ... Adik sepertimu, batin Mardiyah yang melihat Abhimata berjalan meninggalkannya. Karena yang dilihatnya tadi Abhimana datang, mungkin saja kedua kembar itu ingin berlibur bersama di vila ini.
Mardiyah menengadah, pagi ini sejuk. Ada beberapa tempat yang becek akibat hujan kemarin malam. Vila yang di miliki oleh keluarga Adiwangsa ini benar-benar besar dan luas. Bahkan sekelilingnya sangat sepi, apa mungkin ini kesengajaan supaya ia tidak akan pernah tahu jalan pulang?
"Lutfan ..." Mardiyah menghela napas dan memejamkan netranya. "Tolong ... maafkan saya."
Benar.
Dirinya dan Umma Sarah di usir dari Lazuardi hotel. Karena ia pun tak tahu di mana kediaman Adiwangsa, ia memilih untuk mendatangi penginapan mewah ini yang malah di sambut oleh Rajendra. Lelaki tempramental itu memaki-maki dan mengusir, benar-benar tidak memiliki tata krama. Seharusnya yang merasa marah dan memaki adalah dirinya bukan Rajendra.
Brengsek!
Ia ingin sekali memukul wajah yang penuh kesombongan dari Rajendra. Jika bukan karena kakinya yang tidak berguna, ia pasti akan meladeni Adiwangsa itu, yang dengan mulut kotornya berani menghina-hina Mardiyah.
"Nak---"
"Umma, Lutfan mau ke Adiwangsa hospital. Lutfan bakal temuin Dokter Gumira. Mereka ... nggak boleh bawa Mardiyah," sahut Lutfan.
Umma Sarah berucap, "Umma rasa percuma, Nak. Dokter Gumira itu pimpinan rumah sakit, beliau pasti nggak selalu berada di satu tempat."
"Ya tapi Lutfan usaha, Umma."
Umma Sarah mengangguk. "Umma paham. Lebih baik kamu temui temanmu aja. Yang namanya Linggar Linggar itu, siapa tahu mereka mau bantu."
"Iya. Lutfan bakal tanya mereka." Lutfan menatap Ummanya yang masih berdiri. "Umma istirahat sana, di outlet ini kebetulan ada kasur buat tidur. Lutfan bakal stay di sini agak lama. Jadi Umma bisa tidur dulu."
Umma Sarah pergi ke tempat istirahat. Sedangkan Lutfan menanti-nanti kedatangan Aldo yang tiga puluh menit lalu ia hubungi untuk datang ke mari.
Tidak lama ia melihat dari jendela bahwa mobil Aldo memasuki pelataran outlet.
"Assalamualaikum. Sorry, Lut. Biasa, macet."
Lutfan mengangguk. "Waalaikumussalam."
Aldo lantas mengambil duduk berseberangan dengan Lutfan. Netranya menatap wajah kalut teman yang memperkerjakannya selama ini. "Bentar. Gue agak nggak paham sama whatsapp yang lo kirim. Maksud lo gimana? Istri lo di bawa pergi? Sama ... Om Gautama?"
"Iya."
Aldo menatap serius. "Jelasin kronologinya, Lut. Nggak mungkin dong istri lo tiba-tiba di bawa pergi kalau nggak ada sebab akib---"
"Dia anak Pak Gautama."
Netra Aldo melebar, bahkan dengan sadar mencondongkan dirinya pada Lutfan, seakan-akan tak percaya dengan pendengarannya. "Apa? Anjir, kuping gue. Coba lo ulang lagi lo ngomong apa tadi?"
"Mardiyah anak Pak Gautama."
"A-anak? Anak kandung?" Aldo menggeleng-geleng. "Nggak-nggak bentar. Bukannya anak Om Gautama nggak ada yang cewek? Coba lo jelasin sejelas-jelasnya, Lut."
Lutfan menjawab, "Intinya, Pak Gautama itu Ayah biologis istri gue. Selebihnya, mereka nggak punya hubungan apa-apa. Dan gue minta lo datang ke sini itu buat minta tolong hubungin Abhimata. Selebihnya juga, lo nggak usah banyak bacot. Gue lagi nggak mood, Do."
"Oke-oke. Kayaknya ini masalah keluarga." Aldo merogoh sakunya mengeluarkan gawai dan mengutak-atik sejak. "Gue nggak bakal ikut campur. Gue bakal bantu lo, karena lo emang bener-bener butuh."
Tidak lama gawai Aldo berbunyi masuk notifikasi, dan ia langsung menatap Lutfan. "Abhimata nggak lagi kerja. Biasanya di yang ngurus Penginapan Jyotika Ira. Di IG dia bikin story kayaknya dia lagi di vila keluarganya deh."
"Vilanya di mana?"
Aldo menggeleng. "Anjir. Ya gue nggak tahu, Lut."
"Ya lo tanya dong."
Aldo tidak langsung bertanya, melainkan masih melihat-lihat story yang barusaja di update oleh Abhimata, di mana lelaki berdarah Adiwangsa itu meng-update foto yang dominasi dengan pemandangan hijau taman-taman dari jarak jauh dan saat Aldo teliti lagi ternyata ada seseorang yang terfoto di sana. Seperti perempuan, yang menggunakan pakaian tertutup.
"Eh bentar, Lut." Aldo mendekati Lutfan dengan menunjukkan gawainya. "Dia baru update story lagi, waktu gue lihat-lihat, kok kayak ada orang ya. Kayak cewek. Tapi nggak mungkin Cassia, Cassia kan nggak pakai kerudung, lagian juga nggak mungkin Abhimata ajak Cassia ke vila."
Saat Lutfan memperhatikan foto itu terdapat seorang perempuan berpakaian tertutup dengan mengunakan warna sedana peach. Sayangnya karena perempuan itu duduk, sulit bagikannya untuk menilai dari postur tubuh. "Lo yakin? Orang di foto itu bukan Cassia? Atau ... sekedar ART dia barang kali ada yang hijaban?"
"Yakin gue, Lut. Cassia itu nggak pernah pakai kerudung, sekalipun pakaian mungkin nggak sepanjang itu kali, kayak bu hajah aja. Terus lagian, ya? ARTnya keluarga Adiwangsa itu nggak ada yang kerudungan, kalau pun ada Lut, ya kali nggak seragaman?"
Lutfan mengangguk paham. "Oke. Kalau gitu. Anter gue ke vila itu, Do."
__ADS_1
"Anjir, Lut. Ya mana tahu gue alamatnya."
"Ya tadi kan gue suruh lo tanya."
Aldo menggeleng. "Nggak-nggak. Males, njir. Nggak enak gue tanya-tanya segala."
"Lo bilang mau bantuin gue!"
"Ya tapi, Lut---"
"Ayo dong, Do. Lo tega lihat gue kalut mikirin istri gue gini, hah?"
@Aldojanardana
Widih, di vila
Kebetulan gue lagi libur
Mampir boleh nggak?
Abhimata menatapi DM masuk dari Aldo. Keningnya mengerut, kemudian mencoba melihat story yang dibuatnya tadi, di amat-amati lagi ternyata ada Kakak tirinya yang terpotret, walau hanya terlihat dari belakang dan duduk di kursi taman. Ia yakini, mungkin saja sekarang Aldo sedang bersama Lutfan.
"He!" Abhimana menepuk bahunya. "Ngapain lo? Chat sama Cassia? Serius banget ngebucinnya."
Abhimata menggeleng. "Enggak. Ini si Aldo nge-DM gue."
"DM apa? Tanya-tanya cewek itu?"
Abhimata menggeleng lagi. "Nggak sih. Cuma pertanyaannya radak ngarah ke sana. Katanya dia mampir sini kalau---"
"Lo jawab, nggak boleh. Bilang aja lagi liburan bareng Cassia atau siapalah." Abhimana menjeda terpikir sesuatu. "Ah, enggak-enggak. Bilang aja nemenin gue di vila, soalnya calon gue kerja di sini."
Abhimata berdecak kagum dengan pikiran saudara kembarnya. "Ya ... kebetulan aja Meera jadi pelayan di sini. Jadi lo bisa puas-puas dateng ke vila, pura-pura healing nyatanya mah lo mau jelalatan lihatin cewek itu."
"Anjir lo---"
"Aakhhh."
"Aduh," keluh Mardiyah menatapi kakinya, dan penyanggah infus yang jatuh di lantai.
"Lo kok bisa ... akh!" Abhimana kesal, entah dengan siapa saat melihat Mardiyah terduduk di lantai. Lantas dengan cepat-cepat ia mendekat. "Jalan hati-hati dong. Terus juga ... di mana orang-orang yang jagain lo? Pelayan-pelayan ini di mana sih?!"
Bi Amah berserta jajaran pelayan muda, termasuk Meera datang dengan berlarian.
"Gimana bisa kalian ninggalin dia sendiri, hah? Kalian itu di bayar buat jagain dia!" Tangan Abhimana di usap Abhimana hingga ia amarahnya sedikit mereda. "Kesel gue! Bisa-bisanya mereka nggak jagain dia!"
Mardiyah menatapi Abhimana yang memarahi par pelayan dalam diam. "Abhimana, jangan memarahi mereka. Saya jatuh sendiri."
"Lo---"
Abhimata menyahut, "Jangan banyak omong. Gendong, bawa masuk, gue pegangi infusnya."
"Terima kasih," ucap Mardiyah.
Abhimana hanya berdeham tanpa menatap Mardiyah lagi. Sepertinya Abhimata sengaja menyuruh Abhimana menggendongnya.
"Ada yang sakit?" tanya Abhimata tiba-tiba.
Mardiyah menatap kakinya. "Itu ... kaki saya."
"Saya panggilkan Dokter?"
Mardiyah menggeleng. "Ini ... cuma berdarah saja kok."
"Cuma berdarah lo bilang? Gila ..." sahut Abhimana.
Mardiyah mengangguk-angguk dengan menatap sang Adik seksama. "Iya. Nanti di obati sendiri juga bisa, Abhimana."
__ADS_1
Abhimana spontan berbalik dan pergi keluar dari kamar. Mardiyah tak sengaja menatap wajah Abhimana yang memerah. Salah tingkah 'kah? Karena saya panggil namanya atau karena saya tatap? batin Mardiyah yang langsung menyandarkan punggungnya.
"Abhimata," ujar Mardiyah.
Abhimata mengambil duduk di tepi ranjang. "Ya?"
"Saya tahu kamu tidak boleh memberitahu keberadaan saya pada Lutfan. Tapi ..." Mardiyah menunduk. "Jika saya boleh meminta. Tolong setidaknya, kabarkan pada Lutfan, bahwa saya baik-baik saja."
Abhimata terdiam.
"Kamu tidak bisa, ya?" Mardiyah menatap Abhimata lagi. "Walau hanya mengabari via pesan saja?"
Abhimata menggeleng. "Saya ..."
"Kalau kamu tidak bisa. Tidak pa-pa. Saya tidak memaksa, saya juga takut Pak Manggala dan Pak Gautama memarahimu." Mardiyah menjeda. "Kalau begitu. Bisa tolong, tinggalkan saya sendiri?"
Abhimana mengangguk dan meninggalkan dirinya sendiri. Para pelayan pun Mardiyah minta pergi juga, niatnya ingin mengobati sendiri tanpa di bantu oleh siapa pun.
"Nona Muda---"
Mardiyah mengangkat tangan. "Bukankah saya sudah bicara? Untuk meninggalkan saya sendiri?"
"Tapi kaki Nona---"
"Saya bisa mengobatinya sendiri."
Setelah semua benar-benar meninggalkannya. Mardiyah tidak langsung mengobati luka, tetapi memilih merebahkan diri, sembari menatapi selang infus yang terpasang. Cairan itu menetes perlahan-lahan, tak lama matanya memanas. Ingatan tentang Lutfan dan Umma Sarah kembali memenuhi pikirannya.
Menyedihkan.
Ia benar-benar tidak berdaya. Manggala berkuasa di atas segalanya karena kedudukan dan uang. Jika saja, ia tidak pernah berharap dan berdo'a untuk ingin bertemu Ayah dan Ibunya, pasti ia tetap akan bersama Lutfan. Seharusnya sendari dulu ia sadar, bahwa keluarga nyata yang ia miliki adalah Umma Sarah, Abi dan Lutfan.
Mereka mencintai dan menyayangi tanpa pamrih. Tidak peduli bahwa dirinya adalah anak hasil dari pemerkosaan, Umma Sarah tetap merawatnya. Tetap menganggap diri ini adalah anak. Hingga ia berada di titik pernikahan, yang mana membuat dirinya benar-benar bersatu dengan keluarga besar Kiai Bashir.
Ia bukan lagi orang luar. Ia adalah istri Lutfan. Seorang cucu mantu dari Kiai Bashir, ia tak lagi merasa asing, ia bahagia saat menyambut status barunya, yang bukan lagi seorang anak angkat.
"Lutfan ..."
"Kamu baik-baik saja 'kan?"
Mardiyah meremas kuat selimut dan tangannya beralih menutup wajah, ia menangis tak lagi bisa mengendalikan perasaan rindu untuk Umma Sarah dan juga Lutfan.
Clek.
Spontan Mardiyah mengusap air mata, saat mendengar pintu kembali terbuka.
"Nak ..." Ranjang yang di tidurinya terasa bergerak. Sepertinya suara itu milik Gautama. "Papa melihat dari cctv kamu jatuh. Apa ada yang sakit? Om Gumira dalam perjalanan ke sini, dia akan segera memeriksa kamu."
Mardiyah terdiam
"Kaki ... kakimu." Gautama refleks menyentuh kaki Mardiyah yang seperti tergores benda tajam. "Bagaimana bisa para pelayan itu tidak mengobati lukamu?"
Tidak lama Gautama berdiri mengambil P3K lantas meminta sang anak duduk untuk mengobati kaki Mardiyah. "Kalau sakit, bilang, ya?"
Mardiyah masih diam.
"Sakit?" Gautama menatapnya.
Mardiyah tidak merespon.
Hingga Gautama memilih fokus mengobati sampai selesai, lantas setelahnya ia menatapi sang anak. "Kamu marah sama Papa?"
Mardiyah menatapi Gautama dengan sayu. "Apa Pak Gautama mengizinkan saya untuk marah? Sedangkan ... sepertinya, Bapak lebih berkuasa atas segalanya di diri saya di bandingkan saya sendiri."
"Maaf." Tangan Gautama tiba-tiba terangkat mengusap hijab yang masih digunakan oleh sang anak. "Mungkin kamu akan sering mendengar itu berkali-kali dari Papa. Karena sebenarnya, Papa membawamu ke mari untuk melindungi kamu, Nak. Papa nggak berniat memisahkan kamu dari suam---"
"Bapak berniat."
Gautama menggeleng pelan. "Kakekmu, dan Adikmu Rajendra, sudah tahu semuanya. Papa cuma mau melindungi kamu dari kedua orang itu, Nak."
"Bapak bohong. Jika Pak Gautama berniat melindungi saya, seharusnya dulu Bapak tidak melakukan test DNA dengan saya. Atau kalau perlu, seharusnya Bapak tidak mendatangi panti asuhan." Mardiyah buang muka. "Hidup saya semakin menyedihkan, setelah bertemu dengan Bapak."
__ADS_1
"Maafkan, Papa."
Mardiyah menggeleng. "Pergi. Saya ingin sendiri."