
Sekitar satu jam Mardiyah berada di pemakaman. Sopir yang dikatakan Rajendra akan datang menjemput memilih menunggu di parkiran. Sedangkan ia hanya terdiam menatapi istrinya dari kursi roda. Hingga tidak lama Mardiyah terlihat berdiri, dan mendekati dirinya.
"Maaf, buat kamu nunggu lama."
Lutfan menggeleng. "Nggak. Nggak pa-pa. Sekarang mau langsung pulang?"
"Iya." Mardiyah menatap sekeliling. "Rajendra mana? Dia ninggalin kita?"
"Iya. Tapi ada sopirnya yang jemput."
Mardiyah hanya mengangguk. Lalu istrinya itu berjalan di belakang dan mendorong kursi roda.
"Mar."
"Ya?"
"Gimana bisa kamu langsung percaya sama Rajendra?"
Mardiyah melambatkan dorongannya pada kursi roda. "Kalau aku bilang, karena dia termasuk keluargaku. Kamu bakal percaya nggak, Lutfan?"
Lutfan diam.
"Terlepas dari apapun sikap dia ke aku atau juga ke orang lain. Aku percaya kok, dia masih punya sisi baik yang ... aku sendiri pun masih susah memahaminya." Mardiyah menjeda. "Dia bilang, semua pencarian ini dia lakukan atas perintah dari Mama Cecilia. Aku nggak tahu seberapa besar kasih sayang yang sudah Mama kasih ke Rajendra. Sampai-sampai dia mau berbuat sesuatu yang dia sendiri pun nggak mau lakuin."
"Aku memutuskan percaya Rajendra. Karena dia anak dari Mama Cecilia. Itu saja yang cukup bisa kamu simpulkan atas kepercayaanku ini, Lutfan," sambung Mardiyah.
Lutfan mengangguk paham. "Tapi tadi kamu udah videoin makam Ibu buat Nenek, kan?"
"Sudah. Tapi bisa tolong kamu saja yang kasih lihat ke Nenek?"
"Bisa."
Sesampai di depan pagar Panti Asuhan Al-Hikmah sopir yang mengantar Lutfan dan Mardiyah tadi menghentikan mobil. Namun saat Mardiyah hendak keluar sopir itu memberikan amplop cokelat entah isinya apa, yang pasti itu dari Rajendra.
"Terimakasih, Pak."
"Sama-sama, Nona Mahika."
Seketika saja Mardiyah terdiam. Mahika ... semua orang yang bekerja di sana, memanggilku dengan nama itu, batinnya.
__ADS_1
"Mar," panggil Lutfan.
"Apa?"
"Aku mau ke Masjid. Kamu masuk aja dulu. Istirahat. Videonya kamu kirim ke nomor aku. Nanti aku kasih lihat ke Nenek," ujar Lutfan.
Mardiyah mengangguk. "Ya sudah. Kamu hati-hati."
Memasuki kamar, Mardiyah tidak langsung berganti pakaian. Ia memilih untuk membuka amplop cokelat---yang kata sopir itu dari Rajendra.
Bagian pinggir di sobeknya perlahan-lahan. Lalu kemudian Mardiyah mengeluarkan semuanya di ranjang dan melihat bahwa ada beberapa kertas-kertas dan foto. Sebelum melihat dengan jelas foto-foto itu, Mardiyah menarik salah satu kertas dan membaca.
Zanitha. Wafat tahun 1999. Kematian diakibatkan racun. Pihak kepolisian menyimpulkan bahwa kematian ini murni bunuh diri tidak ada campur tangan orang lain. Dan karena hampir tiga hari pihak keluarga tidak menemui Zanitha, kepolisian memutuskan untuk segera memakamkan mayat Zanitha.
Di bagian paragraf lain. Mardiyah membaca lagi.
Sebelum wafat. Zanitha meninggalkan seorang bayi di panti asuhan. Pihak kepolisian menilai mungkin karena di perkosa, Zanitha memilih mengakhiri kehidupannya. Tetapi saat pihak kepolisian memeriksa tempat tinggal (kontrakan) tidak di temukan satu pun jejak laki-laki yang melakukan pemerkosaan pada Zanitha. Entah nama, entah alamat, entah apapun itu. Sama sekali tidak di temukan.
Mata Mardiyah berkaca-kaca.
Hingga telah diputuskan oleh pihak kepolisian untuk menutup kasus ini. Dan menjaga baik-baik anak yang di tinggalkan oleh mending di Panti Asuhan itu.
Kasus sudah di tutup. Ibumu itu meninggal atas dasar keinginannya sendiri. Jangan mengungkit lagi dan lapangankan lah dadamu. Entah siapapun yang salah, semua telah berlalu. Jika kamu ingin bahagia hiduplah dengan kebahagiaanmu sendiri, jangan mengusik kehidupan Mamaku. Karena kesakitan dia tidak ada bedanya dengan kesakitan Ibumu. Dia adalah orang yang telah melahirkanku. Siapapun tidak boleh mengganggunya, bahkan bersikap kurang ajar pun akan ku bu*nuh orang itu.
Dia harus suka rela menerima anak dari wanita lain yang di cintai suaminya. Bukankah itu kelapangan dada juga? Jadi seperti pintaku tadi, bersikap baiklah pada Ibuku, terima apapun yang dia beri. Jangan membuat dia merasa bahwa menjadikanmu putrinya adalah hal yang salah.
--- Rajendra Adiwangsa.
Mardiyah mengangguk pelan.
"Tenang saja Rajendra ... aku akan selalu bersikap baik pada Mamamu," gumam Mardiyah.
"Nenek mau bicara, Mar."
Mendengar Lutfan yang baru saja masuk lalu memberitahunya sesuatu spontan membuat Mardiyah langsung berdiri. "Apa, Lutfan? Kamu bicara apa?"
"Nenek mau bicara sama kamu."
__ADS_1
Mardiyah mengerjap berkali-kali. "Se-sekarang?"
"Iya di kamar beliau."
Mardiyah masih diam di tempat. "Ka-kamu udah kasih lihat videonya?"
"Sudah, Mar. Ayo ... di tunggu Nenek." Lutfan langsung menarik tangan Mardiyah.
"Kamu ikut juga?"
"Iya."
Mardiyah benar-benar bingung. Mengapa tiba-tiba begitu banyak orang di depan ruang tamu dan di kamar Nenek Aisha pula juga banyak orang. Ada Ummi Salamah, Umma Sarah---mertuanya, dan ada juga Bibi Sulis. Sedangkan di depan ia tidak tahu ada siapa saja, yang pasti banyak orang.
"Lutfan kenapa banyak orang?" bisik Mardiyah.
"Nggak pa-pa. Kamu masuk. Aku tunggu di luar."
Mardiyah melepas tangannya dari kursi roda Lutfan. Ia masuk dengan tatapan bingung. Dan saat telah sampai di dalam, Mardiyah dapat melihat jelas bahwa Neneknya sedang terbaring lemah di ranjang, lalu Umma Sarah mendekati beliau.
"Umma ... Nenek kenapa?" Mardiyah langsung duduk bersimpuh di bawah ranjang. "Penyakit Nenek kambuh lagi?"
"Nenek mau bicara sama kamu, Nak," ujar Umma Sarah.
Mardiyah mengalihkan pandangannya pada Nenek Aisha yang matanya sedikit terbuka. "Nek ... ini Mardiyah. Nenek mau bicara apa?"
"Ma-afin Nenek."
Setelah mengucap maaf satu kali tiba-tiba saja napas Nenek Aisha tidak beraturan beliau menatap Umma Sarah seperti memohon sesuatu. Hingga pada detik ke tiga Umma Sarah melakukan talkin pada Nenek Aisha.
"Umma enggak ..." Mardiyah menggelengkan kepala dan menatap Umma Sarah dan Nenek Aisha bergantian. "Umma ... Nenek nggak mungkin."
Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Akhir hidup Nenek Aisha dalam pandangan Umma Sarah adalah akhir yang baik. Beliau merasa bahwa segala hal yang di ingin tahu oleh Nenek Aisha sudah terselesaikan. Bahkan mengucap maaf pada cucunya pun telah beliau sampaikan.
"Umma ... Ne-nek kenapa ... be-liau tiba-tiba---"
Ucapan Mardiyah terputus saat pelukan erat ia terima dari Umma Sarah. "Nak, ikhlas. Dan Umma minta tolong terima maaf dari Nenekmu, Nak."
Dada Mardiyah sakit. Sesak, rasanya. Bagaimana bisa pertemuan ini hanya terjadi beberapa bulan saja? Ah, tidak. Minggu. Beberapa minggu saja? Ia tahu kematian tidak mengenal waktu. Tetapi mengapa harus terjadi di hari Nenek Aisha baru saja mengetahui tempat peristirahatan terakhir anak beliau?
__ADS_1
"Umma ... dada Mardiyah sakit," lirih Mardiyah tanpa membalas pelukan Umma Sarah. Dan dari kedua ekor matanya, air mengalir begitu deras.
Kehidupannya hilang lagi, entah keberapa kali ini.