Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
49 : -


__ADS_3

Sekitar pukul delapan pagi. Mardiyah masih di kamar bersama Lutfan. Ia membantu suaminya menghitung pemasukan dari Kedai Amanah beberapa minggu lalu. Tetapi herannya, Lutfan tidak ingin berdekat-dekatan dengannya. Apa karena kejadian dini hari itu? Padahal hanya ciuman saja. Mengapa harus sedemikian malu?


"Lutfan."


"Hm."


Mardiyah menengok. Meletakkan laptop di ranjang, sebab ia telah usai menghitung. "Kamu haus nggak?"


"Enggak."


"Lutfan, coba kamu lihat saya."


Lutfan masih fokus mengetik-ngetik. "Gue nggak mau."


"Bilang aja kamu masih malu 'kan?"


Astaghfirullah. Istri siapa, sih?! Mana ngingetin kejadian itu lagi. Lo pikir gue nggak malu, hah?! Harus gitu gue jelasin semalu apa gue? batin Lutfan meronta-ronta ingin meneriaki istrinya saja. Bukan tak suka, tapi jika seagresif ini. Jadinya, ia pun malu. Harusnya jika masalah seperti ini 'kan yang malu perempuan? Lantas mengapa jadinya yang menahan malu dirinya? Dan Mardiyah mendominasi. Astaga. Ia tidak habis pikir.


"Lutfan, kamu nggak dengerin saya?"


"Iya sengaja. Gue pura-pura nggak denger emang." Lutfan merasa Mardiyah mendekat. Sehingga ia spontan menengok. "Lo. Jangan deket-deket gue."


"Kenapa, sih?"


Saat Lutfan ingin membuka mulut, terdengar suara ketukan pintu dan disusul oleh suara Umma Sarah yang meminta izin untuk masuk. Lantas tidak lama pintu kamar terbuka, Mardiyah pun menjaga jarak dengan Lutfan.


"Ada apa, Umma?" tanya Lutfan saat melihat Ummanya mendekat. "Lutfan masih ngerjain penjualan ini."


Seulas senyum Umma Sarah tunjukkan, beliau hendak mengambil duduk. "Umma duduk sini nggak pa-pa?"


"Nggak pa-pa, Umma," sahut Mardiyah dengan turun dari ranjang, mendekati Ibu Panti Asuhannya. "Silakan."


Umma Sarah terdiam sejenak, menatapi Lutfan dan Mardiyah secara bergantian. "Lutfan, Umma mau bicara. Bisa laptopnya di taruh sebentar?"


"Bisa, Umma." Lutfan menaruh laptopnya, ia mulai memperhatikan Umma Sarah. "Umma mau bicara apa?"


Setiap Ibu selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak perlu ia kandung pun Mardiyah tetap anaknya, apalagi Lutfan seorang bayi kecil dulu yang di kandungnya. Segala rasa sayangnya masih sama, setara dan tetap akan ada. Tangan Umma Sarah menyentuh kepala Mardiyah yang entah kapan duduk bersimpuh di bawah sedangkan Lutfan duduk berdampingan.


"Mardiyah, Lutfan." Umma Sarah menjeda. "Kalian ini anak-anak Umma yang paling Umma sayang."


Mardiyah hanya mengangguk sembari menikmati usapan tangan Umma Sarah. Sedangkan Lutfan berujar, "Iya. Lutfan tahu. Tapi Umma mah pasti sayangnya lebih ke Mardiyah."


"Enggak. Umma itu lebih sayang sama kamu," sahut Mardiyah.


Umma Sarah tertawa kecil. "Umma sayang semuanya. Sayang kalian banyak banget. Sama. Semua sama."


"Iya deh. Iya Lutfan percaya sama Umma." Lutfan mendekat, menggeser tubuhnya pelan, meminta tangan salah satu Umma Sarah untuk mengusap-usap pipinya. "Masa Mardiyah aja yang di elus-elus. Lutfan juga mau Umma."


Umma Sarah berganti mengusap-usap pipi Lutfan.


"Lutfan ..."

__ADS_1


"Iya, Umma."


Pandangan Umma Sarah berganti menatap sang menantu. "Kamu ... sayang nggak sama Mardiyah?"


"Ke-napa pertanyaan Umma kayak gitu sih?"


Mardiyah diam mendengar tanggapan Lutfan tentang pertanyaan Umma Sarah.


"Umma cuma mau mastiin, kalau ..." Umma Sarah menjeda, netranya telah berkaca-kaca. "Yang di ucap sama Pak Manggala itu salah. Kalau pernikahan ini nggak merugikan Mardiyah, pernikahan ini pun bukan atas dasar amanah dari Abimu saja. Umma mau ... pernikahan ini atas dasar perasaan yang kamu miliki untuk Mardiyah, Nak."


Mardiyah terdiam, dan menunduk. Umma menangis, tak sanggup rasanya memandang. Sedangkan Lutfan berujar, "Harusnya Lutfan nggak perlu jawab. Dari dulu pun Umma tahu kalau Lutfan sayang sama Mardiyah."


"Sayang sebagai apa?" Umma Sarah menatap putranya yang sekarang menunduk. "Kalau sebagai Adik ke Kakak Umma sudah tahu dari dulu."


Mardiyah mendongak dan berujar, "Umma ... Umma kenapa tanya gini ke---"


"Harus, Nak. Umma harus tanya ke Lutfan. Umma mau mastiin---"


Lutfan menyanggah, "Umma mau pastiin apa lagi? Harusnya Umma tahu sewaktu Lutfan meminta menikahi Mardiyah, kalau Lutfan nggak sekedar menganggap Mardiyah itu sebagai Kakak lagi. Mardiyah sudah jadi istri Lutfan, Umma."


Mardiyah bangkit, berdiri tepat di samping Umma Sarah dan mengusap-usap punggung beliau "Umma, udah ..."


"Kalau begitu, Lutfan." Umma Sarah menjeda, menatap tepat di netra sang anak. "Berikan Mardiyah nafkah batin, Nak. Kamu sendiri sudah menganggapnya istri 'kan? Umma nggak memaksa, Umma nggak nyuruh Mardiyah cepat-cepat hamil. Tapi Umma nggak mau kalian berpisah, Umma mau ada sesuatu yang mengikat kalian, yang membuat kalian sama-sama nggak bisa saling meninggalkan."



Siang hari.


Mardiyah telah suci. Ia pun juga tadi ikut melaksanakan salat zuhur berjamaah di musala. Lutfan semenjak kejadian Umma Sarah berbicara, terlihat diam seribu bahasa, cenderung dingin, tidak seperti biasanya. Bahkan seperti enggan menatap dirinya lagi. Mardiyah tak ingin bertanya, sebab beban yang di punyai Lutfan pasti sudah lah banyak.


"Lutfan."


Lutfan menengok. "Gue lagi fokus kerja, Mar. Tolong jangan ganggu gue."


"Iya. Ma-af."


Kling!


Gawai ditangan Mardiyah berbunyi, masuk satu pesan atas nama Kak Devina.


Kak Devina


Mar, saya bisa minta tolong?


^^^Kenapa, Kak Dev?^^^


Kak Devina


(Kirim gambar)


Saya ada di dekat sini, penginapan gitu, dekat sama panti asuhanmu 'kan?

__ADS_1


^^^Ban mobil Kak Dev bocor?^^^


Kak Devina


Iya.


Sebenarnya saya udah pesen ojol


tapi gara-gara ini agak pedesaan di batalin terus, mana panas banget. Saya nggak kuat.


Kamu bisa jemput saya nggak, Mar?


^^^Bentar, Kak Dev^^^


^^^Saya izin suami saya dulu^^^


Kak Devina


Iya Mar.


Saya tungguin.


Mardiyah menatap Lutfan yang masih sibuk dengan laptopnya. Dengan perlahan Mardiyah mendekat dan berujar, "Lutfan saya mau izin."


"Ke mana?"


"Teman kerja saya dulu. Kak Devina ban mobilnya bocor, di dekat Penginapan Jyotika Ira. Saya boleh jemput dia?"


Lutfan berhenti mengetik, dan menengok. "Bawa motor?"


"Iya."


"Oke. Hati-hati di jalan."


^^^Kak Dev, saya bisa jemput^^^


^^^Tolong tunggu di sana, ya?^^^


Setelah mengirim pesan buru-buru Mardiyah menuju ke sekitar Penginapan Jyotika Ira, menggunakan motor matic miliknya. Dan sekitar lima belas menit perjalanan, melewati perumahan mewah Mardiyah melihat kanan kiri, foto yang di kirim Kak Devina adalah di sekitar sini.


"Mar! Mardiyah!"


Terlihat suara orang meneriakinya dengan melambaikan tangan. Yash! Itu Kak Devina, berteduh di bawah pepohonan hijau.


"Ya Tuhan Mar, saya sampai pusing. Makasih banget kamu mau jemput saya," ujar Kak Devina yang langsung menaiki motor di belakang.


Mardiyah menyalakan mesin. "Kak Dev ini langsung saya antar ke Penginapan Jyotika Ira?"


"Iya-iya, Mar. Saya meeting pemilihan bunga untuk acara pernikahan Keluarga Upasama."


Mardiyah mengangguk dan menjalankan motornya.

__ADS_1


"Nanti kamu ikut masuk ya, Mar? Nggak pa-pa lah. Sekali-kali kamu temani saya, kamu pasti capek juga jauh-jauh ke sini, kepanasan lagi."


"Iya, Kak Dev," jawab Mardiyah.


__ADS_2