
Setelah sampai di panti asuhan. Mardiyah langsung berpamitan untuk menuju kamar tanpa bertemu Umma Sarah. Lelah. Semalaman hampir tidak bisa tertidur, karena menangis dan terus memikirkan tentang sang Ibu.
Bahkan sudah diputuskannya, untuk memilih resign. Sungguh ia akui ia menghindar, bekerja di Toko Bunga Harsa membuatnya saling berhubungan dengan orang-orang yang tidak ingin dilihatnya. Entah karena Kak Devina, entah pula karena Nyonya Harsa yang mana beliau adalah orang-orang kalangan atas.
Ia sudah lelah.
Tidak mau bertemu dengan orang-orang baru lagi. Terakhir kali ini, ia berkunjung ke Lazuardi hotel. Mungkin ia akan mencari pekerjaan baru, bukan sebagai staf toko bunga yang ia kira adalah toko biasa. Nyonya Harsa baik. Kak Devina dan Regita juga baik. Namun ia saja yang tidak terbiasa, berkumpul dengan orang-orang elit.
Kling!
Gawainya berbunyi, masuk notifikasi dari Nyonya Harsa. Ingin rasanya ia abai, namun tetap saja tidak bisa.
Nyonya Harsa Jayantaka
Email yang kamu kirim ini serius, Mardiyah?
^^^Iya, Nyonya^^^
^^^Sekali lagi, maafkan saya tidak berpamitan^^^
Nyonya Harsa Jayantaka
Kamu sadar diri tidak sopan 'kan?
Temui saya besok di Toko Bunga
Mardiyah mengangguk. Dirinya memang tidak sopan, tiba-tiba saja resign tanpa penjelasan. Nyonya Harsa patut untuk marah, atau bahkan dengan tidak di bayar upah terakhirnya pun Mardiyah tidak masalah.
^^^Baik, Nyonya^^^
Ditariknya kerudung yang digunakan. Lantas Mardiyah merebahkan diri di ranjang dengan telentang. Dipandangi atap rumah sejenak, ia mengantuk. Ingin tidur saja. Tetapi perutnya menahan lapar.
Terdengar suara ketukan pintu. Netra Mardiyah menatap ambang pintu dan berteriak, "Siapa?"
"Ini aku, Kak. Inayah."
Suaranya terlalu lembut. Jika saja ia tak menajamkan pendengaran, mungkin saja tidak akan terdengar. "Iya, tunggu. Sebentar."
Dipakainya kerudung lagi. Lantas berjalan ke arah pintu. "Ada apa, Nay?"
Inayah membawa sepiring makanan dan segelas teh hangat yang berada di nampan. "I ... ini, Kak. Tadi a-aku di suruh sama Bang Lutfan buat ngasih ini ke Kak Mar."
Lutfan? batin Mardiyah. Diambil alih nampan dengan tersenyum tipis ia menatap Inayah. "Terima kasih, Nay. Kamu balik lagi ke tempat makan. Belum sarapan 'kan?"
Inayah mengangguk. "Iya, Kak. Belum. Kalau gitu aku permisi. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumussalam."
Pintu kembali di tutup. Mardiyah meletakkan nampan di atas meja, di tatapannya sebentar dengan perasaan aneh. Sudah lama rasanya ia tidak berbincang atau ... sekadar melakukan hal-hal ini dengan Lutfan dan Jafar.
Semua telah berubah.
Ya, berubah.
Terima kasih, Lutfan, batin Mardiyah dengan mulai melahap makanannya.
...🌺...
"Gimana, Nay? Udah kamu kasih ke Kak Mardiyah?"
Inayah mengangguk-angguk. "Udah, Bang. Tapi ..."
"Tapi apa?"
Inayah menunduk dengan memilin jari-jari tangan. "A-aku bilangnya dari Bang Lutfan."
Lutfan menghela napas pelan. Gagal sudah ia berpura-pura tak peduli. Inayah dengan gamblang mengatakan itu darinya. Ya, tidak apa-apa. Inayah pasti gugup, lagi pula gadis kecil ini pemalu. Sekali pun sudah dekat dengan Mardiyah.
"Ma-maaf, Bang."
Lutfan menggeleng. "Ya, enggak pa-pa. Makasih, Nay."
"Assalamualaikum, Lutfan!"
Lutfan terkejut bukan main. "Wah, gila lo, Nyu. Suka banget sih lo ngangetin gue, hah?!
"Istighfar, Lut! Salamku belum kamu bales lho."
Lutfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Eh, iya. Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Udah kan?"
Banyu mengangguk. "Lut, aku tanya boleh toh?"
"Boleh. Mau tanya apa emang?"
Jeda tiga detik Banyu berujar, "Gus Jafar gimana kabarnya, Lut?"
"Alhamdulillah. Mas gue baik-baik aja," ujar Lutfan dengan memalingkan wajahnya.
"Masih di kota, Lut?"
Lutfan mengangguk-angguk. "Hm. Masih."
__ADS_1
Terjadi kebisuan beberapa saat. Hingga Banyu kembali berujar, "Maaf, Lut."
"Ngapain sih lo minta maaf, Nyu? Aneh banget. Nggak pa-pa juga kalau lo mau tau kabar Mas gue." Dilihatnya Banyu dengan seksama, dan beberapa saat ia berubah kesal. "Bentar-bentar, Nyu."
"Apa toh, Lut?"
"Lo ..." Telunjuk tangan kanan Lutfan menunjuk Banyu. "Lo ngapain sering banget ke panti? Nyari siapa lho, hah? Mentang-mentang udah senior lho, ninggalin pesantren lama-lama!"
"A-anu ... aku di suruh sama Mbakku nganterin bumbu ke panti kok," jawab Banyu.
Netra Lutfan melotot dan menggeleng-geleng tak percaya. "Ustazah Aini nyuruh lo? Enggak-enggak. Nggak mungkin! Alasan doang lo, mah!"
"Alasan apa toh, Lut! Ustazah Aini itu Mbakku yo jadi mungkin beliau nyuruh aku. Yang nggak mungkin itu nyuruh kamu, Lut!"
Lutfan mengejek. Ditatapnya tempat makan bersama bagian putri, di sana terlihat beberapa perempuan berlalu-lalang. "Pasti. Gue yakin, ada yang lho suka kan di antar mereka-mereka."
Banyu menggeleng. "Ndak ada!"
"Walah ngapusi! Jujur lo sama gue siapa?"
Banyu menatap Lutfan. "A-anu ... emang ndak pa-pa?
"Apanya nggak pa-pa?"
"Ka-kalau aku suka sama anak panti asuhan."
Ya nggak pa-pa, Nyu. Asal jangan Mardiyah! batin Lutfan dengan mengubah posisinya duduk menghadap Banyu. "Ya nggak pa-pa lah! Semua tergantung ceweknya, mau nggak sama lo? Terus juga nih, Nyu ..."
"Apa, Lut?"
"Kalau bener-bener suka itu lo perjuangain, sampai titik darah penghabisan."
Bahu kiri Lutfan di pukul oleh Banyu. "Ngomong apa toh kamu ini, hah? Titik darah penghabisan! Lah kamu pikir, aku lagi perjuangain antara cinta dan negara gitu?"
"Lho, ya! Gue ini cuma ngasih lho saran, Nyu. Titik darah penghabisan maksud gue tuh kek ... semacam, titik terlemah lo dalam memperjuangkan cinta. Kalau udah capek lo pasti nyerah 'kan?
Banyu menggeleng. "Endak. Saya ndak bakal nyerah. Sampai si perempuan yang saya suka ini menikah."
"Lah? Berarti? Titik terlemah lo bukan di penolakan dong?"
Banyu mengangguk. "Iya, bukan."
"Wah gila! Patut banget! Patut banget lo gue contoh, Nyu. Gue juga nggak bakalan nyerah sebelum cewek yang gue suka nikah!"
"Emang ... perempuan yang kamu suka siapa, Lut?"
__ADS_1
Lutfan berdeham. "Rahasia gue sama Allah. Manusia nggak boleh tahu."