Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
58 : Dia ... Putrimu ... Mardiyah


__ADS_3

Gautama mematung melihat anaknya yang menunduk, dengan menangis terisak-isak.


"Papa ... keluar. Kamu istirahat, Nak."


Gautama mengeluarkan kunci dari sakunya, lantas membuka pintu dan keluar dari kamar Mardiyah dengan menguncinya lagi. Napasnya tidak beraturan, yang di ucapkan oleh Mardiyah adalah benar. Seharusnya ia sadar bahwa kebahagiaan putrinya adalah hidup bersama suaminya. Bagaimana bisa ia sejahat ini? Bahkan yang dikatakan oleh sang putri benar, ia tidak hanya menyakiti Zanitha saja.


Putrinya benar-benar duplikat dari Zanitha. Surai cokelat panjang, keriting gantung, serta kulit cerah berseri-seri yang sama seperti Zanitha. Gautama bersyukur setidaknya, jika ia tidak memiliki potret bersama Zanitha satu pun, putrinya masih bisa bercermin melihat diri sendiri yang seperti Ibunya.


Zanitha ... apa kamu begitu membenciku? Hingga bahkan kamu tidak sudi memberikan nama untuk putri kita? Tidak ... putrimu, nama untuk putrimu, batin Gautama yang mulai mengusap kedua pipinya.


"Tuan Gautama."


Suara dari pelayan itu menyadarkan Gautama.


"Tuan Manggala meminta pada saya untuk---"


Gautama menyahut, "Untuk apa?"


"Untuk memberikan obat ..." Pelayan itu terlihat menjeda. Bahkan seperti bergetar, sulit untuk melanjutkan ucapannya. "Pencegah kehamilan."


Pencegah kehamilan? batin Gautama dengan menatap datar. "Diberikan pada?"


"Nona Muda Mahika."


Percuma, Pa ... jika anakku sudah melakukan itu dengan Lutfan. Biarlah saja dia mengandung. Biarlah saja satu kenangan itu yang dia punya dengan suaminya. Setidaknya dia tidak akan terlalu membenciku, karena terlalu menurut padamu, Pa, batin Gautama yang langsung mendekatkan tangan kanan pada pelayan, lantas membuka telapak tangan. "Mana obat itu?"


"I-ini, Tuan." Pelayan paruh baya itu menyerahkan sebotol obat pencegah kehamilan pada Gautama. Yang mana sedetik kemudian Gautama buka penutup botol, lantas mengeluarkan obat-obatan itu dan menginjak-injaknya sampai tak beraturan.


Setelahnya Gautama menatap pelayan itu dengan tajam. "Dengar. Obat apa pun, entah pencegahan kehamilan, entah obat penggugur kandungan. Jangan pernah berikannya pada dia. Tuanmu itu aku. Jangan turuti siapa pun selain aku."


"Ba-baik, Tuan."


Tidak lama terdengar suara ketukan dari dalam kamar yang dihuni oleh Mardiyah.


"Buka! Buka pintunya!"


Gautama hanya menengok sekilas dan kembali berujar, "Beri dia makanan yang cukup dan bergizi."


"Baik, Tuan."



Lutfan sudah tahu bahwa itu semua adalah kebohongan. Seharusnya larangan ia tunjukkan secara gamblang, seharusnya ia tidak berpura-pura untuk menyetujui, dan seharusnya ia ikut bersama Mardiyah. Langit malam ini nampak mendung, hujan sepertinya hendak turun dan hingga pukul delapan malam pun sang istri tiada kunjung kembali pada pelukannya.


"Nak ..."


Lutfan tahu bahwa yang datang adalah Ummanya.


"Umma ... mereka bawa Mardiyah," ujar Lutfan. Sedetik kemudian ia menunduk melihat kakinya yang tidak berguna dengan baik. Belum lagi fakta bahwa sang istri tidak kunjung kembali, ponsel yang biasa ia gunakan untuk menghubungi Mardiyah pun tidak aktif lagi semenjak siang tadi. "Umma ... gimana Mardiyah sekarang? ... Lutfan kangen sama dia."

__ADS_1


Umma Sarah mendekat, mengusap-usap lembut kepala sang anak.


"Harusnya Lutfan nggak ngizinin dia pergi. Harusnya Lutfan larang dia aja, Umma ..." Lutfan menjeda dengan memegang kuat kursi rodanya. "Besok ... Lutfan mau ke kota. Lutfan mau bawa pulang Mardiyah. Lutfan ..."


"Umma bakal anter kamu, Nak. Umma janji, kita bisa bawa pulang Mardiyah," sahut Umma Sarah.


Lutfan mengangguk-angguk. Kemudian Umma Sarah berpamitan untuk kembali kamar, sedangkan Lutfan masih berdiam diri menatapi langit yang mulai menurunkan hujan. Tangannya mengambil gawai yang berada di saku, di bukannya galeri lantas netranya menangkap satu foto di sana.


"Jangan tinggalin gue, Mar. Please, gue ... gue sayang sama lo." Lutfan menggeleng pelan. "Gue nggak bisa pisah sama lo. Gue bohong ... gue bohong soal perceraian itu. Gue nggak akan pernah cerain lo. Sekalipun gue lumpuh seumur hidup, kalau lo masih mau jadi istri gue ... gue bakal pertahanin lo. Gue nggak akan cerain lo, Mar."



"Nona Muda Mahika."


Mardiyah menatap pada pelayan yang masuk.


"Saya akan mengganti makanan ini. Mohon Nona Muda segera---"


Mardiyah menyahut, "Saya nggak butuh makanan itu. Saya mau keluar dari sini!"


"Nona Muda Mahika---"


Mardiyah berteriak, "Jangan panggil saya dengan panggilan seperti itu!"


Tidak lama pintu terbuka lagi. Seorang dokter perempuan dan beberapa perawat memasuki kamar Mardiyah, lantas dengan kuat-kuat memegangi Mardiyah dengan menyuntikkan infus.


"Nona Muda, tolong tenang. Saya hanya berniat memasang infus saja."


"Nona---"


"Saya nggak mau!"


Para perawat benar-benar memegangi dengan kuat, hingga jarum infus menemukan jalannya dan telah terpasang. Mardiyah terlihat tenang kembali, berhenti memberontak dan di rebahkan perlahan oleh salah satu perawat.


Pandangan Mardiyah buram, genangan air memenuhi pelupuk matanya. "Lutfan ..."


"Nona Muda, anda harus istirahat."


Mardiyah benar-benar lemas, ingin sekali memejamkan mata. Sepertinya bukan hanya infus saja, ada cairan lain yang sengaja disuntikan untuknya. Perlahan-lahan ia terpenjam dan gelap.


Dokter dan perawat telah pergi. Mardiyah sendirian. Sedangkan Gautama berniat untuk kembali ke rumah, namun netranya menangkap anak kembar yang merupakan darah dagingnya tengah berdiri di hadapannya.


"Kalian ikut?"


Abhimata menjawab, "Iya. Setidaknya kita ingin melihat bagaimana cara Papa memperlakukan anak perempuan Papa itu."


"Abhimata, Abhimana." Gautama menjeda dengan menghela napas dan menatapi anaknya bergantian. "Kalian boleh untuk merasa marah dan kecewa pada Papa. Tapi jangan pernah kalian menyakiti dia."


Abhimana tertawa. Tawa yang terdengar seperti hinaan yang di siratkan untuk sang Ayah. "Apa yang Papa bilang? Kita boleh marah? Kita boleh kecewa? Tapi jangan sakiti dia?"

__ADS_1


"Terus ... yang Papa lakuin ke dia itu apa?" imbuh Abhimana yang detik itu juga pergelangan tangannya di genggaman oleh Abhimata, seolah menahan saudaranya untuk berujar lagi.


Gautama terdiam sejenak, tatapan berubah tajam. "Abhimana, Papa peringatkan padamu. Rajendra tidak boleh tahu bahwa dia tinggal di vila ini."


Setelah mengucapkan itu Gautama berlalu pergi, meninggalkan sang anak yang masih berdiri menatapi pintu kamar yang terkunci rapat.


"Lo empati?"


Abhimana mengerut kening. "Maksud lo? Gue empati ke cewek itu?"


"Iya."


"Enggaklah! Gila!"


Abhimata tak berekspresi, dengan masih menatapi kamar Mardiyah yang tertutup rapat. "Lo boleh empati ke dia. Lo boleh kasihan. Karena menurut gue ... dia patut di kasihani, Bhimana."


"Tapi gue nggak ka---"


"Lo bohong." Abhimata menjeda. "Kakek, Papa, Kak Rajendra. Mereka sama. Mereka nggak bisa di tentang, mereka tega, dan kalau gue bisa jujur mereka sama-sama kasar dan ... gila."


Abhimana terdiam mendengar.


"Gue tahu lo masih waras. Gue tahu lo nggak akan setega itu sama dia. Gue tahu, Bhimana." Abhimata berjalan mendekati pintu kamar Mardiyah. "Kalau dipikir-pikir lagi, dia salah apa sih? Kalau dia bisa minta pun dia nggak bakalan mau lahir sebagai anak Papa. Dia nggak akan pernah mau lahir sedarah sama kita."


"Terus apa perlu gue jelasin lagi, Bhimana?"


Abhimana menyahut, "Nggak usah. Kalau lo jelasin lagi. Lo bakal maki-maki gue terus."


Di sentuhnya pintu kamar itu oleh Abhimata. "Kakek sama Papa. Mereka pisahin dia dari Lutfan. Dari suaminya, Bhimana. Kalau sekedar pacaran pun, mungkin nggak akan ngaruh di hidup dia ataupun Lutfan. Tapi mereka udah nikah, jiwa mereka itu satu. Gue yakin, selama dua puluh tiga tahun dia hidup, itu pasti cuma untuk Ibu pantinya sama Lutfan aja. Selebihnya, dia nggak pernah berharap ketemu sama Ibunya atau pun sama Papa kita."


"Terus ... lo mau gimana? Ini semua keputusan Kakek sama Papa, Bhimata. Kita nggak bisa nentang ini semua," tanya Abhimana.


Abhimata mengangguk, dan berbalik menatap saudaranya. "Kita emang nggak bisa nentang. Tapi seenggaknya kita bisa ... sering datang ke sini, buat lihat keadaan dia, bukan buat maki-maki dia. Atau kalau perlu kita bisa ngabarin Lutfan---"


"Nggak. Kalau lo ngabarin Lutfan. Kakek sama Papa bakal tahu. Belum lagi Kak Rajendra juga bakal tahu," sahut Abhimana.


Abhimata mengangguk. "Kalau gitu. Cukup kita dateng. Cukup kita lihat keadaan dia, jangan sampai Kakek ataupun Papa melewati batasan mereka."


"Maksud lo?"


Abhimata sekilas melirik dapur. "Bukan apa-apa. Gue cuma nggak mau dia kenapa-napa."


^^^


Note:


Saat kejadian itu terjadi.


Usia Gautama : 25 tahun. (Sekarang 48 tahun)

__ADS_1


Usia Zanitha : 20 tahun. (Wafat)


__ADS_2