Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
67 : Surat Menyurat


__ADS_3

Setelah Abhimata keluar. Mardiyah perlahan merobek ujung amplop putih dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya, lantas membuka dua lipat kertas, hingga nampak tulisan tangan yang benar-benar milik Lutfan.


"Gue nggak tahu, Abhimata serius atau pun nggak. Kalau serius, mungkin surat ini udah ada di tangan lo, Mar."


Satu jeda dalam kertas itu. "Lo baik-baik aja, kan? Gue mau denger lo bilang, kalau lo baik-baik aja, Mar. Gue kangen suara lo. Gue nggak bisa tidur, selalu aja kebangun malam-malam."


"Lo janji sebentar. Tapi mereka nggak bawa lo pulang. Dan saat lo bales surat ini. Gue minta, ceritain detail gimana bisa mereka bawa lo. Gue bakal tuntut mereka kalau sampai ternyata lo di aniaya," lanjut surat itu yang terakhir.


Netra Mardiyah berkaca-kaca. Ini benar-benar Lutfan, tulisan suaminya. Jadi, apakah Abhimata mengizinkan Lutfan menghubunginya? Ia tak lagi bisa membendung air mata, seketika saja ia mengangkat secarik kertas dan memeluknya.


Abhimata ... batin Mardiyah yang langsung menatap pada pintu kamar. Kemudian ia bangkit dan mengetuk-ngetuk pintu itu. "Abhimata! Tolong panggilkan Abhimata!"


Clek.


Mardiyah memundurkan diri. Pintu terbuka dan Abhimata masuk.


"Ada apa?"


"Ini ..." Mardiyah menunjukkan surat itu. "Benar-benar dari Lutfan, Abhi. Kamu ... kamu beneran---"


"Balas surat itu, Kak. Nanti aku kasih ke Lutfan," sanggah Abhimata yang langsung ke luar.



Surat balasan telah selesai ia tulis. Tinggal menunggu Abhimata memberikannya pada Lutfan. Sungguh ia tidak pernah menyangka bahwa Abhimata benar-benar memberi kabar tentang dirinya pada Lutfan. Ia tak lagi merasa sedih, ia merasa bahwa bahagianya akan datang kembali.


Sesuai perintah dari Gautama juga bahwa beliau mengizinkan dirinya untuk keluar berkeliling vila bersama pelayan muda itu.


"Nona anda ingin di buatkan sesuatu?"


Mardiyah menggeleng.


"Nona---"


Mardiyah menyanggah, "Siapa namamu?"


"Mee-ra, Nona," lirih Meera.


Mardiyah menatapi Meera dari atas sampai bawah. Bukan berniat menghina, tetap jika di lihat-lihat Meera ini memang masih sangat muda.


"Berapa umurmu?"


"Delapan belas, Nona."


"Baru lulus sekolah?"


Meera menggeleng. "Saya berhenti sekolah, Nona."


Mardiyah hanya mengangguk-angguk, tanpa berniat bertanya lebih dalam. Ia sempat mendengar bahwa Abhimata dan Abhimana berbincang tentang pelayan muda bernama Meera ini. Kalau sekiranya Abhimata atau Abhimana menyukai dia ... apa Nyonya Cecilia akan setuju? batinnya yang langsung memutus kontak mata dengan Meera.


"Meera ..."

__ADS_1


"Iya, Nona?"


Mardiyah mengambil duduk di kursi taman. "Duduk sebelah saya."


"Ta-tapi---"


"Duduk."


Meera mengangguk dengan sungkan mengambil duduk di samping. "Saya duduk, Nona."


Terdiam beberapa detik, Mardiyah berujar, "Kamu ... punya orang tua?"


"Saya yatim piatu." Meera menjeda. "Saya tinggal bersama dengan Kakak saya, Nona."


"Lalu kakakmu di mana? Kenapa kamu bekerja dan tidak sekolah?"


Meera terdiam. "Sa ... saya---"


"Tidak usah dijawab, kalau kamu tidak ingin menjawab. Karena sepertinya pertanyaan saya terlalu pribadi," sanggah Mardiyah yang langsung membuat Meera diam dengan sesekali menunduk meminta maaf.


Ia menengadah, langit semakin menunjukkan bintang-bintang yang kian malam kian terang. Sama-sama membisu, hanya helaan napas yang terdengar. Meera mungkin takut untuk berujar lagi. Sedangkan dirinya hanya tidak ingin memulai pembicaraan yang sekiranya akan merujuk pada hal-hal pribadi.


"Nona ..."


Mardiyah menengok pada Meera.


"Kalau ... Nona merasa kesepian Nona bisa bercerita a-atau berbicara apa pun pada saya. Ya ... ya walau pun saya tidak seumuran dengan Nona setidaknya saya sedikit lebih muda di bandingkan pelayan-pelayan lain yang mungkin me-membuat Nona sedikit tidak nyaman untuk berbicara," ujar Meera dengan sedikit terbata-bata.


"Meera, tidak perlu saya jelaskan pun kamu sudah bisa menebak bahwa saya kesepian, kan?" Mardiyah menjeda. "Saya tidak butuh berbicara apa pun pada kamu. Saya hanya butuh keluar dari sini dan bertemu dengan suami saya saja."


Meera menjawab, "Maaf atas kelancangan saya, Nona. Apa Tuan Gautama bukan Ayah Nona? Kenapa Nona begitu ... tidak mau tinggal di sini?"


Kamu sadar kamu lancang, Meera, batin Mardiyah yang seketika menatap lurus ke depan, semilir angin terasa menyapu wajah hingga kerudung yang di pakainya. "Dia Ayah saya. Ayah biologis saya."


"Ayah ... biologis?" Kening Meera mengerut. Kemudian tiba-tiba kembali dan seketika ia menunduk. "Ma-af, Nona."


"Tidak perlu meminta maaf."


Meera tiba-tiba saja bangkit. "Nona, saya buatkan jeruk hangat, ya?"


"Iya."



Sepulang salat isya. Lutfan berencana mengunjungi pesantren, saat hendak keluar dari gerbang, terlihat ada seorang laki-laki yang seperti kebingungan di depan gerbang.


"Cak Sur, orang itu kayaknya mau cari alamat deh," ujar Lutfan yang meminta Cak Sur menghentikan laju mobilnya.


Cak Sur izin keluar dan Lutfan memandangi dari dalam. Orang itu seperti menyerahkan sesuatu pada Cak Sur sesekali saling melempar senyum. Hingga laki-laki itu pamit, menaiki motornya.


Cak Sur masuk. Lutfan langsung menghadang dengan bertanya, "Tanya alamat, Cak?"

__ADS_1


"Nggeh, Mas." Cak Sur berbalik, dan memberikan tas yang terbuat dari kertas cokelat tebal pada Lutfan. "Itu kurir Mas. Nganterin bingkisan ini buat Mas. Cacak ndak tahu isinya apa, kurirnya cuma bilang dari Abhimata."


Abhimata? batin Lutfan yang masih belum sadar. Setelah beberapa lama berpikir, netranya melebar, cepat-cepat ia buka tas itu yang berisi amplop.


Jangan-jangan amplop ini ... balasan dari Mardiyah? batin Lutfan yang langsung merobek pucuk amplop itu dan membuka lebar lembaran kertas yang di lipat dua. Lantas terlihatlah tulisan tangan yang sangat-sangat di kenalnya.


"Mas Lutfan, sudah sampai pesantren."


Lutfan langsung tersadar. "I-ya, Cak."



"Lho Lutfan? Dateng ke sini kok nggak bilang-bilang Nak? Kan bisa di jemput sama Masmu. Tadi di antar sama siapa?" tanya Bibi Salamah.


Lutfan tersenyum. "Anu, Bi. Di antar sama Cak Sur. Cuma Lutfan minta turun di depan gerbang aja."


"Kamu cari Masmu ta?"


"Iya, Bi."


"Aduh, Masmu baru aja keluar." Ummi Salamah menjeda dan mendorong masuk kursi roda Lutfan. "Tapi nggak pa-pa, kamu nunggu di sini aja, ya? Apa di kamar tamu aja, Nak? Biar bisa tidur-tiduran?"


Lutfan ingat ingin membaca surat dari Mardiyah. Lantas dengan sungkan ia berujar, "Di kamar tamu aja, Bi. Sekalian Lutfan mau ke kamar mandi sebentar."


"Ya sudah, Bibi antar."


Memasuki kamar tamu Bibi Salamah langsung keluar. Beliau pamit ingin ke kantor pesantren sebentar. Sedang dirinya, membuka kembali tas itu langsung mengambil secarik kertas yang terdapat tulisan Mardiyah di sana.


"Assalamualaikum. Jawab dulu salam saya. Baru lanjutkan membaca suratnya," tulis Mardiyah di awal surat.


Seketika senyum bahagia ia tunjukkan. "Waalaikumussalam."


"Saya nggak mau menceritakan detailnya. Saya sekarang cuma mau marahi kamu. Jahat kamu, Lutfan! Bisa-bisanya kamu cuma menulis sesingkat itu, kamu sepertinya nggak khawatir sama sekali sama saya. Kamu jahat!"


Ia spontan tertawa, ingin menangis juga. Jika sekiranya Mardiyah yang langsung berbicara pasti akan terlihat menggemaskan, karena jarang-jarang Mardiyah yang bersikap dingin merengek-rengek seperti ini.


"Hampir dua minggu kita nggak ketemu. Saya mau tahu tentang kamu selama dua minggu ini. Tapi kamu cuma nulis surat sesingkat itu saja. Kamu ini nggak merasa kehilangan saya, ya? Atau apa? Saya kesel sama kamu! Saya mau pukul kamu, Lutfan!"


"Apaan sih, Mar! Jelas gue kangen jelas gue ngerasa ada yang hilang. Dasar ... pikiran lo itu," gumamnya.


Terdapat jeda di surat. "Mau saya lanjutkan cerita tentang Ratu dan suaminya? Biar sekalian kamu capek baca surat saya yang panjang ini."


Lagi-lagi ia tersenyum, saya membaca setiap kalimat yang dituliskan Mardiyah.


"Kamu tahu? Di hari Tuan Muda Lind ingin menceraikan Yang Mulia Ratu Vashti ternyata seorang tabib kehormatan Baga Narasimha mengabarkan bahwa Sang Ratu tengah mengandung pewaris tahta kerajaan krisan."


Mardiyah memberi jeda. "Beliau mengandung, Lutfan. Beliau mengandung seorang anak dari lelaki yang dicintainya. Tetapi sayangnya, lelaki itu tega meminta perpisahan hanya karena tekanan dari rakyat Negeri Bunga saja."


Seketika Lutfan terdiam. Dongeng karangan Mardiyah selalu saja berpatok pada kisah nyata. Ya ... nyata. Seperti waktu itu. Apa mungkin sekarang Mardiyah? Spontan ia menggeleng. "Enggak-enggak mungkin. Lagian ... kita baru ngelakuin itu sekali. Nggak mungkin. Ini nggak mungkin."


"Jelaskan pada saya, Lutfan. Kalau surat gugatan perceraian itu bohong! Kamu nggak mungkin menceraikan saya 'kan? Jahat kamu, kalau sampai tanda tangani surat gugatan itu, cuma karena tekanan dari Pak Manggala. Saya nggak akan pernah maafin kamu kalau sampai apa yang saya pikirkan itu benar. Saya benar-benar nggak akan maafin kamu, Lutfan," akhir dari surat Mardiyah.

__ADS_1


__ADS_2