Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
72 : Sesuatu Yang Berharga


__ADS_3

Aldo menepati janji. Bakda magrib tepat setelah Lutfan pulang dari mushola ia melihat mobil Aldo memasuki pelataran panti asuhan. Dirinya hanya mampu menatap dengan duduk di kursi roda memandang lurus. Bukan menyerah, dirinya lelah. Entah bagaimana jika saat ia menghampiri vila itu, dan di sana tidak di temukan adanya Mardiyah. Mungkin ... ia akan menjadi gila. Perasaannya tidak lagi bisa dikendalikan. Sungguh jika bukan karena kelumpuhan kakinya, ia bisa menemukan Mardiyah dengan caranya sendiri, tanpa merepotkan orang lain.


Menghadapi Gautama dan Manggala pun mungkin ia bisa jika kakinya berguna. Orang-orang yang mengaku sebagai keluarga, tidak akan setega ini. Mardiyah adalah istrinya. Ia memang tidak bisa hidup tanpa Umma. Namun jika juga tanpa Mardiyah, ia mungkin akan hilang arah.


"Udah siap?" tanya Aldo yang sudah berdiri di hadapnya.


"Hm."


Aldo menatap sahabatnya. "Nggak lakik banget lo nyerah kayak gini, Lut. Sekalipun lo di jodohin sama cewek itu. Gue lihat-lihat ... perasaan lo ke dia nggak sekedar pdkt-an aja. Lo kayak udah kenal lama sama dia."


Gue lupa cerita. Kalau Mardiyah Kakak angkat gue, batin Lutfan yang mendongak menatap Aldo. "Perasaan lebih antara suami istri itu wajar, Do."


"Iya. Gue tahu. Bahkan makin bagus kalau lo sama dia sama-sama cinta." Aldo menjeda, dengan mengambil duduk di kursi kayu samping Lutfan. "Lut ... gue nggak tahu apa yang Om Tama ucapin ke lo. Tapi gue tahu, pasti rasanya sakit banget. Belum lagi, mereka nuntut lo cerai dari istri lo. Tapi sekali lagi gue mau ingetin, kalau hidup lo ini masih berguna banget. Jangan lo mikir, karena lo lumpuh lo nggak bisa nafkahi istri lo. Buktinya bisa 'kan? Lo punya karyawan di mana-mana. Lo juga masih usahain keliling outlet. Lo bisa semuanya. Lo masih berguna. Istri lo nggak akan pernah nganggep suaminya ini nggak berguna. Gue jamin itu."


Lutfan terdiam.


"Dan lagi, Lut. Cewek-cewek apalagi kayak istri lo itu ya walau besarnya di panti dekat pedesaan, nggak memungkiri dia kerja di kota, belum lagi dalam pandangan cowok, istri lo itu sempurna." Aldo menjeda. "Dia bisa nolak perjodohan ini. Dia bisa lepas dari panti asuhan. Tapi nyatanya dia nggak ngelakuin itu 'kan? Dia tetep stay, nerima perjodohan, dan bahkan udah married sama lo."


Dia terpaksa. Karena Umma pasti, batin Lutfan.


"Kalau balas budi. Nggak mungkin, Lut. Pernikahan itu nggak bisa di bikin main-main. Belum lagi cewek itu makhluk yang cenderung pakai hati. Lo bayangin, kalau dia nerima pernikahan tanpa adanya cinta. Hidup dia hambar, dia hidup sama lo sebatas jadi perawat aja, dan belum lagi. Waktu lo ajak dia making love gue yakin ... dia nggak bakal nolak karena cewek yang lo nikah ini ngerti tentang suatu kewajiban. Tapi ..." Aldo menatap Lutfan dari samping yang masih terdiam memandang lurus. "Lagi-lagi gue mau nekenin. Kalau cewek ini cenderung pakai hati. Dia mungkin bisa ngelakuin itu sama lo. Tapi dengan syarat, dia nggak mau nanggung hasil dari perbuatan itu."


"Maksud lo?" tanya Lutfan yang akhirnya berbicara.


"Kalau cuma sekedar balas budi. Dia nggak bakal mau hamil, Lut. Dia nggak bakal mau punya sesuatu yang berharga, yang ada hubungan sama lo." Aldo menjeda. "Tinggal lo pikir-pikir aja. Selama lo hidup sama istri lo. Apa dia pernah ... minum obat pencegah kehamilan? Atau kalau lo sama dia lagi ml pakai pengaman?"


Di surat itu. Terakhir dia dongeng tentang kehamilan tapi ... apa mungkin? Enggak. Itu cuma karangan dia aja. Nggak mungkin dia hamil, batin Lutfan yang langsung menengok menatap Aldo. "Kata lo, kita mau ke vila. Ayo berangkat sekarang."

__ADS_1



Manggala tidak akan pernah mau berlaku sekasar ini pada turun-temurunnya. Tetapi jika sudah tidak bisa di beritahu melalui ucapan, segala hal yang lainnya akan ia tindak lanjuti, dengan caranya sendiri. Paksaan yang sedikit condong pada kekerasan bisa dirinya lakukan, tanpa memedulikan bahwa Mahika adalah cucunya.


Seperti sekarang, cucunya itu sama sekali tidak mau menandatangani surat gugutan perceraian asli yang sudah dirinya siapkan. Sungguh ia tidak mau berlama-lama, cucunya harus segera berpisah dengan lelaki lumpuh itu.


"Saya tidak mau."


Manggala menatap. "Mahika, kamu ingin Kakek berlaku kasar?"


"Saya sudah berbicara bahwa saya menolak. Dan Lutfan. Suami saya." Mardiyah menatap tajam Manggala. "Tidak akan pernah berniat sekali pun untuk bercerai dari saya!"


"Lalu kamu pikir, Kakek memalsukan tandatangani laki-laki lumpuh itu?"


Mardiyah terdiam.


"Cepat, tandatangani!"


"Lepas. Saya bilang lepasin saya, Pak Manggala!"


Manggala mendorong kuat Mardiyah ke sofa, hingga cucunya itu jatuh dekat terduduk sembari memegangi perutnya.


"Akh!" Goncangan ini terlalu keras. Perut Mardiyah terasa sangat sakit, ia mencengkram perutnya dengan menghela napas beberapa kali. "Anda keterlaluan."


"Kakek sudah berbicara dengan cara selembut mungkin tapi kamu membangkang." Manggala menatap cucunya. "Kamu pikir Kakek bisa sesabar Bashir? Tidak, Nak. Kakek sama sekali tidak bisa sabar menghadapi orang keras kepala seperti kamu!"


Gautama hanya bisa menatap anaknya diberlakukan seperti itu.

__ADS_1


Perutku ... sa-sakit, batin Mardiyah yang menunduk dalam, dengan masih memegangi perutnya. "Sampai kapan pun ... saya tidak akan menandatangani gugatan perceraian itu!"


Manggala memandang datar. "Kalau begitu, Kakek akan memaksa kamu."


"Pa ..." Gautama menyentuh tangan sang Ayah. "Biar aku saja. Papa duduk. Aku bisa bujuk dia."


Manggala menggeleng. "Enggak-enggak dia ini nggak bisa di bujuk, Tama. Dia ini harus pakai kekerasan dulu baru bisa dia diam."


"Pa ... tapi dia anakku. Papa tega mendorong dia seperti itu?" Gautama merubah posisinya di depan sang Ayah. "Dia ini anakku, Pa. Dia keturunan Adiwangsa. Di dalam darah dia juga mengalir darah Papa. Kenapa Papa sejahat ini?"


Manggala menjawab, "Papa nggak jahat. Papa cuma nggak suka sama orang yang keras kepala."


Sejenak Gautama menunduk, menghela napas pelan. "Pa ... sekali saja, temukan dia dengan cucu Kiai Bashir. Supaya dia tahu, bahwa tandatangani itu asli."


"Akh." Perut Mardiyah semakin sakit. Ia tidak bisa mengontrol suara dan cengkraman tangannya pada sofa. Hingga saat ia meluruskan kaki, ia merasa ada sesuatu yang basah di area miliknya. Ya Allah ... enggak. Mereka nggak boleh tahu, batin Mardiyah dengan sekuat tenaga menahan.


"Nona Muda!"


Mardiyah spontan mendongak. Manggala dan Gautama pun menatap seorang pelayan yang berlari mendekati Mardiyah.


"Nona Muda, anda berdarah," ujar Meera yang langsung bersimpuh.


Gautama refleks mendekat, melihat gaun tidur selutut sang anak yang berwarna putih, sedikit merembes darah di sampingnya.


"Nak, kamu ..." Gautama reflek hendak mengendong Mardiyah. Namun di tahan oleh Manggala. "Pa, tolong ... dia berdarah banyak."


"Ada dokter di sini. Nggak perlu kamu bahwa dia ke rumah sakit. Mungkin dia cuma menstruasi," ujar Manggala.

__ADS_1


Meera tiba-tiba menyahut, "Tidak, Tuan Besar. Nona Muda ... se-dang mengandung."


Mardiyah menggeleng pelan, netranya meneteskan air mata saat menatap pelayan muda itu. Jangan, Meera ... jangan sampai mereka tahu. Tolong ... kamu sudah berjanji, batinnya yang sudah dalam gendong Gautama.


__ADS_2