Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
62 : Keinginan Untuk Kabur


__ADS_3

"Kenapa kamu tandatangani gugatan perceraian itu, Nak?"


Lutfan terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaan Ummanya, ia memutar roda, hingga kursi rodanya berjalan memasuki kamar. Lantas menutup rapat-rapat. Saat berbalik, netranya memandangi kamar ini, yang mana ranjangnya telah berganti menjadi ukuran besar. Janjinya itu telah ia tepati, supaya Mardiyah bisa tidur dengan nyaman.


Namun ini semua untuk apa? Mardiyah tidak ada di sini, setiap hari ia tertidur sendiri diiringi tangisnya yang tak kunjung reda. Sebab sampai sekarang pun Mardiyah tidak berkabar, Aldo telah membantu semampunya, ia tidak bisa memaksa. Dan dua minggu berlalu ia mencari-cari vila itu bermodal screenshot dari story yang di buat Abhimana. Pepohonan hijau berjajar, kursi taman, lampu taman serta rerumputan di bawah tidak bisa membuat orang-orang tahu di mana kah Vila itu.


"Karena itu ... satu-satunya cara bertemu dengan istriku, Umma," gumam Lutfan.


Di pengadilan kita bakal ketemu, Mar. Menurut hukum mungkin gue setuju sama gugatan itu, tapi sampai kapan pun gue nggak bakal ucapin kata talak buat lo, dan detik itu juga, gue bakal bahwa lo pulang, batin Lutfan yang memandangi setiap penjuru ruangan ini, yang terasa asing tanpa adanya Mardiyah.



Bagaimana bisa seseorang meminta dirinya untuk berhenti menangis? Di saat dirinya harus hidup begitu jauh dari Lutfan dan Umma Sarah. Belum lagi surat gugatan perceraian yang telah di tandatangani Lutfan. Mardiyah berpikir ini tidak mungkin, Lutfan tidak mungkin menceraikannya.


Yang Maha Kuasa telah menjadi saksi, bahwa Lutfan akan bersamanya hingga kematian yang memisah. Seluruh tanggungjawab dirinya di tanggung oleh Lutfan, segala hak atas dirinya adalah milik Lutfan. Ia tidak pernah mengizinkan satu orang pun semena-mena memisahkan dirinya dari sang suami. Entah itu Manggala, entah Gautama. Dirinya yakin bahwa bisa segera bebas.


Jika uang adalah segalanya. Maka, di atas itu masih ada Tuhan. Mardiyah yakin doa-doa orang yang menyayanginya akan segera terijabah. Sungguh permintaannya pada Gautama tidak lah main-main. Ia memang ingin bertemu Lutfan, tapi tidak satu kali saja. Melainkan ia ingin bertemu Lutfan seterusnya, dan selamanya bersama.


Para pelayan sore ini memakaikan dress tidur panjang, dengan lengan tiga perempat. Memang tak terlalu menutup, tetapi ini bisa digunakannya untuk melarikan diri. Setelah salat isya ia akan melancarkan aksinya, ada selimut serta ada taplak meja yang salah satunya bisa ia jadikan kerudung.


"Nona Muda Mahika. Ini makanan dan vitamin yang harus Nona konsumsi," jelas Bi Amah.


Setelah benar-benar memastikan pelayan keluar. Ia dengan secepatnya melahap makanan, untuk menambah energi melarikan diri. Sebentar lagi memasuki waktu isya, mukena di siapkan oleh Bi Amah bahkan salatnya pun selalu ditunggui oleh beliau. Mardiyah benar-benar tidak bisa bergerak.


Tok. Tok. Tok.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka perlahan. Sudah ia pastikan itu adalah Bi Amah yang mengantarkan mukena.


"Non, kebetulan Bibi sudah selesai halangan jadi Bibi sama Non bisa jamaah," ujar Bi Amah.


Mardiyah mengangguk. Untung saja seminggu yang lalu infusnya sudah di lepas, jika belum mungkin ia tidak akan bisa kabur.


"Mau tayamum atau wudu, Non?"


"Wudu."


"Silakan, Non. Bibi tunggu di sini."


Mardiyah telah selesai wudu. Hingga keduanya sama-sama melaksanakan salat isya empat rakaat, yang di-imami oleh Bi Amah. Sekitar delapan belas menit berlalu, salat usai, Bi Amah sepertinya pun sudah berdo'a.


"Ya."



Aksinya ia undur di jam sembilan malam, di mana terakhir kali pelayan masuk mengantarkan teh herbal, Mardiyah bersiap mengambil taplak meja yang di tumpu oleh guci-guci. Ia tidak langsung memakainya, melainkan berjalan ke kamar mandi dan mencobanya di sana.


"Lumayan. Nggak harus pakai jarum."


Tangannya membenarkan anak rambutnya yang terlihat. "Kalau aku ikat rambut rapat-rapat, mungkin nggak bakal kelihatan rambutku walau nggak pakai ciput."


"Okay."

__ADS_1


Mardiyah mengambil dan membuang napas. Lantas melepaskan taplak meja itu dari kepalanya dan menyembunyikan di dalam pakaiannya. Sebab ada cctv di kamar ini jelas akan membuat kecurigaan berdasar. "Kalau jendela itu nggak bisa di buka. Aku bakal pecahin, dan lari secepat-cepatnya."


Tok. Tok. Tok.


Suara itu membuat Mardiyah sedikit terkejut dan cepat-cepat membuka pintu kamar mandi.


"Ya?"


"Saya pikir Nona kenapa-napa karena tidak ada suara sendari tadi."


Mardiyah menatap pelayan muda itu. "Ada apa?"


"Saya mengirim teh herbal, Nona."


Mardiyah mengangguk, dan matanya melihat di arah jam. Terlihat pukul setengah sembilan malam, belum tepat jam sembilan, mengapa lebih dulu di antar? "Bi Amah di mana?"


"Beliau tidur, Nona. Beliau kurang enak badan setelah salat isya," jelas pelayan muda itu.


Mardiyah mengangguk. "Kamu boleh keluar."


Setelah lebih kurang dari satu jam ia menunggu dan ia pun mulai melancarkan aksinya, dengan mendekati jendela yang ternyata benar-benar tak ada celah, lantas dengan berbekal kursi meja rias ia melemparnya pada jendela kaca besar itu.


Byarrr.


Berhasil, batin Mardiyah yang cepat-cepat keluar melewati pecahan itu dengan mulai memasang kerudungnya. Dilihat kanan kiri begitu banyak pepohonan, hawa dingin pun menyapu pada kulit tangannya. Ia harus lari ke mana?

__ADS_1


__ADS_2