Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 35 : Apa Pun Boleh Lo Lakuin, Mar. Asal Jangan Senyum Ke Gue.


__ADS_3

Permintaan pulang dan rawat jalan di rumah telah di setujui oleh Dokter yang menangani Lutfan. Semua sudah di urus oleh Mardiyah, mungkin nanti sekitar pukul satu siang, Lutfan baru saja akan pulang. Dokternya bilang, lebih baik pulang saat sesudah makan siang dari rumah sakit.


Bahkan entah tiba-tiba Dokter Gumira sang pemilik Adiwangsa hospital kembali mengunjungi kamar rawat inap Lutfan. Padahal baru saja tadi beliau ke sini, ada apa dengan Dokter Gumira ini? Namun beruntungnya beliau sendiri, tidak bersama dengan Bapak Gautama.


"Apa ada masalah? Sampai harus rawat jalan?" tanya Dokter Gumira.


Mardiyah menjawab, "Tidak ada masalah apa-apa, Dokter. Suami saya memang ingin di rawat jalan."


"Nak Lutfan, saya baru tahu kalau kamu adalah cucu dari Kiai Bashir." Dokter Gumira tersenyum simpul. "Sewaktu kecil saya sering berkunjung ke Pesantren bersama Ayah saya Manggala. Tapi ternyata sekarang kalian memiliki panti asuhan, ya?"


Lutfan menjawab, "Iya, Dokter. Pesantren di kelola oleh Bibi saya Ummi Salamah. Sedangkan Panti Asuhan di kelola oleh Ibu saya, Umma Sarah."


"Saya jadi ingin berkunjung ke sana. Apa tidak apa-apa, Nak?"


Mardiyah melihat Lutfan yang sepertinya sulit menjawab. Sehingga akhirnya ia menyahut, "Silakan, Dokter. Lagi pula yang saya dengar Bapak Manggala adalah sahabat karib dari Kiai Bashir. Pintu pesantren dan panti asuhan akan selalu terbuka menyambut Dokter Gumira."


"Terima kasih."


Setelah Dokter Gumira pergi. Mardiyah bersiap-siap memilah pakaian kotor, menyisihkan sampah-sampah, dan barang-barang lain yang di bawanya sewaktu menunggui Lutfan.


"Gue udah telepon Cak Sur," ucap Lutfan.


Mardiyah mengangguk. Kemudian berjalan keluar membuang sampah yang telah sisihkan pada tempat sampah bagian luar yang dekat dengan tanaman-tanaman. Saat tidak sengaja menatap lurus, netra Mardiyah tanpa sadar menangkap Bapak Gautama sedang berada di ruangan entah itu ruangan apa, yang sepertinya beliau menatap ke arah tempat rawat inap Lutfan sendari tadi.


Perasaanku aja, mungkin, batin Mardiyah.


Semuanya telah usai. Sejenak Mardiyah ingin istirahat di sofa, barangkali bisa tidur sembari menunggu pukul satu siang. Namun saat ia hendak merebahkan diri, netranya melihat tangan Lutfan berusaha menggapai kursi roda.


"Kamu mau ke mana?"


"Nggak ke mana-mana. Gue cuma mau ambil kursi roda."


Mardiyah berdiri, mendekatkan kursi roda pada Lutfan. "Ke kamar mandi?"

__ADS_1


"Enggak, Mar."


Mardiyah tetap bergeming, memandangi Lutfan yang berusaha duduk di kursi roda. Menurutnya keburukan dari Lutfan yang tidak bisa di terima adalah tidak ingin terlihat lemah, dan tidak ingin menerima bantuan siapa-siapa. Padahal sebagai manusia setiap orang itu saling membutuhkan.


Lantas, bagaimana bisa Lutfan keras kepala seperti ini?


"Akh ... sialan. Kaki nggak guna," lirih Lutfan.


Dengan sigap tangan kiri Mardiyah menyentuh punggung Lutfan, sedangkan tangan kanannya menyentuh pergelangan tangan Lutfan. "Saya izin sentuh. Kamu mau gimana? Duduk di kursi roda?"


"Nggak usah bantu gue." Tangan Mardiyah tetap berada di punggungnya. "Lepas tangan lo, Mar."


"Lutfan, resiko jatuh nanti bakal mempengaruhi kesehatanmu. Jadi, saya bantu, ya?" Mardiyah tersenyum tipis. "Kita jalan-jalan di depan, dari sini kita bisa lihat taman yang ada bawa lho. Kamu mau?"


Mardiyah ... senyum? batin Lutfan dengan pasrah membiarkan Mardiyah membantunya. Sehingga ia bisa duduk di kursi roda. "Jangan senyum sama gue, Mar. Kalau lo masih marah harusnya lo nggak perlu pura-pura. Lagian gue nggak maksa, lo boleh marah, lo boleh nggak mikirin gue. Apa pun boleh lo lakuin, Mar. Asal jangan senyum ke gue, waktu kita lagi nggak baik-baik aja kayak gini."


"Siapa yang bilang, kita lagi nggak baik-baik aja?" ujar Mardiyah yang mulai mendorong kursi roda menuju luar kamar rawat inap.


"Saya merasa saya baik, Lutfan. Kamu juga baik 'kan? Jadi saya bener-bener nggak merasa bahwa ada yang aneh dari keadaan kita saat ini."


Lutfan sedikit memejamkan mata saat di sambut oleh cahaya pagi. "Lo suka bohong."


"Bohong gimana?"


"Lo masih pura-pura, Mar? Gue tadi marah-marah, gue bikin lo nangis, lo sadar nggak sih kalau tadi itu gue nyakitin lo?" Lutfan menjeda. "Jangan gara-gara gue anaknya Umma lo anggep semua hal yang gue ucap sama yang gue lakuin ke elo itu wajar, Mar. Jangan pernah lo sebodoh itu dalam berpikir."


"Hm. Jadi, saya nggak boleh nangis?" Mardiyah merasakan hawa dingin serta cahaya mentari yang mulai naik menerpa tubuhnya. "Padahal saya ini perempuan. Wajar 'kan, Lutfan?"


"Emang wajar. Tapi yang nggak wajar itu sikap lo. Kenapa lo jadi kayak gini? Lo bersikap seakan-akan beberapa menit lalu kita nggak bertengkar. Lo suapi gue, senyum, ngelakuin ini lah itu lah. Lo aneh, Mar. Sikap lo nggak wajar," jelas Lutfan.


"Saya rasa wajar, Lutfan. Saya bersikap seperti ini bukan karena kamu anak dari Umma---"


"Terus karena apa?" sahut Lutfan.

__ADS_1


"Jelas karena saya istri kamu, Lutfan." Mardiyah menatap lurus dengan memejamkan netra sejenak. "Bagaimana bisa seorang istri lalai pada suaminya? Saya melakukan ini juga bukan karena terpaksa. Manusia memiliki hati yang bergerak atas kehendaknya sendiri, saya melakukan semua ini karena saya ingin. Saya ingin merawat kamu, dan saya ingin kamu sembuh."


"Jadi, apa penjelasan saya sudah cukup?" imbuh Mardiyah dengan menunduk membuka netranya perlahan.


Tepat saat itu Lutfan juga mendongak, seketika kedua mata itu bertemu, dan sama-sama memerah semu. Lutfan berujar, "Lo ... udah lah! Enggak usah di bahas!"


"Iya, iya. Saya nggak bahas. Jangan malu."


"A-apa-apaan sih! Lo juga malu 'kan?" Pandangan Lutfan beralih menatap lurus. "Gue lihat wajah lo merah juga."


"Habisnya, wajahmu kelihatan dekat."


Kayaknya ... dia makin jujur soal beginian aja. Kalau masalah beginian dia langsung bilang. Antara sengaja atau emang dia kayak gini sih? Akhhh ... batin Lutfan yang lagi-lagi jantungnya berdetak dengan tidak normal, karena tatapan sejenak itu.


"Lutfan!" Mardiyah menunjuk suatu hewan berbulu putih yang berada di lantai dasar dekat tanaman. "Ada kucing. Lucu banget."


"Lo mau pelihara kucing?"


Mardiyah menggeleng. "Di panti asuhan sama di pesantren kan banyak yang berkeliaran, itu sudah termasuk peliharaan."


"Ooh iya. Gue lupa. Kadang-kadang gue sering kasih makan sih."


Mardiyah tersenyum tipis dengan masih memandangi hewan kecil itu. "Lutfan, gimana kalau nanti kita mampir beli makanan kucing? Stok saya di asrama udah habis."


"Boleh." Terjadi kebisuan beberapa saat, Mardiyah masih sibuk memandangi kucing. Hingga Lutfan kembali berujar, "Mar ..."


"Ya?" Mardiyah menjawab dan berbalik mengambil duduk di kursi besi yang di sedia oleh pihak rumah sakit, dengan posisi Lutfan yang menghadapnya. "Apa? Kamu haus?"


Lutfan menggeleng. "Nanti ... kalau udah pulang---"


"Kenapa kalau sudah pulang?"


"Lo ... masih tidur di asrama? A-atau tidur di kamar gue?" Lutfan menggeleng-geleng. "Bukan-bukan. Ma-maksud gue ... lo mau tidur di rumah Umma?"

__ADS_1


__ADS_2