
Mardiyah telah kembali terbaring di brankar. Cecilia langsung menarik anaknya untuk keluar, Rajendra benar-benar keterlaluan, seperti bukan anaknya saja. Sikap itu, milik siapa? Cecilia terus bertanya-tanya. Dirinya selalu bersabar, karena tidak pernah di-izinkan oleh Gautama, dan Manggala untuk mengetahui masalah-masalah anaknya. Namun ia sadar anaknya yang paling bermasalah bukanlah Abhimana. Melainkan, Rajendra.
Sebagai seorang wanita, lebih-lebih ia telah menjadi Ibu. Ia sangat memahami perasaan Mardiyah. Bahkan ia telah merasa benih-benih kasih sayangnya telah tumbuh untuk anak perempuan dari suaminya itu. Cecilia jujur, ingin memiliki anak perempuan, harapan besarnya dulu menikahi Gautama adalah memiliki seorang putri yang akan ia rawat tanpa luka batin, apalagi fisik.
Ia ingin memberi seluruh kasih sayang nyata yang tidak pernah dirinya dapat dulu sebagai putri pada Mardiyah. Namun yang dilihatnya sekarang ini apa? Rajendra berani menyakiti Mardiyah.
"Dia anak haram Papa sama pelac*urnya, Ma. Aku nggak apa-apain dia---"
Cecilia menyanggah, "Ulangi lagi. Kamu bilang, apa?!"
"Mama marah, ya?"
Astaga anak ini, batin Cecilia dengan menggeleng tak habis pikir. "Kamu ini sudah besar, Rajendra. Bisa kamu berhenti bikin masalah?"
Kening Rajendra mengerut. "Aku bikin masalah apa, Ma? Aku ini lagi nuntasin masalah yang dibuat Papa, biar Mama nggak tahu kalau Papa punya anak sama pela---"
"Berhenti menyebut orang lain pela*cur, Rajendra. Mama nggak suka dengarnya," sanggah Cecilia.
Bola mata Rajendra berputar. "Ibu dari perempuan itu memang pela*cur, Ma. Sekarang aku tanya, perempuan macam apa yang mau melahirkan anak tanpa hubungan pernikahan? Jijik banget aku, Ma. Bisa-bisanya aku sedarah sama---"
"Rajendra!" Cecilia mengertak. "Bukannya kamu sudah mencari tahu asal usul Mardiyah? Dia adalah anak Papamu dan sekertarisnya. Ibu dia perempuan baik---"
"Nggak ada namanya perempuan baik yang mau di pakai, Ma. Kalau dia mau layani Papa dengan dibayar ya apa salah aku sebut pela*cur?"
Anak ini benar-benar sulit di ajak berbicara, batin Cecilia. "Sudah sana kamu pulang!"
"Mama tega ngusir aku cuma gara-gara anak haram itu?" Ekspersi wajah Rajedra seketika berubah sedih. "Mama perhatian banget sama dia. Bahkan Mama marah-marahin aku."
"Astaga, Rajendra. Mama nggak ngusir. Mama minta kamu pulang istrirahat, Kamu pulang kerja, kan? Capek, kan? Jadi pulang, ya?"
Rajendra mengangguk.
"Kamu butuh sesuatu?"
Mardiyah menggeleng. Jeda beberapa detik Mardiyah berujar, "Nyonya Cecilia ..."
"Ya? Kamu butuh sesuatu?"
Mardiyah menatap. "Bisa tolong tinggalkan saya sendiri?"
"Saya akan keluar. Jika suamimu sudah datang, Mardiyah," jelas Cecilia.
__ADS_1
Mardiyah terdiam. Semua ini benar-benar membuatnya muak, Rajendra keterlaluan, ingin rasanya ia terbebas. Untuk tidak memenuhi permintaan dari Manggala adalah hal yang benar. Siapa yang mengira? Jika Rajendra bisa lebih gila? Emosi Rajendra sulit terkendali, bukan, bukan sulit terkendali. Memang lepas kendali.
"Assalamualaikum."
Netra Mardiyah menatap ke arah pintu kamar. "Waalaikumussalam." Lutfan terlihat mendekat ke arahnya dengan senyum tipis suaminya itu juga menyapa Nyonya Cecilia. Setelahnya Lutfan mendekat dirinya dengan senyuman manis lelaki itu perlahan-lahan mendorong kursi rodanya, saat telah tepat berada disamping, Mardiyah berujar, "Salim."
"Hah?"
Mardiyah langsung menarik tangan Lutfan dan mengecupnya singkat. Lalu mendongak. "Saya mau salim."
"O-oh." Pipi Lutfan memerah semu. Apa-apaan hanya jabatan dengan kecupan sejenak saja sudah salah tingkah. Ada-ada saja dirinya. "Lo-ma-maksud a-aku, kamu ... kamu udah makan?"
Aku? batin Mardiyah. Ah, iya, ada Nyonya Cecilia. Anggap saja pencitraan. Ia menggelengkan kepala. "Belum. Kenapa? Kamu suapi saya?"
"Apa---" Mulutnya tidak boleh asal bicara, ada orang lain juga di sini. "Ya ... nggak pa-pa kalau kamu mau."
Mardiyah tersenyum tipis. Ia melupakan kejadian yang baru saja menimpanya dengan melihat Lutfan saja, lelaki ini ... auranya benar-benar positif. Selalu membahagiakan, Mardiyah merasakan itu.
Cecilia berdeham. "Maaf. Sepertinya saya harus pamit. Lutfan, tolong jaga Mardiyah baik-baik."
"Iya, Tante," jawab Lutfan spontanitas karena bingung ingin memanggil apa. "Hati-hati di jalan, Tante."
Setelah Nyonya Cecilia benar-benar menghilang dari pandangan Lutfan menghela napas panjang. Suaminya ini kenapa? Tegang? Karena ada Nyonya Cecilia? Atau lelah dengan sandiwara menggunakan kata aku-kamu dengan dirinya?
Mardiyah tertawa ringan. "Kamu ini ada-ada aja."
"Gue serius, Mar!"
Lagi-lagi Mardiyah tertawa ringan, tangannya yang masih nyeri terangkat mengusap-usap pucuk kepala Lutfan. "Kamu ini plin-plan."
"Hah? Apaan? Apa maksud lo?"
Kali ini Mardiyah menampilkan senyum tipis. "Apa sama saya juga harus pakai ... gu-e elo? Saya nggak minta panggilan yang macam-macam, cuma ... jatuhnya aneh, kita sudah nikah tapi panggilan kamu begitu ke ... istri kamu sendiri?"
Gila. Pipi Lutfan memerah, usap lembut serta senyum tipis semua membuatnya semakin salah tingkah. Belum lagi ... Mardiyah ini sedang meminta perubahan panggilan? "Te-terus lo mau kita ini pakai panggil apaan?"
"Ya agak lebih halus."
"Aku-kamu?"
Mardiyah mengangguk. "Itu juga bisa."
"Lo aja nyebut diri lo saya. Yang aneh nggak gue aja. Lo juga aneh, lo lagi bicara sama suami lo, sopan sih sopan tapi ..." Lutfan menatap ke arah lain. "Saya itu terlalu formal. Gue berasa lagi ngomong sama orang asing."
__ADS_1
"Maaf."
Lutfan mengibaskan tangannya. Kemudian menarik tangan Mardiyah yang berada di atas kepala untuk ia genggam dan ia tempel pada pipi kiri guna untuk bersandar. "Ayo coba mulai. Lo duluan."
"Apanya?"
"Ya manggil aku kamu- nya lah!"
Mardiyah terdiam sejenak menatapi Lutfan yang sesekali mengecup punggung tangannya. Entah mengapa tiba-tiba saja pipinya memerah padam. Aku ... malu? batinnya yang langsung menatap ke arah selimut.
"Kok lo malah diem, sih? Ayo!"
Mardiyah kembali menatap Lutfan. "A-aku mau kamu--eh? Ma-maksudku a-ku mau minta kamu diam."
Lutfan sejenak menatap kemudian terbahak-bahak. Anjir kawaii. Ya Allah istrinya siapa ini? Akhhh, batinnya yang detik itu juga kembali normal tapi masih tersenyum manis menatap Mardiyah.
"Namanya kan say--maksud aku, aku kan masih belajar," jelas Mardiyah, yang sangat tidak terbiasa. Karena sejujurnya ia telah lama tidak berbicara dengan Alma. Karena satu-satunya orang yang ia ajak bicara menggunakan aku-kamu itu Alma. Ah iya, ada Salsa juga itu pun sekarang jarang. "Kamu ngeselin. Kamu ejek saya!"
"Enggak-enggak. Nggak niat. Habisnya lo ngomong gitu aja pakai patah-patah. Tinggal ngomong aja susah banget," ujar Lutfan.
"Kalau gitu. Ganti kamu," pinta Mardiyah.
"Oke. Siapa takut? Gue lebih jago dari pada lo." Lutfan mengetes suara beberapa kali hingga akhirnya berujar, "Aku minta makan. Kamu masakin."
"Eh apaan! Geli! Ralat ralat, gue ganti." Lutfan terdiam sejenak, seperti berpikir. Kemudian kembali berucap, "Aku capek. Mau tidur. Tolong kamu jangan ganggu."
Mardiyah hendak bertepuk tangan. Namun sadar tangganya masih dalam genggaman Lutfan. Hingga akhirnya ia memberi jempol pada sang suami. "Kamu memang hebat, Lutfan."
"Kalau begitu, mulai sekarang pakai aku kamu, ya?" lanjut Mardiyah dengan lembut.
"Ya." Lutfan membuang muka dengan melepas genggaman Mardiyah. Apaan, sih! Dia cuma ngomong gitu doang lho! Gitu doang! Pipi tolong kerjasamanya! Lo jangan sampai kelihatan memerah di depan Mardiyah! batinnya yang berusaha keras untuk biasa-biasa saja. "Awas aja kalau ngomong saya lagi."
"Sa--aku kan masih belajar."
Lutfan mengibas tangannya. "Terserah lo deh!"
"Itu kamu juga pakai lo!"
"Ya itu namanya gu--a-ku masih belajar juga!"
Note:
Rajendra memang saya buat dengan sikap yang seperti itu.
__ADS_1