Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
53 : Gagal


__ADS_3

Gagal.


Seperti yang Lutfan katakan, jika sakit sekali lebih baik berhenti. Mardiyah memenuhi itu, karena sungguh ia benar-benar kesakitan. Tiada pernah dipikirnya bahwa akan sesakit ini, saat mencoba beberapa kali pun ia merintih dan tanpa sadar mengeluarkan air mata. Sehingga Lutfan tidak mengizinkannya untuk melanjutkan lagi.


Mardiyah masih tak turun dari atas Lutfan. Bahkan istirahat, duduk di atas pangkuan dengan bersandar pada bahu suaminya. Tangannya melingkar pada tengkuk, sedangkan wajahnya ia sembunyikan di leher Lutfan.


"Maaf," lirih Mardiyah.


Lutfan masih diam, tangan kuning langsatnya melingkar sempurna di pinggang kecil Mardiyah. "Nggak usah minta maaf."


"Kalau pun ada yang harus minta maaf. Orangnya itu gue, Mar." Lutfan menjeda. "Maafin gue yang nggak guna---"


Mardiyah spontan mengangkat wajahnya dan membungkam Lutfan dengan menggunakan tangan. "Bicara apa sih kamu ini?"


Lutfan menggeleng, dan menarik pelan tangan Mardiyah untuk lepas dari mulutnya. "Habis ini magrib, sana lo mandi."


"Mau mandi sama---"


"Enggak. Gue ke kamar mandi dapur aja, lo mandi di sini." Lutfan melihat Mardiyah mengangguk dan turun perlahan-lahan dari pangkuannya. "Sa-kit?"


Mardiyah mengangguk kecil. Lingerie-nya sudah ia pakai sendari tadi, tanpa turun. Saat ia berdiri hendak berjalan, ia refleks merintih kesakitan.


"Mar ..."


Mardiyah menengok. "Saya nggak pa-pa."


Lingerie hitam yang memiliki lengan setipis itu memang sangat pantas di gunakan Mardiyah. Jelas menambahkan pesona serta ketertarikan lebih dirinya terhadap sang istri. Pandangannya tak lepas dari Mardiyah yang berusaha berjalan perlahan-lahan dan memasuki kamar mandi.


Kalau gue nggak lumpuh. Rumah tangga kita nggak akan serumit ini, Mar. Bahkan Pak Manggala bilang, kalau gue nggak lumpuh, beliau suka rela ngelepasin lo buat gue. Tapi akhirnya gini Mar ... gue bener-bener takut mereka bawa lo, batin Lutfan yang tanpa sadar menetes air mata. Dirinya lemah untuk sesuatu hal yang menyangkut Umma dan istrinya---lebih tepatnya Mardiyah.


"Ya Allah ..."


Terdengar gemericik air dari dalam. Mardiyah sudah memulai mandinya, sedangkan Lutfan, berusaha turun dari ranjang. Jika bergerak memindahkan tubuhnya dari kursi roda yang sudah dekat saja ia tak bisa. Maka di mana letak dirinya berguna untuk hidup?


Brak!


"Akhhh," rintih Lutfan saat merasa tangannya tergores besi yang berada di kursi roda. Dirinya menunduk, mengusap beberapa kali mata. Sungguh tidak berguna, bagaimana ia bisa jatuh? Bahkan untuk bertahan beberapa detik saja ia tak bisa.


"Lutfan!" Entah Lutfan tak menyadari kapan Mardiyah keluar dan berlari menghampirinya hanya dengan menggunakan handuk putih yang terlilit. Wajah yang masih basah bekas sang istri mandi pun masih menetes, raut wajah itu sangat khawatir. "Ya Allah ... gimana bisa kamu ... saya bantu berdiri dulu. Kamu pegang saya kuat-kuat."


Lutfan telah duduk di atas ranjang, lantas menatap Mardiyah dan berbicara, "Gue nggak pa-pa."


"Maaf. Harusnya tadi sebelum masuk kamar--"


"Apasih Mar. Jangan minta maaf. Lo nggak salah apa-apa."


Mardiyah melepas tangannya dari lengan kiri Lutfan. Kemudian mengambil duduk di samping dan berujar, "Kamu mandi di kamar mandi dalam aja, ya? Kalau di dapur jauh. Saya bantu. Kamu nggak boleh nolak."


"Ayo, berdiri pelan-pelan," lanjut Mardiyah dengan berdiri menuntun Lutfan duduk di kursi roda.



Tiada pilihan selain menurut. Mardiyah membuka pakaian yang berada di tubuh Lutfan. Maksudnya salah satu kain yang melekat di tubuh Lutfan. Yaitu sarung hitam motif kotak-kotak yang digunakan tadi. Kursi roda telah di jauhkan dari jangkauan shower, supaya tak terbasahi air. Sedangkan Lutfan duduk di kursi plastik yang telah disediakan di kamar mandi, lalu Mardiyah berdiri siap menghidupkan shower dengan handuk yang masih meliliti tubuhnya.


Harusnya gue nggak malu, batin Lutfan yang memperhatikan Mardiyah cekatan merawatnya.


"Sudah baca niat?"


Lutfan bergumam membaca niat. Sedangkan Mardiyah mengambil sabun dan shampoo yang terdapat di laci dekat kursi roda.


"Sudah?"


Lutfan mengangguk tanpa menatap netra Mardiyah.


"Saya hidupi shower-nya, ya?"


Lutfan mengangguk.


"Sudah. Saya nunggu di sana, ya?" Mardiyah menunjuk kloset duduk. "Saya janji nggak bakalan hadap kamu. Saya tahu kamu malu."


Pipi Lutfan memerah padam, namun sekaligus ada getaran-getaran aneh yang menggelitik hatinya. Jelasin dari mananya yang lo merasa beruntung punya gue, Mar? Sedangkan ... di mata gue, dalam pandangan gue sendiri, gue yang bener-bener beruntung punya istri kayak lo, batin Lutfan dengan menatapi Mardiyah yang mulai berjalan menuju kloset dan duduk di sana.


Sekitar lebih dari delapan menit. Akhirnya Lutfan bersuara. "Mar ..."


"Sudah?"


"Iya. Udah. Lo boleh hadap gue."


Mardiyah menghadap langsung pada Lutfan. Lantas bangkit dan mendekat. "Oh iya, belum sikat gigi. Saya ambilin pasta giginya dulu."

__ADS_1


"Makasih." Lutfan menerima, dan menunjuk gayung yang tergantung di dinding dengan cermin. "Gue kalau sikat gigi emang pakai ini biasanya."


Tak sampai dua menit lebih Lutfan telah usai mengosok gigi. Entah suaminya itu mendapatkan handuk kecil dari mana. Sebab handuk itu telah menutupi bagian bawah Lutfan dengan sempurna.


"Lo ... udah mandi?"


"Saya belum cuci rambut. Kamu sudah selesai?"


"Udah. Tolong ambilin kursi rodanya, Mar." Mardiyah mengambil kursi roda. Lantas membantunya duduk di sana dengan tangannya yang memegang erat-erat pinggang Mardiyah. "Haaa. Makasih."


"Kakimu sakit?"


Lutfan menggeleng. "Enggak."


"Ya udah. Saya anter kelu---"


"Enggak usah. Lanjutin mandi lo. Gue bisa keluar sendiri. Bentar lagi azan ini, gue nggak mau lo sampai telat solat gara-gara gue," tutur Lutfan.



Seperti yang ditebaknya.


Mardiyah tadi telah melaksanakan salat magrib, begitupula dengan salat isya. Sebab saat azan berkumandang Abian datang dan ia langsung berbicara bahwa hari ini ia ingin salat magrib dan salat isya berjamaah di rumah, bersama-sama dengan Mardiyah. Sebab tadi di karena jatuhnya dari ranjang membuat tangannya tergores. Bahkan terkena luka-luka bekas kecelakaannya dulu.


"Kalau ada apa-apa, harusnya kamu manggil saya. Jangan maksa turun ranjang sendirian lagi," ujar Mardiyah pelan.


"Iya."


Ditatapinya sang istri yang sekarang sibuk menyuapi makanan ke dalam mulutnya.


"Mau minum?"


Lutfan mengangguk. "Gue lagi mau ... es teh, Mar."


"Boleh. Saya buatin dulu, ya? Tunggu."


Mardiyah pergi. Istrinya itu benar-benar cakap dalam segala hal, jelas jika ia pikir-pikir lagi memang dirinya lah yang merasa beruntung.


Kling!


Gawainya yang tergeletak di ranjang berbunyi. Ada satu notifikasi masuk pesan dari Aldo ternyata.


Aldo


Aman sentosa alhamdulillah


^^^Oke thanks^^^


^^^Jangan lupa lo kirim laporan penjualnya^^^


Aldo


(Kirim dokumen)


Gue lagi males buka email, jadi gue kirim lewat wa.


^^^Santai. Gapapa^^^


Aldo


Oh iya Lut, temen gue mau ke pesantren katanya


^^^Siapa?^^^


Aldo


Linggar, Lingga, sama Vincent


Lutfan terdiam sejenak. Linggar dan Lingga? Keturunan Adiwangsa dari pihak Gumira Adiwangsa. Ya, sebenarnya mereka berdua baik. Tapi apakah tidak apa-apa? Jika kedua anak kembar itu berkunjung ke pesantren di saat situasi seperti ini? Dirinya menggeleng, mungkin saja Linggar dan Lingga tidak tahu. Harusnya ia menyambut dengan hati gembira atas kedatangan teman-temannya.


^^^Bentar.^^^


^^^Maksud lo Vincent?^^^


Aldo


Dia ikutan cuma satu hari doang


Sekalian mau lihat panti asuhan katanya

__ADS_1


Lingga Linggar sama gue mungkin seminggu menetap. Gapapa kan?


^^^Oh ya bilang dong^^^


^^^Gue kan agak syok^^^


Aldo


Ngapain syok? Santai


Lagian dia nggak punya keyakinan


Kali-kali dapat hidayah. Aamiin gitu.


^^^Aamiin^^^


^^^Btw, kapan lo mau pesantren?^^^


Aldo


Rencananya besok


Gue juga udah cukup istirahatnya


^^^Oke^^^


^^^Gue tunggu^^^


Langkah kaki Mardiyah mendekat. Lutfan meletakkan gawainya dan menatap sang istri membawa dua gelas kaca berisi es teh manis.


"Ini."


Lutfan mengambil es teh manis dan meneguk sedikit. "Ahhh. Enak banget. Ya Allah ..."


"Sudah berapa hari kira-kira kamu nggak minum es?"


Lutfan menatap dinding berpikir. "Harusnya ganti pertanyaan lo. Udah berapa minggu gue nggak minum es ... kalau gue hitung-hitung mungkin dua mingguan, Mar."


Mardiyah hanya tersenyum tipis.


"Mar, Umma di mana?"


"Beliau di kamar. Tadi saya juga buatin Umma teh hangat."


Lutfan mengangguk-angguk. Sehingga tanpa sadar terjadi kebisuan beberapa menit, Lutfan sibuk meneguk es tehnya hingga habis. Sedangkan Mardiyah bermain gawai dan meneguk es teh perlahan-lahan, dan menyisakan sedikit.


"Mar ..."


Mardiyah menatap Lutfan. "Hm?"


"Apa ..." Lutfan menelan salivanya. "Itu a-anu sakit? Ma-maksud gue lo masih sakit?"


Seulas senyum tipis Mardiyah tunjukkan, tangannya pun dengan sadar mengusap-usap surai depan suaminya. "Kamu tanyanya sampai gitu banget, sih. Alhamdulillah nggak sakit lagi kok."


"O-oh. Syukur deh."


"Kenapa? Mau coba lagi?"


Spontan Lutfan menggeleng cepat.


"Kok geleng gitu? Nggak mau?"


"Ya ya ma-maksud gue ... gue refleks. Bukannya nggak mau. Terus juga, ya masih ada besok-besok 'kan?"


Mardiyah mengangguk dan berujar, "Kalau gitu. Besok kita coba lagi, ya?"


Anjir ... jantung gue, batin Lutfan yang langsung membuang muka, dengan tangan yang memegang gelas erat-erat.


"Mau nggak?" tanya Mardiyah, lagi.


Lutfan berujar lirih, "Ya ayo. Asal lo nggak sakit lagi."


Mardiyah meneguk es teh manisnya lagi. Lalu meletakkan gawainya di samping ranjang. "Katanya, kalau sakit kurang peluma---"


"Mar ... apasih bahasan lo ini."


Mardiyah menatap Lutfan heran dengan mengerutkan kening. Dia kenapa? Malu membicarakan ini? batin Mardiyah yang mengerjap berkali-kali. "Saya cuma mau memperjelas sesuatu, Lutfan. Memangnya kenapa dengan pembahasan kita ini?"


Akhh ... gila. Kenapa di sini jadi gue yang polos banget sih?! batin Lutfan yang ingin menenggelamkan diri saja karena malu. "Besok aja. Waktu mau ngelakuin itu bahasnya. Sekarang jangan. Gue nggak mau denger dan bahas ini."

__ADS_1


__ADS_2