Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 10


__ADS_3

^^^Sudah^^^


Setelah mengirim pesan pada Lutfan untuk memberitahu bahwa ia telah membalas pesan Umma Sarah. Lantas Mardiyah kembali ingin menuju tempat aula, tetapi di pertengahan jalan tepatnya saat berbelok. Sungguh ia telah ceroboh, menabrak seseorang karena saat itu ia memasukkan gawainya di tas.


"Maafkan saya, Pak."


Orang di depannya tak berbicara sama sekali. Sehingga Mardiyah mendongak, menatap dan ternyata, entah ini hari sialnya atau apa? Gautama Adiwangsa berada di depannya. Beliau adalah orang yang baru saja di tabraknya!


"Maafkan saya, Pak."


Pria paruh baya itu memandanginya dengan sayu.


"Maaf saya ceroboh, Pak."


Bapak Gautama tiba-tiba saja tersenyum tipis. "Tidak pa-pa. Lain kali berhati-hati lah."


Mardiyah mengangguk pelan.


"Saya permisi," ujar Bapak Gautama.


Mardiyah mengangguk, lagi. "Silakan, Pak."


Saat telah sampai di meja. Kak Devina buru-buru mendekatinya dan berkata, "Lama banget kamu, Mar! Ke mana aja?"


"Toilet, Kak."


Terdengar Kak Devina menghela napas berat. "Susah ngomong sama kamu, Mar."


"Iya, Kak."


Mardiyah mengedarkan pandangannya, melihat betapa ramainya orang-orang di satu aula ini. Ah, ia lupa, ini adalah pernikahan keluarga elit pasti begitu banyak pertemuan di sini. Netranya tiba-tiba saja melebar, saat menangkap Lutfan sedang duduk bersama ... teman-temannya? Mungkin?


Ngapain dia di sini? batin Mardiyah.


"Kenapa, heh?"


Mardiyah menggeleng. "Nggak pa-pa, Git."


Nyonya Harsa datang dari arah belakang, dan menyentuh tepat di punggungnya. "Nanti kalau foto ikut lho kalian, ya? Udah pada makan belum?"


"Iya, Nyonya." Netra Kak Devina menatap Mardiyah dan Regita bergantian. "Ayo makan, Mar, Git."


"Ya udah makan sana. Saya mau ke sana dulu," ujar Nyonya Harsa.


Mardiyah, Regita, dan Kak Devina menuju tempat makan. Sebenarnya ia tak berselera, tetapi lagi-lagi ia harus menghargai. Sedikit di ambilnya, nasi merah dan ayam panggang suir. Kalau di pikir-pikir, menunya hampir sama seperti yang berada di toko bunga.


"Dikit banget. Diet kamu?" ujar Regita.


Mardiyah menjawab, "Enggak."


Setelah kembali duduk dan melahap habis makanan. Gawai di tasnya bergetar beberapa kali, mungkin ada pesan singkat.


Lutfan


Pulang dari sana lo masih kerja?


Ternyata lelaki tengil itu.


^^^Enggak^^^


Lutfan


Nginep di mana lo?


Hotel? Toko?


^^^Toko, mungkin^^^


Lutfan

__ADS_1


Mau langsung pulang ke panti?


^^^Kamu menawarkan?^^^


Lutfan


Menurut lo?


^^^Saya pulang larut, Lutfan^^^


^^^Kamu nggak sekolah besok?^^^


Lutfan


Nanti kabari gue kalau lo pulang


^^^Iya^^^


Mardiyah memasukkan kembali gawainya.


"Dari siapa? Serius banget," ujar Regita.


Mardiyah menggeleng. "Bukan siapa-siapa."


...🌺...


Ummanya salah. Karena pernikahan ini menyatukan Maheer Jayatanka dan Callista Adiwangsa, yang mana sang pembelai pria adalah seorang muslim. Tidak ada khamar dan hal-hal buruk lainnya, acara selayaknya acara. Walau jikalau Lutfan lihat-lihat ini adalah acara dari pihak wanita, pasti Maheer juga ikut serta mengatur.


Aldo tidak menjemputnya. Kebetulan tadi bertemu di lobi dan Lutfan tak duduk sesuai undangan. Untung saja tidak di larang. Dan di satu mejanya sekarang adalah Aldo, Vincent, Linggar dan Lingga---si kembar Adiwangsa yang baru satu menit tadi bergabung.


"Jadi lo cucunya Kiai Bashir?" tanya Lingga.


"Iya."


Lingga tersenyum lebar menatapi Aldo. "Wah gila, Do! Ternyata dia temen lo juga, ya?"


Aldo mengangguk.


Lutfan mengangguk. "Masih. Mau mampir?"


"Boleh emang?"


Aldo menyahut, "Boleh lah pasti! Sekalian pesantren satu minggu kek. Percuma mampir-mampir doang, nggak mau cari ilmu di pesantren."


"Gue setuju," sahut Linggar, sang kembar.


"O-oke. Kapan-kapan aja, kalau itu."


Semuanya tertawa. Sebab terlihat sekali Lingga beralasan. Acara demi acara di mulai, netranya tak pernah menghilang dari pandangan Mardiyah yang duduk dua meja di depan bersama teman-teman kerjanya.


"Eh tapi btw, lo ... boleh pacaran?" tanya Vincent, yang sendari tadi terdiam.


Lingga menyahut, "Enggak lah! Gila. Cucu pemuka agama nggak boleh pacaran-pacaran, Vin."


"Gi ... tu emang?"


Lutfan melihat Aldo sejenak. Kemudian menatap Vincent dan Lingga bergantian. "Pertanyaan lo bagus, Vin. Dan jawaban lo hampir bener, Lingga. Cuma kurang penjelasan aja."


"Di Al-Qur'an, kitab agama Islam ada salah satu ayat yang menjelaskan bahwa kita nggak boleh mendekati zina, Vin. Lo tahu kan artinya zina itu apa? Coba lo cari di KBBI atau google," imbuh Lutfan.


Tampaknya Vincent sudah menemukan jawaban.


"Persetubuhan tanpa ikatan pernikahan?"


Aldo menyahut, "Bener. Itu penjelasan tentang zina nya. Tapi yang lagi di bahas sama Lutfan ini tentang salah satu ayat yang menjelaskan bahwa kita nggak boleh mendekati zina. Men-de-kati, lho. Ngerti kan?"


"Ja ... di? Pacaran ... mendekati zina?"


"Bisa di bilang kayak gitu, Vin. Tapi orang-orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda. Entah ada yang mikir pacaran ngabisin duit lah, buang waktu lah dan lain-lainnya," jelas Lutfan.

__ADS_1


"Tapi gue tanya ke lo. Kenapa lo nggak pacaran? Karena alasan ini?" tanya Vincent, lagi


Lutfan mengangguk. "80% karena itu."


"20%nya?"


Aldo menyahut, "Udah di jodohin, Vin! Udah deh pertanyaan lo gitu banget, deh!"


"Gue cuma pasti aja, Do. Gue penasaran sama pendapat cucu Kiai tentang pacaran."


Lutfan menggeleng-menggeleng. "Harusnya besok-besok tanya ke Mas gue aja, Vin. Gue takut pendapat gue agak sulit lo pahami."


Gawai Lutfan tiba-tiba saja bergetar. Siapa gerangan? Ah, pasti Umma Sarah. Ummanya memang membutuhkan sekali kabar baru.


Mardiyah? batin Lutfan. Sebenarnya nama kontak pun tidak sesuai dengan nama orangnya. Terserah Lutfan saja, gawai-gawainya juga.


Cewek Datar


Jam sebelas malam


Nggak pa-pa?


Lutfan tidak pernah lupa. Acara-acara seperti ini pasti akan berakhir sampai semalamnya. Bahkan ada yang sampai tujuh hari tujuh malam.


^^^Nggak masalah^^^


^^^Cukup lo kabari Umma gue, Mar^^^


^^^Gue nggak mau Umma gue khawatir sama lo, terus ujung-ujung gue yang di marahi^^^


Cewek Datar


Maaf


Lutfan berdecak kesal. Siapa yang nyuruh lo minta maaf, cewek datar?! Secepatnya ia mengetik. Namun ternyata belum selesai mengetik, pesan baru masuk kembali.


Cewek Datar


Kamu nggak sekolah besok?


^^^Jam sebelas pas gue bakal wa lo^^^


^^^Atau kalau enggak lo wa gue^^^


Cewek Datar


Kamu belum jawab pertanyaan saya, Lutfan


Lutfan memutar bola matanya. Sungguh ia sama sekali tidak suka saat Mardiyah menyebut dirinya sendiri menggunakan kata saya. Memangnya harus seformal itu? Padahal dulu saja sewaktu kecil menggunakan aku kamu.


Menyebalkan!


^^^Gue libur besok^^^


Cewek Datar


Ya udah. Nanti saya kabari lagi


Jangan lupa Cak Sur kamu suruh tidur


Saya takut beliau lelah nanti


Lutfan mendongak, tersadar bahwa Aldo terbahak-bahak. Kenapa teman gilanya ini?


"Wajah lo, Lut, Lut. Kenapa? Siapa yang ngirim pesan? Kuset banget, gila!" ujar Aldo.


Lutfan terdiam sejenak. "She is a Human, Do."


"She? " Kening Aldo menggerut. "Cewek? Nyokap lo?"

__ADS_1


Lutfan menggeleng. "Kakak gue."


Kakak?! Kakak apaan? Ya kali gue bilang, calon istri gue di beberapa tahun mendatang!


__ADS_2