Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
84 :


__ADS_3

Tengah malam Mardiyah terbangun dengan kejutan mimpi. Saat ia menengok tidak melihat Lutfan berada di sampingnya. Ke mana Lutfan? batinnya perlahan-lahan turun menuju kamar mandi. Namun sang suami juga tidak ada sana. Selanjutnya ia memilih keluar barangkali akan di temukan di ruang tamu. Kok nggak ada? Umma kayaknya juga nggak ada, batinnya yang mulai bingung. Saat telinganya mendengar suara dari dapur, tergesa-gesa ia melangkah.


"Lutfan! Aku cariin kamu ..."


"Hah?" Seketika Lutfan tersenyum manis dan menyajikan telur mata sapi yang baru saja di gorengnya. "Ini aku ... laper."


"Ya Allah ..." Mardiyah mendekat, dan membantu suaminya mengambil nasi di rice cooker yang sedikit tinggi. "Kamu kan bisa bangunin aku. Aku pasti bangun kok. Maaf, ya. Kamu mau makan? Biar aku masakin yang lebih enak."


"Aku lagi pingin telur mata sapi. Lagian makanan dari Umma tadi masih ada. Tapi aku pinginnya yang lain. Makanya aku nggak mau bangunin kamu, takut ngerepotin, kamu kan masih capek," jelas Lutfan.


Mardiyah menghela napas, dan meletakkan piring berisi telur dan nasi di meja makan. Lantas mengambil duduk di kursi yang langsung menghadap pada Lutfan. "Memang aku ini capek ngapain, sih? Aku kan nggak ngapa-ngapain, Lutfan. Aku cuma tiduran aja."


Lutfan terdiam sejenak. Nggak ngapa-ngapain gimana? Kamu itu masih sakit. Kamu juga masih kelihatan pucat. Gimana bisa pekara sepele gini aku ngerepotin kamu terus? batinnya yang langsung menggeleng dan tersenyum tipis. "Nggak pa-pa. Orang aku masih bisa masak sendiri. Kamu laper nggak?"


Mardiyah diam.


"Mar---"


"Kamu sadar nggak bikin aku khawatir?" sanggah Mardiyah.


"Iya, maaf. Janji besok-besok aku bangunin kamu." Lebih baik mengalah dan meminta maaf. Lutfan memahami kekhawatiran Mardiyah adalah semata-mata peduli. Sebab dulu istrinya tahu bahwa ia pernah terjatuh saat berusaha turun dari ranjang. Namun ini sudah sebulan berlalu banyak latihan fisik yang ia jalani sendiri, dan juga ia banyak mengonsumsi makanan penyehat tulang.


"Sekarang ayo makan bareng. Aku suapin. Kamu laper, kan?"


Mardiyah memilih berdiri, mengangkat wajan yang berisi sisa makanan tadi siang ke atas kompor dan menyalakan.


"Kamu marah?"


Lutfan tidak mendengar balasan dari Mardiyah. Istrinya itu sibuk memanasi makanan.


"Mar ..."


Setelah selesai terlihat Mardiyah berbalik, mengambil duduk lagi di samping Lutfan yang masih mengutuhkan makanannya.

__ADS_1


"Katanya laper. Kenapa belum di makan?" tanya Mardiyah.


Lutfan menatap. "Habisnya aku tanyain kamu diem. Kamu marah sama aku?"


"Enggak. Sudah sana makan."


Lutfan mulai melahap makanannya. Sedangkan Mardiyah memilih menatap terus menerus, bahkan tanpa sadar tangannya terangkat menyikap surai depan suaminya kebelakang. Menghalangi saja, batinnya dengan perlahan tatapannya turun di bibir. "Kamu laper banget, ya?"


Lutfan mengangguk.


"Tadi ambil teflon nya gimana?"


Lutfan telah menelan makanannya. "Jinjit. Sambil penganggan rak dapur."


"Pinter."


Mendengar pujian dari Mardiyah tangan Lutfan terangkat mendekatkan sendok pada bibir istrinya. "Aak. Makan. Bangun tidur pasti kamu laper."


"Nanti aja." Mardiyah menggeleng. "Aku belum sikat gigi."


Mardiyah membuka mulut dan mengunyah perlahan-lahan.


"Enak, nggak?"


"Enak."


Tangan Mardiyah reflek mengusap bibir Lutfan. "Umma di mana?"


"Eghm a-anu. Ke rumah Kakek."



Bakda subuh. Sebenarnya Lutfan berniat langsung ke outlet bagian kota. Namun karena Ummanya berkata bahwa beliau akan pulang siang. Setidaknya ia harus berada di rumah dulu sampai langit benar-benar terang, sangat tidak mungkin ia meninggalkan Mardiyah sendirian.

__ADS_1


"Nggak jadi ke outlet?"


"Jadi. Berangkat agak siang aja."


Mardiyah mengangguk.


"Nanti mau di bawain apa?"


Sejenak Mardiyah berpikir. "Ayam bakar madu aja nggak pa-pa. Lagi pengen udah lama nggak makan."


"Oke. Nanti aku bawain."


Saat Lutfan menunduk kembali memainkan gawainya terlihat beberapa berita yang membuangnya mendengus kesal. Raut wajahnya langsung berubah. Siapa yang berani menulis hal-hal seperti ini? Ingin ia pukul saja!


"Wajahmu kenapa?" tanya Mardiyah.


Lutfan mendongak dan menggeleng.


"Kenapa?" Mardiyah langsung diri di belakang Lutfan, ia bisa melihat berita itu sekilas. "Oh. Soal itu. Aku juga barusan lihat. Toh yang di tulis di sana benar."


Cecilia Maharani Adiwangsa nampak acuh. Gautama Adiwangsa seorang pewaris dari Lazuardi Hotel memiliki anak dari hubungan gelap bersama sekertarisnya dulu.


Konflik masa lalu yang membuat pernikahan Cecilia Maharani dan Gautama Adiwangsa terancam.


"Apa-apaan. Nggak jelas banget mereka. Artikel-artikel ini bener-bener nggak bermutu. Bisa-bisanya hidup orang di jadiin bahan cari duit," gerutu Lutfan.


Mardiyah yang melihat Lutfan begitu kesal pun. Akhirnya berujar, "Itu memang cara mereka mencari uang, Lutfan. Biarin aja, lagi pula Mama ..."


Deg.


Dirinya sadar barusan memanggil Cecilia, Mama? Ia ... mulai terbiasa? Tanpa sadar ia tersenyum tipis dan kembali berujar, "Mama Cecilia nggak permasalahan itu. Beliau juga ... menjanjikan untuk mencari tahu tentang keluarga Ibuku. Dan a-aku ... percaya sama beliau."


"Tapi nggak gini juga. Hubungan gelap apa-apaan? Ini sama aja ngejelek-jelekin Ibumu. Jelas-jelas terjadi paksaan. Kalau hubungan gelap keduanya sama-sama suka dan emang berniat selingkuh. Ini mah enggak, berita ini cenderung nyudutin Ibumu, Mar. Sedangkan Pak Gautama nggak keli---"

__ADS_1


Mardiyah menyanggah, "Lutfan, kamu masih benci sama ... A-ayahku?"


__ADS_2