
Za-zanitha? I-ibu? Maksud Pak Gautama Ibuku? batin Mardiyah dengan netra yang melebar. Telinganya tidak salah dengar, bukan? Bapak Gautama Adiwangsa menyebut nama Zanitha? Ibunya, bukan? Ia baru tersadar, genggaman Umma Sarah semakin erat. Mardiyah memahami bahwa maksud genggaman ini seolah mengatakan untuk tak ingin ditinggal pergi.
"Kamu seperti seseorang yang saya kenal, Nak," lanjut Bapak Gautama.
"Wajahmu ..." Pandangan itu tetap sama seakan menyiratkan kesedihan. "Sama. Seperti dia yang terlahir kembali."
"Apa maksud, Pak Gautama? Apa Bapak mengenal seorang wanita bernama Zanitha?" tanya Mardiyah yang masih tidak percaya apa didengarnya.
Bapak Gautama mengangguk. "Dia orang yang sangat saya kenal."
"Lalu ... apa maksud Bapak mengatakan bahwa saya adalah darah daging dari Zanitha?" Mardiyah menatap lurus tanpa berkedip. "Memangnya Bapak tahu bahwa wanita itu mengandung?"
Bapak Gautama menghela napas dan menggeleng. "Saya memang tidak tahu tentang kehamilannya. Tapi setelah saya mencari tahu, ternyata Zanitha tengah mengandung dan bahkan dia harus hidup sendiri, menghidupi dirinya sendiri dan melahirkan anak itu pun ... seorang diri."
Sebenarnya ... apa hubungan Ibu dengan Pak Gautama? batin Mardiyah yang masih tidak mau memberitahu fakta bahwa sosok Zanitha adalah Ibunya. "Mungkin hanya wajah saya yang terlihat mirip, Pak. Jangan menyamakan saya dengan seseorang yang anda kenal. Karena saya rasa, saya tidak pernah memiliki hubungan dengan orang-orang kota. Selain Nyonya Harsa, dan staf kerja saya lainnya."
"Tapi kamu tinggal di panti asuhan, Nak. Jelas mungkin saja kamu berhubungan dengan Zanitha," ujar Bapak Gautama.
Mardiyah menengok, beralih menatap Umma Sarah. "Umma ... sebelum bertemu dengan Mardiyah. Apa yang Pak Gautama dan Dokter Gumira bicara dengan Umma?"
"Beliau bertanya, tepatnya tahun berapa kamu di tinggal di panti asuhan ini," jawab Ummi Salamah.
Mardiyah terdiam.
Dokter Gumira menyahut, "Tahun 1999 kan, Nak? Kamu lahir? Kami memang tidak tahu pastinya pada bulan berapa. Tapi di tahun itu juga kami mendengar kabar bahwa Zanitha mengakhiri hidupnya."
Deg.
Seseorang yang memberi kehidupan. Mengapa harus berakhir seperti itu? Mardiyah tidak percaya. Ibunya ... bagaimana bisa? Sudah dijelaskan pada surat yang tertulis bahwasanya sang Ibu berkata, jika ingin bertemu dan langsung memandangnya. Namun ini semua apa?
Kebohongan.
"Zanitha mengakhiri hidupnya dengan meminum racun," lanjut Dokter Gumira, sejenak beliau memandang sang Kakak. "Jika kamu Nak, bertanya tentang hubungan apa yang di miliki oleh Kakak saya dan Zanitha. Jelas yang bisa menjelaskan semuanya hanyalah Kakak saya sendiri."
Mardiyah masih tidak mempercayai ini. Barangkali Zanitha yang di maksud oleh kedua Adiwangsa ini berbeda orang daripada Ibunya.
"Zanitha ... dia adalah kekasih saya dulunya," jelas Bapak Gautama.
Netra Mardiyah berkaca-kaca, genggaman tangan Umma Sarah pun semakin erat. Kemudian ia bertanya, "Kekasih? Lalu apa yang Bapak perbuat padanya ... sampai Bapak bisa menyimpulkan bahwa Zanitha tengah mengandung?"
Bapak Gautama menunduk tampak tak sanggup menatap netra milik Mardiyah. "Saya ... saya tidak pernah mengatakan bahwa saya adalah orang baik. Bahkan rumor tentang keluarga Adiwangsa yang buruk tersebar di mana-mana. Saya tahu itu, Nak. Tapi saya juga bukan sepenuhnya orang yang buruk."
__ADS_1
"Jangan berbelit, Pak."
"Saya tahu ... saya salah. Saya melakukan sesuatu, memaksa kehendak orang lain di atas kuasa saya. Lalu dengan bodohnya saya meninggalkan dia seolah-olah apa yang saya lakukan adalah wajar."
Mardiyah mengambil dan membuat napas beberapa kali, netranya tidak lepas dari Bapak Gautama yang menunduk, beliau menjeda ucapannya sejenak.
"Bahkan dengan teganya, saya meninggalkan dia dengan menikahi wanita lain. Saya dengar, orang-orang pun menggunjingnya mengatakan bahwa dia yang telah suka rela memberikan segalanya ... Padahal sama sekali tidak."
Nggak ... nggak mungkin, batin Mardiyah. Tangan kirinya meremas kuat gamis sisi tangan kanannya masih di genggam oleh Umma Sarah.
"Karena dalam pandangan saya sendiri dia adalah wanita yang baik, pekerja keras, dia pun gigih, berpotensi dan tentunya ... dia cantik. Oleh karena itu juga saya memilihnya sebagai sekertaris yang membantu saya menangani segalanya."
Sekertaris? Ja-jadi ... orang yang Kak Devina dan Regita bahas adalah Ibu? Berarti Ibu bukan simpanan. Bukan. Sama sekali bukan. Kak Devina enggak tahu kebenarannya, batin Mardiyah dengan menggeleng pelan, air matanya telah jatuh di ekor mata kiranya. Luka yang telah ia simpan rapat-rapat kembali terlihat, ia lemah, ia takut, dan ia merasa khawatir akan semua hal.
"Pergi," ujar Mardiyah pelan.
Spontan Bapak Gautama mendongak. Sedangkan Dokter Gumira seperti menahan tangan sang Kakak lantas beliau berucap, "Nak Mardiyah ... kamu benar anak Zanitha, bukan? Dan jika boleh, kami ingin melakukan test DNA padamu, Nak."
"Saya bilang, pergi," ulang Mardiyah.
"Kami---"
Mardiyah spontan bangkit.
Mardiyah hendak berbalik pergi. Namun pergelangan tangannya di tahan oleh Umma Sarah, beliau pun juga ikut berdiri. Begitupula dengan Bapak Gautama dan Dokter Gumira.
"Lepas, Umma."
Umma Sarah menggeleng. "Mardiyah ... bagaimana kalau ternyata beliau adalah keluar---"
"Enggak Umma." Mardiyah menggeleng. "Enggak mungkin .... enggak."
"To ... long, jangan menangis, Nak." Terdengar suara Bapak Gautama yang berusaha mendekat, hendak mengapai tangan Mardiyah. Namun di tepis sekejap. "Maaf."
"Mardiyah, dengerin Umma, Nak."
Mardiyah menggeleng, air matanya turun begitu banyak. Bahkan tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, kaki pun terasa lemas. Hingga detik berikutnya, ia terduduk bersimpuh di lantai.
"Nak! Ya Allah ..."
"Astaghfirullah."
__ADS_1
Tangan besar milik Bapak Gautama berakhir menyentuh bahunya. Mardiyah mendorong beliau menjauh. "Pergi ... Umma tolong Mardiyah ..."
"Ke-napa, kenapa?" Mardiyah tertunduk dengan terisak-isak. "I-ibu ... enggak-enggak Umma."
Umma Sarah menatap Bapak Gautama dan Dokter Gumira. "Tolong, bisa anda menunggu di luar?"
Keduanya keluar. Umma Sarah menarik Mardiyah dalam dekapan beberapa kali punggungnya di tepuk-tepuk. "Nak ... sudah. Sssttt, sudah Mar."
"Keluarga? U-umma bilang keluarga? Mardiyah nggak mau! Gi-gimana bisa di sebut keluarga? Kalau nggak ada Ibu Umma ... Pa-padahal di surat itu Ibu janji, Ibu janji temui Mardiyah, Ibu janji mau tahu nama yang Umma beri, ibu janji semuanya. Tapi ... tapi apa Umma ...? Ibu bohong! Ibu ninggalin Mardiyah selamanya tanpa tahu seperti apa wajah beliau Umma ... Demi Allah, lebih baik Mardiyah nggak pernah ada di dunia ini ..."
Ucapan terakhir yang di dengar oleh Gautama dan Gumira membuat keduanya mematung. Bahkan tanpa sadar air mata Gautama menetes, Gumira menyadari itu hingga di tuntunannya sang Kakak duduk di kursi kayu.
"Gumira ..."
Gumira menatap sang Kakak.
"Hukuman apa yang pantas untukku?" Gautama menjeda, pria itu menunduk, telinganya masih mendengar isakkan yang menyakitkan dari bibir sang anak. "Aku tidak hanya menyakiti Zanitha. Aku juga menyakiti anak yang dia cintai."
"Kak, semua manusia pernah melakukan dosa---"
Gautama menyanggah, "Aku tahu, Gumira. Tapi dosaku ini terlalu banyak, Zanitha adalah wanita yang baik. Bagaimana bisa dulu aku memperlakukannya dengan tidak manusiawi?"
"Kak---"
"Gumira ... aku tidak bisa menyakiti Cecilia dengan mengatakan bahwa Mardiyah adalah putriku. Tapi aku juga tidak bisa menyakiti putriku dengan tidak menganggapnya anak." Gautama mendongak, lalu menengok menatap netra sang Adik. "Kamu mendengarnya sendiri, bukan? Bahkan seumur hidup dia tidak pernah memandang wajah Zanitha."
"Bahkan Gumira ... aku pun tidak memiliki satu pun potret bahagia bersama Zanitha. Lalu kebahagiaan apa yang akan kuberikan untuknya nanti?"
Gumira menjawab, "Dengan mengetahui bahwa Kakak adalah Ayah pun sudah cukup, Kak."
"Tidak cukup, Gumira. Karena sebagai seorang anak, aku pun juga ingin tahu Ibu seperti apa yang melahirkanku di dunia ini. Kamu pun juga begitu, bukan?" Gautama menyandarkan punggungnya pada kursi menatap lurus pada sekeliling latar panti asuhan. "Lalu bagaimana juga cara ku menjelaskan pada Rajendra, Abhimana dan Abhimata? Mereka semua tidak akan semudah itu menerima Mardiyah. Bahkan yang aku takutkan Rajendra dan Abhimana membenci Mardiyah."
"Abhimata tidak akan, Kak."
"Ya ... mungkin dia hanya akan kecewa pada Ayah ini."
Isakkan dari dalam tidak terdengar lagi. Bahkan tiba-tiba saja Umma Sarah terlihat keluar. "Bapak Gautama dan Dokter Gumira."
Keduanya bangkit.
"Bukan niat saya mengusir. Tapi jika saya bisa meminta, tolong tinggalkan panti asuhan. Saya akan membujuk Mardiyah sebisa mungkin. Karena ..." Umma Sarah menjeda. "Saya tahu. Pak Gautama dan Dokter Gumira adalah keluarganya."
__ADS_1
"Terima kasih, Bu Sarah," ujar Dokter Gumira.
"Untuk memastikan. Saya ingin ada test DNA, Dokter. Supaya ... keluarga besar anda percaya bahwa Mardiyah adalah darah daging Pak Gautama."