Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
71 : -


__ADS_3

Sekitar pukul dua belas siang. Mardiyah mendengar pintu kamarnya terbuka, dan saat ia menengok ternyata Cecilia datang, berjalan dengan tegak mendekati ranjangnya. Wanita berusia tiga puluh delapan tahun ini nampak bugar dan tetap cantik, mungkin gen dan perawatan wajah yang di jalani benar-benar mahal.


Bahkan dari penampilan sangat terlihat elegan. Dress hitam, heels hingga tas senada berwarna merah. Beliau benar-benar cantik, batin Mardiyah yang masih terus memandangi setiap langkah Cecilia. Surai hitam sebahu beliau pun ikut terayun, seiring langkah beliau yang mendekat.


"Sudah hampir seminggu. Kamu terlihat baik-baik saja. Bahkan ..." Cecilia menatap borgol yang masih mengait di tarikan laci. "Gautama tidak mengikatmu lagi."


Mardiyah tidak merespon, hanya menatap.


"Sudah makan?" Cecilia mengedarkan pandangan saat pertanyaannya tidak kunjung di jawab. Hingga matanya menatap pada meja abu-abu yang terletak dekat dengan pintu, ada piring kosong serta gelas di sana. "Ah ... sudah ternyata."


Pandangan Cecilia kembali pada Mardiyah. Ia semakin mendekat, lalu mengambil duduk di bibir ranjang. "Ingin menebak. Saya baru saja berkunjung ke mana?"


"Bagaimana bisa saya tahu, Nyonya?" jawab Mardiyah yang akhirnya bicara. Tiba-tiba Cecilia menunjukkan buku sedang, di sana sangat jelas tertulis Al-Hikmah. Keningnya mengerut. "Nyonya baru saja ... ke panti asuhan?"


Cecilia mengangguk pelan.


"Sayangnya, saya tidak sempat bertemu dengan suamimu." Ingatan Cecilia melambung, di mana tadi pagi jalan menuju panti asuhan sekitarnya adalah persawahan, juga desa-desa. "Kamu bisa hidup di lingkungan seperti itu?"


"Lingkungan seperti itu?" ulang Mardiyah.


Cecilia mengangguk.


"Bukan kotor. Hanya saja sedikit jauh dari perkotaan. Orang sepertimu yang bekerja dengan Harsa, pasti sangat sulit beradaptasi dengan udara dan orang-orangnya," jelas Cecilia.


Mardiyah terdiam.


Cecilia menengok, menatap Mardiyah yang sedang menatap lurus. "Jika tidak keberatan, sebagai seorang wanita ... yang sudah menjadi Ibu. Saya ingin mendengar, bagaimana kehidupanmu tanpa adanya seorang Ibu?"


Mardiyah terdiam sejenak. Kemudian menunduk dan menjawab, "Tidak sepenuhnya buruk."


"Tetapi ..." Cecilia menjeda dengan masih menatapi Mardiyah. "Sakit, bukan?"


"Jika saya bilang tidak. Itu artinya saya bohong." Mardiyah menghela napas. "Jelas sakit, Nyonya."


Tangan Cecilia terangkat, hendak mengusap pucuk kepala Mardiyah. Namun saat merasa ada pergerakan, spontan saja, ia urungkan. "Mau mendengar dongeng? Dari ... Ibu sambung ini?"


Dongeng? I-ibu sambung? Nyonya Cecilia ... anda benar-benar--- batin Mardiyah tertahan.


"Tidak mau, ya?"


Spontan Mardiyah berujar, "Ma-mau."


Lima belas detik, Cecilia terdiam. Akhirnya ia mulai berkata, "Ratusan tahun yang lalu. Lahirlah seorang Tuan Putri cantik, cerdas, dan berbudi luhur. Rumor yang terdengar dari segala penjuru Kerajaan mengatakan bahwa semua orang mencintainya. Semua. Nasib baik selalu menyelimuti hidupnya. Namun manusia, tetaplah manusia. Tidak ada yang sepenuhnya hidup sempurna."


Cecilia menjeda. "Ingin tahu? Ketidaksempurnaan apa yang tidak Tuan Putri miliki?"


"Apa?"


"Banyak."


Kening Mardiyah mengerut. Aneh. Bukankah Tuan Putri itu dicintai semua orang. Tapi ... ketidaksempurnaan di hidupnya ternyata banyak? Bukankah seharusnya Tuan Putri itu ... bahagia? batinnya yang memperhatikan Cecilia dari samping.


"Tuan Putri memiliki segalanya, dicintai oleh begitu banyak orang. Namun, dia merasa tidak sempurna sebab kehidupannya terasa di atur, semua yang dia lakukan harus atas kehendak Ayahanda dan Ibundanya. Dia harus selalu tampil cantik, tidak boleh membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Dan yang paling menyakitkan ..." Cecilia menatap Mardiyah dalam. "Dia tidak boleh memberi hatinya pada laki-laki biasa. Dia harus menikahi seorang Putra Mahkota. Pangeran biasa pun tidak bisa meluluhkan hati orang tua Tuan Putri."


Berarti Tuan Putri nggak boleh mencintai laki-laki biasa? batin Mardiyah.


"Hingga hendak mencapai usia tua pun, Putra Mahkota, selaku suaminya. Tidak bisa mencintai Tuan Putri." Cecilia menjeda. "Rumor yang orang-orang katakan itu memang hanyalah ucapan belaka. Sebab Putra Mahkota membuktikan bahwa beliau tidak bisa mencintai Tuan Putri. Bahkan sikap lembut Putra Mahkota hanya untuk menghargai saja, selebihnya hati Putra Mahkota adalah milik orang lain."


Mardiyah terdiam sejenak. "Apa ... Tuan Putri memiliki orang yang dicintainya?"

__ADS_1


"Ada."


"Siapa?"


Cecilia memutuskan kontak matanya. "Adik dari Putra Mahkota."


Mardiyah terdiam.


"Tahun-tahun berlalu. Hingga seseorang datang dari Kerajaan lain, mengabarkan bahwa ada seorang gadis cantik, yang ternyata adalah anak Putra Mahkota dengan wanita yang dicintainya. Bukan selir. Dia wanita yang bertahta di hati Putra Mahkota tanpa hubungan pernikahan." Cecilia menghela napas. "Gadis itu. Anak Putra Mahkota, terlihat ... sangat baik."


Beliau ... sedang menceritakan dirinya? batin Mardiyah.


"Tuan Putri tidak bisa membenci. Tuan Putri ingin menyayangi gadis itu sebagai seorang anak. Tetapi sepertinya ... gadis itu tidak menginginkan." Sejenak Cecilia menunduk dengan tersenyum getir. "Bahkan sepertinya ... Putra Mahkota mengira bahwa Tuan Putri akan membuhuh gadis itu."


"Nyonya---"


Cecilia menyanggah, "Bersambung. Nanti jika ada waktu lagi. Saya akan menceritakan kelanjutkannya."


Mardiyah terdiam.


"Mardiyah ... jika kamu, sekali saja diberikan hidup sebagai Tuan Putri. Apa kamu mau?"


Mardiyah menggeleng pelan.


"Kenapa? Semua orang mencintainya. Mungkin ... hanya satu orang saja yang tidak mencintainya. Itu ..." Cecilia menengok. "Tidak masalah 'kan?"


Mardiyah menjawab, "Justru menurut saya ... yang menjadi masalahnya itu di sana, Nyonya."


"Di mana? Bukankah ... kekasihnya, Adik dari Putra Mahkota mencintai Tuan Putri?" Cecilia menjeda. "Yang tidak mencintai Tuan Putri hanya Putra Mahkota saja."


Mardiyah mengangguk kecil. "Justru letak kesakitan yang mencoba Tuan Putri hindari adalah cinta yang tidak diberikan oleh suaminya."


"Jika seorang wanita sudah menikah, sekali pun pernikahan itu tuntutan. Seorang istri berhak untuk mendapatkan cinta dari suaminya," imbuh Mardiyah.


Cecilia tersenyum hampa. "Lalu apa ... menurutmu? Gadis itu, anak dari Putra Mahkota membenci Tuan Putri?"


Mardiyah menggeleng. "Tidak ada hak seorang anak, membenci istri dari Ayahnya. Jika istri Ayahnya itu baik, untuk apa menciptakan kebencian, Nyonya? Justru yang seharusnya membenci adalah Tuan Putri. Karena anak itu ... hadir di tengah-tengah rumah tangga Tuan Putri dan Putra Mahkota."


Cecilia mengangguk. "Semoga saja ... gadis itu tidak membenci Tuan Putri. Atau jika bisa gadis itu ... menerima Tuan Putri sebagai Ibu sambungnya."


Mardiyah menatap Cecilia yang bangkit dari duduknya.


"Saya permisi," ujar Cecilia.


Saya ... sama sekali tidak membenci, Nyonya. Saya ... merasa anda adalah seorang Ibu yang sangat baik, batin Mardiyah.



Lutfan baru saja kembali dari outlet. Saat mendapat kabar dari Ummanya bahwa Cecilia Maharani Adiwangsa menghampiri panti asuhan. Tanpa pikir panjang dirinya langsung pulang, ia yakin ada sesuatu yang penting yang tidak Ummanya bicara dalam telepon.


"Ibu Cecilia, ingin mengadopsi Mardiyah, Nak," ujar Umma Sarah.


"Adopsi, Umma?"


"Iya."


Lutfan menggeleng. "Enggak-enggak apa-apaan pakai acara adopsi Mardiyah segala. Enggak! Mardiyah itu udah punya Umma ngapain di adopsi segala? Lagian juga. Itu pasti rencana biar Mardiyah nggak di pulangin Umma!"


Umma Sarah terdiam sejenak. "Salah, Nak."

__ADS_1


"Salah apa? Bener kok. Mereka sengaja, ambil hak asuh Mardiyah. Mereka pasti---"


"Lutfan," sanggah Umma Sarah. "Yang ke sini cuma Ibu Cecilia aja. Dan dari yang Umma lihat ... beliau memang mau menolong Mardiyah. Beliau nggak mencoba mengambil keuntungan, Nak."


"Umma tahu dari mana niat orang? Nggak ada yang tahu kalau misal niat Bu Cecilia buruk," jelas Lutfan.


"Kamu nggak boleh berprasangka buruk ke orang lain, Nak." Umma Sarah menatap anaknya yang tertunduk, tangan Lutfan terlihat mencengkram kuat kursi rodanya di bagian kiri dan kanan. "Bisa aja Bu Cecilia menang berniat menolong, Nak."


"Bohong, Umma! Bohong!" Lutfan tiba-tiba saja berteriak. "Umma tahu nggak sih? Aku capek, Umma! Capek! Hampir sebulan mereka bahwa Mardiyah. Abhimana pun udah nggak bisa di harapin Umma! Nggak bisa! Terus, aku harus gimana Umma? ... Mardiyah itu istriku, Umma. Istriku. Tapi bisa-bisanya mereka bawa Mardiyah seolah-olah Mardiyah itu belum nikah! Padahal sekali pun Mardiyah belum nikah, mereka nggak berhak bawa-bawa Mardiyah!"


Refleks Umma Sarah berdiri, mendekati anak semata wayangnya yang tertunduk dalam. Ya Allah, Nak. Maafin Umma, batinnya yang langsung memeluk sang anak dari samping. "Istighfar, Nak. Ada Umma, ada Kakek, ada Mas Jafar yang bantuin kamu. Insya Allah, Mardiyah bisa kita bawa pulang. Umma minta jangan kayak gini, Nak. Umma mohon."


Napas Lutfan tersengal-sengal, cengkeramannya pada kursi roda sama sekali tidak mengendur. "Aku bisa gila, Umma ..."


"Enggak. Istighfar, Nak. Istighfar. Capek, kan? Ayo, istirahat. Umma temani kamu tidur, Nak." Usap lembut Umma Sarah berikan pada punggung Lutfan. "Di kamar, ya?"


Lutfan menggeleng, cengkeraman di kursi roda perlahan-lahan mengendur. Ia mengambil dan membuang napas beberapa kali. "Umma ... aku sama ... Mardiyah, udah ngelakuin itu. Kalau sekarang Umma tanya ke aku ... gimana perasaan aku ke Mardiyah? Aku bakalan jujur, Umma."


Umma nggak perlu tahu lagi. Umma tahu perasaan kamu ke Mardiyah, Nak, batin Umma Sarah yang mulai mendorong kursi roda sang anak. "Udah, ya. Umma temani kamu tidur, Nak."



Lutfan benar-benar tidur. Hingga pukul tiga sore ia membuka mata, merasa sedikit berat. Seketika ia sadar bahwa sendari tadi ia menangis hingga tertidur pulas.


Dirinya merubah posisi duduk menyamping menatap sekeliling kamar ini yang terasa sepi. Biasanya, saat ia bangun, di sambut oleh Mardiyah yang entah selesai mandi, yang entah sudah menyiapkan makanan, yang entah saja .... sedang menunggunya terbangun dengan duduk di sofa.


"Mar ... lo baik-baik aja, kan?"


Kling!


Gawainya yang berada di samping ranjang berbunyi, saat Lutfan mengambil terterah nama Aldo disana. Mungkin bahas kerjaan, batinnya yang hendak kembali meletakkan gawai. Namun tiba-tiba nada dering terdengar nyaring di telinganya. Panggilan masuk dari Aldo.


"Halo, Lut! Assalamualaikum."


Lutfan membalas pelan, "Waalaikumussalam."


"Gue udah dapet alamatnya!"


Lutfan masih tidak mengerti maksud Aldo. "Alamat apa?"


"Vila."


Lutfan masih tidak mengerti. "Vilanya siapa?"


"Tempat istri lo di kurung. Gue udah nemu alamatnya, Lut!"


Lutfan tidak berekspresi, hanya terdiam memandang lurus. Mungkin itu benar, mungkin saja itu salah. Dan bisa saja, Bapak Manggala membawa Mardiyah ke tempat lain. Ia tak ingin berharap lebih.


"Lut!"


"Ya?"


"Anjir lo kok ngelamun sih? Mikirin apa sih? Ayo ke sana! Gue otw, mungkin gue sampai sana habis magrib," ujar Aldo. "Lo siap-siap."


"Do, nggak usah. Gue---"


"Lo nyerah? Apa-apaan sih lo, Lut?! Lo nggak ngehargai usah gue yang bantuin lo, hah?" Aldo terdengar kesal. "Nggak usah banyak bacot. Ganti baju. Gue jemput lo!"


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2