
Lutfan tidak mengindahkan.
"Apa semua laki-laki yang menuju dewasa, selalu kurang ajar seperti ini, ya? Sedikit tidak sopan, mengalihkan pandangan pada orang yang mengajakmu berbicara," lanjut Aryandra.
Lutfan akhirnya menengok. "Anda ada keperluan dengan saya, Pak?"
"Ck. Bapak?" Aryandra tersenyum tipis dan menggeleng-geleng. "Padahal umur saya masih dua puluh tujuh tahun. Tapi sudah seperti Bapak-bapak, ya?"
Lutfan terdiam.
"Apa yang kamu lakukan, sampai Mardiyah bersedia menjadi istrimu?" Pandangan Aryandra berubah. Bahkan lelaki itu menopang dagu dengan menatapi Lutfan dari atas ke bawah. "Padahal wanita secantik dia, bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik. Dalam artian, berguna."
"Karena sangat menyedihkan. Seumur hidup harus melayani suami cacat bagaikan seorang pelayan. Padahal wanita di nikahi bukan untuk merasa menderita seumur hidup, kan?" lanjut Aryandra.
"Mardiyah istri saya. Bukan pelayan saya," jawab Lutfan dengan tegas.
Aryandra mengangguk-angguk. "Ah, seperti itu ... Saya jadi penasaran bagaimana caramu memuliakan Mardiyah sebagai seorang istri? Tidak mungkin dengan memberikan uang saja, kan? Ada nafkah-nafkah lain, ada hal-hal lain juga, yang membuat seorang wanita merasa bahwa laki-laki yang di nikahi nya adalah orang yang te---"
"Anda ini sebenarnya ingin berbicara apa? Tidak perlu saya jelaskan juga, kan? Bagaimana cara saya memperlakukan Mardiyah?" Lutfan menatap tajam pada mata elang laki-laki itu. "Mardiyah adalah istrinya saya. Milik saya. Ada hak apa anda ingin tahu kehidupan rumah tangga saya, Pak?"
Aryandra tercengang.
"Seharusnya anda ini berpikir. Usia anda sudah tidak muda lagi, Pak. Cobalah mencari wanita lain. Dan berhenti memandang istri orang lain dengan tatapan menjijikan seperti itu. Karena sampai kapan pun, anda tidak akan bisa memilikinya." Lutfan mengalihkan pandangannya pada pelaminan, dan menatap Mardiyah yang berdiri di sana. "Orang kurang ajar seperti anda terlalu beruntung jika berjodoh dengan Mardiyah."
"Saya? Kurang ajar?" Aryandra tertawa ringan. "Ah, saya tahu. Kamu ini masih marah karena kejadian di panti asuhan itu, ya?"
Lutfan geram, ia mencengkram kuat kursi rodanya.
"Kamu ingin tahu tidak? Apa yang saya lakukan pada Mardiyah di mobil? Bahkan ... apa yang saya sentuh."
Lutfan mengatur napasnya. Ia kembali memandang pada netra elang dari laki-laki kurang ajar ini. "Tidak perlu. Untuk apa saya mengetahui dosa yang anda perbuat, Pak? Menyentuh wanita yang bukan mahram anda, hanya menghasilkan suatu dosa saja."
"Dosa, ya?" Aryandra tersenyum remeh menatap Lutfan. "Yang menanggung dosa itu saya. Jadi berhenti berceramah, Bocah. Saya hanya ingin menegaskan saja, bahwa saya orang pertama yang menyentuh kulit lembut istrimu itu."
Kurang ajar! Lutfan menggeser kursi rodanya. Hingga dengan sengaja ia ingin membenturkan kursi rodanya pada kaki Aryandra. Namun sialnya laki-laki bajingan ini bergerak lebih cepat, untuk menahan.
"Marah, ya?" Aryandra mencengkraman kuat pada ganggang kursi roda. Supaya menahan pergerakan Lutfan. "Bahkan kamu tidak tahu, ya? Saat berlibur bersama ke pantai. Saya sempet memasuki kamar Mardiyah. Dan suatu kebetulan juga istrimu sedang membenarkan kerudung---"
Brak! Pyarr!
Lutfan menendang meja, yang jelas akan menarik pandangan dari orang-orang sekitar. Sebab lilin yang di tempatkan pada gelas kaca itu pun terjatuh. Bahkan ia merasa bahunya di sentuh, saat ia menengok ternyata orang itu adalah Mardiyah.
"Lutfan, ada ap---" Ucapan Mardiyah terhenti saat melihat Aryandra di sana. Ngapain dia di sini? batinnya yang kembali memandang pada Lutfan lagi. "Kenapa, Lutfan? Kakimu sakit?"
__ADS_1
Lutfan menggeleng.
"Kak, udah. Kakak sama Lutfan balik ke kamar hotel aja. Aku bakal minta staf buat bersihin ini," ujar Abhimata.
"Terima kasih. Kita permisi dulu."
"Lutfan ... kamu marah? Maafin aku. Aku ninggalin kamu kelamaan," ucap Mardiyah.
Lima belas menit berlalu Lutfan pun masih membisu. Sungguh tidak biasanya Lutfan seperti ini. Bahkan pandangan mata Lutfan menyiratkan amarah. Apa yang telah Aryandra katakan pada Lutfan? Hingga suaminya sampai tiada bisa mengakhiri kemarahan.
"Lut---"
"Mar, aku mau tanya."
Mardiyah menelan ludahnya. "Tanya apa?"
Lutfan masih tidak melonggarkan cengkeramnya pada kursi roda. Kali ini netranya beradu pandang dengan sang istri. Ia memang sedang tersulut, ia akan sangat sulit untuk mengendalikan emosi.
"Kejadian itu nggak di mobil aja, kan? Ada yang lain, kan? Aku tanya kejadiannya di mana? Terus dia apain kamu?" Segala tanya bertubi-tubi ia jabarkan. Menuntut segala jawaban.
Mardiyah terdiam sejenak. "Kamu bicarain itu sama Aryand---"
Mardiyah spontan menunduk. "Maaf."
"Coba jawab apa yang aku tanyain tadi."
Mardiyah mencengkeram kuat gamis yang dipakainya. "Di ... hotel."
"Dia apain kamu?"
"Lutfan ..." Mardiyah mendongak, bangkit perlahan mendekati Lutfan yang duduk berjarak dengannya. "Aku nggak mau ucapan Ar--maksudku, aku nggak mau ucapan dia bikin kita bertengkar kayak gini."
Lutfan menggeleng. "Aku nggak niat ngajak kamu bertengkar. Aku cuma tanya. Apa susahnya kamu jawab?"
"Dia nggak apa-apain aku," dusta Mardiyah. Jika ia berbicara jujur pasti akan semakin menyulut api.
"Bohong, Mar. Aku tahu kamu bohong."
Mardiyah berusaha menyentuh tangan suaminya. "Kamu kenapa bisa semarah ini, Lutfan? Kejadian itu udah lama. Sekarang aku ini istri kamu. Kamu sendiri tahu kalau aku baik-baik aja, kan? Nggak ada sesuatu di diri aku yang kurang. Dia nggak apa-apain aku, Lutfan. Sama sekali---"
"Mar, apa susahnya kamu jawab sih? Aku cuma tanya detail kejadian itu," sanggah Lutfan, lagi.
__ADS_1
Mardiyah perlahan menurunkan tubuhnya, duduk bersimpuh di depan Lutfan. Salah satu tanganya menyentuh telapak kaki Lutfan, dan yang satunya berada di paha Lutfan, lalu ia merebahkan kepalanya di sana. "Kalau aku jawab ... kamu pasti makin marah. Aku nggak mau kamu marah, Lutfan. Aku mohon jangan tanya lagi. Karena ... aku tahu pembicaraan kamu sama dia itu pasti tentang aku, kan? Dia bilang apa aja ke kamu? Dia pasti ... bicara yang enggak-enggak, kan? Gimana bisa kamu percaya?"
Lutfan tidak membuka suara.
"Di ... hotel itu dia masuk. A-aku nggak tahu gimana caranya dia masuk. Dia bilang mau bicara sam---"
Lutfan langsung menyanggah. "Apa yang dia pegang?"
"Ba-bahu, kepala, wa-jah," jawab Mardiyah jujur.
Cengkeraman kuat itu mengendor. Bahkan napasnya kembali netral, ia merasa telah salah menanyai-nanyai Mardiyah. Namun sebagai laki-laki, lebih-lebih ia adalah suami Mardiyah. Sungguh tak rela mendengar lelaki lain menyebut diri sendiri sebagai orang pertama yang menyentuh istrinya. Jika saja Mardiyah menceritakan lebih awal, ia bisa melapor lelaki kurang ajar itu ke kantor polisi.
"Berdiri, Mar." Lutfan melihat Mardiyah mendongak. "Hapus make up. Ayo cuci muka sama ganti baju. Kita nginep di hotel aja."
Mardiyah mengangguk.
"Kamu mau tahu kenapa aku semarah ini?" Lutfan menjeda dengan mengabsen setiap desain interior atap Lazuardi Hotel. "Dia bilang, dia orang pertama yang nyentuh kamu, Mar. Aku rasanya mau pukul orang itu aja! Gimana bisa kamu kenal sama orang macam dia? Waktu di panti asuhan aja, dia udah berani pegang-pegang kamu. Terus sekarang ternyata dia lebih berani masuk ke hotel tempat kamu nginep? Dan kamu minta aku nggak marah, Mar? Otak aku ini nggak bisa berpikir positif. Otak aku langsung otomatis berpikir hal-hal negatif yang dia lakukan ke kamu!"
Mardiyah yang mendengar luapan amarah Lutfan. Langsung mengubah posisi tidurnya menyamping dan mendekat, memeluk erat pada pinggang suaminya.
"Dia ... suka sama aku. Tapi akunya enggak." Mardiyah menghirup aroma Lutfan di kaos yang di gunakan suaminya. "Aku lebih milih menikah sama laki-laki pilihan Umma. Dia pasti sengaja bikin kamu marah, Lutfan. Dia mau rumah tangga kita kacau."
Lutfan menghela napas pelan. Saat kembali menghirup, aroma segar di bersamai shampoo serta wangi Mardiyah memasuki indra penciumannya. "Suami mana yang nggak marah sih, Mar? Apalagi yang dia bilang itu fakta, bukan cuma ngada-ngada."
"Tapi waktu itu kamu belum jadi suami aku."
"Sekalipun aku belum jadi suami kamu. Aku kan adik kamu. Apa aku nggak boleh marah juga? Kalau aku tahu detik itu juga aku udah pukul dia, Mar!" sahut Lutfan.
Tangan Mardiyah mengusap-usap dada bidang Lutfan. "Istighfar dulu coba. Aku nggak mau kamu marah-marah. Sekarang kita lagi di hotel, anggap aja honeymoon kilat dulu di sini ... nggak pa-pa kan?"
"Enggak."
"Eng ... gak? Kamu nggak mau?"
Lutfan mengusap wajahnya. "Aku nggak mau gituan dulu sama kamu."
"O-oh, gitu. Ma-af."
Mardiyah melepas perlahan pelukannya pada pinggang Lutfan. Namun saat ia sedikit lagi menjauh tangan Lutfan menariknya kembali pada dekapan hangat, tetapi kali ini sedikit erat.
"Aku masih kepikiran ucapan dia. Aku nggak mau nanti tiba-tiba kasar sama kamu," bisik Lutfan tepat di telinga Mardiyah. "Jadi sekarang cukup pelukan aja."
__ADS_1