
Satu tahun berlalu ....
Tidak terasa ini adalah hari terakhirnya bekerja sebagai staf utama di Toko Bunga Harsa. Agaknya, lucu. Sendari pagi Kak Devina dan Regita tiada hentinya menangis. Mereka bilang, jangan meninggalkan mereka sendirian. Padahal keduanya saling bersama, justru yang pergi hanyalah ia seorang diri.
Ini telah menjadi keputusan yang ia sepakati dulu dengan Nyonya Harsa. Begitu pula pun dengan beliau, yang sudah menemukan staf utama baru yang bisa beliau percayai seperti dirinya. Namun aneh, Nyonya Harsa tidak hadir, atau mungkin ... beliau sibuk? Nyonya Harsa hanya mengirim pesan, bahwa ia di minta mengambil surat serta upahnya di atas meja.
Sesuai dengan janjinya pula. Di tempat ini, telah dilukiskannya lagi, kenangan-kenangan baru selama satu tahun bersama. Banyak tawa, sedikit saja sedihnya. Dan sebagai tanda perpisahan, Mardiyah memberikan lukisan bunga krisan yang berada dalam pigura dibelakangnya ia beri sedikit kata-kata manis yang jarang terucap.
"Apa ini, hah? Apa ini, Mardiyah? Saya nggak bisa saya nggak mau saya nggak bisa," ujar Kak Devina.
Sedangkan Regita bergelantungan pada lengan kirinya. "Nggak mau. Huaa, Mardiyah!"
"Kenang-kenangan dari saya. Bukannya nanti aja, pas di rumah. Biar nggak nangis," ujar Mardiyah dengan tersenyum tipis.
"Jahat! Pakai kenang-kenangan segala! Awas aja kalau saya main ke panti asuhan, kamu nggak nyambut saya dengan baik-baik, saya pecat kamu dari daftar rekan kerja terbaik saya!" ancam Kak Devina yang terdengar menyedihkan karena perempuan usia dua puluh enam tahun itu menangis.
"Saya sambut, Kak. Asal kalau ingin datang, tolong kabari saya dulu," ucap Mardiyah.
Regita terus menangis. "Po-pokoknya kamu harus dateng ke pernikahan saya sama Regan. A-awas aja kamu nggak dateng!"
"Saya usahakan, Regita. Kamu harus bahagia bersama Regan, dia adalah laki-laki yang baik," ujar Mardiyah.
Regita mengangguk-angguk.
"Gimana kalau kamu kita anterin pulang aja, Mar?" usul Kak Devina.
Mardiyah menggeleng cepat. "Enggak usah, Kak. Hari ini bukannya Kakak ada acara sama Nyonya Harsa? Saya takut nanti Kakak sama Regita kecapekan."
"Akh! Nyebelin kamu, Mar!" Kak Devina membuang mukanya. "Sering-sering kamu ke sini lho. Terus juga! Awas aja tiba-tiba nikah! Apa pun tentang kamu, saya sama Regita harus tahu. Titik!"
"Iya, Kak."
Terdengar azan magrib. Mardiyah melepas pelan pelukan Regita dengan tersenyum tipis ia menatapi kedua rekan kerjanya. "Sudah azan. Saya pulang, ya? Saya berencana sholat di masjid terdekat."
"Hiks ... padahal saya masih kangen. Apa nggak bisa kamu ibadah di toko bentar?" ucap Regita.
"Maaf, Git. Saya takut nanti pulangnya kemalaman." Mardiyah bergantian menatap Kak Devina dan Regita. "Kak Dev sama Regita baik-baik, ya? Semoga selalu sehat, dan bahagia. Terima kasih telah menjadi rekan kerja terbaik saya."
Motor matic yang ditungganginya melaju---meninggalkan pelataran Toko Bunga Harsa. Tempat indah, yang menjadikannya kembali hidup, menjadikannya bahagia dengan mengenal begitu banyak manusia. Semenjak saat itu, ia telah merubah pikirannya tentang orang-orang yang memiliki harta melimpah, bahwa tidak selamanya uang itu membawa kesombongan.
Bukti nyatanya adalah Nyonya Harsa.
Sekitar dua menit perjalanan akhirnya ia sampai pada masjid. Bahkan tepat saat itu, telah ikamah, untung saja ia masih ada wudu. Dan waktu telah berlalu lagi, motornya melaju meninggalkan pelataran Masjid.
Kayaknya aku bakal berhenti di kedai, batin Mardiyah saat lampu kembali hijau.
Terterah tulisan Kedai Amanah di atas gerai. Mungkin yang ia singgahi sekarang adalah kedai yang dijaga oleh Lutfan. Karena sesungguhnya ia jarang ke mari.
"Ingin pesan apa, Mbak?"
Mardiyah membuka maskernya. "Saya mau es teh dan ayam panggang madu. Tolong nasinya porsi yang sedikit saja ya, Mas?"
"Baik, Mbak."
Gawainya yang berada di meja bergetar. Dan terlihat notifikasi dari Umma Sarah.
Umma Sarah
Sudah pulang?
^^^Sudah, Umma^^^
Umma Sarah
Tapi kok bisa balasan pesan Umma?
Kamu di mana, Nak?
__ADS_1
^^^[Kirim foto]^^^
Umma Sarah
Kedai?
Makan kamu?
^^^Iya Umma di Kedai^^^
^^^Mardiyah istirahat sebentar,^^^
^^^sekalian makan^^^
Umma Sarah
Ada Lutfan apa nggak, Nak?
^^^Kayaknya enggak, Umma^^^
^^^Nggak ada mobil yang biasanya Lutfan pakai^^^
Minuman yang ditunggunya datang. Seperti biasa, makanan akan menyusul segera. Setelah meletakkan kembali gawainya, netra Mardiyah mengedar melihat kanan kiri, sepertinya masih sepi. Bahkan orang-orang yang membeli pun lebih banyak yang di bawa pulang daripada makan di tempat.
"Cak nanti njenengan boleh makan dulu, terus tidur nggak pa-pa. Saya pulangnya nanti agak malam ke panti asuhannya."
Suara itu, terdengar lebih berbeda. Mardiyah tidak berminat untuk melihat ke belakang. Sudah ia pastikan sendiri, bahwa itu adalah Lutfan.
"Saya masuk dulu, Cak."
Langkah kaki Lutfan kian dekat. Hingga tepat melewati sampingnya. Langkah kaki itu berhenti. Kenapa? Apa Lutfan menyadari kehadirannya?
"Ooh, Mardiyah?"
Dengan terpaksa Mardiyah mendongak. "Ya?"
"Hm."
"Gue masuk dulu, Mar. Kata Umma ..."
"Apa?"
Lutfan berdeham dengan badannya yang telah berbalik. "Nanti kalau pulang hati-hati."
"Iya."
...🌺...
Ya, ya, ya. Gue akui. Gue emang sengaja bawa-bawa Umma. Ya kali gue ngomong langsung, hati-hati. Gitu? batin Lutfan dengan tangan yang memegang ganggang pintu ruangannya.
"Ahhhh capek banget," gumannya.
Satu tahun tidak terasa. Ternyata wanita yang telah dipilihkan Abi untuknya belum juga menikah. Begitu pula dengan usainya yang masih sembilan belas tahun, memasuki tahun baru lagi. Ah, tidak-tidak, kurang tujuh bulan lagi usainya akan dua puluh tahun. Tapi mengapa terasa lama?
Kling!
Gawainya yang berada di tas berbunyi.
"Mas Jafar?"
Mas Jafar
Lutfan, kamu sibuk?
^^^Enggak, Mas^^^
^^^Kenapa?^^^
__ADS_1
Mas Jafar
Saya ingin bercerita
Kening Lutfan mengerut. Curhat? Jarang-jarang sekali Masnya ini ingin bercerita.
^^^Boleh-boleh Mas^^^
^^^Ada apa?^^^
^^^Coba sampean cerita^^^
Mas Jafar
Sepertinya Azizah membatalkan perjodohannya dengan saya, Lutfan
Ah, perempuan itu? Gadis belia yang seusianya? Dulu saja sebelum Mas Jafar tertimpa musibah dia bilang bersedia. Sekarang apa? Pembohong!
^^^Kenapa Mas bisa menyimpulkan seperti itu?^^^
Mas Jafar
Saya dengar dari Ummi, sekitar tiga hari pasca kecelakaan, Azizah mengundurkan pernikahan
^^^Sampai kapan?^^^
Mas Jafar
Dua tahun
Bukankah itu termasuk penolakan, Lutfan?
Ingin rasanya Lutfan meneriakkan gadis itu. Berani sekali mengundurkan pernikahan yang mana seharusnya terjadi dalam waktu dekat ini?
^^^Mas, aku yakin kok^^^
^^^Mas bakal dapat pengantin yang lebih baik^^^
Di tunggunya sampai lima menit tiada balasan lagi. Bahkan tiba-tiba saja offline tanpa membaca pesannya. Ia tidak tahu harus bagaimana? Ia hanya mampu berdo'a. Supaya kelak Mas Jafar mendapatkan seorang pendamping yang baik.
...🌺...
Tiba-tiba saja ia ingin membuang air kecil. Nampaknya baru dua puluh menit ia tertidur. Apakah Mardiyah sudah pulang? Ah, sepertinya sudah. Tidak mungkin juga terlalu lama di kedai.
"Eh!"
Entah salah Mardiyah yang mengetuk, entah pula salah Lutfan yang membuka pintu tiba-tiba. Keduanya hampir tertabrak, sedangkan tangan Mardiyah tidak sengaja mendarat tepat di dahi lelaki itu.
"Ma-af," ujar Mardiyah.
Lutfan menggeleng. "Eghm ... e-enggak pa-pa. E-lo ngapain?"
"Saya mau pulang."
"Terus?"
Mardiyah melirik ke arah lain. "Saya mau pamit."
"Hah?"
"Nggak boleh?"
Lutfan mengangguk. Sedetik kemudian menggeleng. "Boleh lah!"
Mardiyah menatap Lutfan dan berujar, "Kalau gitu. Saya pamit. Assalamualaikum."
"Ya, hati-hati di jalan. Waalaikumussalam."
__ADS_1
Gila-gila! Jantung gue! Ya Allah. Masya Allah. Astaghfirullah! Kurang beberapa bulan lagi. Sabar Lut! Sabar! batin Lutfan seakan-akan ingin meneriaki dirinya sendiri.