Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
90 :


__ADS_3

Dua hari berlalu ...


Tepatnya malam ini. Lutfan dan Mardiyah telah sampai di hotel, dengan menggunakan baju couple yang dibelinya online dengan jalur si cepat. Keduanya masih belum keluar kamar, karena Mardiyah terlihat sibuk membenarkan kerudung yang di pakainya. Sedangkan Lutfan memandang sang istri dengan menopang dagu.


"Udah?"


"Belum."


Lutfan menghela napas.


"Kamu keberatan nungguin aku?"


Netra Lutfan melebar. "Enggak. Kapan aku bilang keberatan?"


"Suara helaan napas kamu."


Astaghfirullah. Bisa-bisanya! Masa gue ngehela napas aja dikira keberatan? Emang, ya! Dasar, cewek! batin Lutfan yang tidak habis pikir dengan ucapan istrinya. "Aku nggak keberatan, Mar. Cuma aku lihat-lihat kamu ribet banget benerin kerudung."


"Habisnya ..." Netra Mardiyah berkaca-kaca. Ia lelah, dan menaruh jarum pentul nya di meja. Lalu membiarkan kerudung merosot turun, begitu pula di susul ia yang mengambil duduk di bibir ranjang. "Aku nggak suka model kerudungnya. Bahannya licin, bikin susah buat di pakai. Terus ... kamu pikir aku nggak capek dari tadi berdiri benerin kerudung?"


Lutfan terdiam melihat Mardiyah yang tiba-tiba saja memasang wajah sedih. Benar. Ternyata hal-hal sepele seperti ini, bisa membuat wanita menangis. "Ya udah. Aku minta Cak Sur bawa kerudung lain, ya?"


Mardiyah menggeleng.


"Terus?"


"Maaf."


Lutfan mendekatkan kursi rodanya pada Mardiyah. "Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah apa-apa."


"Aku nggak niat komentarin baju yang kamu beliin. Cuma ..." Mardiyah menunduk. "Aku emang nggak nyaman pakai kerudungnya. Susah. Aku jadi ngerasa nggak bisa bebas gerakin kepala, jatuhnya nggak rapi terus."


"Kamu nggak kecewa kan kalau aku ganti kerudungnya?" lanjut Mardiyah dengan bertanya.


Lutfan menggeleng dengan tersenyum tipis. "Ya Allah enggak, Mar. Aku nggak bakal ngerasa gitu. Kan tadi aku nawarin juga buat ganti kerudung. Aku nggak pa-pa kalau kamu ganti kerudungnya aja. Harusnya sebelum beli baju juga, aku cek bahannya---"


"Enggak. Bahan bajunya bagus, enak di pakai, cuma emang kalau di buat kerudung aku nggak suka, nggak nyaman banget," sanggah Mardiyah dengan jelas.

__ADS_1


"Iya. Sekarang mau gimana? Aku telepon Cak Sur, ya?"


Mardiyah menggeleng, dan mengeluarkan kerudung hitam yang biasanya ia pakai, dari dalam tas. "Ini ... aku bawa."


"Ya udah. Sekarang kamu pakai. Aku tungguin."


Mardiyah mengangguk.



Lampu berpijar terang sebagain remang-remang. Dekorasi yang dominan putih dan mocca ini adalah pilihan Regita. Gadis itu sempat bercerita, bahwa ingin menikah dengan segala dekorasi yang mengombinasikan kedua warna itu. Indah dan juga cocok. Sepertinya Regan menyetujui keinginan Regita. Dan saat memasuki aula pernikahan, ada sesi foto oleh penerima undangan. Hingga lantas mau tidak mau ia berfoto bersama Lutfan. Setelah selesai katanya, bisa di ambil nanti saat pulang.


Memasuki lebih dalam. Netra Mardiyah menangkap untuk pertama kalinya seorang wanita dengan dress navy selutut, rambut di kuncir setengah, kini tersenyum ke arahnya. Nyonya Gistara? Istri Pak Gumira? batinnya yang ikut membalas dengan senyuman. Tidak lama, ia mendengar seseorang menyerukan namanya beberapa kali. Siapa lagi. Jika bukan Abhimata.


"Kak, aku cariin," ujar Abhimata saat telah berdiri di hadapannya. "Ayo ke sana, Kak. Ada tempat duduk."


Biasanya pesta orang kaya jarang ada tempat duduk, batin Mardiyah yang sedikit bingung.


"Ayo sekalian sama Lutfan, Kak."


Mardiyah tersadar, dan mendorong kursi roda Lutfan untuk mengikuti arah ke mana Abhimata berjalan. Sejauh mata memandang, ia melihat sekeliling benar-benar ramai, melihat orang begitu banyak membuatnya terasa lelah saja. Hingga akhirnya Abhimata memberi instruksi untuk berhenti ke sisi kiri, yang ternyata di sana ada Mama Cecilia, Abhimana dan juga entah siapa. Sepertinya ... Geeta Adiwangsa? Ya sepertinya beliau, sekali pun tidak pernah bertemu. Ia yakin, wanita di depannya adalah Geeta. Wanita berhijab ini adalah saudari kandung Pak Gautama dan Pak Gumira.


Mardiyah membenarkan posisi duduk Lutfan hingga bersebelahan dengannya. "Duduk sini nggak pa-pa?" bisiknya.


Lutfan mengangguk. "Nggak pa-pa."


"Ini Tante Geeta. Adik Papa kamu, Nak."


Mardiyah tersenyum tipis saat bertemu pandang dengan Geeta. "Saya Mardiyah, Ta-nte."


"Salam kenal, Mardiyah. Saya Geeta. Nanti kalau bertemu dengan saya lagi, jangan sungkan untuk menyapa," ujar beliau.


Mardiyah mengangguk dan tersenyum tipis.


Geeta menatapi Mardiyah dan Lutfan secara bergantian. "Mardiyah, laki-laki ini ... suamimu?"


"Iya, Tante." Mardiyah menengok, dengan reflek menggenggam tangan Lutfan. "Dia suami saya. Lutfan."

__ADS_1


"Kamu cucunya Kiai Bashir, ya?"


Lutfan menjawab, "Iya, Tante. Saya cucu beliau."


Segala perbincangan terjadi. Seperti biasa pula ia tidak bisa berbicara banyak, untung saja Lutfan dan Abhimata saling menyambung dalam obrolan. Hingga tidak ada kecanggungan, bahkan ia bersyukur orang-orang yang berada dalam satu lingkaran tempat duduk ini tidak membahas kekurangan Lutfan. Sebab sungguh, ia tidak mau suaminya itu bersedih hati dan tidak percaya diri lagi.


Menit-menit berlalu cepat. Terdengar suara dari pelaminan, ternyata acara besar ini semakin seru saja. Ada hadiah-hadiah yang di peruntukan anak-anak remaja yang juga ikut datang. Tidak lupa penyanyi jebolan Indonesian idol yang di undang Regita untuk memeriahkan malam pernikahannya.


"Mar, masih lama, ya?" bisik Lutfan.


Mardiyah menengok dan mendekatkan bibirnya pada telinga Lutfan. "Kamu pasti capek. Sebentar lagi, kita temuin Regita setelah dia sesi foto-foto sama keluarganya, ya?"


Lutfan menggeleng.


"Kamu nggak mau?"


"Kamu aja sendiri. Lagian ..." Lutfan memandang ke arah pelaminan. "Itu pelaminannya agak tinggi. Aku bakal ngerepotin kamu kalau ikut naik."


Mardiyah menghela napas. "Nggak bakal ngere---"


"Aku tunggu di sini aja, Mar. Tolong kamu ngertiin aku, sekali ini aja," sanggah Lutfan.


Tiada pilihan selain mengangguk. Selang beberapa menit akhirnya sesi foto keluarga Regita dan Regan berakhir. Ia, Abhimata, Abhimana, Mama Cecilia dan Tante Geeta bersiap bangkit untuk memberi selamat pada kedua insan yang tengah berbahagia itu.


Sebelum menaiki pelaminan Mardiyah menunduk mendekatkan bibirnya pada telinga Lutfan. "Kamu tunggu sebentar, ya? Aku janji nggak lama-lama."



Istrinya itu memang tidak malu untuk mengajaknya mendatangi pernikahan Regan dan Regita. Tetapi tetap saja, ia sangat mempermalukan istrinya. Bagaimana bisa perempuan sejelita Mardiyah membawa seorang laki-laki cacat sepertinya untuk mendatangi sebuah pesta? Orang-orang pasti menilai bahwa Mardiyah hanya mengasihani dirinya saja.


Bahkan untuk ikut naik ke pelaminan pun ia merasa tidak sanggup. Penolakannya adalah benar. Memang sudah seharusnya seperti ini, menunggu tidak masalah baginya. Dari pada merepotkan istrinya saja.


Dugh.


Arah suara itu mengalihkan pandangan Lutfan pada kursi yang saling terbentur. Saat ia mendongak, netranya langsung memandang datar. Ngapain dia di sini? batinnya yang langsung membuang muka.


"Suami Mardiyah, ya?" ujar Aryandra yang menyilang kakinya, menghadap pada Lutfan. "Anaknya Umma Sarah. Pemilik panti asuhan Al-Hikmah."

__ADS_1


[.]


__ADS_2