
Lutfan merasa Mardiyah aneh. Karena berlari-lari di situasi panti asuhan yang cukup sepi dan malam hari seperti ini. Tidak mungkin perempuan itu melihat setan 'kan? Tidak-tidak. Tidak mungkin. Tadi pun saat Mardiyah berucap ia mendengar suara perempuan itu sedikit berbeda.
Seperti ... menangis?
"Tadi Mbak Mar kayak nanges lho, Mas," ujar Cak Sur.
Benar. Ternyata yang merasa bahwa Mardiyah menangis bukan hanya dirinya saja, Cak Sur juga.
"Hah?" Lutfan pura-pura tidak sadar, dan menengok pada Cak Sur. "Iyakah, Cak?"
"Inggih, Mas."
Lutfan hanya mengangguk-angguk. Saat netranya menatap ke depan di mana kantor Umma Sarah. Ia melihat laki-laki yang katanya, menjadi penyumbang tetap di panti asuhan ini. Ah, iya, kata orang-orang namanya Aryandra Adyuta.
Apa Mardiyah nangis gara-gara cowok itu? batin Lutfan dengan menatapi lelaki itu saat memasuki kantor Ummanya. Lutfan menggeleng. Tidak-tidak, ia tidak ingin berprasangka buruk. Namun jika benar, ingin rasanya ia memukul lelaki itu. Berani-beraninya membuat Mardiyah menangis!
"Mas, Cacak langsung ke gudang bersih, nggih?" ucap Cak Sur tiba-tiba. Mengenai gudang bersih itu adalah tempat cctv, tempat istirahat sejenak, dan tempat menyimpan beras serta air mineral galon.
"Eh-eh, Cak!" Lutfan menyusul dengan senyum lebar. "Saya ikut. Kayaknya Umma masih ada tamu itu."
"Yauwes ayok, Mas."
Setelah sampai Lutfan dan Cak Yanto melihat Pak Rizal sedang istirahat. Mungkin beliau benar-benar kelelahan, biasanya jam-jam seperti ini bergantian jaga dengan Pak Budi. Tetapi kata Ummanya, Pak Budi sedang tidak enak badan.
"Njenengan istirahat aja, Cak." Lutfan mengambil duduk di kursi komputer cctv dengan mulai mengotak-atik. "Nanti kalau saya keluar njenengan tak bangunin, Cak."
"Inggih, Mas."
Lutfan menggerak-gerakkan kakinya. Kamera satu aman, dua sampai lima aman. Setelah mengecek di bagian asrama-asrama. Lutfan rasa tidak ada yang aneh. Lantas bergantilah ia mengecek bagian parkiran perempuan, di ulang menit dan detik sebelumnya tenyata aman-aman saja.
Berikutnya adalah parkiran laki-laki, baru beberapa detik di undur, netra Lutfan menyipit. Mardiyah bersama Aryandra. Secepatnya Lutfan memundurkan pada tiga puluh menit yang lalu. Di mana lelaki itu datang bersama Mardiyah. Lutfan tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi detik demi detik berlalu. Netranya melebar saat melihat Aryandra berani menyentuh lengan Mardiyah, detik berikutnya lelaki itu mendorong Mardiyah dan memasukannya pada mobil.
Kurang ajar! batin Lutfan.
Kaca mobil itu benar-benar gelap. Lutfan tidak bisa melihat apa yang Adyuta sialan itu lakukan pada Mardiyah! Napasnya tersengal-sengal, menahan emosi. Bahkan satu menit berlalu Mardiyah tidak kunjung keluar, dua menit, tiga menit, hingga empat menit. Akhirnya Mardiyah keluar dengan berlari.
Bajingan! Berani dia macam-macam sama Mardiyah? batin Lutfan dengan menggepalkan tangannya.
Lutfan telah merekam bagian itu. Selanjutnya ia hapus menit dan detik di mana kejadian Aryandra dan Mardiyah.
Kemudian ia mendekati Cak Sur. "Cak, Cacak."
"Nggih, Mas?"
__ADS_1
"Saya keluar, ya Cak?"
Cak Sur mengangguk. "Nggih, Mas."
Tujuannya memang kantor Umma Sarah. Namun tidak untuk bertemu dengan Ummanya, melainkan bertemu dengan laki-laki kurang ajar itu!
Mentang-mentang lo kaya bisa seenaknya di panti asuhan ini? batin Lutfan.
...🌺...
"Bapak Aryandra Adyuta?"
Lelaki itu menengok, saat namanya di sebut. Terurung sudah niat untuk memasuki mobil. "Iya?"
"Bisa bicara?" ucap Lutfan.
Aryandra mengangguk. "Kamu anaknya Umma Sarah?"
"Ya."
"Ada urusan dengan saya?" ujar Aryandra.
Lutfan menatap lurus tepat di netra lelaki itu. "Apa yang anda lakukan di panti asuhan ini, Pak?"
Kening Aryandra mengerut. "Apa maksud kamu?"
Aryandra mengangguk paham. "Mardiyah mengadu?"
"Apa saya menyebutkan nama?" Lutfan menatap datar lelaki di depannya. "Anda sadar diri atas kesalahan anda, Pak?"
"Ah, atau kamu ... melihat dari cctv?" ujar Aryandra dengan mendekati Lutfan. "Hei, berhenti ikut campur dengan urusan orang dewasa."
"Saya tahu. Kamu ini baru saja lulus sekolah. Bocah ingusan, tidak boleh melewati batasan," bisik Aryandra tepat di telinga kiri, dan secepatnya berbalik, memasuki mobil dan meninggalkan pelataran panti asuhan.
Lutfan tersenyum miring menatapi mobil BMW hitam itu melaju. "Bocah ... ingusan?" gumamnya.
Gawainya yang berada di tangan kanan ia hidupkan. Secepatnya ia cari-cari kontak Aldo. Setelah itu ia mengklik tombol panggilan.
"Anjir! Nggak kurang malem lo---"
Lutfan menyanggah, "Do, gue mau tanya."
"Serius lo? Malam-malam gini telepon, mau tanya apa, hah?"
__ADS_1
Lutfan terdiam sejenak. "Aryandra Adyuta. Lo kenal?"
"Dia ponakan tirinya Tante Callista sama Irsyad Adiwangsa, kan? Ngapain sih lo tanya-tanya git---"
"Terus?"
"Harus gue jelasin malam ini, Lut?!"
"Nggak usah bacot, Do. Mau lo gue pecat?" ucap Lutfan datar.
"Gila! Ngancem. Ya, ya gue jelasin." Aldo menjeda. "Dia anaknya Byantara Adyuta sama Khadijah Adyuta, anak kedua dari tiga bersaudara. Dia yang bakal jadi penerus tahta dari bisnis penerbangan keluarga mereka. Terus, apa lagi yang mau lo tahu?"
"Muslim?"
"Menurut lo? Ibunya aja namanya Khadijah, Lut!"
Lutfan mengangguk. "Ada catatan hitam? Kayak keturunan Adiwangsa?"
"Selama ini nggak ada. Adyuta di kenal sebagai keluarga yang dermawan."
"Oke. Makasih," ujar Lutfan dengan memutuskan panggilannya secara sepihak.
Lutfan terdiam sejenak. "Di kenal sebagai keluarga dermawan?" gumamnya.
Lutfan menunduk sejenak, menatap tanah bekas mobil laki-laki itu terparkir dan dengan datar ia bergumam, "Kesopanan yang terlupakan."
^^^
Note:
Usia setelah skip 1 tahun
• Mardiyah 22 tahun.
• Lutfan 19 tahun jalan 20 tahun tapi masih tujuh bulan lagi.
• Aryandra 26 tahun.
Mengenai Lutfan:
Karakter Lutfan ini saya buat manja, lawak, tengil dan tahu tempat. Maksudnya seperti ini, waktu dengan Umma Sarah dia bisa manja-manja (atau dengan Mardiyah kelak) dengan Aldo dkk dia tengil kadang-kadang melawak, dan yang terakhir saat berbicara dengan orang baru semacam Aryandra (semacam Aryandra lho, beda lagi kalau seusianya), dia akan berubah 90 % dalam nada bicara dan juga tatapan. Sama seperti bersama Cak Sur dia bakalan sopan dan tahu tempat.
Mengenai Mardiyah:
__ADS_1
Mardiyah lebih condong seperti perempuan dingin, jutek, cuek dan berbicara seperlunya saja. Tetapi tetap. Dia adalah perempuan. Dia punya air mata serta rasa takut yang bisa saja keluar tanpa di duganya. Senyumannya pun terkadang-kadang hanya muncul untuk sesaat. Itu pun untuk Umma Sarah, Nyonya Harsa, Kak Devina dan Regita.
Sekian.