Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 36 (2)


__ADS_3

"Dokter Gumira?"


"Oh, Nak Lutfan?"


Dengan terpaksa Lutfan menampilkan senyumnya, demi menyambut Dokter Gumira. "Ada apa, Dokter ke mari? Apa ada hal lain? Atau ada keperluan dengan istri saya?"


"Kebetulan saya lewat. Dan tadi melihat ada perawat yang mencari-cari Dokter, jadi saya ke mari untuk memeriksa istrimu, Nak," jelas Dokter Gumira.


Lutfan mengangguk-angguk. Sedangkan tiba-tiba saja Aldo berujar, "Om."


"Lho? Aldo? Kamu kenal Lutfan, Nak?"


Aldo mengangguk sembari mendorong kursi roda Lutfan untuk masuk. "Saya kerja sama Lutfan, Om. Bantu-bantu di Kedai Amanah."


"Syukurlah, kamu bisa mandiri." Dokter Gumira menjauhi brankar tempat Mardiyah berbaring. Kemudian beralih menatap Lutfan. "Nak Lutfan, saya akan menyuruh perawat mengirimkan makanan ke ruangan ini untuk istrimu. Dan jika ... saya boleh memberi saran, jangan terlalu menyiksa dan memaksa istrimu. Berilah makan yang cukup, supaya dia kembali pulih dan bisa menjagamu lagi. Saya permisi."


Menyiksa dan memaksa istrimu? Apa yang Dokter Gumira maksud? batin Lutfan dengan pandangan yang tidak lepas dari Dokter Gumira yang berjalan pergi. Kata-kata yang keluar itu halus, namun menajam di bagaimana akhir. Sungguh benar-benar menusuk, menyadarkan diri.


"Lut! Lut! Ngelamun lo?"


Lutfan tersadar. "E-enggak. Lo boleh nunggu di kamar rawat inap gue, Do. Nggak pa-pa 'kan? Gue mau lihat istri gue bentar aja."


"Oke."


Aldo telah pergi. Lutfan mendorong sekuat tenaga roda itu hingga berputar perlahan, menyikap tirai dan melihat Mardiyah yang terbaring lemas. Netra istrinya tertutup, apakah tidur? Lutfan menghela napas, setidaknya Mardiyah bisa istirahat sebentar. Supaya kembali baik-baik saja.


"Lutfan ..."


"Hm?" Lutfan semakin mendekat ke brankar, di sentuh tangan lembut sang istri. "Gue di sini, Mar."


Netra Mardiyah terbuka, dengan napas yang tersengal-sengal. "Astaghfirullah ..."


"Lo baik-baik aja, Mar?"


Mardiyah mengangguk pelan. Dari arah pintu masuk lah perawat perempuan yang seperti Dokter Gumira minta bahwa akan mengirim makanan untuk Mardiyah.

__ADS_1


"Terima kasih."


Perawat itu pergi. Sedang Mardiyah berusaha mengambil makanan dari meja dengan hati-hati. Namun ternyata, ia masih benar-benar lemas. Nyeri di perutnya terasa lagi, dengan sayu Mardiyah memandang Lutfan.


"Lutfan ... kenapa kamu ke sini?"


Lutfan mengambil mangkuk yang berisi bubur. "Mau gue suapin?"


Mardiyah menggeleng, mengambil alih mangkuk. "Saya masih bisa makan sendiri, kok. Makasih, Lutfan."


Tangan Mardiyah di sentuh lagi oleh Lutfan. Seperti menahan untuk menyuapi makanan pada mulutnya. "Kamu kenapa? Saya mau makan."


"Nggak boleh gue pegang tangan lo?" Mata Lutfan melihat sebelah tangan istrinya. "Itu. Lo masih bisa makan pakai tangan kanan."


Mardiyah mengangguk dengan menyuap bubur sedikit demi sedikit di mulut, mengunyah sejenak dan langsung menelan. "Sekarang jam berapa?"


"Masih pagi."


"Iya. Jam berapa?"


Mardiyah terdiam, menatapi tangan Lutfan yang mulai menggenggam tangannya. Bahkan lelaki itu diam, tidak banyak bicara, biasanya akan langsung mengomel. "Lutfan, kamu kenapa?"


"Jangan kasih gue pertanyaan kayak gitu." Lutfan menunduk, masih dengan tangan yang saling menggenggam. Namun sebelah tangan Lutfan juga terangkat, hingga satu tangan Mardiyah tertutup oleh kedua tangannya. "Gue nggak suka. Lo bodoh apa gimana sih, Mar? Yang kesakitan tadi itu elo bukan gue. Harusnya pertanyaannya itu buat lo."


"Saya udah membaik, Lutfan."


"Bohong." Jeda tiga detik Lutfan berujar, "Lo kenapa nggak makan, sih? Lo kenapa ngurusin gue banget sampai lo lupa sama diri lo sendiri? Gue emang suami lo, Mar. Tapi gue tetep manusia, gue masih bisa lalai, lo harusnya bisa mentingin diri lo di bandingkan orang lain, Mar."


"Orang lain apanya? Kamu suami saya," ujar Mardiyah pelan dengan menyuap bubur lagi pada mulutnya. "Mementingkan kamu juga termasuk kewajiban saya."


"Ngomong apa sih lo, Mar?"


Mardiyah diam.


"Gue tahu hak dan kewajiban lo sebagai istri itu ngelayanin suami, Mar. Tapi ..." Lutfan muak. Dengan masih menunduk, entah mengapa tiba-tiba saja netranya memanas. "Kenapa sih lo bisa sampai sakit? Lo tahu gue khawatir, Mar. Gue ... gue bener-bener ngerasa nggak berguna, Mar. Gimana tadi kalau Aldo nggak ada? Bahkan neken tombol buat manggil perawat aja gue nggak bisa."

__ADS_1


"Lo paham nggak sih, Mar? Punya suami cacat itu bener-bener ngerugiin diri lo sendiri," imbuh Lutfan.


Bubur telah berkurang setengah. Mardiyah meletakkan kembali di atas meja, tangan Lutfan pun telah terlepas, tidak menggenggam lagi.


"Maaf." Tangan Mardiyah terangkat mengusap pucuk kepala Lutfan, turun perlahan melewati telinga kiri, hingga menyentuh rahang sang suami. "Iya. Saya nggak bakal lupa makan lagi. Insya Allah saya nggak akan sakit la---"


"Gue nggak nyuruh lo buat nggak sakit lagi, Mar. Penyakit ini juga kehendak Allah. Bahkan gue tahu takdir gue kayak gini juga termasuk ketetapan Allah, Mar. Tapi ap---"


Mardiyah juga menyanggah dengan tangan yang berhenti mengusap rahang Lutfan. "Kamu tahu, Lutfan. Bahwa semua hal di dunia ini adalah ketetapan Allah. Tapi kenapa kamu bicara seolah-olah saya salah menjadi istri kamu? Padahal pertemuan saya dan kamu ini juga kehendak Allah 'kan? Kelahiran saya, kelahiran kamu juga. Semua ini kehendak Allah, Lutfan."


"Gue---"


Terdengar suara ketukan pintu pelan dan terlihat Aldo berdiri di sana dengan senyuman lebar yang sedikit canggung. "Eghmm ... a-anu, sorry. Gue butuh ngomong sama Lutfan nggak pa-pa?"


"Ooh. Aldo, ya? Teman suami saya?" ujar Mardiyah yang secara gamblang mengatakan Lutfan adalah suami. "Silakan, jika ada urusan pekerjaan."


Aldo masuk dengan sungkan mendorong kursi roda Lutfan perlahan, tidak lupa juga tersenyum simpul memandangi Mardiyah. "Mbak, saya pinjam Lutfan bentar, ya? Janji saya balikin. Jadi tolong buburnya di makan lagi, biar sehat, Mbak."


Lutfan dan Aldo kembali ke ruangan rawat inap. Setelah merasa benar-benar mengunci roda belakang, Aldo duduk di sofa memandangi Lutfan dengan tatapan yang di buat-buat setajam mungkin.


"Ngapain lo lihatin gue? Katanya, tadi lo mau ngomong? Cepet dong! Gue lagi nggak butuh lo disini," ujar Lutfan.


Aldo terlihat menggeleng-geleng. "Baru kali ini. Baru kali ini gue lihat orang yang bener-bener bego kayak lo, Lut!"


"Bego lo bilang?" Lutfan memandang datar. "Pergi lo kalau cuma mau bacot doang, Do."


"Anjir! Gue serius nih! Lo itu ... sumpah gue bener-bener mau pukul lo sampai bonyok di mana-mana." Aldo berdiri tegak, menunjuk Lutfan. "Lo! Lo itu sejak kapan jadi manusia jahat, Lut?"


"Tega lo ajakin istri lo yang spek bidadari debat, hah? Belum lagi dia sakit lho, Lut!" Tiba-tiba saja tangan Aldo menyentuh kepala Lutfan. "Otak lo aman 'kan? Aman 'kan? Nggak ke geser kan? Gue bener-bener kaget, lo bisa ngomong kayak gitu ke cewek! Lo masih waras kan, Lut? Ya Allah ... istighfar Lut, istighfar ayo."


Lutfan masih memandang datar. "Do, gue nggak merasa bentak-bentak dia, ya! Jadi tolong lo jangan anggep gue kayak suami yang jahat sama istri dong. Udah, pergi sana lo!"


"Lutfan ... kenapa pakai ngusir-ngusir teman kamu segala sih?" Suara Mardiyah yang tiba-tiba masuk. Bahkan sudah berada di belakangnya. "Maafin suami saya, ya? Dan makasih juga atas bantuan kamu."


Aldo tersenyum lebar. "Sama-sama, Mbak."

__ADS_1


"Udah-udah pergi sana lo!"


__ADS_2