
Terdengar kabar bahwa Jafar dan Alma menikah, di mana itu tepat di depan jenazah Bibi Maryam, Ibu sambung Alma. Mardiyah baik-baik saja, tidak ada permasalahan lagi. Karena sendari awal, ia rela apa pun di ambil. Tetapi jangan pernah mengambil Umma Sarah darinya.
^^^Selamat berbahagia atas pernikahanmu dengan Jafar, Alma^^^
Hari-hari pun berlalu lagi. Setelah menyelesaikan masalah Jafar dan Alma dengan Azizah, anak Ustadz Hasan dan Bibi Hasna. Mardiyah tidak mendengar kabar buruk apa-apa, kedekatannya bersama Lutfan pun kembali membaik.
Hingga tiba pada saat-saat yang tidak pernah ia bayangkan. Bahkan ia tidak pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan terjadi pada Lutfan. Adik, ya. Adik angkat yang akan segera menjadi suaminya, itu tiba-tiba memasuki rumah sakit. Pihak rumah sakit menemukan Lutfan terkapar tidak sadarkan diri karena kecelakaan tunggal, dan Mardiyah tidak pernah habis pikir. Bagaimana bisa Lutfan yang biasanya menggunakan sopir tiba-tiba berangkat sendiri?
Hari di mana Lutfan sadar. Dokter menyatakan kelumpuhan pada kedua kaki Lutfan, bahwa lelaki yang penuh canda serta tawa itu, tidak akan bisa berjalan, entah kapan waktu yang di tentukan.
Sakit.
Umma Sarah menangis, saat-saat seperti ini dirinya dapat melihat. Kasih sayang tersembunyi Umma Sarah untuk Lutfan, anak beliau.
"Mardiyah ..."
"Ya, Umma?"
Tangan kanan Mardiyah di genggaman dengan erat. "Kamu ... boleh, untuk memutuskan perjodohan ini, Nak. Umma tahu, nggak akan pernah ada perempuan yang ingin bersuami lumpuh."
Memutuskan perjodohan? Maksudnya? Mardiyah menggeleng-geleng, ini tidak benar. Mengapa di saat seorang Ibu mengusahkan menantunya menetap di saat-saat terpuruk sang anak. Umma Sarah menjadi begini? Umma melepaskannya.
"Umma, pernikahan ini tetap akan berlangsung. Mardiyah ..." Ia menunduk. "Akan ... menjaga Lutfan untuk Umma."
"Jadi ... Umma, apa Umma bisa bicara pada Lutfan?" Mardiyah menghela napas pelan. "Supaya pernikahan ini di percepat."
Mardiyah mendongak saat tidak mendengar respon apa-apa dari Umma Sarah.
"Iya. Iya, Nak. Umma akan bilang ke Lutfan." Umma Sarah mendongak melihat pada jam dinding. "Mardiyah, kamu mau ikut Umma ke rumah sakit Nak?"
"Mau, Umma."
...🌺...
Mardiyah sudah paham betul, bahwa Lutfan akan menolak mentah-mentah keinginannya, untuk di nikahi secepat mungkin. Tetapi dengan adanya Kiai Bashir, Mardiyah yakin untuk menolak pun, Lutfan tak akan sanggup. Anggap lah saja bahwa Mardiyah memanfaatkan beliau, karena sungguh hatinya terasa lemah saat melihat Umma Sarah menangis.
Hidup Umma Sarah adalah Lutfan. Sedangkan hidupnya adalah Umma Sarah. Mengalah untuk membahagiakan Ibu pantinya adalah pilihan yang telah ia putuskan matang-matang.
Tidak ada paksaan.
__ADS_1
Ia suka rela.
"Kek, Lutfan nggak mau," ujar Lutfan lemah.
Mardiyah yang duduk di sisi kanan sofa hanya bisa mandang Lutfan dari kejauhan, terlihat luka-luka di bagian sisi wajah lelaki itu dari rahang, dan pipi ada goresan. Tidak sanggup rasanya melihat ini.
"Kamu mau menentang amanah Abimu, Le?"
Lutfan menatap Kiai Bashir. "Kek, Lutfan mau bicara berdua sama Mardiyah. Nggak usah di tutup pintunya, Kakek, Umma sama yang lainnya bisa lihat dari luar."
Kiai Bashir menyetujui, Mardiyah mendekat pada Lutfan yang duduk di brankar dengan berdiri di sisi kanan.
"Jangan pernah lo terima pernikahan ini," ujar Lutfan.
Mardiyah terdiam sejenak. Lagi-lagi ia sudah bisa menebak, bahwa Lutfan akan mengatakan ini. Lelaki di depannya ini, tidak akan pernah menyetujui pernikahan tiba-tiba.
"Kenapa? Kenapa saya nggak boleh terima pernikahan ini? Apa hak kamu juga melarang-larang saya, Lutfan?" ucap Mardiyah.
Lutfan yang duduk tertunduk di brankar, mendongak menatap Mardiyah dengan tajam. "Jadi lo rela? Ngabisin sisa hidup lo buat ngurusin orang cacat kayak gue, Mar?"
"Orang cacat?" Mardiyah menghindari tatapan Lutfan. "Orang yang kamu sebut itu diri kamu sendiri, Lutfan."
Lutfan bergumam, "Lo bicara seolah-olah lo udah jadi istri gue, Mar."
"Kamu sendiri yang menolak," ujar Mardiyah, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan Lutfan.
Kiai Bashir dan Umma Sarah kembali masuk. Sedangkan Mardiyah memilih menunggu di luar, alasannya untuk membeli makanan di kantin.
"Lutfan ..."
"Dalem, Umma?"
Tangan kanan Lutfan di genggam oleh Umma Sarah. "Umma mohon, menikah lah, Nak. Mardiyah sendiri yang bilang ke Umma, kalau dia mau menikah sama kamu."
Lutfan terdiam. Orang-orang tidak akan pernah tahu kesedihan yang melingkupi seluruh hatinya, kehilangan Abi dan keadaannya yang seperti ini benar-benar membuat luka. Apalagi harus melihat Umma menangis dan memohon seperti ini.
Dalam pandangannya, Mardiyah hanya berbelas kasih. Tiada niat di hati perempuan itu untuk menjaganya, selain karena Umma. Lutfan tahu semuanya, apalagi sekarang ia harus menjadi lelaki yang tidak berguna.
Merepotkan.
__ADS_1
Alasan apalagi kalau bukan untuk membuat Ummanya bahagia? Sehingga Mardiyah ingin mempercepat pernikahan ini.
Sialan.
Apa Mardiyah tidak bisa melihat dengan matanya? Bahwa mengurusi orang sakit adalah hal yang menyebalkan sekaligus membosankan. Apa dia mau menghabiskan sisa kehidupannya hanya untuk hal tidak berguna ini?
"Lutfan ..."
Jeda tiga detik Lutfan berujar, "Umma, Lutfan nggak mau. Apa Umma nggak sadar ... kalau Mardiyah terima pernikahan ini karena Umma yang minta?
"Ya Allah, Nak. Bukan Umma yang minta."
Lutfan menatap lurus pada televisi yang masih menyala. "Umma sadar nggak sih? Mardiyah itu sayang sama Umma ..."
Tiba-tiba saja netra Lutfan berkaca-kaca. Umma sudah sering bilang kalau laki-laki tidak pantas untuk menangis. Tetapi hatinya lemah.
Segalanya menyakitkan.
"Dia bisa ngelakuin apa-apa buat Umma. Ngurusin orang cacat seumur hidup pun dia---"
Lutfan menyanggah, "Lutfan! Ya Allah, Nak. Kok kamu bisa mikir kayak gitu. Istighfar kamu. Kamu bisa sembuh. Jangan berpikir buruk juga tentang Mardiyah."
Terlihat Kiai Bashir pun mendekat, tangan beliau terangkat mengusap-usap pucuk kepala sang cucu. "Le, dengerin Kakek. Apa menurut kamu Mardiyah ini pura-pura baik toh?"
Lutfan menggeleng.
"Kamu kenal sama Mardiyah dari kecil, Le. Dia itu Kakakmu. Kalau sekarang, jadi istrimu apa masalahnya toh? Kakek ndak tahu Mardiyah gimana orangnya, tapi dalam pandangan Kakek. Mardiyah baik, dia sayang sama kamu waktu masih kecil. Apa kamu ndak inget?"
Lutfan menggeleng lagi. "Kalau Umma sayang dia. Kenapa nggak jadiin Mardiyah saudara sepersusuan Lutfan aja, Kek? Kalau gini jatuhnya rumit, Kek. Lutfan nggak mau maksa-maksa pernikahan yang Mardiyah sendiri nggak mau jalanin."
"Maksa apanya, Nak?" Umma Sarah meneteskan air mata. "Berapa kali Umma bilang, kalau Mardiyah sendiri yang mau. Bahkan di hari kamu di nyatakan lumpuh. Umma langsung bilang ke Mardiyah, kalau dia boleh memutuskan pernikahan ini. Umma nggak minta dia nikahi kamu ..."
"Karena ... karena Umma tahu, Nak ... nggak ada perempuan yang mau bersuami lumpuh."
Isakan Umma Sarah terdengar menyayat hati. Lutfan sakit. Lutfan tidak sanggup, hingga tertunduk menatap selimut.
"Umma nggak maksa, Nak ... Tapi, apa sulit menikah sama Mardiyah? Apa sulit memenuhi amanah Abimu, Nak?" Lutfan tiba-tiba saja menggeleng. "Kalau gitu Umma mohon ... menikah, Nak."
"Iya." Jeda tiga detik Lutfan kembali berujar, "Umma jangan nangis. Maafin Lutfan."
__ADS_1