
Sesuai janjinya pada Ustazah Aini. Mardiyah menemani beliau ke pasar membeli telur, sedangkan ia juga membeli sayur mayur untuk memasak besok. Karena sudah lama tidak memasak sayur untuk sarapan adik-adik panti asuhan. Tugasnya juga mengatur makanan, belum lagi setiap pagi ia di tugaskan mengantarkan makanan kepada Ummi Salamah.
Beliau adalah kakak Umma Sarah. Ibu dari Jafar, lelaki yang membuat hatinya tertambat, walau kabarnya Jafar tak akan kembali lagi ke pesantren. Bahkan yang ia dengar-dengar lelaki itu tak bisa berbicara, dan ia berpikir, mungkin trauma Jafar sangat berat.
Belum lagi juga Lutfan. Bocah tengil itu tak patut untuk di khawatir kan, karena senyum serta bahagianya tak pernah hilang. Mardiyah tak paham betul, itu kedok atau Lutfan benar-benar merasa tak sedih kehilangan Ayahnya.
Karena sendari kecil ia tahu. Lutfan tak pernah mau di atur-atur oleh sang Ayah. Kata Lutfan dulu sekitar umur sembilan tahun, ia ingin mengikat Ayahnya saja, karena terlalu sibuk sampai-sampai tak memperhatikannya. Tetapi sekali memperhatikan beliau selalu menghukumnya dengan berat, sebagai contoh membersihkan toilet pesantren Al-Hikmah selama satu bulan penuh.
Jika mengingat-ingat lagi. Mardiyah ingin tertawa, sekaligus memukul Lutfan.
"Makasih ya, Mar. Pisah di sini kita," ucap Ustadzah Aini langsung membuatnya tersadar.
"Nggih, Ustazah. Hati-hati."
Mardiyah melangkah masuk ke panti asuhan. Setelah dari dapur bersama, ia langsung berlalu ke kantor Umma Sarah hendak meminta izin untuk acara di Lazuardi hotel.
"Umma ... Assalamualaikum."
Umma Sarah ternyata sedang bersama Lutfan.
"Waalaikumussalam, Mar. Masuk."
Mardiyah menggeleng. "Nanti sa---"
"Mau ngomong sama Umma, silakan. Gue bisa tunggu di luar," sanggah Lutfan.
Mardiyah mengangguk dan mengambil duduk di kursi plastik. "Umma, Mardiyah mau izin."
"Pakai izin segala mau ke mana, Nak?"
"Menginap di toko. Karena besok malam Mardiyah harus membantu pemilik toko menghadari acara di Lazuardi hotel, Umma. Jadi nggak pa-pa kalau Mardiyah menginap?" ujar Mardiyah.
"Bukannya toko bunga Harsa itu pinggir jalan, ya?"
Mardiyah mengangguk.
"Umma khawatir nggak aman, Nak."
Mardiyah menjawab pelan, "Ada penjaganya, Umma. Insya Allah Mardiyah bisa menjaga diri, dan lagi pula Mardiyah menginap bersama dua teman perempuan yang lainnya."
Umma Sarah terdiam sejenak. "Umma izinin. Tapi kamu harus telepon Lutfan kalau ada apa-apa, karena toko kamu lumayan dekat sama kost-kostan Lutfan. Bisa?"
"Bisa, Umma." Mardiyah berdiri dan sedikit menunduk. "Mardiyah pamit, Umma. Insya Allah besok pagi sebelum berangkat Mardiyah ke sini lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Selangkah Mardiyah keluar dari pintu, terlihat Lutfan sudah berdiri. Bahkan tepat memandangi pintu, hingga detik sesaat ia menengok Lutfan bertatap langsung dengannya.
"Sudah," ujar Mardiyah pelan dan melenggang pergi meninggalkan kantor.
Lutfan kembali masuk dan duduk di sofa panjang tadi, lantas menyandarkan kepalanya di bahu kiri Umma Sarah. "Ngapain dia tadi? Umma pakai nyebut-nyebut nama aku segala, hm?" ujar Lutfan.
"Mau ada acara di Lazuardi hotel, Mardiyah di suruh nginap di toko bunga. Umma bilang ya boleh, tapi kalau ada apa-apa harus telepon kamu pokoknya."
Kepala Lutfan terangkat dan keningnya mengerut. "Kok ... gitu? Malesin banget. Jadi Umma nyuruh aku jagain dia?"
__ADS_1
Umma Sarah mengangguk.
"Males banget."
"Nggak mau kamu?"
Lutfan menggeleng cepet. "Bukannya nggak mau Umma. Cuma radak males. Tapi ... kalau permintaan Umma itu, ya-ya udah."
"Ya udah apa?"
Lutfan menghindari tatapan. "Ya udah mau. Aku jagain dia demi Umma."
Umma Sarah mencibirnya kata beliau, hanya alasan saja. Benar. Hanya alasan. Memang laki-laki mana yang tidak mau menemani orang yang selama ini menjaganya? Ya walau dulu, sewaktu ia kecil.
"Kamu nginep aja di sini. Apa nggak capek kamu bolak-balik desa ke kota?"
Lutfan menggeleng. "Kan Cak Sur yang nyetir Umma. Mana bisa aku yang duduk sambil tidur-tiduran Umma tanya capek enggaknya?"
Spontan Umma Sarah memukul bahu kiri anak semata wayang beliau. "Nakal! Ya semua ini salah kamu! Kasihan Cak Sur juga!"
"Aku udah bilang Umma, aku nganterin buku catatan yang di suruh Mas Jafar beliin. Kasihan nanti Mas butuh bukunya, aku nggak mau durhaka sebagai adik," ujar Lutfan.
Umma Sarah melotot. "Udah, nggak usah banyak bicara."
"Umma ih ..."
"Sana ke Masjid, udah azan magrib. Sholat, biar jadi imam yang baik buat menantu Umma nanti!"
...🌺...
Mardiyah yang semula bersantai-santai, mendengar suara pintu diketuk cepat-cepat mengambil kerudung dan memakainya.
"Iya ... Inayah?"
Inayah mengangguk dan menunduk.
"Kenapa?"
Gadis kecil itu memilin jari-jarinya. "Inayah ... boleh minta tolong?"
"Boleh."
Buku pelajaran ditujukannya pada Mardiyah.
"Apa ini?"
"Eghmm ... Kak Mar, mau bantu?" ujar Inayah.
Mardiyah memandangi Inayah dengan datar. Seperti biasanya ia menatap orang-orang.
"Masuk."
Mardiyah berjongkok mengambil tikar di bawah kasur lantas menggelarnya di lantai, sebelum itu ia juga memanggil meja belajar.
"Yang mana?"
__ADS_1
Ditunjuknya oleh Inayah. "Nomer tiga, Kak."
Setelah menjelaskan panjang lebar pada Inayah. Akhirnya gadis kecil itu paham, dan diberinya lagi soal yang sama, Inayah langsung bisa menjawab. Setidaknya jikalau ia menginap besok di toko bunga adik panti asuhannya ini sudah bisa mengerjakan tanpa bantuan lagi.
"Kok Inayah tadi nggak lihat Kak Mar di Masjid. Kakak sakit?"
Mardiyah menggeleng. "Haid."
"Ooh. Yang keluar darahnya itu ya Kak?"
"Hm."
Terjadi kebisuan beberapa saat. Hingga Inayah berujar, "Ka-kalau gitu, Inayah pamit, Kak. Makasih."
"Ya. Hati-hati."
Tidak sedikit pun niat di hatinya untuk bersikap acuh pada Inayah atau yang lainnya. Namun lagi-lagi ia memang seperti ini adanya, lelah sekali beramah-tamah tanpa disambut baik pula oleh yang lain. Ia tak menyamakan semua orang, tapi dirasanya orang-orang tak berbeda-beda satu sama lainnya. Hampir mirip.
Kling!
Gawainya di ranjang tiba-tiba saja berbunyi.
Nyonya Harsa Janyantaka
Dressnya warna navy. Saya minta kamu bawa hijab sendiri besok. Ada kan?
^^^Ada, Nyonya^^^
Layar gawai ia matikan, karena sepertinya Nyonya Harsa tak akan membalas lagi. Setelah melipat tikar dan melepas kerudungnya, Mardiyah kembali merebahkan diri di ranjang.
Di pikiran terbesit lagi. Mengapa sang Ibu hanya memberitahu nama saja? Tidak kah ada kenangan selain nama dan surat itu? Sungguh sebagaimana pun, ia tetap seorang anak. Ia butuh melihat wajah seorang wanita yang melahirkannya.
"Apa Ibu ... punya fotoku?" gumam Mardiyah.
Jika iya.
Mungkin akan sangat tidak adil.
"Kalau aku ngaca? Apa aku ini ... lebih seperti Ibu? Atau lebih seperti laki-laki itu?"
Mardiyah menggeleng.
"Ayah. Maksudku. Apa aku seperti Ayah, Bu?"
Hati kecilnya merindu sebuah keluarga. Entah siapa yang salah, Mardiyah tak bisa menghakimi. Namun setelah membaca surat dari Zanitha, sang Ibu, ia menjadi sadar. Selama ini ia salah. Umma Sarah benar, jika bukan karena Ayah dan Ibunya, ia tak akan pernah lahir di dunia ini.
Tidak akan pernah.
Namun satu sisi hatinya, juga tak salah. Sebab tidak akan pernah ada satu pun manusia yang ingin lahir dengan cara terhina seperti itu.
"Aku nggak tahu ... harus benci atau harus cinta."
Mardiyah memiringkan tubuhnya. "Karena Ayah dan Ibu memberiku kehidupan. Tapi kenapa? Kelahiran yang kudapat ini menyakitkan, Bu, Yah?"
Sangat sakit.
__ADS_1